NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong Kenangan

Jalanan berkelok‑kelok menanjak membelah rimbunnya pepohonan tua, diselimuti kabut dingin yang seolah berusaha menelan setiap cahaya lampu kendaraan. Semakin jauh meninggalkan peradaban, semakin terasa hening dan mencekam, seolah alam itu sendiri ikut merasakan beban berat yang kini dipikul oleh dua penumpang di dalam mobil. Putra menyetir dengan wajah tegang, matanya tak lepas dari jalanan yang licin, sementara tangannya sesekali menggenggam erat tangan Citra yang terbaring lembut di pangkuannya.

Citra menatap ke luar jendela, bayangan pohon‑pohon raksasa yang berlalu lalang seolah menjadi potongan‑potongan masa lalu yang perlahan terungkap kembali. Sebagai dokter yang terbiasa menghadapi kematian dan kesakitan, hatinya seharusnya telah terlatih untuk tetap tenang, namun kali ini ketakutan yang ia rasakan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depan keluarga kecilnya.

“Mas, apakah tempat ini masih terlihat sama seperti yang Ayah ceritakan dulu?” tanya Citra pelan, memecah kesunyian yang menusuk tulang. Suaranya bergetar samar, namun tetap berusaha terdengar tegar.

Putra menghela napas panjang, matanya menerawang jauh seolah melihat pemandangan yang sama persis seperti yang terukir di ingatannya sejak kanak‑kanak. “Hampir tak berubah, Sayang. Bahkan kabut dingin ini pun terasa persis seperti yang diceritakan Ayah. Di sini, dua puluh tahun silam, ia pergi meninggalkan kami dengan pesan agar jangan pernah mendekati tempat ini lagi. Ternyata... justru di sini rahasia terbesarnya dikubur.”

Tak lama kemudian, di ujung tikungan terakhir, sebuah bangunan raksasa yang sudah lapuk dimakan usia perlahan tampak menjulang di balik kabut. Itulah sisa‑sisa bangunan utama tambang emas tua yang sudah ditinggalkan lebih dari dua dekade lalu. Pagar besi yang dulunya kokoh kini berkarat dan sebagian roboh, dinding‑dinding batu dipenuhi lumut tebal, dan pintu masuk utama terbuka lebar bagaikan mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani melangkah masuk. Di atas tanah berdebu di depan pintu utama, terparkir sebuah kendaraan hitam yang tak bernomor polisi, dan di depannya tergeletak seikat bunga mawar hitam lainnya, basah oleh embun malam.

Putra segera mengerem mendadak, menyalakan lampu sorot mobil tepat ke arah pintu masuk. “Kau lihat itu? Dia sudah menunggu. Dia tahu persis jam berapa kami akan tiba.”

“Kita tak bisa mundur lagi, Mas,” ucap Citra tegas, melepaskan sabuk pengaman dan menegakkan punggungnya. Di balik gaun sederhananya, tersembunyi kotak peralatan medis lengkap dan sebilah pisau bedah tajam yang ia selipkan rapat di pinggangnya senjata andalan seorang dokter yang tak hanya menyelamatkan nyawa, namun kini bersiap membelanya. “Andi ada di sana. Kita harus menemukannya, apa pun risikonya.”

Keduanya turun dari kendaraan, udara dingin pegunungan langsung menerpa tubuh mereka, membuat bulu kuduk meremang. Putra mengenakan rompi anti peluru tipis yang ia bawa diam‑diam dan menyelipkan pistol standar militer di pinggangnya, lalu melangkah mendahului Citra dengan sikap siaga penuh. Setiap langkah mereka bergema nyaring di atas kerikil, seolah ada pasukan bayangan yang berbaris menyambut kedatangan mereka.

Saat melewati ambang pintu, bau lembap, tanah basah, dan besi berkarat langsung menusuk hidung. Cahaya remang dari beberapa lampu minyak kuno yang masih menyala samar‑samar menerangi lorong utama yang panjang, menciptakan bayangan‑bayangan aneh yang terus bergerak seolah memiliki nyawa sendiri. Di dinding‑dinding lorong, terukir berbagai catatan usang, angka‑angka transaksi, dan sebuah lambang aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya lingkaran dengan mata yang menatap tajam ke segala arah.

“Tunggu,” bisik Putra tiba‑tiba, tangannya langsung menahan bahu Citra agar berhenti melangkah. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tak wajar di lantai di depan mereka. Di sana tergores garis tipis yang nyaris tak terlihat, terhubung dengan seutas kawat halus yang membentang melintang setinggi betis. “Ini perangkap kawat pemicu bom. Sedikit saja tergores, nyawa kita bisa melayang seketika.”

