Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kejutan Beasiswa Mendadak
Kejutan beasiswa mendadak tersebut bukan hanya sekadar bantuan finansial, melainkan sebuah rantai emas yang akan menyeret Lana ke dalam konflik yang jauh lebih berbahaya. Lana menatap secarik kertas di tangannya yang menyatakan bahwa ia telah terpilih sebagai penerima dana pendidikan penuh dari Yayasan Al Fahri. Napasnya terasa sesak saat menyadari bahwa seluruh sekolah kini menganggapnya sebagai pengkhianat yang menyembunyikan kekayaan di balik topeng kemiskinan.
Suasana di dalam mobil lapis baja itu sangat hening hingga suara gesekan kain seragam Lana terdengar sangat jelas dan tajam. Adrian yang duduk di sampingnya tidak memberikan reaksi apa pun namun tatapan matanya terus terpaku pada layar gawai yang menampilkan grafik bursa saham. Lana merasa bahwa pria ini sedang mempermainkan hidupnya dengan cara yang sangat halus namun mematikan bagi kesehatan mentalnya.
"Kenapa Anda harus mencabut beasiswa lama saya dan menggantinya dengan nama yayasan keluarga Anda?" tanya Lana dengan nada suara yang bergetar hebat.
Adrian mematikan gawainya lalu menoleh perlahan ke arah Lana dengan sorot mata yang sulit dibaca oleh siapa pun. Ia mendekatkan wajahnya hingga Lana bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari aura kepemimpinan sang kolonel yang sangat kuat. Jari telunjuk Adrian mengusap dagu Lana dengan gerakan yang sangat lembut namun terasa seperti ancaman yang nyata bagi gadis itu.
"Karena saya tidak ingin ada satu pun pihak luar yang merasa memiliki hak untuk mengatur masa depan istri saya," jawab Adrian dengan suara yang rendah.
Lana memalingkan wajahnya ke arah jendela sementara air mata mulai mengenang di sudut matanya yang lelah karena terus menangis. Ia membayangkan bagaimana reaksi para guru dan teman-temannya besok pagi saat mengetahui bahwa ia adalah anak emas dari yayasan paling berkuasa. Kehidupan sekolah yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun kini hancur hanya dalam satu jentikan jari sang suami.
"Besok saya tidak akan masuk sekolah, saya malu bertemu dengan mereka semua," bisik Lana sambil meremas ujung rok seragamnya.
Adrian tertawa kecil yang terdengar sangat sinis di telinga Lana hingga membuat nyali gadis itu semakin menciut ke dasar bumi. Pria itu memberikan isyarat kepada pengemudi untuk menghentikan kendaraan tepat di depan gerbang mansion yang sangat megah dan tertutup rapat. Ia menarik napas panjang lalu membukakan pintu mobil untuk Lana dengan sikap yang sangat formal seolah sedang menyambut tamu negara.
"Kamu akan tetap masuk sekolah dan menunjukkan kepada mereka siapa sebenarnya pemegang otoritas tertinggi di gedung itu," perintah Adrian tanpa kompromi.
Ketegangan di antara mereka semakin memuncak saat Lana menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti skenario yang dibuat Adrian. Ia melangkah keluar dari mobil dengan kaki yang terasa sangat kaku dan berat seolah sedang memikul beban ribuan ton baja. Di dalam pikirannya hanya ada satu bayangan mengerikan tentang pertemuan tak sengaja di koridor dengan Maya dan Sarah esok hari.
Lana berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat seolah ingin menghilang dari peradaban manusia yang penuh dengan kepalsuan. Ia melempar tas sekolahnya ke sudut ruangan lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang justru terasa sangat keras baginya. Harapan untuk menjadi siswi biasa kini telah musnah sepenuhnya digantikan oleh status baru sebagai bagian dari dinasti Al Fahri yang sangat ditakuti.
Adrian mengunjungi sekolah esok pagi dengan menyamar untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun orang yang berani menyakiti Lana lagi secara fisik maupun mental.