NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Kejutan di Bulan Kelima

Dua bulan setelah adjustment schedule Arka dan insiden kontraksi palsu Alya, kehidupan keluarga Mahardika memasuki fase baru yang lebih tenang dan seimbang. Rumah terasa lebih damai, tawa lebih sering terdengar, dan yang terpenting semua orang terlihat lebih bahagia.

Kehamilan Alya memasuki minggu ke-27. Trimester ketiga sudah dimulai. Perutnya sekarang sangat buncit, sampai kadang ia kesulitan mengambil sesuatu yang jatuh. Tapi yang paling membuatnya kewalahan adalah Kirana yang semakin aktif bergerak.

Terutama di malam hari.

"Rey," keluh Alya tengah malam sambil memegang perutnya. Wajahnya lelah tapi ia tersenyum. "Kirana lagi main sepak bola kayaknya. Tendangannya ke mana-mana. Aku nggak bisa tidur."

Reyhan yang sudah terbiasa dengan keluhan tengah malam istrinya tersenyum. Ia turun dari tempat tidur, lalu duduk di lantai sejajar dengan perut Alya. Tangannya dioleskan dengan lembut ke perut yang membuncit.

"Kirana, sayang." Suaranya pelan, seperti membisikkan rahasia. "Ini tengah malam. Mama butuh istirahat. Kamu juga harus tidur, biar besok sehat dan kuat. Besok kita main lagi, ya?"

Alya menatap suaminya dengan takjub. Karena seperti keajaiban, gerakan Kirana mulai mereda. Tendangan-tendangan kecil yang tadinya aktif perlahan berhenti.

"Gimana caranya kamu bisa bikin dia tenang?" tanya Alya heran.

Reyhan tersenyum, masih mengusap perut Alya dengan lembut. "Mungkin dia recognize suara Ayah. Atau mungkin dia cuma pengen perhatian." Ia membungkuk, mencium perut Alya. "Selamat tidur, putri kecil Ayah."

Alya merasakan kehangatan luar biasa di dadanya. "Rey... kamu akan jadi ayah yang luar biasa buat Kirana."

Reyhan naik kembali ke tempat tidur, merebahkan diri di samping Alya. "Aku harap begitu. Aku nervous, Alya." Suaranya jujur, penuh keraguan. "Dengan Arka, aku telat lima tahun. Aku nggak ada waktu dia masih baby. Sekarang dengan Kirana, aku akan ada sejak awal. Dan aku takut... takut aku nggak tahu harus gimana."

Alya meraih tangannya, menggenggam erat. "Kamu akan belajar. Kayak kita semua belajar. Dan Rey... kamu nggak sendirian. Kita akan jalani ini bersama."

Jumat Sore Pertemuan Orang Tua di Sekolah Arka

Jumat sore, sekolah Arka mengadakan pertemuan orang tua untuk evaluasi tengah semester. Alya awalnya ragu untuk datang karena perutnya sudah sangat besar dan berjalan saja terasa berat. Tapi ia ingin sekali melihat perkembangan Arka di sekolah.

Reyhan menuntunnya dengan sabar, tangannya selalu siap membantu. Alya berjalan pelan, sesekali berhenti untuk mengatur napas.

Bu Ratna menyambut mereka di pintu masuk dengan senyum hangat. Matanya langsung tertuju pada perut Alya.

"Bu Alya, perutnya sudah besar sekali! Kapan due date-nya?"

"Akhir Agustus, Bu. Masih tiga bulan lagi." Alya tersenyum sambil mengusap perutnya.

"Wah, excited ya pasti." Bu Ratna kemudian beralih ke Reyhan. "Pak Reyhan, bagaimana kabar Arka di rumah setelah adjustment schedule?"

Reyhan menghela napas lega. "Jauh lebih baik, Bu. Dia tidur lebih cukup, lebih happy. Masih semangat belajar, tapi nggak overwhelmed lagi."

