Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau dan Rahasia
Pagi itu, matahari menembus sela-sela tirai losmen di Medan, memantulkan cahaya ke dinding kayu dan memaksa mereka terbangun lebih cepat dari biasanya. Suara riuh pasar pagi dan klakson angkot yang saling menyalip menandakan bahwa kota sudah sibuk sebelum mereka menyadari. Aroma daun pandan, rempah-rempah kari, dan durian yang lembut menyeruak masuk melalui jendela yang terbuka, membuat perut mereka bergolak meski sarapan belum disiapkan. Mereka duduk di meja bulat kecil, memakan lontong sayur dan teh tarik, sementara Profesor membacakan email terbaru dari Maya.
“Aku menemukan catatan tentang Pulau Samosir,” kata Maya melalui pesan suara yang berdengung dari speaker ponsel. “Ini lebih dari tempat wisata. Ada bangunan yang disewa PT. BioPharm di sana, konon untuk riset tanaman obat. Tapi di peta satelit, terlihat pos satpam, kamera, dan kabel listrik yang masuk ke tanah. Aku mencium ada fasilitas bawah tanah. Ada catatan pengiriman obat ke Samosir dengan kode B17. Aku juga menemukan notulen rapat: mereka menyebut ‘eksperimen penggabungan B17 dan B18’. Aku belum tahu detailnya, tapi ini cukup untuk membawa Komnas HAM ke sana.”
Pulau Samosir, pulau vulkanik di tengah Danau Toba, terkenal dengan keindahan alam dan budaya Batak Toba. Mereka terdiam sejenak, memandang peta di meja. “Pulau Samosir seperti kampung halaman bagi banyak orang. Kalau ada laboratorium rahasia di sana, ini lebih gila dari semua,” kata Rina. “Kita harus pergi,” kata Tento. “Tapi kita harus menghormati adat setempat. Kita harus minta izin dari kepala desa, dan jangan membuat kerusuhan.” Pak Hadi mengangguk. “Benar. Saya pernah ke sana, orang Batak Toba sangat menjaga tanah mereka. Kita harus sopan.”
Mereka memesan tiket bus malam ke Parapat, kota kecil di tepian Danau Toba, kemudian kapal ferry ke Samosir. Perjalanan dari Medan ke Parapat memakan waktu sekitar tiga jam. Bus melaju melalui jalan menanjak yang berliku di tengah hutan pinus, udara menjadi lebih sejuk seiring bertambahnya ketinggian. Mereka berhenti di warung pinggir jalan, mencicipi mi gomak… mi khas Batak Toba yang pedas. Budi mencoba menyeimbangkan rasa pedas dengan es alpukat, matanya berair. “Lidahku terbakar, tapi ini enak,” katanya. Perikus memberikan minyak kayu putih ke Budi sebagai obat humor. Mereka tertawa.
Sesampainya di Parapat, mereka melihat Danau Toba yang luas seperti laut, berwarna biru gelap, dikelilingi perbukitan hijau. Kabut tipis melayang di permukaan, membuat suasana magis. Mereka naik ferry, duduk di dek, merasakan angin sejuk dan percikan air. Beberapa turis asing di sekitar mereka tertawa, mengambil foto, tidak mengetahui tujuan mereka. Perahu bergerak perlahan. Aroma bensin dari mesin bercampur dengan bau air tawar. Mereka memandang ke pulau di tengah danau, dengan pegunungan yang menjulang dan rumah-rumah adat Batak dengan atap melengkung.
Rina duduk di samping seorang ibu tua yang memakai ulos, kain tradisional Batak. Mereka berbicara. “Kami mau ke Samosir,” kata Rina. Ibu itu tersenyum. “Hati-hati, Nak. Pulau ini indah, tapi ada tempat yang tidak boleh dimasuki tanpa izin,” katanya. Rina bertanya, “Tempat apa?” Ibu itu menatap jauh. “Dulu, ada gedung milik orang kaya di hutan. Mereka bilang itu pabrik obat. Tapi banyak orang sakit setelah bekerja di sana. Kami lapor, tapi polisi tidak dengar.” Rina berterima kasih. “Kami akan hati-hati,” katanya.
Mereka turun di pelabuhan Ambarita, disambut suara Gondang Sabangunan (alat musik tradisional) dari restoran di tepi danau. Mereka menemui kepala desa, seorang pria setengah baya bernama Pak Mangihut yang memakai topi rumbak (topi khas Batak). Mereka menjelaskan tujuan mereka dengan hati-hati. Pak Mangihut mendengarkan, wajahnya serius. “Kami sudah curiga pabrik obat itu. Banyak muda-mudi kami yang bekerja di sana mengeluh sakit, kejang, lalu menghilang. Kami menolak, tapi mereka mengaku punya izin. Kalau kalian bisa membantu, kami senang. Tapi harus hati-hati. Ada preman yang menjaga. Mereka sering mengancam kami,” katanya. Ia memberi saran: “Datanglah dengan berpakaian turis. Jangan seperti penyusup. Kalian bisa menyewa motor, jalan-jalan ke hutan, pura-pura cari air terjun. Jika kalian lihat pos, jangan mendekat terlalu cepat. Saya bisa kirim dua pemuda untuk memandu.”
