Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Bab: Panggilan yang Mengubah Segalanya
Malam berlalu begitu cepat.
Seolah baru saja ia memejamkan mata, tiba-tiba cahaya pagi sudah menyusup lewat celah tirai kamar.
Senja terbangun dengan napas berat.
Langit-langit kamar kontrakannya terlihat pucat. Sunyi. Dingin.
Ia menoleh ke arah jam dinding.
09.00 pagi.
Hari ini ia mendapat jadwal kerja shift malam. Seharusnya ia masih bisa tidur lebih lama, membalas lelah setelah semalaman bekerja. Tapi pikirannya sudah lebih dulu terjaga—bahkan sebelum tubuhnya siap bangun.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur. Rambutnya tergerai berantakan. Matanya sembap. Bukan karena kurang tidur semata… tapi karena terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tak pernah selesai.
Wajah Ibu.
Wajah yang beberapa hari ini lebih sering terdiam.
Tatapan kosong yang seolah kehilangan cahaya.
Senyum yang dipaksakan, seakan ingin meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja… padahal tidak.
Dan semua itu—Senja tahu persis penyebabnya.
Kak Rini.
Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa panas.
Sejujurnya, hatinya masih dipenuhi benci pada perempuan bernama Rini itu. Ia tidak pernah membenci seseorang sedalam ini sebelumnya. Tapi melihat Ibu yang ketakutan di rumahnya sendiri… melihat Ibu seperti tamu di rumah yang dibangunnya bersama Ayah dulu… itu terlalu menyakitkan.
Setiap mengingat apa yang telah dilakukan Kak Rini—kata-kata tajamnya, sikap acuhnya, cara ia memandang Ibu seolah tak berarti—dada Senja terasa seperti disulut api kecil yang tak pernah padam.
Api itu tidak membakar habis.
Hanya menyiksa. Perlahan. Tanpa henti.
Entah setan apa yang merasukinya pagi itu.
Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Ia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Layarnya masih redup, seakan ikut lelah bersama malam.
Jemariny gemetar ketika membuka daftar kontak.
Nama itu masih ada.
Rini.
Hanya satu kata.
Tapi beratnya seolah melebihi beban dunia.
Senja menatapnya lama. Sangat lama. Seolah berharap nama itu menghilang dengan sendirinya. Seolah berharap amarah di dadanya ikut mereda.
Ada dorongan untuk menghapusnya.
Ada dorongan untuk memblokirnya.
Ada juga dorongan yang jauh lebih kuat—menekan tombol panggil dan meluapkan semuanya yang selama ini ia pendam.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun tak beraturan.
Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?
Membela Ibu?
Atau sekadar melampiaskan amarahnya?
Layar ponsel itu seperti memantulkan wajahnya sendiri.
Wajah yang penuh emosi.
Wajah yang terluka.
Wajah seorang anak yang tak terima ibunya diperlakukan seperti itu.
Tangannya berhenti tepat di atas nama itu.
Air matanya jatuh lebih dulu sebelum ia benar-benar memutuskan sesuatu.
Jika ia menekan tombol itu… apakah semuanya akan membaik?
Atau justru semakin hancur?
Jam terus berdetak.
Dan untuk pertama kalinya, Senja merasa lelah karena terlalu lama diam.
Ia tidak ingin lagi hanya menjadi penonton.
Dengan satu helaan napas panjang… ia menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk jantungnya.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar santai. Terlalu santai.
Darah Senja langsung berdesir.
“Ini aku.” Suaranya bergetar. Tapi tegas.
Hening beberapa detik.
“Oh… Senja. Ada apa?”
Ada apa?
Pertanyaan itu seperti menyiram bensin ke api yang sudah menyala di dadanya.
“Aku cuma mau bilang satu hal,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosinya. “Berhenti menyakiti Ibu.”
Di seberang terdengar helaan napas tidak sabar.
“Kamu salah paham, Senja.”
“Jangan berdalih!” suara Senja meninggi tanpa ia sadari. “Selama ini Ibu diam bukan karena dia salah. Tapi karena dia capek. Capek menghadapi sikapmu!”
Sunyi.
Tapi sunyi itu bukan berarti tenang. Justru semakin mencekam.
“Aku tinggal di rumah itu karena aku anaknya juga,” balas Rini dingin. “Dan suamiku juga berhak di sana.”
Kalimat itu membuat tangan Senja mengepal kuat. Kukunya hampir menancap ke telapak tangan sendiri.
“Kalau kamu merasa anak,” suaranya beRgetar karena menahan tangis, “kamu tidak akan membuat Ibu takut di rumahnya sendiri!”
Air matanya jatuh lagi.
“Satu rumah… tapi Ibu seperti orang asing. Kamu tahu itu?”
Untuk pertama kalinya, tidak ada jawaban cepat dari Rini.
Mungkin terkejut.
Mungkin marah.
Mungkin juga tidak peduli.
Tapi Senja sudah terlalu jauh untuk mundur.
“Aku tidak mau memperpanjang ini,” lanjutnya dengan napas berat. “Tapi dengar baik-baik. Kalau kamu tidak bisa menghormati Ibu… lebih baik kamu dan suamimu keluar dari rumah itu.”
Suara di seberang berubah tajam.
“Kamu mengusirku?”
Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan.
“Iya,” jawab Senja, kali ini tanpa gemetar. “Aku mengusirmu. Demi Ibu.”
Detik-detik terasa panjang.
Jantung Senja berdebar keras. Tapi anehnya… ia tidak lagi merasa takut.
“Aku tidak peduli kamu marah padaku. Tidak peduli kamu membenciku. Tapi aku tidak akan diam lagi kalau Ibu terus terluka di rumahnya sendiri.”
Hening panjang.
Lalu—
“Ini bukan urusanmu saja, Senja,” suara Rini terdengar dingin dan tertahan. “Jangan merasa paling benar.”
Klik.
Telepon itu terputus.
Tanpa salam.
Tanpa kata maaf.
Tanpa penyelesaian.
Senja menurunkan ponselnya perlahan.
Tangannya masih gemetar. Napasnya belum stabil. Dadanya terasa sesak—tapi bukan sesak yang sama seperti tadi.
Ini berbeda.
Ada lega yang samar.
Ada keberanian yang baru saja lahir.
Ia sadar, mungkin setelah ini akan ada pertengkaran.
Mungkin Kak Rini akan semakin membencinya.
Mungkin rumah itu akan dipenuhi suara-suara keras.
Tapi hari ini… ia memilih berhenti diam.
Ia tidak tahu apakah tindakannya benar.
Ia tidak tahu apakah ini akan memperbaiki keadaan atau justru memperburuknya.
Yang ia tahu hanya satu—
Ia tidak sanggup lagi melihat Ibu terluka dalam diam.
Senja menyeka air matanya. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka tirai sepenuhnya.
Cahaya matahari masuk menerangi kamar kecilnya.
Hangat.
Untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, ia merasa tidak lagi sendirian dalam perasaannya.
Mungkin badai akan datang.
Mungkin rumah itu akan semakin retak sebelum benar-benar membaik.
Tapi setidaknya… hari ini, ia sudah memilih untuk melindungi seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan apa pun yang terjadi setelah ini—
Senja siap menghadapinya.