"Syukurlah. Dan performance Arka di sekolah juga excellent. Dia tetap jadi top student, tapi sekarang dia juga lebih aktif bermain dengan teman-temannya. Lebih... seimbang."

Mereka masuk ke ruang kelas Arka. Dinding-dinding kelas dipenuhi dengan karya anak-anak lukisan, gambar, tulisan tangan. Mata Reyhan langsung tertuju pada satu gambar yang membuatnya berhenti melangkah.

Gambar itu berjudul "KELUARGAKU YANG AKU SAYANG". Ada empat figur di sana: Ayah yang digambar sangat tinggi dengan kacamata, Mama dengan perut buncit, Arka di tengah dengan senyum lebar sampai ke telinga, dan baby Kirana yang digambar sebagai bungkusan kecil di tangan Mama.

Di bawah gambar itu, dengan tulisan tangan anak-anak yang masih kaku, Arka menulis: "Ayah, Mama, Kakak Arka, dan Adik Kirana. Aku sayang mereka semua."

Alya merasakan air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Rey... lihat..."

Reyhan juga kesulitan menahan emosi. Ia mengeluarkan ponsel, mengambil foto gambar itu. Tangannya sedikit bergetar.

Bu Ratna berdiri di belakang mereka, ikut tersenyum haru. "Arka sangat excited untuk jadi kakak. Hampir setiap hari dia cerita tentang Kirana. Tentang apa yang akan dia ajari adiknya, bagaimana dia akan jaga adiknya. Dia bahkan bawa buku baby care dari perpustakaan."

Reyhan menelan ludah, berusaha mengendalikan suara. "Kami beruntung punya anak seperti dia."

Sabtu Pagi Kunjungan Rutin Kakek-Nenek

Sabtu pagi, Ratna dan Reyhan Senior datang untuk kunjungan rutin. Sudah menjadi tradisi setiap akhir pekan, kakek-nenek datang dengan senyum dan pelukan hangat untuk Arka.

Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Reyhan Senior datang dengan membawa sesuatu yang besar sebuah kotak kayu yang dipikulnya dengan susah payah. Ratna di belakangnya membawa tas besar.

"Pak, itu apa?" Reyhan segera membantu ayahnya membawa kotak itu ke dalam rumah.

Reyhan Senior mengatur napas, meletakkan kotak di ruang keluarga dengan hati-hati. "Ini... ini ayunan bayi antik. Ini ayunan yang Ayah pakai waktu kamu baby dulu."

Reyhan membeku.

"Ayah simpan selama puluhan tahun." Suara Reyhan Senior sedikit serak. "Dan sekarang... sekarang waktunya dipakai lagi untuk cucu Ayah."

"Ayah... Ayah simpan ayunan aku?" Reyhan tidak percaya.

Reyhan Senior mengangguk. Wajahnya memerah tanda ia sedang berusaha mengendalikan emosi. "Ayah simpan banyak barang-barang kamu waktu kecil. Semua ada di gudang. Ayah... Ayah nggak pernah bisa buang. Karena itu satu-satunya kenangan indah yang Ayah punya dari masa kecil kamu."

Air mata Reyhan jatuh. Ia tidak malu lagi. Ia memeluk ayahnya pelukan yang sekarang sudah tidak canggung, tidak kaku, tapi hangat dan tulus.

"Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah simpan ini."

Ratna ikut menyeka matanya. "Nenek juga bawa sesuatu." Ia membuka tas besar, mengeluarkan sebuah selimut rajut berwarna putih lembut. "Nenek yang rajut sendiri. Butuh dua bulan untuk selesai. Semalam begadang biar kelar."

Alya menerima selimut itu dengan tangan gemetar. Rajutannya rapi, lembut, hangat. "Bu... ini indah sekali. Terima kasih."

Ratna tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Sama-sama. Nenek mau cucu Nenek yang perempuan ini tumbuh dengan kehangatan. Seperti kehangatan yang... yang seharusnya Nenek kasih ke Reyhan dulu tapi nggak Nenek berikan."

