Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
"Daddy."
Irene yang masuk ke dalam ruangan ayahnya menghentikan pembicaraan sang ayah juga Satria.
"Sayang, kamu sudah disini?" tanya Irene saat melihat keberadaan Satria di ruangan ayahnya.
Irene segera duduk di sisi Satria sambil merangkul lengan Satria dengan manja.
"Kamu yang dari mana saja Irene?" tanya Daddy Alex pada putrinya.
Satria juga menatap pada Irene menunggu jawaban atas pertanyaan ayahnya.
"Aku pergi menemui Kakak Dad." jawab Irene lesu.
Daddy Alex dan Satria saling pandang setelah mengetahui jika Irene pergi menemui Nathan.
"Kenapa tidak bilang padaku, Aku bisa menemani kamu menemui Ka Nathan." ucap Satria.
Dia tentu tahu siapa Nathan. Satu-satunya kakak Irene yang tidak merestui hubungan mereka. Satria belum pernah bertemu dengan kakak Irene karena Daddy Alex sudah menjelaskan semua permasahan di antara mereka.
"Aku tidak akan mengajakmu menemui Kakak, sebelum dia menerima kamu sayang." jelas Irene.
Tentu saja Irene takut Satria akan di ancam untuk meninggalkannya jika sampai bertemu dengan kakaknya itu.
"Tapi aku bisa berkenalan dan mencoba untuk membujuk kakakmu juga." ucap Satria.
"Jangan Satria, nanti biar Daddy yang kembali mengajak Nathan berbicara."
Irene mengangguk setuju dengan perkataan ayahnya. Daddy Alex memang selalu bisa di andalkan.
"Terima kasih Daddy." ungkap Irene dengan senyum yang kembali menghiasi wajah cantiknya.
.
.
"Bunda, apa boleh Resa bermain di halaman?" tanya Resa pada Vania yang sedang sibuk membuat camilan.
Vania melihat Resa yang memang sudah terlihat bosan bermain dan menemaninya di dapur.
"Sebentar ya sayang, Bunda tinggal mengangkat cookies ini. Setelah itu kita main bersama di luar." jawab Vania.
Resa mengangguk senang. Dia memang sudah bosan dan ingin bermain di luar.
Begitu selesai, Vania dan Resa segera keluar rumah untuk bermain. Melihat keadaan sekitar yang cukup sepi membuat Vania sudah merindukan tanah air.
Kehidupan di Negara orang memang berbeda kan. Vania harus benar-benar berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan seperti ini.
"Bunda, tidak ada siapa-siapa yah disini." ucap Resa.
Tentu saja putranya merasakan hal yang sama dengan Vania. Sebelumnya, Resa selalu bermain dengan teman-teman di rumahnya. Sekarang jangankan teman, orang yang lewat saja tidak terlihat disana. Sesibuk itukah orang-orang di Luar Negeri, pikir Vania.
"Sabar ya sayang, nanti setelah Resa masuk sekolah pasti bisa punya teman bermain." tutur Vania.
"Benarkah Bunda?"
"Tentu saja, Resa mau sekolah kan?"
Resa mengangguk dengan antusias, dia jadi tidak sabar ingin segera sekolah agar bisa bertemu teman-teman seperti yang di katakan Bundanya.
.
.
ALX Company.
Nathan baru menyelesaikan rapat bulanan di siang hari. Bram yang tahu kebiasaan Nathan yang akan pergi setelah rapat segera menyusul karena ada satu hal yang harus di laporkannya.
"Bos," panggil Bram pada Nathan yang bersiap keluar dari ruangannya.
"Ada apa Bram, kalau tidak penting aku akan memotong gajimu." ancam Nathan.
"Ini penting, urgent."
Nathan diam untuk mendengarkan hal apa yang disebut urgent oleh asistennya ini.
"Katakan."
.
.
"Cepat Bram." kesal Nathan pada Bram yang melajukan kendaraannya dengan sangat lambat.
"Sabar Bos, ini bahkan sudah cepat." ucap Bram berusaha untuk tidak panik.
Bagaimana tidak panik, Nathan menyuruhnya untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi setelah Bram memberikan kabar yang membuat Nathan naik pitam.
