Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kelemahan
"Mana lipstiknya?" tanya Andrea dengan nafas terengah-engah. Keringat nampak bercucuran di kening setelah berlarian di tangga.
Melihat keadaan Andrea yang cukup berantakan, Lucien berdecak sebal lalu mengambil beberapa lembar tisu. Seperti orang ketempelan, dia berjalan mendekat lalu membantu menyeka keringat di wajahnya.
"Kenapa tidak lewat lift saja?"
"Aku belum nyaman." Andrea santai dengan perlakuan Lucien. Demi uang, dia akan beradaptasi dengan tingkah mesum nan nyeleneh pria ini.
"Dua tahun kau kerja di sini ku pastikan kakimu patah karena terus naik turun lewat tangga. Perusahaan sangat memudahkan pekerjaan para karyawan, tapi kenapa kau malah memilih jalan yang sulit?" omel Lucien tak habis pikir. Tetapi anehnya, selama apapun Andrea naik turun tangga dia akan dengan senang hati menunggunya sampai.
"Naik tangga memang melelahkan, tapi berada di kotak gempa itu jauh lebih mengerikan. Lagi pula naik tangga itu sehat kok. Asalkan hati-hati mustahil kakiku patah," sahut Andrea santai menyanggah ucapan Lucien.
"Lift."
"Terserah. Pokoknya aku menyebut tempat itu kotak gempa."
"Dasar kampungan."
Percaya tidak! Di dalam ruangan itu sebenarnya tidak hanya ada Lucien dan Andrea saja. Melainkan ada beberapa orang yang mana mereka semua dibuat terperangah tak percaya menyaksikan perdebatan kecil mereka. Khawatir mengganggu, Veroz mengajak semua orang untuk meninggalkan ruangan sebelum bos mereka sadar dan keluar tanduk.
"Tuan Veroz, yang di dalam tadi ....
"Berpura-puralah buta dan tuli atas apa yang kalian lihat di dalam tadi. Jika kabar ini sampai bocor keluar, aku tak menanggung resiko yang akan kalian terima. Nona Andrea bukan kekasih ataupun istri Tuan Lucien, tapi dia memegang kasta paling tinggi di perusahaan ini. Jadi kalau kalian masih ingin menjadi bagian dari GS Company, teruslah berpura-pura tidak tahu ada hubungan apa diantara mereka. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
Kembali ke dalam ruangan, Lucien senyum-senyum tak jelas menyaksikan Andrea yang sedang sibuk membuka paper bag. Dipikirannya, gadis ini akan langsung bermanja setelah mengetahui betapa dia sangat loyal dan royal.
"Bos, lipstik sebanyak ini untuk apa?" tanya Andrea heran. "Satu, dua ... astaga, tiga puluh biji. Bibirku itu cuma satu pasang, bos. Sebanyak ini bagaimana cara memakainya?"
"Dasar bodoh. Tidak semua harus dipakai sekaligus. Berbeda hari kau bisa pakai yang berbeda warna. Begini saja harus aku yang menjelaskan. Sebenarnya di sini siapa sih yang perempuan?" omel Lucien gemas sendiri melihat kepolosan Andrea. Makin dilihat gadis ini makin membuatnya tak karu-karuan. Sikap polosnya natural, sama dengan kecantikannya yang murni tanpa polesan make-up mahal.
Andrea mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Lucien. Di desanya dulu dia hampir tak pernah memakai lipstik. Jika bukan karena dipaksa oleh ketiga kakaknya, mungkin Andrea tidak akan pernah memiliki pewarna bibir seperti ini.
"Terima kasih ya."
"Sama-sama."
Deg
Tubuh Lucien menegang. Barusan dia tak salah dengar, kan? Andrea berterima kasih padanya. Dan suara itu ... betapa merdunya.
"Tumben sekali kau tidak langsung pamer. Biasanya aku puji sedikit kau langsung membusungkan dada. Kenapa sekarang tidak?"
"Siapa bilang tidak?" Lucien sontak berdiri. Sambil menelan ludah, dia berkacak pinggang siap untuk pamer kekayaan. Sayangnya tidak ada kata-kata yang terucap keluar, terlalu gugup dengan cara Andrea menatapnya. "Aku ... aku ....
"Kau kenapa?"
"Aku kaya." Asal Lucien berucap. Jantungnya seperti mau meledak sekarang.
"Ya ya ya si paling kaya. Terima kasih banyak ya sudah membelikanku lipstik sebanyak ini. Besok-besok bolehlah diganti produk lain yang aku belum punya. Kaukan orang kaya. Uangmu pasti banyak," ucap Andrea semakin memuji. Biar saja, toh dia tak rugi. Hanya bermodal pujian saja dia bisa dapat banyak hal. Rugi kalau tidak dilakukan.
Salah tingkah, Lucien masuk ke kamar mandi. Dia lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam wastafel yang sudah diisi dengan air.
"Brengsek! Di saat begini burungku malah berdiri. Andrea mana mungkin mau membantuku menenangkannya. Argghhh!" geram Lucien sembari menatap ke bawah. Malang nian burung satu ini.