Hening sejenak. Lalu Reyhan berkata dengan suara lembut, "Ibu sudah kasih kehangatan sekarang. Itu sudah lebih dari cukup."

Sore Hari Kejutan dari Arka

Sore harinya, setelah kakek-nenek pulang, Arka menarik tangan orang tuanya ke kamar dengan wajah misterius. Matanya berbinar, tapi ia mencoba bersikap tenang.

"Ayah, Mama, aku punya sesuatu buat Kirana." Suaranya berbisik-bisik, seperti sedang menyimpan rahasia besar. "Tapi ini surprise. Kalian harus tutup mata."

Reyhan dan Alya saling pandang dengan senyum penasaran. Mereka menutup mata.

Terdengar suara Arka membuka lacinya, mengambil sesuatu, lalu mengatur napas. "Oke, buka!"

Di tangan Arka, ada sebuah buku. Buku yang ia buat sendiri kertas-kertas dijilid dengan benang, cover dihias stiker bintang dan bulan. Di cover, dengan tulisan tangan Arka yang rapi:

"WELCOME TO THE WORLD, KIRANA

Oleh: Kakak Arka"

Alya langsung menangis.

Reyhan mengambil buku itu dengan tangan gemetar, membuka halaman pertama. Di dalamnya, ada gambar-gambar yang Arka buat sendiri. Gambar keluarga mereka, gambar kamar Kirana, gambar robot-robot yang akan ia ajarkan pada Kirana suatu hari. Dan di setiap halaman, ada tulisan tangan Arka:

"Halo Kirana, ini Kakak Arka. Aku nggak sabar ketemu kamu."

"Ini rumah kita. Ada Ayah, Mama, Kakak, dan sekarang kamu."

"Ini kamar kamu. Ayah sama Mama yang bikin. Kakak bantu pilih catnya."

"Nanti kalau kamu udah besar, Kakak ajarin kamu banyak hal. Tapi sekarang, Kakak cuma mau kamu tau... Kakak sayang Kirana."

Reyhan tidak bisa menahan tangis. Ia menarik Arka ke dalam pelukan erat.

"Nak... ini... ini hadiah paling indah yang pernah Ayah terima."

Arka terlihat lega. "Beneran, Yah? Aku takut gambarnya jelek."

"Ini sempurna," kata Alya sambil ikut memeluk mereka. Suaranya terisak. "Kirana akan sangat suka. Dan nanti kalau dia udah besar, Mama akan kasih ini ke dia. Biar dia tahu... dia punya kakak yang paling baik di dunia."

Arka tersenyum lebar. "Aku cuma... cuma pengen Kirana tahu kalau dia welcome. Kalau kami semua udah nggak sabar ketemu dia."

Minggu Pagi Gerakan Aneh Kirana

Minggu pagi, Alya terbangun dengan perasaan aneh.

Kirana diam.

Biasanya, pagi-pagi Kirana sudah aktif menendang, berguling, membuat perut Alya bergelombang. Tapi pagi ini, tidak ada apa-apa.

Alya duduk di ranjang, memegang perutnya dengan cemas. "Rey... Rey, bangun."

Reyhan yang langsung tanggap dengan nada cemas istrinya terbuka matanya. "Ada apa?"

"Kirana... dia nggak gerak dari tadi. Biasanya pagi-pagi dia udah tendang-tendang."

Jantung Reyhan langsung berdegup cemas. Tapi ia mencoba tenang. "Kamu udah coba makan atau minum yang manis? Kadang baby gerak kalau ada sugar intake."

"Belum. Aku baru bangun."

"Ayo kita coba dulu."

Reyhan turun ke dapur cepat, membuat segelas jus jeruk manis. Ia membawanya ke atas dengan hati-hati.

Alya minum jus itu sambil berbaring, menunggu. Reyhan duduk di sampingnya, memegang tangannya.

Lima menit... sepuluh menit... tidak ada gerakan.

Wajah Alya semakin pucat. "Rey... aku takut. Kenapa dia diam?"

