NovelToon NovelToon
Pewaris Kaisar Es Jiang Yuan

Pewaris Kaisar Es Jiang Yuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Timur / Action
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.

Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.

Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Jiang Yuan vs Ling Xi

Arena Sekte Bulan Kabut terbentang luas di tengah kompleks sekte, sebuah lapangan besar berbentuk bundar yang dikelilingi oleh tribun-tribun bertingkat.

Hari itu, tempat itu sangat ramai. Ribuan murid dari ketiga Puncak Sekte duduk di tribun dengan semangat membara, sorak-sorai dan bisik-bisik mereka memenuhi udara pagi yang cerah.

Di tribun tertinggi, para tetua duduk berjejer dengan anggun. Di sisi kiri, Tetua Zhang dari Puncak Bambu duduk dengan ekspresi sedikit cemberut, Puncak Bambunya telah tersingkir lebih awal.

Di tengah, Tetua Liu dari Puncak Angin duduk dengan santai, senyuman percaya diri menghiasi wajahnya yang masih awet muda.

Dan di sisi kanan, Wang Ning dari Puncak Teratai duduk dengan anggun, gaun merahnya berkibar pelan tertiup angin pagi.

Ketiganya duduk sejajar di kursi kayu giok yang dihias dengan ukiran-ukiran rumit, menikmati suasana pertarungan yang akan segera dimulai.

"Kali ini, kelihatannya Puncak Anginku akan menjadi juara lagi," ucap Tetua Liu, seorang wanita berambut pendek dengan mata tajam dan aura yang kuat.

Meski terlihat biasa saja, ia sudah berada di Ranah Dou Wang tahap menengah, kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Tawanya yang ringan terdengar meremehkan.

Zhang Gong, tetua Puncak Bambu, menghentakkan tangannya di atas sandaran kursi dengan ekspresi kesal. "Bagaimana mungkin Puncak Bambuku kalah! Aku sudah melatih murid-muridku dengan keras selama setahun penuh!"

"Hahaha!" Wang Ning tertawa renyah, menutup mulutnya dengan ujung jari yang lentik. "Bukan Puncak Bambumu yang lemah, Tuan Zhang. Tapi Puncak Teratai kami yang bertambah kuat. Murid-muridku berlatih dengan sangat giat."

Zhang Gong hanya mendengus, tidak mau membalas. Tetua Liu tersenyum tipis, pandangannya beralih ke arena di bawah.

Semua pandangan akhirnya tertuju pada arena di mana Ling Xi sudah masuk.

Wanita itu melangkah dengan anggun, setiap langkahnya sarat dengan kepercayaan diri yang memancar dari seluruh tubuhnya.

Ia mengenakan pakaian berwarna hijau muda yang cukup tertutup di bagian atas, dengan kerah tinggi dan lengan panjang yang melingkari tangannya dengan rapi.

Namun di bagian bawah, roknya terbuka lebar di sisi paha, memungkinkan gerakan bebas dan mengekspos kulit putih mulusnya yang berkilauan di bawah sinar matahari.

Rambut hitamnya yang panjang terikat ke belakang dengan simpul sederhana, menyingkapkan wajahnya yang cantik dan tegas. Matanya yang berwarna hijau muda seperti dedaunan musim semi berkilauan dengan ketajaman dan kecerdasan.

Satu pedang tergantung di punggungnya, hanya sebagai hiasan, karena belum pernah ada orang yang berhasil membuatnya menarik pedang itu dari sarungnya. Kekuatannya terpancar jelas, Ranah Da Dou Shi tahap akhir.

Sementara itu, di sisi lain arena, Jiang Yuan akhirnya masuk.

Langkahnya tenang, tidak terburu-buru. Jubah hitamnya berkibar pelan setiap kali angin berembus, menciptakan kesan misterius yang kontras dengan sorak-sorai penonton di sekitarnya.

Pandangannya langsung tertuju pada Ling Xi, menilai wanita itu dari atas ke bawah dengan tatapan yang tajam dan penuh perhitungan.

Begitu Jiang Yuan muncul, bisik-bisik langsung menyebar di antara para penonton.

"Lihat itu!"

"Hanya Ranah Dou Shi?!"

"Apa Puncak Teratai kekurangan orang? Mengapa mengirimkan seseorang yang begitu lemah?"

"Apa mereka sudah menyerah sebelum pertarungan dimulai?"

Di tribun tinggi, Tetua Liu menoleh ke arah Wang Ning dengan alis terangkat. "Wang Ning, apakah kau benar-benar mengirimkan murid Ranah Dou Shi untuk melawan Ling Xi? Apa kau sudah kehabisan murid yang lebih layak?"

Wang Ning hanya tersenyum misterius, tidak menjawab. Matanya yang emas tetap tertuju pada Jiang Yuan.

Di arena, Ling Xi bergerak perlahan ke samping. Rok hijaunya sedikit berkibar tertiup angin yang ia ciptakan sendiri, menciptakan efek dramatis yang memukau para penonton.

Matanya yang hijau menyipit menatap Jiang Yuan dengan ekspresi antara heran dan terhina.

"Ranah Dou Shi..." ucapnya, suaranya dingin namun merdu. "Apa Puncak Teratai meremehkanku? Mengirimkan seseorang selemah dirimu untuk melawanku?"

Jiang Yuan hanya sedikit merenggangkan tubuhnya, melakukan pemanasan ringan. Ia menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan, lalu melenturkan pergelangan tangannya.

