Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar mengerikan
Mbah Sanur duduk bersila di tengah kepulan asap kemenyan yang semakin pekat, matanya terpejam rapat namun batinnya menembus dinding-dinding kayu rumah Pak Sugeng. Di tangannya, sebilah keris tua bergetar hebat, seolah-olah besi itu bisa merasakan haus darah dari kejauhan.
"Niat ingsun mutus dalane pati." gumamnya dengan suara rendah yang bergetar.
Di matanya yang tertutup, ia bisa melihat pemandangan mengerikan: Seno yang sedang memeluk sosok pucat yang sudah membusuk, menyangka dirinya sedang bercumbu dengan Aning yang cantik.
Mbah Sanur tahu, setiap detik yang terbuang adalah langkah kaki Seno menuju liang lahat. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di dahi sang dukun saat ia mencoba menarik paksa sukma Seno dari jerat maut itu.
"Meneh! Setan iki pancen kuat tenan!" Desisnya.
Ia meraih segenggam garam yang sudah dirajah dan melemparkannya ke arah bara api. Prak! Api memercik tinggi.
Mbah Sanur semakin mempercepat rapalan mantranya, suaranya naik satu nada, menggetarkan seluruh isi rumah kayu tersebut. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga batinnya untuk menghancurkan ilusi iblis yang menjerat Seno.
"Hong, titi kala mangsa. baliyo!" teriaknya sambil menghentakkan tangannya ke lantai.
Namun, di tengah puncak ritualnya, suasana mendadak hening secara tidak wajar. Suara jangkrik berhenti, dan api di tungku kecilnya tiba-tiba berubah menjadi hijau kebiruan sebelum padam sepenuhnya. Mbah Sanur membuka matanya, dan saat itulah ia merasakan hawa dingin yang teramat sangat tepat di belakang tengkuknya.
Parang pusaka miliknya yang tergantung di dinding itu bergetar hebat.
Tiba-tiba parang itu melayang terbang kearahnya.
Jleb!
Mbah Sanur terkesiap. Wajahnya memucat seketika. Ia menunduk dan melihat mata parang miliknya sendiri telah tertancap telak, menembus perutnya hingga ke punggung.
Darah kental berwarna kehitaman mulai merembes, membasahi kain sarungnya dan menetes ke atas tikar pandan.
Dengan mata yang melotot seperti tak terima dengan kekalahanya, tubuhnya mulai ambruk perlahan. Ia merangkak dengan tangan gemetar, mencoba meraih air suci di depannya, namun napasnya semakin pendek. Paru-parunya terasa penuh dengan cairan hangat yang mencekik.
Dukun yang selama puluhan tahun disegani karena kesaktiannya itu kini meregang nyawa dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Seno masih mencumbui Aning.
Seno, yang masih terbuai dalam syahwat, tidak menyadari bahwa kehangatan kulit Aning perlahan berubah menjadi sedingin es yang membeku.
"Ning, kenapa kamu jadi dingin sekali?" bisik Seno, suaranya parau oleh nafsu.
Namun, saat ia mencoba menatap wajah cantik itu sekali lagi, kenyataan pahit menghantamnya layaknya gada besi. Wajah Aning yang semula ayu perlahan luruh, kulitnya yang mulus mengelupas jatuh ke lantai seperti kertas terbakar, memperlihatkan daging busuk yang dipenuhi belatung. Matanya yang sayu kini berubah menjadi lubang hitam yang mengucurkan darah kental berbau busuk.
Seno terperanjat, berusaha melepaskan pelukannya, namun tangan Aning yang kini tinggal tulang terbungkus kulit pucat mencengkeram bahunya. Bunyi krak terdengar saat leher Aning berputar 180 derajat, menatap tepat ke mata Seno dengan seringai yang merobek pipinya hingga ke telinga.
"Jangan takut, Seno, Bukannya ini yang kamu inginkan?" geram arwah itu.
Seno ingin menjerit, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat ia melihat ke bawah, ia tidak lagi memeluk wanita, melainkan sebuah kain kafan lusuh yang melilit tubuhnya erat-erat.
"Am... ampun, Ning. ampun!" rintih Seno dengan suara yang nyaris hilang. Tubuhnya gemetar hebat, membasahi dipan dengan keringat ketakutan. Air mata dan ingusnya bercampur saat ia melihat wajah hancur Aning yang kini hanya berjarak beberapa senti dari hidungnya.
