Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Hal-Hal yang Tak Pernah Selesai
Pagi di kota kecil itu selalu datang dengan suara yang lembut.
Ayam berkokok dari kejauhan. Motor-motor melintas pelan di jalan depan rumah. Dan cahaya matahari menembus tirai kamar Alya, jatuh tepat di wajahnya seperti alarm yang tak bisa ditunda.
Ia membuka mata dengan perasaan asing.
Beberapa detik pertama, ia lupa di mana ia berada.
Lalu bau kayu rumah lama itu menyapa. Suara ibunya batuk kecil dari dapur terdengar samar. Dan semuanya kembali.
Ia sudah pulang.
Dan semalam, ia bertemu Arka.
Alya duduk perlahan di tepi kasur. Tangannya meraih ponsel di meja kecil. Tidak ada pesan baru. Tidak ada notifikasi penting.
Tapi entah kenapa, ia berharap ada satu nama muncul di layar.
Tidak ada.
Ia tersenyum kecil pada kebodohannya sendiri.
Kenapa berharap?
Bukankah ia yang selalu memilih menjaga jarak?
Di dapur, ibunya sedang menyiapkan sarapan sederhana. Wajahnya terlihat lebih pucat dari terakhir kali Alya melihatnya lewat video call.
“Bu, kenapa nggak bangunin Alya?” tanyanya lembut.
Ibunya tersenyum. “Kamu capek perjalanan. Ibu nggak tega.”
Alya menahan rasa bersalah yang pelan-pelan mengendap. Lima tahun ia jarang pulang. Sibuk mengejar karier, sibuk membuktikan bahwa ia baik-baik saja tanpa kota ini.
Tanpa Arka.
“Nanti sore Alya anter Ibu kontrol lagi ya,” katanya.
Ibunya mengangguk pelan.
Setelah sarapan, Alya memutuskan berjalan kaki sebentar. Ia butuh mengatur pikirannya. Kota ini kecil. Hampir semua orang saling kenal. Dan benar saja—
Beberapa tetangga menyapanya dengan ramah.
“Kapan nikah, Alya?”
Pertanyaan klasik yang membuatnya tersenyum kaku.
Belum sempat ia menjawab, sebuah motor berhenti pelan di sampingnya.
Deg.
Ia tahu suara mesin itu.
Tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa.
“Pagi.”
Alya memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya menoleh.
Arka.
Kaos putih sederhana, jaket tipis, rambut sedikit berantakan tertiup angin. Tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi tetap saja… ia terlihat berbeda di mata Alya.
“Pagi,” jawabnya pelan.
“Kamu jalan kaki?”
“Iya.”
“Hati-hati. Jalan sini kadang licin kalau habis hujan.”
Perhatian kecil. Sederhana. Tapi membuat jarak lima tahun terasa aneh.
Mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
“Gimana Ibu kamu?” tanya Arka.
“Masih harus rutin kontrol.”
Arka mengangguk. “Kalau butuh bantuan, bilang aja.”
Alya menoleh sedikit. “Kenapa kamu selalu nawarin bantuan?”
Arka tersenyum tipis. “Karena dari dulu aku nggak pernah berhenti peduli.”
Kalimat itu terlalu jujur.
Alya menelan ludah. “Arka… kita udah beda jalan sekarang.”
“Beda kota, iya. Beda perasaan?” tanyanya pelan.
Langkah Alya terhenti.
Angin pagi tiba-tiba terasa lebih dingin.
“Kita nggak bisa balik ke lima tahun lalu,” katanya hati-hati.
“Aku nggak mau balik,” jawab Arka tenang. “Aku cuma mau kesempatan mulai lagi.”
Bukan sebagai remaja labil yang penuh ego.
Tapi sebagai dua orang dewasa yang pernah saling kehilangan.
Alya memalingkan wajah. “Kamu yakin perasaan kamu bukan cuma nostalgia?”