"Ck, lambat. Sial, apa yang dipikirkan tua bangka itu sebenernya." gerutu Nathan sambil memukul dasboard mobil di depannya.
Bram hanya melirik sekilas dan tidak mau menambah bumbu amarah untuk Bosnya sekarang.
Tidak lama mobil Nathan sampai di kediaman utama. Baru saja Bram mematikan mesin mobil, Nathan sudah keluar dari mobil dengan langkah yang lebar.
"Alamat perang dunia ketiga nih." Bram bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam rumah itu nanti.
Beberapa pelayan yang melihat kedatangan Tuan muda mereka datang ke kediaman utama langsung menyambut.
Kepala pelayan yang mendengar kabar kedatangan Nathan langsung melaporkan hal itu pada Tuan besar yang sedang bersantai di taman belakang.
"Daddy."
Baru saja kepala pelayan melaporkan kedatangan Nathan, sang pemilik nama kini sudah muncul di hadapan Daddynya.
"Hai Son, akhirnya kamu pulang juga." sapa Daddy Alex dengan wajah sumringah.
Nathan berdecak sambil berkacak pinggang di hadapan ayahnya.
"Apa maksud Daddy dengan memberikan posisi pada laki-laki brengsek itu di perusahaan?" tanya Nathan to the point.
"Son, kamu baru datang ke rumah tapi bukan menanyakan kabar Daddy." kilah Daddy Alex tanpa menjawab pertamanya putranya itu.
"Come on Dad, aku bisa melihat Daddy baik-baik saja." kesal Nathan saat Daddy nya malah mengalihkan permbicaraannya.
Daddy Alex beranjak dari tempat duduknya dan berdiri berhadapan dengan putranya yang sudah 3 tahun ini tidak menemuinya.
Bohong jika dirinya tidak merindukan putra satu-satunya ini. Bohong jika Daddy Alex tidak menyesal sudah bertengkar dengan putranya karena putrinya mencintai laki-laki beristri.
"Nathan, ayo kita bicarakan ini baik-baik." ucap Daddy Alex dengan nada lebih pelan agar tidak memperkeruh emosi Nathan.
Melihat cara ayahnya menatap matanya, Nathan yakin jika Daddy nya ingin mengatakan satu hal yang mungkin akan membuatnya semakin frustasi.
.
.
Kini Nathan sudah duduk bertiga dengan Daddynya juga Ibu tirinya, Ibu kandung Irene, Mommy Jane.
"Nathan, gimana kabarmu Nak?" tanya Mommy Jane sambil mengelus pundak Nathan.
"Nathan baik-baik saja sebelum datang kesini Mom." jawab Nathan.
Sebenarnya Nathan juga merindukan Mommy Jane, sebab dirinya begitu dekat sejak kecil dengan Mommy Jane. Untuk itu Nathan juga sangat menyayangi adiknya Irene.
Tapi karena kehadiran seseorang di antara mereka, membuat Nathan marah. Semua itu tentu saja karena Mommy dan Daddy nya tidak ada yang memihak Nathan saat menentang Irene untuk mengejar laki-laki beristri bahkan sampai ke jenjang pernikahan.
"Mommy minta maaf Nathan, Mommy sangat merindukan kehadiran kalian di rumah ini." tangis Mommy Jane bahkan sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Nathan yang paling tidak bisa melihat Mommy Jane menangis langsung memeluk tubuh Mommy Jane.
Setelah cukup lama menangis, Mommy Jane langsung menatap Nathan dan memegang kedua tangan Nathan.
"Nathan, tolong terima Satria sebagai adik iparmu. Irene sangat mencintainya. Irene juga bahagia dengannya." pinta Mommy Jane.
"Mom, bagaimana bisa Irene bahagia dengan laki-laki yang sudah memiliki keluarga." sesal Nathan dengan suara tertahan.
Dia sangat berusaha untuk tidak mengeluarkan emosinya di hadapan Mommy Jane meski hati Natha sudah sangat kesal.
"Nathan, Irene sedang mengandung sekarang. Untuk itu Daddy yang menyuruh Satria pindah kesini dan membantu mengurus perusahaan." jelas Daddy Alex.
......................