Arwah Aning tidak menyahut dengan kata-kata. Ia justru mendekatkan wajahnya yang busuk ke telinga Seno, membiarkan ulat-ulat kecil jatuh ke pundak pemuda itu. Tiba-tiba, tawa melengking yang menyayat hati pecah, memenuhi sudut kamar yang sempit.
"Ampun?" gertak Aning. Suaranya berubah menjadi geraman dalam yang bergetar.
"Ketika aku minta tolong di sawah, apa kau dengar? Ketika aku menangis darah, apa kau berhenti?"
Tangan Aning yang kering dan dingin mulai merayap ke leher Seno. Kuku-kukunya yang hitam nan tajam perlahan menekan kulit leher Seno, persis di titik yang tadi dicumbui pemuda itu dengan rakus.
"Bukankah tadi kau bilang ingin menjagaku, kan? Ayo... sekarang ikut aku, jagalah aku di neraka!"
Cengkeraman itu menguat. Seno mulai meronta, kakinya menendang-nendang hingga menimbulkan suara gaduh.
Sementara itu di luar kamar, Pak Sugeng dan Bu Ranti sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di dalam kamar Seno saat ini.
Seno mulai kejang-kejang, matanya membelalak putih saat cengkeraman Aning Aning semakin kuat.
Seno mencoba menggapai pintu, namun kekuatannya habis. Selimut yang tergeletak di atas kasur melayang membungkus tubuh Seno hingga dia kehabisan nafas. Dan, dengan satu sentakan keras, terdengar bunyi krak yang mematikan.
Prak!!!
Saat itulah, suara itu terdengar oleh Pak Sugeng dan Bu Ranti.
"Apa itu Pak?" Tanya Bu Ranti.
"Dari kamar Seno Bu." Sahut Pak Sugeng. Keduanya saling pandang untuk sepersekian detik. Lalu setelah itu keduanya pun berlari ke kamar Seno. Saat ingin membuka pintu itu terkunci.
Pak Sugeng menggedor-gedor kayu jati itu hingga tangannya memerah.
"Seno! Buka pintunya, Le! Seno!" teriaknya parau. Namun, tak ada jawaban dari dalam yang membuat Bu Ranti semakin khawatir.
"Dobrak saja, Pak! Perasaanku tidak enak!" Ujar Bu Ranti.
Satu, dua kali Pak Sugeng menghantamkan bahunya dengan sekuat tenaga, hingga Bu Ranti pun turut membantu. Namun, pintu kayu itu tetap bergeming. Mungkin, karena tubuh pak Sugeng yang kurus kering dan tenaga Bu Ranti sebagai perempuan tak cukup kuat untuk mendobrak pintu itu.
"Cepat, Bu! Panggil orang-orang! Minta tolong siapa saja!" Ucap Pak Sugeng.
Tanpa pikir panjang, Bu Ranti berlari keluar rumah.
Baru saja Bu Ranti turun dari tangga, beberapa orang yang saat itu baru pulang dari masjid sholat isya melihat Bu Ranti yang panik lalu bertanya.
"Bu Ranti kenapa?" Tanya Jaka.
"Tolong, bantu dobrak pintu kamar Seno." Kata Bu Ranti menarik tangan Jaka.
Jaka, Udin, dan dua warga lainnya bergegas menaiki anak tangga kayu rumah Pak Sugeng yang berderit. Di depan kamar, Pak Sugeng tampak pucat pasi, terus memanggil nama anaknya dengan suara bergetar.
"Minggir, Pak! Biar kami yang urus," seru Udin sambil memasang kuda-kuda.
Jaka dan Udin menghantamkan tubuh mereka secara serentak ke pintu itu. BRAK!!!
Pintu itu bergetar hebat, namun anehnya tetap kokoh yang menahannya dari dalam. Hawa dingin yang tidak masuk akal mulai merembes dari celah pintu, membuat bulu kuduk para pria itu berdiri tegak.
"Ayo sekali lagi! Satu... dua... tiga!"
BRAK!
Pada hantaman ketiga, pintu itu terbuka dengan paksa hingga engselnya terlepas. Namun, saat pintu itu terbanting ke lantai, hembusan angin busuk yang sangat menyengat langsung menerjang wajah mereka, membuat Udin dan Jaka tersedak hingga hampir muntah.
Bu Ranti memanggil Seno namun yang terlihat hanyalah tubuh Seno yang terlilit kain selimut. Bu Ranti dan Pak Sugeng segera menghampiri Seno dan membantu Seno lepas dari lilitan selimut itu. Namun, saat lilitan selimut itu lepas. Alangkah terkejutnya kedua orang tua itu saat melihat Seno anak mereka sudah tidak bernyawa.