Reyhan berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup sangat cepat. "Kita ke rumah sakit sekarang. Jangan panik. Mungkin dia cuma lagi tidur nyenyak."

Mereka bersiap dengan tergesa-gesa. Arka yang mendengar keributan turun dari kamarnya dengan wajah khawatir.

"Ayah, Mama, kenapa? Kirana kenapa?"

"Kirana lagi diam, Nak. Kita mau periksa ke rumah sakit." Reyhan berjongkok di depan Arka. "Kamu mau ikut atau mau di rumah sama Tante?"

"Aku ikut!" Arka sudah meraih jaketnya. "Aku mau pastiin Kirana baik-baik aja!"

Pukul Sembilan Pagi Rumah Sakit

Di UGD, dokter langsung melakukan CTG untuk memonitor detak jantung Kirana. Alya berbaring di ranjang, tangannya menggenggam erat tangan Reyhan. Arka berdiri di samping, wajahnya pucat.

Mesin CTG mengeluarkan suara yang teratur dug... dug... dug... dug.

Detak jantung Kirana.

Dokter tersenyum. "Detak jantungnya normal. 140 bpm. Ini sangat bagus."

Alya menghela napas lega, tapi masih khawatir. "Tapi kenapa dia nggak gerak, Dok?"

"Baby punya sleep cycle mereka sendiri. Kadang mereka tidur nyenyak selama beberapa jam. Tapi..." dokter melihat monitor dengan teliti, "mari kita coba wake her up."

Dokter menekan perut Alya dengan lembut di beberapa titik.

Mereka semua menahan napas.

Dan tiba-tiba TENDANGAN!

Alya tersentak. "ITU DIA! Dia gerak!"

Arka langsung melompat-lompat kecil. "Kirana bangun! Kirana bangun!"

Dokter tertawa. "Ya, baby-nya bangun sekarang. Dan sepertinya dia nggak seneng diganggu tidurnya."

Semua tertawa tertawa lega, tertawa bahagia, tertawa melepaskan ketegangan yang membelenggu sejak pagi.

"Tapi untuk jaga-jaga," kata dokter dengan nada serius, "kalau baby nggak gerak selama lebih dari dua jam, langsung ke rumah sakit. Nggak usah tunggu. Better safe than sorry."

"Baik, Dok. Terima kasih."

Di Mobil Pulang dari Rumah Sakit

Di mobil, suasana jauh lebih rileks. Arka duduk di belakang dengan senyum lebar di wajahnya.

"Kirana cuma lagi tidur ternyata." Ia terkikik. "Kayak aku kalau akhir pekan."

Reyhan tertawa. "Iya, Nak. Tapi kamu kasih Ayah sama Mama serangan jantung tadi."

"Maaf, Yah. Maaf, Ma." Arka menunduk sedikit, tapi masih tersenyum. "Aku juga takut tadi. Aku takut... takut Kirana kenapa-kenapa sebelum aku sempet ketemu dia."

Alya berbalik dari kursi depan, meraih tangan Arka. "Kirana baik-baik aja, sayang. Dia cuma lagi tidur. Dan nanti kalau dia udah lahir, kamu akan ketemu dia. Dan kamu akan jadi kakak terbaik."

Arka mengangguk mantap. "Aku janji akan jadi kakak yang baik, Ma. Yang jaga dia, yang main sama dia, yang ngajarin dia."

Reyhan tersenyum lewat kaca spion. "Ayah tahu kamu akan jadi kakak yang luar biasa."

Sore Hari Refleksi

Sore harinya, setelah insiden pagi yang menegangkan, mereka duduk bertiga di teras belakang. Alya berbaring di recliner dengan bantal-bantal menopang punggungnya. Arka duduk di lantai sambil membaca buku, sesekali melihat ke arah orang tuanya. Reyhan duduk di kursi, tangannya menggenggam tangan Alya.

"Rey." Suara Alya pelan. "Tadi pagi... aku beneran takut. Takut kehilangan Kirana sebelum aku sempet ketemu dia."