Hati Citra berdebar kencang, namun ia segera menenangkan diri dan menundukkan pandangan teliti. Sebagai dokter yang sering mempelajari anatomi dan perhitungan ruang, matanya peka terhadap perbedaan sekecil apa pun. “Arahnya ke kiri, Mas. Kita bisa melewatinya dengan posisi merunduk dan melangkah selebar bahu. Hati‑hati, mungkin masih banyak jebakan serupa yang tak terlihat mata telanjang.”

Mereka melewati lorong demi lorong dengan penuh kewaspadaan, bergerak bagaikan bayangan di antara kegelapan. Semakin masuk ke dalam, gema langkah kaki mereka semakin bergema, dan sesekali terdengar suara gemuruh samar dari dalam perut bumi, seolah tambang tua itu masih bernapas. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan luas yang dulunya merupakan kantor pusat pengelola tambang. Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah meja kayu besar yang masih kokoh, di atasnya tersusun rapi tumpukan dokumen tebal, foto‑foto lama, dan sebuah kursi berputar yang membelakangi pintu masuk.

Di samping meja, tergeletak sebuah selimut tebal yang menutupi benda seukuran tubuh anak kecil.

“Andi!” jerit Citra nyaris tak sadarkan diri, ingin berlari mendekat, namun tangan Putra segera menahannya dengan kekuatan penuh.

“Jangan, Citra! Hentikan! Ini pasti jebakan,” tegur Putra dengan suara rendah namun berwibawa, matanya tak berkedip sedikit pun menatap sosok yang duduk tenang di kursi itu. “Keluar dan tunjukkan dirimu! Kita sudah datang sesuai permintaanmu. Lepaskan Andi sekarang juga!”

Kursi itu perlahan berputar. Di situlah duduk sesosok pria tua berpakaian rapi, mengenakan kacamata berbingkai emas, dengan senyum tipis yang terasa menusuk tulang. Wajahnya terlihat akrab, sangat akrab, seolah mereka telah melihatnya berkali‑kali dalam acara resmi militer atau bahkan dalam acara keluarga besar. Di pangkuannya tergenggam sebuah foto lama berwarna kusam, yang jika diperhatikan seksama, menampakkan sosok Putra, Citra, ayah kandung Putra, dan juga pria tua itu yang masih berusia muda, berdiri berdampingan bagaikan saudara kandung.

“Selamat datang... putraku, dan menantu kesayanganku,” ucap pria tua itu dengan suara berat dan dalam, yang langsung membuat darah di tubuh Putra dan Citra serasa berhenti mengalir seketika. “Kalian akhirnya datang juga ke tempat di mana semuanya direncanakan, sejak sebelum kalian berdua bahkan tahu arti cinta atau benci. Kalian penasaran siapa aku? Kenapa aku mengatur perjodohan yang begitu menyiksa itu? Dan kenapa darah Andi adalah harta paling berharga yang pernah ada di dunia ini?”

Tangan Citra bergetar hebat, kakinya terasa lemas tak berdaya, namun matanya tetap menatap tajam sosok di hadapannya. “Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan keluarga kami?”

Pria tua itu tertawa pelan, lalu perlahan melepaskan topi pecinya, memperlihatkan luka bekas tusukan di dahinya yang selama ini selalu ia tutupi rapat‑rapat. Senyumnya kini melebar, memancarkan campuran rasa bangga dan kesedihan yang tak terlukiskan.

“Aku adalah orang yang paling kau percayai seumur hidupmu, Putra. Aku adalah orang yang selalu kau hormati, tempat kau meminta nasihat, orang yang kau anggap sebagai pelindung terkuatmu saat Ayahmu meninggal dunia. Dan aku adalah satu‑satunya orang yang tahu kebenaran mutlak bahwa perjodohan terpaksa itu bukanlah hukuman... melainkan satu‑satunya cara untuk menyelamatkan nyawa kalian berdua, dan juga warisan darah yang mengalir deras di tubuh Andi.”

Dada Putra terasa sesak, pandangannya kabur, seolah dunia di sekitarnya berputar dengan liar. Nama‑nama yang selama ini paling ia percayai kini berputar di kepalanya satu per satu, hingga akhirnya satu nama muncul dengan sendirinya, membuat seluruh tulang punggungnya terasa membeku. Tak mungkin... tak mungkin orang itu yang ia pikirkan?

Sementara itu, selimut yang tergeletak di lantai tadi perlahan bergerak, dan dari balik kegelapan di sudut ruangan, terdengar suara tangis lembut milik Andi yang tertahan, namun bersamaan dengan itu pula muncul sosok‑sosok bersenjata yang bersembunyi di balik tiang‑tiang penyangga, mengarahkan moncong senapan tepat ke arah dada Putra dan Citra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!