Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35.Api Cemburu yang Membara
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Kata-kata pedas, dingin, dan penolakan keras yang meluncur begitu saja dari mulut Gus Aqlan itu bagaikan sebuah tamparan keras yang sangat menyakitkan. Tidak hanya mengenai fisik, tapi tamparan itu menghantam tepat ke ulu hati, menghancurkan harga diri dan ego Balqis yang selama ini tinggi di atas langit.
Wajah Balqis seketika berubah drastis. Dari semula pucat pasi karena kaget, kini berubah menjadi merah padam bak kepiting rebus. Ia menahan malu yang luar biasa, bercampur dengan amarah yang meledak-ledak.
Ia tidak pernah menyangka, sama sekali tidak menduga, bahwa ia akan dipermalukan dan ditolak sekeras ini di depan puluhan orang, di depan keluarga besar, dan di depan para tamu undangan.
"Kau... kau...!" suaranya tercekat, bergetar hebat menahan emosi yang meluap-luap. Matanya yang tajam beralih menatap lurus ke arah Aisyah. Tatapan itu bukan lagi tatapan manusia biasa, melainkan tatapan penuh kebencian yang membara, siap membakar segalanya menjadi abu.
"Kau lihat kan?! Lihat apa yang kau lakukan?! Semua ini karena kau! Karena kau ada di antara kita! Karena kau merebut apa yang seharusnya jadi milikku! Makanya aku dibenci, makanya aku ditolak sehina ini!" teriaknya dengan suara pecah, penuh kepahitan.
"Aku tidak akan terima! Aku tidak akan pernah mau terima! Dan aku tidak akan pernah menyerah selagi aku masih hidup!"
Balqis mengangkat tangannya, jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Aisyah dengan gemetar hebat karena menahan amarah yang tak terbendung.
"Dengar baik-baik ya Aisyah... Ingat kata-kataku ini baik-baik! Perang kita baru saja dimulai! Belum apa-apa kau sudah merasa menang? Kau pikir dengan cincin murahan di jarimu itu kau sudah bisa memiliki dia sepenuhnya? SALAH BESAR!"
"Aku akan berusaha sekuat tenaga, dengan cara apa pun juga, aku tidak peduli! Tujuanku cuma satu: merebut Gus Aqlan kembali! Aku akan tunjukkan sama semua orang kalau cuma AKU yang lebih pantas bersanding sama dia! Bukan kau yang cuma bisa manis-manis dan pura-pura polos doang!"
"Balqis! CUKUP!!"
Tiba-tiba sebuah terikan keras memecah suara Balqis.
Zea, yang dari tadi hanya diam menahan emosi di sudut ruangan, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia maju beberapa langkah, wajahnya merah padam menahan kesal melihat kelakuan wanita yang tidak tahu malu itu.
"Kamu itu keterlaluan! Sudah ditolak berkali-kali kok masih aja ngejar! Malu nggak sih?! Malu sama orang tua sendiri yang sudah mendidikmu tapi kelakuanmu seenaknya sendiri!" hardik Zea dengan berani.
Balqis menatap sinis ke arah Zea, seolah menatap musuh kecil yang tidak berarti. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang sangat menyeramkan dan penuh ancaman.
"Halah... dasar bocah... urus saja urusanmu sendiri," ejeknya dingin. "Kita lihat saja nanti... Siapa yang akan menang dan siapa yang akan menangis di akhir cerita. Siapa yang akan tertawa terakhir."
"Selamat menikmati kebahagiaan kalian yang palsu dan sementara ini! Nikmati selagi bisa!"
Dengan langkah yang berat, membara, dan memancarkan aura dendam yang sangat pekat, Balqis berbalik badan memunggungi mereka semua. Tanpa pamit, tanpa salam, ia berjalan keluar dengan angkuh.
DUG!!
BRAAKK!!
Suara pintu utama rumah itu dibanting dengan sangat keras hingga membuat dinding seakan bergetar. Suara itu memekakkan telinga, dan seketika membuat seluruh ruangan yang tadinya ramai menjadi hening total, mati gaya.
Suasana kembali sunyi senyap, namun tegang dan mencekam. Udara di dalam ruangan terasa berat dan tidak nyaman.
Aisyah masih berdiri terpaku di tempatnya. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya dingin, dan air mata yang baru saja berhenti kini kembali menetes deras membasahi pipinya. Kali ini bukan air mata bahagia, melainkan air mata ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Ancaman Balqis tadi begitu nyata dan menakutkan.
"Sayang..."
Gus Aqlan tidak membiarkan Aisyah sendirian. Dengan sigap ia segera memeluk bahu kekasihnya itu erat-erat, menariknya ke dalam pelukan hangatnya, memberikan rasa aman dan perlindungan.
"Jangan takut ya Sayangku... Jangan dengerin omongan orang yang tidak waras itu. Dia cuma kecewa, dia cuma buta karena cemburu buta. Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa, tidak akan bisa merusak apa-apa selama kita berdua sama-sama dan hati kita kuat," bisik Gus Aqlan sangat lembut tepat di telinga Aisyah, berusaha menenangkan detak jantung gadis itu yang berpacu sangat cepat.
"Tapi Lan..." isak Aisyah pelan, wajahnya bersembunyi di dada bidang kekasihnya. "Dia bilang mau rebut kamu dari aku... Dia bilang perang kita baru mulai... Aku takut..."
"Mustahil Sayang... Itu mustahil terjadi," jawab Gus Aqlan tegas dan mantap. Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah mulus Aisyah dengan kedua tangannya, menatap manik mata kekasihnya dalam-dalam.
"Cinta dan hati ini milikmu selamanya. Sudah tertulis nama kamu di sana sejak dulu. Tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa mengambilnya. Sekarang, besok, atau selamanya... cuma kamu Aisyah... cuma kamu yang ada di sini."
Gus Aqlan lalu menoleh ke arah kedua orang tuanya, Papa Arya, Mama Laras, dan seluruh keluarga yang masih terlihat syok dan canggung.
"Maafkan kami ya Om, Tante, Ayah, Bunda... Acara jadi sedikit terganggu dan tidak nyaman. Tapi tolong jangan khawatir. Aqlan janji, Aqlan akan pastikan tidak ada apa pun dan siapa pun yang bisa mengganggu Aisyah serta hubungan kita ke depannya."
Mama Laras mengangguk pelan, lalu segera berjalan mendekat dan memeluk putrinya dan juga Gus Aqlan.
"Sudah jangan ditangisi lagi ya Sayang... Sudah berlalu. Ingat pesan Mama: Orang yang hatinya bersih, yang niatnya baik, dan yang direstui oleh Tuhan serta orang tua, tidak akan pernah kalah melawan orang yang penuh dengan dendam dan kebencian."
"Kita lanjutkan acaranya ya... Biarkan badai lewat lagi seperti biasa. Setelah hujan deras, pelangi akan tetap muncul dan tetap indah."
Meskipun ancaman pedas Balqis masih terus terngiang di telinga mereka, meskipun rasa takut itu masih sedikit menyelinap, namun keyakinan dan cinta yang terjalin di antara Aisyah dan Gus Aqlan kini terasa jauh lebih kuat, jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Mereka berdua berjanji dalam hati, akan saling menjaga, saling percaya, dan saling menguatkan, apa pun rintangan yang akan menghadang di masa depan.
BERSAMBUNG...