Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Widia melihat Viola menuruni tangga. Dengan tidak sabar dan dipenuhi rasa penasaran, ia bertanya, "Vi, disuruh ngapain ke ruangannya Pak Rasta?"
Viola menjawab, "Nggak disuruh ngapa-ngapain, kok."
"Serius?" Widia mengedar pandangannya ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Viola pernah mewanti-wanti agar Widia merahasiakan sesuatu yang ia ketahui tentang Viola dan Rasta. Cukup Widia saja yang tahu, karyawan lain jangan.
"Bunga yang dibawa Pak Rasta tadi pasti buat kamu, kan?" bisik Widia. "Cieeee," Widia tersenyum menggoda Viola. Namun Viola malah melengos, tidak terpengaruh sama sekali.
"Enggak kok. buktinya aku gak bawa bunga itu," sangkal Viola. Ia kembali bekerja lagi, diikuti Widia yang masih kepo di belakangnya.
"Lo tolak ya, Vi?" tebak Widia. Ia sangat yakin bunga tulip kuning yang dibawa oleh Rasta tadi, akan diberikan kepada Viola. Apalagi setelahnya, Rasta memanggil Viola ke ruangannya. Dalam bayangan Widia, dia akan melihat Viola keluar dari ruangannya Rasta sambil membawa bunga dan tersenyum.
Namun dugaan Widia sungguh meleset. Jangankan membawa bunga, senyum pun Viola tidak. Diamnya Viola kali ini membuat Widia yakin, jika tebakannya benar. Viola pasti sudah menolak bunga pemberian dari mantan suaminya itu.
"Kenapa, Vi? Kenapa lo tolak bunga dari Pak Rasta?" cecar Widia.
"Karena gue gak suka bunga," jawab Viola asal-asalan. Widia tentu saja tidak percaya. Ia yakin pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Viola.
*
"Vita, udah melem. Tidur yuk?"
"Iya, Ma."
Viola mematikan televisi yang menyala. waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah waktunya Vita berhenti dari segala aktivitasnya.
Wanita itu mengajak Vita ke kamar mandi. mengajarinya sejak dini untuk bersih-bersih sebelum tidur. Sesekali, Viola mengizinkan Vita sikat gigi sendiri, meskipun sering kali masih Viola yang membantunya membersihkan giginya.
"Coba senyum, mama mau liat giginya. Bersih nggak?"
Vita tersenyum, memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang putih bersih karena sudah dibiasakan sikat gigi sejak kecil, gigi Vita terlihat bagus.
"Pinternya, gigi Vita bersih banget. Sekarang kita ke kamar yuk, ganti baju."
"Oke, Ma." Vita mengacungkan jempolnya.
Viola membawa Vita ke kamar. Ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Juga menyisir dan merapikan rambutnya. Kini, gadis kecil yang ia lahirkan lebih dari empat tahun yang lalu, terlihat semakin cantik.
"Mama mau ngomong sesuatu sama Vita," ucap Viola saat dirinya dan Vita sudah berada di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka.
"Vita ... Masih mau ketemu sama papa?" tanya Viola pelan dan lembut. Malam ini ia ingin memberi penjelasan kepada Vita tentang papanya.
Vita menatap mamanya sesaat, setelah itu ia menganggukkan kepalanya, "Mau, Ma."
Viola tersenyum, mencium pipi Vita dengan penuh sayang. "Kabar baiknya, sekarang Vita udah bisa ketemu sama papa karena papa udah pulang. Mama mau nanya, kalau Vita ketemu sama papa nanti, Vita mau ngapain?"
Pandangan Vita nampak menerawang, terlihat ia sedang berpikir, "Vita mau peluk papa terus Vita mau minta supaya papa jangan pergi lagi. Terus Vita mau jalan-jalan sama papa, sama mama juga, terus minta dibeliin jajan yang banyak," tuturnya.
Dalam bayangan Vita, jika bertemu dengan papanya, dia ingin melakukan hal-hal yang sering dilakukan Alina bersama mama dan papanya. Seperti pergi jalan-jalan, menginap di hotel, makan bareng di restoran, dan banyak kegiatan lainnya yang satu per satu mulai ia susun di otaknya.
permintaan polos itu membuat Viola menerbitkan senyumnya. "Vita bakalan marah nggak sama papa karena papa baru pulang dan menemui Vita sekarang?"
Tanpa perlu berpikir lagi, Vita langsung menggeleng. "Enggak. Vita nggak akan marah sama papa, tapi papa harus jelasin selama ini papa pergi ke mana, dan kenapa papa nggak pernah temuin Vita."
"Itu ... Karena papa harus kerja di tempat yang jauh dan nggak bisa pulang menemui Vita. Papa baru bisa pulang sekarang."