Cukup lama Lucien berada di kamar mandi. Setelah merasa jauh lebih tenang barulah dia keluar. Akan tetapi belum juga pintu kamar mandi tertutup, burungnya sudah kembali menegak ketika melihat pemandangan di depan mata. Andrea memakai lipstik di bibirnya. CATAT! Memakai lipstik.
"Aku cantik tidak?" tanya Andrea polos. Tertarik dengan salah satu warna lipstik, dia memutuskan untuk mencobanya.
"Cantik." Lucien menggelengkan kepala, berusaha untuk tetap menjaga kesadaran. "Jelek. Bibirmu terlihat seperti pantat ayam yang sedang mekar. Hapus saja. Mataku sakit melihatnya."
"A-apa kau bilang?"
"Mirip pantat ayam. Cepat hapus!"
Meradang karena dihina, Andrea pun menjadi emosi. Akan tetapi emosi tersebut meredup dalam sekejap mata saat terngiang dengan rencananya memeras Lucien.
(Tidak, aku tidak boleh marah. Lebih baik tunjukkan sisi lemahku saja supaya dia merasa bersalah)
"Dihina miskin dan tak mampu beli lipstik, sekarang kau mengatai bibirku mirip pantat ayam yang sedang mekar. Memang sejelek itu ya aku di matamu? Hiksss,"
"Hei, kau sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Cepat minta air matamu kembali masuk ke dalam mata!" pekik Lucien kaget mendengar isakan Andrea. Panik, dia segera mendekat lalu mengelus punggungnya dengan lembut. "Sudah ya jangan menangis lagi. Barusan aku cuma bercanda. Kau terlihat cantik sekali memakai lipstik warna ini. Sungguh."
"Hikss, bohong. Mulutmu selalu jujur dan tajam. Benarkan aku jelek?"
"Tidak, An. Kau perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Tolong percayalah. Kau mau apa, hm? Aku berikan."
Sudut bibir Andrea berkedut. Benarkan? Mengalahkan kesombongan Lucien cukup dengan memperlihatkan sisi lemahnya sebagai perempuan. Lihat, hanya dengan berpura-pura menangis pria ini sudah berjanji akan memberikan segalanya.
"Mau rumah, deposit, atau saham? Kau tinggal sebutkan saja mau yang mana. Hari ini juga semuanya akan langsung ku urus asalkan kau mau berhenti menangis. Oke?" bujuk Lucien. Dalam hati dia merutuki mulutnya yang gampang sekali mengeluarkan kalimat ejekan.
"Aku lelah. Mau tidur," sahut Andrea menahan tawa. Dia sudah tak kuat melihat Lucien ketakutan.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ambilkan selimut dulu."
Penuh perhatian Lucien membimbing Andrea duduk di sofa. Setelah itu dia buru-buru masuk ke kamar pribadinya mengambil selimut.
"Nah, berbaringlah. Kau tak perlu memikirkan pekerjaan dulu, biar nanti Widia yang menghandle. Tugasmu sekarang hanya tidur dan menenangkan diri. Mengerti?"
"Apa tidak apa-apa kalau aku tidak bekerja? Gajiku bagaimana?"
Secepat kilat Lucien mengambil ponsel lalu mentransfer uang gaji ke rekening Andrea. Nominalnya? Dia bahkan tak tahu berapa gaji yang diterima gadis ini. Yang penting transfer.
"Lucien, kau sudah gila ya? Uang yang kau kirim terlalu banyak. Nolnya kelebihan satu!" teriak Andrea syok melihat jumlah uang yang masuk. Mendadak tenggorokannya terasa kering sekali.
"Aku memang sengaja melakukannya."
"Kenapa begitu?"
"Aku tak tahan melihat ... ah sudahlah, tinggal terima saja kenapa sih. Jumlah sedikit begitu bahkan tak mampu menggerakkan angka nol di tabunganku." Lucien mengambil laptop kemudian duduk di sofa. "Katanya lelah dan ingin tidur? Apa yang kau tunggu. Cepat berbaring di sini."
Masih dalam keadaan syok, Andrea patuh berbaring di sofa. Dia tak bisa mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang menampilkan jumlah saldo di m-banking miliknya.
"Bos?"
"Hmmm."
"Kau sekaya itu ya?"
"Baru sadar sekarang?"
"Seumur hidup ini adalah kali pertama aku memiliki uang sebanyak ini. Kukira gaji pertamaku nanti menjadi yang terbanyak, ternyata uang darimu jauh lebih banyak. Boleh tidak aku mengabdi sepenuhnya pada perusahaan? Dengan begitu hidupku akan terjamin."
Tak menjawab ocehan Andrea, tangan Lucien bergerak mengelus rambutnya. Dan tak butuh waktu lama terdengar dengkuran harus tanda kalau Andrea sudah tertidur. Melihat sekeliling, Lucien mencondongkan tubuh ke samping lalu mencium puncak kepala Andrea lama. Tindakan tersebut lalu membuat Andrea menggeliat. Lucien kaget.
(Jangan ketahuan, jangan ketahuan)
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