Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: TAMAN DI BALIK GERBANG HARAPAN
Mentari pagi di kawasan Sentul menyinari hamparan rumput hijau yang luas di kediaman Arkananta. Setelah badai sabotase di Universitas Medis Salsabila (UMS) berhasil diredam oleh tim taktis Polri dan kecerdasan digital Arlan, ketenangan kembali menyelimuti rumah itu.
Tidak ada lagi sirine polisi yang memekakkan telinga atau deru helikopter yang menggetarkan kaca jendela. Yang terdengar hanyalah gesekan lembut daun pinus yang tertiup angin gunung dan tawa renyah Leon yang sedang asyik mengejar bola di halaman belakang.
Arlan duduk di teras kayu, menyesap kopi hitamnya yang masih mengepul. Matanya tak lepas memandangi Arumi yang sedang berjongkok di taman kecil mereka, mengenakan sarung tangan berkebun dan topi jerami. Arumi tampak sangat fokus menanam bibit mawar putih. Kesibukan membangun universitas dan mengelola ratusan mahasiswa memang menyita waktu serta energi, namun momen-momen "membumi" seperti inilah yang menjaga kewarasan mereka di tengah tanggung jawab raksasa yang mereka pikul.
Leon, yang kini baru saja menginjak usia dua tahun, mulai menunjukkan kecerdasan visual yang menakjubkan. Alih-alih merusak mainan atau sekadar berlarian tanpa arah, ia lebih sering terlihat duduk tenang di lantai teras, menyusun balok-balok kayu membentuk struktur yang rapi.
Terkadang, ia menggabungkan benda-benda di sekitarnya—gelas plastik, kotak tisu, hingga ranting pohon—untuk menciptakan sesuatu yang ia sebut "istana".
"Ayah! Lihat!" Leon tiba-tiba berlari menghampiri Arlan dengan wajah sumringah. Di tangannya, ia membawa sebuah maket sederhana yang terbuat dari potongan kardus bekas dan perekat.
Arlan mengangkat putranya ke pangkuan, mencium aroma bedak bayi yang bercampur dengan bau matahari. "Wah, apa ini, Jagoan? Gedung baru untuk kampus Bunda? Atau laboratorium rahasia untuk Paman Raka?"
"Bukan, Ayah. Ini rumah untuk kelinci," jawab Leon dengan nada serius yang sangat mirip dengan cara Arlan bicara saat presentasi bisnis. Jemari kecilnya menunjuk ke area yang ia beri warna hijau menggunakan krayon. "Di sini tempat makannya, di sini tempat tidurnya. Ada lubang kecil supaya kelinci tidak kehujanan kalau mau masuk."
Arumi mendekat, menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan yang masih terbungkus sarung tangan. Ia tersenyum melihat hasil karya putranya. "Ide yang bagus, Leon.
Desainnya sangat fungsional. Nanti kita minta tolong Paman Dante untuk mencarikan kelinci yang lucu untuk tinggal di rumah ini, ya?"
Arlan tertawa lepas, mengecup pipi putranya. "Raka benar, anak ini punya bakat merancang. Logika strukturnya sudah jalan di usia segini. Mungkin sepuluh tahun lagi dia yang akan membangun cabang UMS di seluruh Indonesia, atau mungkin membangun kota mandiri di Kalimantan."
Ketenangan pagi itu sedikit terusik ketika Arumi masuk ke dalam rumah untuk memeriksa draf pengumuman beasiswa di tabletnya. Meskipun ancaman fisik dari Aditya Wicaksana dan Victoria sudah berakhir di balik jeruji besi, tantangan baru muncul dalam bentuk yang lebih manusiawi dan menguras emosi.
Arumi sedang menyeleksi 10 mahasiswa tambahan untuk program pengabdian khusus di daerah tertinggal. Program ini adalah jantung dari visi UMS: mendidik dokter yang bukan hanya cerdas, tapi juga memiliki empati tinggi. Namun, masalah muncul saat salah satu calon terbaik, seorang gadis bernama Siti dari pelosok Maluku, mendadak mengirimkan surat pengunduran diri.
Arumi yang merasa ada yang tidak beres segera memutuskan untuk menelepon Siti langsung. Ia tidak ingin kehilangan bakat yang begitu potensial hanya karena masalah teknis.
"Siti, ini Dokter Arumi dari UMS. Saya baru menerima suratmu. Kenapa mengundurkan diri? Nilaimu sangat luar biasa, dan esaimu tentang kesehatan ibu dan anak di Maluku adalah yang terbaik tahun ini," tanya Arumi lembut.
Suara di seberang telepon terdengar parau dan ragu-ragu. "Maaf, Nyonya Arumi... bukannya saya tidak mau. Tapi... Ibu saya sedang sakit keras di desa. Ayah sudah tidak ada. Saya tidak mungkin meninggalkan beliau sendirian untuk kuliah sejauh itu di Jawa. Saya harus bekerja di pasar untuk biaya obat-obatan Ibu."
Arumi terdiam sejenak. Ia memandang ke luar jendela, di mana Arlan sedang membantu Leon merapikan maket kardusnya. Arlan, yang menyadari perubahan raut wajah istrinya, masuk ke dalam ruangan dan mendengarkan pembicaraan itu lewat loudspeaker. Tanpa perlu kata-kata, Arlan mengangguk pelan kepada Arumi. Tatapannya memberikan dukungan penuh—sebuah kode bahwa masalah biaya bukanlah hambatan bagi mereka.