"Berati papa udah kerja lama banget dong?"
Viola mengangguk.
"Berati papa udah punya banyak uang dong sekarang?" Vita bertanya diiringi tatapan polosnya, membuat tawa Viola pecah begitu saja.
"Emangnya Vita mau minta dibeliin apa sama papa?"
"Mobil," jawabnya jujur dengan mata berbinar. "Mau minta diajak jalan-jalan juga ke mall, terus naik kereta, naik pesawat, naik kapal, kayak Alina."
Viola semakin terbahak. "Kok kamu tau kalau Alina sering jalan-jalan naik kereta, pesawat, kapal?"
"Soalnya Alina sering cerita diajak pergi jalan-jalan terus sama papanya kalau hari Minggu."
"Oh, gitu?"
"Iya," Vita mengangguk. "Papa bisa kan ngajakin Vita naik kereta, pesawat, sama kapal?" tanyanya penuh harap.
Viola mengangguk beberapa kali. "Pasti dong. Papa pasti akan melakukan apa aja buat Vita. Karena papa sayang sama Vita. Jadi, Vita juga harus sayang sama papa. ngerti?"
Dengan semangat, Vita mengangguk. "Jadi, kapan Vita bisa ketemu sama papa? Vita nggak sabar, Ma."
*
Pada dasarnya, Rasta adalah orang yang penyayang. Rasta mau melakukan apa saja demi orang yang dicintainya. Viola yakin, karena dia pernah menjadi bagian hidup Rasta yang paling berharga. Betapa dulu Rasta sering menunjukkan cintanya setiap hari, Viola masih ingat.
Maka dari itu, Viola ingin Vita juga merasakan hal yang sama. Vita tidak boleh kekurangan kasih sayang. Dia mempunyai orang tua yang lengkap, dan Rasta harus menjadi cinta pertamanya.
Itu sebabnya, apa pun yang pernah terjadi di masa lalu, Viola berusaha untuk melupakan. Semua demi Vita. Semua demi kebahagiaannya.
"Udah siap ketemu sama papa?" tanya Viola sambil berjongkok. Gadis kecil di hadapannya, yang kedua bahunya sedang ia pegangi, mengangguk lembut.
"Oke .... " Viola melirik Rasta yang sudah stand by di belakang punggung Vita. kedua tangannya memegang boneka beruang.
"Sekarang Vita bisa balik badan. Di belakang Vita, ada papa," suruh Viola.
Viola melepas kedua tangannya dari bahu Vita, membiarkan anaknya memutar tubuhnya, dan melihat Rasta.
"Lho? Om badut?" pekik Vita terkejut.
Viola segera memberinya penjelasan. "Om badut itu papanya Vita. Mulai sekarang, jangan panggil Om. Panggil papa."
Rasta tersenyum, mensejajarkan tingginya dengan Vita.
"Jadi Om badut ini papanya Vita?"
Rasta terkekeh mendengar dirinya dipanggil Om Badut. "Iya. Aku papanya kamu. Maaf ya? Papa baru bisa pulang sekarang menemui Vita. Vita nggak marah, kan?"
Viola sudah menjelaskan segalanya. Rasta harus berpura-pura bahwa ia baru saja pulang setelah bekerja di tempat yang jauh dan dalam waktu yang lama.
"Nggak kok, Vita nggak marah." Vita menggeleng sambil tersenyum. Tatapan matanya yang tulus membuat Rasta ingin mengutuk dirinya sendiri.
"Nih, papa bawain boneka buat Vita. Terima kasih ya udah mau nungguin papa pulang."
"Terima kasih juga karena papa udah pulang."
Keduanya lantas berpelukan. Sama-sama merasa lega.
Viola turut merasa senang, ia bangkit berdiri, ingin menjauh supaya bisa memberikan waktu yang lebih banyak untuk Rasta dan Vita.
Namun sebelum ia sempat melangkah, Rasta menahan lengannya. Ia menatap Viola, gerak bibirnya yang dapat Viola tangkap, mengatakan, "Makasih ya, Vi, makasih banget."
Berkat Viola, Vita sama sekali tidak membenci papanya
*
Rasta baru keluar dari mobilnya malam itu. Restorannya baru tutup, dan ia baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah, ketika ponselnya bergetar.
Terlihat nama Baim yang terpampang di layar. Rasta menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Halo, Im."
"Ta, kabar baik, Ta! Orang suruhan gue udah bisa nemuin orang yang lo cari!"
Rasta, yang hampir membuka pintu rumah, memutar tubuhnya lagi. Kembali masuk ke dalam mobil tanpa menutup panggilan dengan Baim.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu