Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Tubuh Angga seakan melayang saat menerima baju dan tas milik Lisa. Tangannya gemetar, jiwanya seakan ikut menghilang, matanya kosong. Angga memeluk baju Lisa yang penuh dengan darah.
"Lisa?" Teriak Angga
Air mata tak bisa dia tahan lagi. Momen demi momen bersama Lisa berputar sayu persatu di pikiran nya. Senyuman manis itu, tawa pecah itu, bibir yang selalu cemberut saat Lisa melihatnya. momen-momen pernikahan mereka, hingga malam-malam tenang saat istrinya tertidur tercetak jelas dalam ingatan. Angga hancur, hidupnya seakan tak berdaya lagi.
"Kenapa kamu pergi Lisa? Aku yang selalu mencintaimu, Bukan Galih" Rancu Angga sambil terus menciumi baju istrinya. Angga bisa mencium aroma khas keringat dan parfum Lisa dari baju itu.
*****
Di sebuah tempat pembuangan sampah, seorang anak kecil sedang bersenandung kecil sambil mengais botol demi botol untuk dia kumpulkan. Gadis kecil periang itu bernama Lila. Anak yang tak memiliki orang tua sejak dia masih bayi. Lila di urus oleh neneknya Ratmi. Lila anak yang periang, pekerja keras dan selalu ramah pada orang lain.
Hari ini Lila sengaja berangkat lebih pagi, kemarin ada yang menawarkan pekerjaan untuk Lila. Dia di minta membersihkan sebuah makam di komplek sebelah. Lila akan di beri dua ratus ribu perbulan, hanya dengan merawat beberapa makam saja. Lila tentu mau dengan pekerjaan itu, meski komplek itu agak jauh, namun Lila sudah terbiasa jalan kaki, jadi itu bukan masalah untuknya.
Hari ini adalah hari pertama dia bekerja, jadi dia sengaja berangkat pagi untuk mencari botol bekas. Begitu karung yang dia bawa penuh, dia akan segera pergi ke makam itu.
Lila sedikit terburu-buru, hingga dia tidak sadar ada suara rintihan di dekat dia berdiri.
"Tolong" Gumam seseorang yang tergeletak tak jauh dari Lila berdiri. Lila sempat mendengar rintihan itu, namun dia pura-pura tidak dengar, takutnya itu hantu yang belum kembali ke tempatnya. Karena Lila memang datang sebelum matahari terbit.
"Tolong"
Rintihan suara itu kembali terdengar, Lila berhenti sejenak, dia ingin memastikan jika yang dia dengar itu memang suara orang.
"Tolong"
Suara itu terdengar lagi, Lila yang penasaran segera mencari sumber suara itu, setelah beberapa langkah berjalan, Lila di kejutkan saat melihat seseorang berambut panjang sedang tidur di atas gundukan tempat sampah. Lila langsung menaruh barang yang dia bawa dan segera menghampiri wanita itu. Ada banyak darah di kepala wanita cantik yang dia temukan.
Karena melihat ada banyak darah, Lila berteriak sekencang mungkin meminta bantuan. Namun di area itu masih sangatlah sepi.
"Tolong" Teriak Lila lagi, seorang lelaki paruh baya melihat Lila yang gelisah sambil berteriak-teriak. Lelaki itu mendekat ke arah Lila, begitu lelaki itu sudah hampir sampai, dia terkejut melihat ada mayat di depan Lila.
"Ada mayat?"
"Bukan pak, kakak ini masih hidup, tadi dia minta tolong sama Lila"
Mendengar penjelasan Lila, lelaki itu langsung membawa perempuan itu ke tempat yang lebih teduh.
Perempuan yang penuh darah itu adalah Lisa, dia masih setengah sadar, dia bersyukur ada yang menolong dirinya.
Namun tak berselang lama dia benar-benar tak sadarkan diri.
Suasana di TPS akhir itu akhirnya ramai, banyak yang mengira Lisa laki-laki karena dia memang mengenakan baju serba laki-laki. Banyak orang berkerumun di sana. Lila memanggil neneknya yang kebetulan seorang dukun yang bisa memijat orang. Nenek Ratmi meminta warga membawa wanita yang Lila temukan ke rumah gubug mereka.