"Tidak," jawabnya dengan nada datar. "Kami benar-benar menganggapmu sebagai lawan yang serius. Karena itulah aku yang dikirim."

Ling Xi mulai merasa ia dipermainkan. Alisnya yang lentik berkerut, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih tajam.

"Hanya mengandalkan dirimu, apa yang kau bisa? Kau bahkan tidak mencapai setengah dari ranahku."

Jiang Yuan menatapnya dengan tenang. Seulas senyuman tipis terbentuk di sudut bibirnya.

"Kau akan segera tahu."

Di dalam hatinya, Jiang Yuan menyadari bahwa ia benar-benar akan kesulitan kali ini. Ling Xi bukanlah lawan biasa, ia adalah kultivator berpengalaman di puncak Ranah Da Dou Shi, dengan penguasaan teknik angin yang luar biasa.

'Aku tidak bisa menggunakan kekuatan Kak Bing terus-menerus,' pikirnya, matanya tetap waspada. 'Terlebih lagi di sini ada banyak orang. Para tetua sedang mengawasi. Jika aku menunjukkan kekuatan esku di depan mereka, pasti akan menimbulkan kecurigaan. Aku harus mengandalkan teknik-teknik yang sudah kumiliki.'

Di dalam Lautan Kesadarannya, Bing Bi bersuara. "Kau bisa melakukannya, bocah. Ingat, teknik angin memiliki kelemahan, mereka bergerak cepat, tapi pola serangan mereka bisa diprediksi. Perhatikan gerakannya."

Jiang Yuan mengangguk dalam hati.

Ling Xi akhirnya bersiap. Satu kakinya mundur ke belakang, tubuhnya merendah sedikit ke posisi yang lebih stabil.

Dou Qi berwarna hijau kebiruan mulai memancar dari tubuhnya, berputar seperti angin puyuh kecil di sekelilingnya. Tekanan udara di arena mulai berubah, angin bertiup lebih kencang, membuat debu-debu beterbangan.

Jiang Yuan mengarahkan tangannya ke depan, jari-jarinya terbuka siap. Dou Qi keperakan mulai mengalir di permukaan kulitnya, bersinar samar di bawah sinar matahari pagi.

Di tribun tinggi, salah satu tetua pengawas pertandingan berdiri, tangannya terangkat tinggi. Suaranya yang lantang menggema di seluruh arena.

"Pertarungan..."

Semua penonton menahan napas.

"...dimulai!"

Wush!

Ling Xi bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, meninggalkan jejak angin berwarna hijau kebiruan di belakangnya.

Dalam sekejap, ia sudah berada di hadapan Jiang Yuan, tangannya terbentuk menjadi cakar yang siap mencabik.

Jiang Yuan tidak panik. Dengan gerakan yang telah dilatihnya berkali-kali, ia memiringkan tubuhnya ke samping, membiarkan serangan Ling Xi hanya menyabet udara kosong.

Swoosh!

Angin dari serangan itu menerpa wajahnya, tajam dan dingin. Namun Jiang Yuan sudah bergerak, melompat mundur untuk menciptakan jarak.

"Lumayan," ucap Ling Xi, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Kau memang bukan murid biasa."

Jiang Yuan tidak menjawab. Ia menatap Ling Xi dengan fokus total.

'Cepat,' pikirnya. 'Dia sangat cepat. Aku harus bisa mengimbanginya.'

Ling Xi tersenyum, seolah menikmati pertarungan ini. Tangannya terangkat, dan angin mulai berputar di telapaknya.

"Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan, bocah Ranah Dou Shi."

Di tribun tinggi, Wang Ning menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan senyuman puas.

'Tunjukkan padaku, Xiao Yuan,' pikirnya. 'Tunjukkan pada mereka semua apa yang kau mampu.'

Di arena, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.​

...---...

...[ Ilustrasi: Ling Xi ]...

1
yayat
sungguh kuat mental jian
yayat
dapat bonus extra ni dari tetua ning
Cecilia: tinggal tunggu mainnya😋
total 1 replies
emg gw pikirin?
yh, ini mc ga naif, ga asal ambil harta, best deh
emg gw pikirin?
mc msi cool2 dsnii
emg gw pikirin?
suka dchhh sama mc gni
Gege
belom kunjung ada adegan kulit bertemu kulit dan bulu bertemu dengan bulu dalam adegan kultivasi ganda untuk meningkatkan kekuatan sang MC..💪😄🤣🤭
Cecilia: hampir ini🗿 dikit lagi, besok keknya
total 1 replies
Cecilia
besok ku up sampe bab 40
yayat
ditunggu
Cecilia
letsgooo, tungguin next bab gaes
Tsumuri Makabe
bagus, mc op, licik
Tsumuri Makabe
lesgooo jiang yuann
Tsumuri Makabe
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Tsumuri Makabe
/Determined//Determined//Determined/
Tsumuri Makabe
hmmm, awal yg bagus
asammanis
kurus dagingnya dikit
yayat
apa ni yg diminta ga mungkin minta nganu kn haha
Gege
di tunggu proses penyatuan yin yang dalam tajuk kultivasi ganda mempraktekkan isi kitab kamasutra 99 gerakan, guna memanen energi..🤣😄..makin banyak hareem makin kuwatt MC nyaaaah...💪
Cecilia: nantikan aja bab 39nya wkwk, bentar lagi🗿
total 1 replies
yayat
wah hal apa ni lanjut
Fajar Fathur rizky
gambar wang ning thor
Cecilia: ntar di bab 39 pas mereka nganu
total 1 replies
Zed Wara
13. Da da
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!