Arka tertawa kecil, bukan mengejek, tapi pahit.
“Kalau cuma nostalgia, harusnya hilang setelah lima tahun.”
Hening lagi.
Di kejauhan, ombak kecil memecah pelan di bibir pantai.
“Alya,” suara Arka lebih rendah sekarang, “aku nggak minta kamu jawab sekarang. Aku cuma… nggak mau ada hal yang nggak selesai lagi di antara kita.”
Kata selesai itu menyentuh sesuatu dalam diri Alya.
Karena sebenarnya, ia pun tahu.
Ia tidak pernah benar-benar selesai.
“Kenapa kamu nggak pernah datang nyari aku?” pertanyaan itu akhirnya keluar, lebih pelan dari yang ia kira.
Arka diam sejenak.
“Aku datang ke rumah kamu waktu itu,” katanya. “Ayah kamu bilang kamu nggak mau ketemu siapa pun.”
Jantung Alya mencelos.
Ayahnya memang marah besar saat itu. Ia bahkan melarang Arka datang lagi.
“Aku kirim email,” lanjut Arka. “Nggak pernah dibalas.”
Alya memejamkan mata.
Ia mengganti alamat emailnya saat pindah.
Ia memutus semua kemungkinan.
Tiba-tiba, beban lima tahun terasa begitu berat.
“Kenapa kita sama-sama keras kepala sih…” bisiknya hampir pada diri sendiri.
Arka tersenyum kecil. “Karena kita masih muda waktu itu.”
Lalu ia berhenti melangkah, menghadap Alya sepenuhnya.
“Tapi sekarang kita nggak muda lagi.”
Tatapan itu tidak mendesak.
Tidak memaksa.
Hanya berharap.
Dan itu jauh lebih sulit dihadapi.
“Aku takut,” Alya akhirnya jujur.
Arka terdiam, tapi tidak memotong.
“Aku takut kalau kita coba lagi… dan ternyata tetap gagal.”
Suara Alya nyaris pecah.
Ia tidak takut jatuh cinta.
Ia takut patah lagi.
Arka menghela napas panjang, lalu berkata pelan,
“Kalau kamu jatuh lagi, kali ini aku janji bakal nangkep.”
Kalimat sederhana.
Tapi entah kenapa, membuat mata Alya terasa panas.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara perempuan memanggil dari kejauhan.
“Arka!”
Seorang perempuan berambut panjang berjalan mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya cantik. Senyumnya cerah.
Dan ia terlihat… akrab.
Alya langsung merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
Perempuan itu berhenti di samping Arka. “Kamu nggak jadi ke kantor? Aku nungguin dari tadi.”
Kantor?
Nungguin?
Alya menoleh pada Arka, menunggu penjelasan yang belum tentu datang.
Arka tampak sedikit canggung. “Ini Alya.”
Perempuan itu tersenyum ramah. “Oh, jadi ini Alya?”
Jadi?
Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sudah sering mendengar nama itu.
“Aku Dira,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Alya menyambutnya dengan senyum sopan.
Tapi dalam hatinya, badai kecil mulai terbentuk.
Kenapa namanya terdengar familiar?
Dan kenapa Arka terlihat seperti seseorang yang menyimpan sesuatu lagi?
“Aku duluan ya,” kata Alya pelan. “Ibu nunggu di rumah.”
Ia tidak menunggu jawaban. Ia langsung melangkah pergi.
Tapi langkahnya terasa lebih berat dari tadi.
Di belakangnya, Arka memanggil namanya.
“Alya!”
Ia tidak menoleh.
Karena untuk kedua kalinya dalam dua hari ini—
Ia merasa takut akan kebenaran.
Dan pertanyaan itu terus berputar di kepalanya:
Siapa sebenarnya Dira dalam hidup Arka sekarang?
Dan apakah ia benar-benar siap tahu jawabannya?
ahh pria solo itu lagii🤣🤣