Keesokan paginya, mereka menyewa tiga motor. Angin pagi sejuk, aroma pinus dan bunga liar memenuhi udara. Jalan yang mereka lalui berliku, kadang mendaki, kadang menurun, melewati sawah, ladang jagung, dan hutan. Di pinggir jalan, kerbau merumput, ayam melintas. Anak-anak melambaikan tangan. Mereka tiba di dekat area pabrik BioPharm. Bangunannya tidak terlihat dari jalan; hanya papan “Proyek Penelitian Tanaman Obat” dan jalan beraspal kecil yang masuk ke hutan. Mereka menepikan motor di balik semak.
Mereka berjalan kaki, mengikuti jalan. Pepohonan tinggi menutupi sinar matahari, udara lebih lembap. Suara ranting patah di bawah kaki, kicau burung, dan serangga terdengar. Mereka berbicara pelan. Dua pemuda desa, Sondi dan Berto, memimpin. “Ini jalannya,” bisik Sondi. Mereka melihat pos satpam sederhana dari kayu, dengan dua pria duduk memegang senjata, merokok. Mereka menonton televisi kecil. Di belakang pos, jalan menurun ke kompleks tertutup. Tembok beton tinggi berdiri, dengan kawat berduri. Kamera CCTV menempel.
Budi mengambil kamera tele dan memotret dari jauh. Mereka mengamati: ada truk kecil masuk, membawa kotak. Pekerja keluar, wajahnya pucat, masker di leher. Mereka bergumam. “Kita butuh cara masuk,” bisik Tento. “Tidak mungkin lewat gerbang.” Sondi berkata, “Ada sungai kecil di sebelah. Airnya masuk ke dalam pabrik. Mungkin ada terowongan untuk limbah.” Mereka memutuskan mengikuti sungai. Mereka menyusuri semak, mendengar suara air mengalir. Sungai itu berwarna kecokelatan, bau chemical samar. Di sisi, ada terowongan beton setinggi pinggang. Air keluar dari dalam pabrik. Terowongan gelap, dingin, dan licin. “Kita harus masuk sini?” tanya Budi dengan nada humor, memencet hidung. “Apa kita membawa perahu karet?” Mereka tertawa gugup.
Mereka memutuskan masuk. Mereka memakai sepatu boots, menyalakan senter, dan merangkak di tepi sungai, menghindari air kotor. Bau kimia membuat mata perih. Mereka merayap, merasakan dinding basah. Sesekali mereka mendengar suara dari atas: langkah kaki, suara mesin. Setelah sekitar lima belas meter, terowongan melengkung, naik sedikit, dan berujung di ruangan bawah tanah dengan plafon rendah. Di ruangan, ada pipa-pipa besar, selang, dan tangga besi ke atas. Cahaya meredup. Mereka menahan napas. “Ini seperti film horor,” bisik Perikus. Mereka naik tangga pelan. Tangga itu membawa mereka ke ruangan lebih besar, gelap, yang terang hanya dari lampu indikator merah dan hijau di mesin. Suara mesin berdengung. Mereka melihat beberapa meja dengan vial ungu, biru, hijau. Ada label: “B17 Fusion,” “B18 Trial A,” “B18 Trial B.”
Mereka memotret, merekam, melihat catatan. Mereka menemukan ruangan dengan dinding kaca. Di dalamnya, beberapa orang duduk di kursi, kepala tertutup helm seperti VR, kabel masuk ke kuping. Mata mereka tertutup. Mereka tampak seperti tertidur. Jantung mereka berdebar. “Ini B17 mereka,” bisik Budi. “Mereka uji coba lagi.” Sondi memegang lengan Budi. “Itu abang saya!” bisiknya histeris. Matanya merah. Ia ingin masuk. Budi menahannya. “Kita tidak bisa sekarang. Kita harus bukti dulu. Kalau kita buka, kita bunuh mereka,” katanya. Sondi menelan tangis. “Tolong mereka,” bisiknya.