"Bawa ke rumah saya, biar saya yang obati"gumam nenek Ratmi. Lisa di bawa ke kesana di bantu beberapa orang warga.
****
Di tempat kerja
Tari merasa sangat bersalah pada Lisa, sudah satu bulan lebih Tari mendiamkan Lisa. Namun hari ini, hatinya hancur mendengar kabar jika istri dari CEO mereka kecelakaan. Tari menelfon nomer ponsel Lisa, namun tidak ada jawaban. Tanpa izin dari perusahaan. Tari segera bergegas ke rumah utama Keluarga Pratama.
Tari tidak terima jika Lisa pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Dia tidak percaya Lisa sudah tiada.Tari masih menerima pesan dari sahabatnya kemarin pagi. Lisa masih meminta maaf padanya.
"Kamu tidak boleh mati Lisa, kamu belum dapat maaf dari ku" gumam Tari sambil terus menangis saat perjalanan ke rumah Keluarga Pratama.
Begitu Tari sampai, banyak karangan bunga memenuhi kediaman Pratama. Tubuh Tari langsung luruh saat membaca nama di karangan bunga itu.
"Lisa? Kamu tidak boleh pergi" Tangis Tari di depan pintu gerbang. Lisa berjalan masuk ke rumah besar itu dengan kaki bergetar, dia ingin melihat wajah Lisa untuk yang terakhir kalinya.
Tadinya ada yang melarang Tari mendekat, Tari memberontak, dia ingin bertemu sahabatnya untuk yang terakhir kali. Keributan terjadi, Angga di beri tahu salah satu orang kepercayaannya, saat tahu kalau itu Tari, Angga langsung memperbolehkan Tari masuk.
Tari berlari menuju tempat di mana jenazah Lisa berada. Dia memeluk tubuh yang tertutup kain kafan itu, wajah Lisa di tutup kain seperti mumi, karena wajah Lisa memang hancur.
Tari yang tadinya menangis sesenggukan, tiba-tiba terdiam saat saat memeluk tubuh itu, Tari menggelengkan kepala.
"Dia bukan sahabat ku" Gumam Tari di sela Isak tangisnya.
Angga yang berada di sebelah Tari lngsung menoleh tajam.
"Jangan buat masalah di pemakaman istriku, bukankah kamu akhir-akhir ini sangat membencinya?" Sinis Angga yang memang angkuh dan tak bisa bicara baik dengan orang lain.
Tari makin menggelengkan kepala, dia tidak bisa membayangkan betapa beratnya hidup Lisa tinggal dengan lelaki dingin dan angkuh seperti Angga.
Tari ingin menjelaskan itu, namun tiba-tiba tangannya di tarik oleh Gina.
"Jangan membuat keributan di sini, kamu tahu kan keluarga Pratama sedang berduka?"
Tari tidak ingin membuat keributan, dia hanya tidak yakin wanita yang di balut kain kafan itu Lisa. Tari sudah sangat terbiasa berpelukan dengan Lisa. Dengan satu dekapan saja, Tari yakin sekali kalau perempuan di sana bukan sahabatnya.
"Tapi Saya_"
Ucapan Tari langsung di potong, karena dia langsung di angkat oleh dua pengawal Gina.
"Bawa wanita pembuat keributan ini keluar" Perintah Gina.
Begitu Tari di usir, Gina kembali mendekat ke arah Angga, memberi semangat untuk Angga, agar Angga tabah menerima musibah ini. Namun Angga hanya diam, dia bahkan tidak mendengar sama sekali apa yang di katakan Gina padanya. Matanya hanya menatap satu wajah.
wajah Lisa yang terbungkus kain putih tebal. Bahkan di saat terakhir nya, Angga tidak bisa melihat wajah itu lagi.
Gina yang merasa Angga begitu dingin, akhirnya menjauh dari Angga, wajahnya kesal sekali dengan sikap dingin Angga.
"Sabar nak, jalan kamu masih panjang, sekarang sudah tidak ada halangan lagi, jadi kamu sabar ya?" Bisik Pak Wijaya di telinga putrinya.
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