"Aku juga takut." Reyhan menggenggam tangannya lebih erat. "Tapi syukurlah dia baik-baik aja."

"Aku nggak siap kalau terjadi sesuatu pada dia. Aku nggak siap"

"Sshhh." Reyhan memotong dengan lembut. "Jangan mikir kayak gitu. Kirana sehat. Kuat. Dia baby kita. Dia akan baik-baik aja."

Arka tiba-tiba berkata tanpa mengangkat wajah dari bukunya. "Mama, Kirana nggak akan kemana-mana. Dia kan anak Mahardika. Anak Mahardika itu kuat."

Reyhan dan Alya saling pandang. Senyum merekah di wajah mereka.

"Kamu benar, Nak." Reyhan mengusap kepala Arka. "Anak Mahardika itu kuat. Kayak Kakak Arka."

Arka tersenyum lebar.

Sore itu, di teras belakang dengan matahari sore yang hangat dan angin sepoi-sepoi, mereka bertiga sebentar lagi berempat merasakan sesuatu yang sangat berharga:

Ketakutan yang disembuhkan oleh kepastian.

Kecemasan yang dikalahkan oleh harapan.

Keluarga yang semakin kuat menghadapi setiap tantangan.

Dan cinta yang semakin dalam setiap harinya.

Malam Hari Kirana Aktif Lagi

Malam itu, seolah untuk menebus kekhawatiran pagi tadi, Kirana menunjukkan eksistensinya dengan sangat aktif. Tendangannya kuat, sampai-sampai Reyhan yang meletakkan tangan di perut Alya bisa merasakannya dengan jelas.

"Dia lagi main sepak bola lagi," keluh Alya, tapi ia tersenyum.

"Atau mungkin dia lagi dance." Reyhan tertawa. "Putri Ayah yang aktif."

Arka yang tidur di antara mereka kebiasaan baru sejak kehamilan Alya membesar terbangun karena suara mereka.

"Kirana gerak?" tanyanya dengan mata masih setengah mengantuk.

"Iya. Mau coba raba?"

Arka langsung bangun seketika. Ia meletakkan tangannya di perut ibunya dengan hati-hati.

Dan tepat saat itu, Kirana menendang. Tepat di bawah tangan Arka.

Mata Arka membulat sempurna. "MAMA! AYAH! DIA TENDANG AKU! KIRANA TENDANG TANGAN AKU!"

"Iya, sayang. Dia tau itu Kakak-nya." Alya tersenyum lembut.

Arka membungkuk, mendekatkan wajahnya ke perut ibunya. Suaranya berbisik, penuh kelembutan. "Halo, Kirana. Ini Kakak Arka. Maaf ganggu tidur kamu tadi pagi. Tapi Kakak cuma worry. Kakak sayang kamu. Nggak sabar ketemu kamu."

Dan seperti merespon, Kirana menendang lagi. Lebih lembut kali ini. Seperti balasan.

"DIA JAWAB!" teriak Arka dengan girang. "KIRANA JAWAB AKU!"

Reyhan dan Alya tertawa tertawa bahagia melihat interaksi ajaib antara kakak dan adik yang belum lahir.

Malam itu, di kamar mereka dengan tiga sebentar lagi empat anggota keluarga berkumpul, mereka merasakan sesuatu yang sangat istimewa:

Ikatan yang terbentuk bahkan sebelum bertemu.

Cinta yang tumbuh bahkan sebelum melihat wajah.

Keluarga yang semakin lengkap, satu tendangan pada satu waktu.

Dan ketika akhirnya mereka tertidur Alya dengan senyum di wajahnya, Arka dengan tangan masih di perut ibunya, dan Reyhan yang mengawasi mereka semua dengan penuh cinta mereka tahu bahwa apapun tantangan yang akan datang, mereka akan menghadapinya bersama.

Sebagai keluarga.

Keluarga Mahardika.

[Bersambung]

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!