Mereka memindai ruangan, menemukan beberapa catatan di meja: formulir izin dari oknum polisi, nama dokter, jadwal pengiriman ke Filipina, Singapura, Eropa. Mereka memotret semua. Mereka mencuri selembar kertas kecil yang tampaknya keycard, memasukkan ke tas. Tiba-tiba, suara langkah cepat mendekat. Mereka panik. Mereka bersembunyi di belakang rak. Dua orang ilmuwan masuk, berbicara dalam bahasa Inggris. “The fusion is unstable,” kata yang pertama. “We need more subjects. The test results show aggression and brain damage.” Yang kedua mengangguk. “We have a new shipment from the prison. Tonight.” Mereka keluar. Jantung mereka berdetak keras. Mereka tahu mereka harus pergi.
Mereka menyusuri terowongan kembali. Air kini terasa lebih dingin. Bau semakin kuat. Mereka berlari cepat, keluar ke semak-semak, napas terengah-engah. Mereka menahan muntah, membersihkan pakaian. Sondi menangis, memukul tanah. “Abangku…” katanya. Berto memeluknya. “Kita akan selamatkan dia,” katanya. Mereka menguatkan hati. Mereka kembali ke kepala desa, menunjukkan foto, video, catatan. Pak Mangihut menegakkan badan, mata berkaca-kaca. “Ini bukti. Kita akan panggil media, LPSK, Komnas HAM. Pabrik ini harus ditutup,” katanya.
Mereka mengirim bukti ke Maya, Profesor, dan Komnas HAM. Komnas HAM, yang sudah menunggu, menindaklanjuti dengan cepat. Esok harinya, rombongan gabungan aparat bersih, LSM, dan Komnas HAM datang ke Samosir. Media lokal menyiarkan langsung. Warga berkumpul, menabuh gondang, menari tortor, menyambut aparat. “Ini ritual kami untuk mengusir roh jahat,” kata Pak Mangihut. Mereka berdiri di depan pabrik, memblokade jalan dengan ulos. Aparat bersenjata mengarahkan senjata ke atas, menandakan mereka serius. Preman-preman yang menjaga pabrik lari. Polisi nakal ditahan. Saat polisi bersih masuk, mereka menemukan ruangan bawah tanah. Mereka menyelamatkan pekerja yang sedang dihipnotis. Di antara mereka, abang Sondi, lemah tetapi masih hidup. Sondi menangis, memeluknya. “Horas! Horas!” teriak warga, mengekspresikan lega.
Berita penyerbuan pabrik di Samosir meledak di media. Hashtag #SamosirBangkit trending. Orang-orang berbagi foto ulos, gondang, dan reog dari Budi. Pemerintah meminta maaf kepada warga Samosir. PT BioPharm cabang Medan ditutup. Komisaris utamanya kabur, namun tertangkap di pelabuhan. Di DPR, politisi memuji keberanian rakyat Samosir. Tetapi di media sosial, netizen berkata, “Kenapa baru sekarang?” Sementara itu, email anonim yang pernah mereka terima muncul lagi: “Bagus, kalian menutup Samosir. Tapi B18 sudah dibawa ke Eropa.”
Mereka membaca email itu dengan campur emosi. Rina menggertakkan gigi. “Mereka tidak kapok,” katanya. Profesor menatap jauh. “Ini akan menjadi perjuangan global,” katanya. “Kita harus memutus rantai. Mungkin kita harus pergi ke Eropa, membawa pesan dari Indonesia.” Budi ternganga. “Eropa? Aku belum pernah ke sana. Paspor? Visa? Bahasa?” katanya. Mereka tertawa. Namun, tahu bahwa lelucon itu bisa menjadi kenyataan. Mereka menghubungi jurnalis internasional yang tertarik dengan kasus B16. Jurnalis itu berkata, “Ada konferensi etika medis di Geneva bulan depan. Kalian harus hadir, membawa testimoni. Organisasi lain akan membantu. Kami akan mengurus visa.”
Tiba di penghujung hari, mereka sadar bahwa perjalanan mereka semakin jauh. Dari warung kopi di Malang, ke pulau penjara, Kalimantan, lautan, parlemen, bandara, dan kini pulau di Danau Toba. Mereka melihat ke depan, ke benua lain. Mereka teringat pepatah Jawa yang sering diucapkan Pak Hadi, “Sepi ing pamrih rame ing gawe”, bersuara tidak untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kerja besar. Mereka memeluk pepatah itu. Mereka memeluk satu sama lain. Mereka memeluk Sondi, Berto, dan warga Samosir. Mereka merayakan dengan makan ikan bakar di pinggir danau, nasi, sambal andaliman yang pedas getir, dan minum tuak manis. Tawa mereka bergema di pegunungan, menyatu dengan suara ombak kecil dan nyanyian gondang. Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, mereka berbicara tentang Eropa, tentang B18, tentang masa depan, tanpa takut. Sebab, mereka tahu, mereka sudah punya peta, kompas, dan sahabat. Mereka siap berlayar ke mana pun keadilan memanggil.