"Siti, dengarkan saya baik-baik," ucap Arumi dengan nada tegas namun penuh kehangatan.
"Yayasan Salsabila bukan hanya tempat untuk kuliah gratis. Kami adalah keluarga. Kami akan mengirimkan tim medis dari klinik cabang terdekat di Ambon untuk menjemput dan merawat ibumu secara gratis. Dan selama kamu belajar di sini, ibumu akan kami fasilitasi untuk tinggal di asrama keluarga staf kampus agar kamu bisa tetap menjaganya setiap hari. Ibumu akan mendapat perawatan terbaik, dan kamu bisa fokus belajar. Jangan biarkan dinding kemiskinan mencuri cita-citamu untuk menjadi dokter bagi masyarakatmu."
Isak tangis haru meledak di ujung telepon. Siti tidak bisa berkata-kata selain ucapan terima kasih yang berulang. Konflik kecil di meja kerja itu berakhir dengan satu lagi harapan yang terselamatkan. Arlan merangkul bahu Arumi.
"Itu alasan kenapa aku membangun semua ini untukmu, Arumi," bisik Arlan. "Agar kita punya kekuatan untuk berkata 'jangan menyerah' kepada orang-orang seperti Siti."
Malam harinya, kediaman Arkananta kedatangan tamu istimewa. Dante dan istrinya, Sarah, datang berkunjung untuk makan malam sederhana.
Dante tidak lagi mengenakan jas taktis hitam yang kaku atau membawa senjata laras panjang yang menyeramkan; ia memakai kaos polo santai berwarna biru tua. Namun, meski dalam suasana santai, matanya tetap secara insting mengawasi sekeliling setiap kali ada dahan pohon yang bergesek di luar.
"Kau tahu, Arlan," ucap Dante sambil memotong steak daging buatan Arumi yang juicy.
"Mengawalmu di tengah baku tembak di dermaga atau menghadapi peretas di ruang kendali terasa jauh lebih mudah daripada menenangkan Sarah hari ini."
Sarah tertawa kecil sambil mencubit gemas lengan suaminya yang berotot. "Jangan dengarkan dia, Nyonya Arumi. Dia hanya kesal karena tadi sore kalah main catur melawan Leon di teras. Bayangkan, seorang mantan agen lapangan dikalahkan oleh balita dua tahun!"
"Leon tidak main jujur!" protes Dante dengan wajah serius yang dibuat-buat. "Dia menggunakan taktik 'muka imut' setiap kali aku ingin memakan ratunya. Aku jadi tidak tega dan salah langkah."
Suasana ruang makan itu dipenuhi kehangatan dan gelak tawa. Tidak ada lagi pembicaraan tentang konspirasi global, pencurian data antibodi, atau pengkhianatan korporasi. Obrolan mereka bergeser pada hal-hal sepele seperti rencana liburan singkat ke Anyer bulan depan, hingga bagaimana Leon mulai belajar bicara dalam kalimat-kalimat yang semakin panjang dan logis.
Malam semakin larut. Setelah Dante dan Sarah pulang, suasana rumah kembali tenang. Arlan dan Arumi memutuskan untuk duduk sejenak di ayunan kayu yang terletak di balkon kamar mereka. Langit Sentul malam itu sangat jernih, tanpa awan, menampakkan jutaan bintang yang seolah ikut merayakan kedamaian yang baru saja mereka raih kembali.
"Terima kasih, Arlan," bisik Arumi lembut. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya, menghirup aroma parfum Arlan yang menenangkan. "Untuk universitas itu, untuk Siti, dan untuk hidup yang tenang ini. Aku tidak pernah membayangkan kontrak seratus juta itu akan membawa kita sejauh ini."
Arlan menggenggam tangan Arumi, mengecup jemarinya dengan penuh pengabdian. "Aku yang harus berterima kasih, Sayang. Tanpa dirimu, aku mungkin masih menjadi pria dingin yang hanya peduli pada angka-angka di rekening bank dan dominasi pasar minyak. Kau memberikan aku tujuan hidup. Kau memberikan aku nyawa."
Arumi tersenyum manis, sebuah senyuman yang selalu mampu meluluhkan kekerasan hati Arlan. Ia kemudian menatap Arlan dengan mata yang berbinar, memberikan isyarat yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.
"Bicara soal nyawa... sepertinya Leon tidak akan menjadi satu-satunya 'arsitek' di rumah ini dalam waktu dekat, Arlan."
Arlan tertegun sejenak. Ia menatap mata istrinya, mencoba mencari konfirmasi. "Arumi... maksudmu?"
Arumi mengangguk pelan sambil mengarahkan tangan Arlan untuk menyentuh perutnya yang masih tampak rata. "Ya. Proyek baru kita sedang tumbuh di sini. Hadiah dari ketenangan yang kita bangun bersama."
Arlan memeluk Arumi dengan sangat erat, air mata kebahagiaan hampir menetes di sudut matanya. Di bawah cahaya bintang yang abadi, keluarga Arkananta akhirnya benar-benar pulang ke rumah mereka yang penuh cinta—sebuah tempat di mana tidak ada lagi musuh untuk dilawan, hanya masa depan untuk dibangun.