NovelToon NovelToon
Selingkuh Terindah

Selingkuh Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:87.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.

Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun ​di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.

Pilihan yang sulit, ​Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.

Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?

Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaimana Hidup Mama Tanpa Kamu

Tasya begitu terkejut dengan berita baik yang didengarnya. Ia sampai menutup mulutnya agar tangis bahagianya tidak terdengar si penelepon. Ada kelegaan yang membuncah dalam dadanya. Penantiannya selama ini seolah terbayarkan, Dicky sadar, itu yang utama.

"Dicky sudah sadar? Syukurlah." Tasya menghela nafas lega. "Bisa. Aku akan segera datang menemuinya. Tolong sampaikan pada Dicky, Mama Tasya sebentar lagi datang."

Setelah panggilan telepon berakhir, Tasya menatap pintu ruangan Radit yang tertutup rapat. "Dit, Dicky sudah sadar." Tasya ingin mengatakan hal tersebut namun urung ia lakukan. Radit marah padanya dan pergi cukup lama meninggalkan kantor. Saat kembali, Radit masih menyimpan amarahnya.

Tasya urung mengatakan apa yang telah terjadi. Ia memilih menahan diri, tak mau membuat Radit semakin marah padanya. Ia kembali menyelesaikan pekerjaanya, tak sabar menunggu jam pulang kantor tiba. "Tak lama lagi. Ya... aku tak lama lagi akan bertemu Dicky," batin Tasya.

Radit menatap layar di depannya dengan tatapan kosong. Ia penasaran, dengan siapa Tasya berbicara sampai menangis seperti itu. "Apakah suamimu kembali menyakitimu, Sya? Ataukah mertuamu lagi?" gumam Radit.

Radit hanya bisa diam di ruangan, menahan dirinya yang ingin memeluk Tasya dengan erat guna menghilangkan kesedihannya. Ia ingat pesan Dina, untuk menjaga jarak untuk sementara sampai status Tasya jelas sudah berpisah.

Radit juga hanya bisa menatap penuh tanda tanya saat jam 5 tepat Tasya langsung menyambar tas miliknya dan pergi. Jutaan pertanyaan berkecamuk dalam benak Radit namun ia memilih menahan diri. "Demi kita berdua, Sya."

Sampai sebuah telepon masuk, mengabarkan alasan mengapa Tasya pergi dengan tergesa. "Syukurlah, berita baik yang membuatmu menangis, bukan berita menyedihkan seperti biasanya, Sya."

.

.

.

Lokasi: Rumah Sakit

Tasya berlari dengan nafas tersengal menyusuri lorong rumah sakit yang terasa sangat panjang sampai akhirnya tiba di depan ruang NICU. Perawat yang melihat kedatangan Tasya, tersenyum menyambutnya. Tasya mengatur nafasnya dahulu lalu menghampiri meja perawat.

"Bagaimana Dicky, Sus?" tanya Tasya dengan wajah penuh harapan.

"Kondisi Dicky sudah lebih baik. Dokter bahkan sudah mengijinkan Dicky pindah ke kamar rawat, saat ini sedang kami siapkan dulu kamarnya. Dicky sudah menunggu Ibu Tasya sejak tadi. Mari, saya antar." Perawat dengan lesung pipi yang cantik mengantar Tasya masuk ke dalam ruang NICU.

Dalam ruangan yang didominasi dengan warna putih tersebut ada sedikit pemandangan berbeda. Biasanya, saat Tasya datang, Dicky masih tak sadarkan diri dengan banyak selang terhubung di tubuhnya. Kini, Dicky tersenyum lebar menyambut kedatangannya. "Mama!"

"Dicky!" Air mata Tasya tumpah ruah. Akhirnya ia bisa mendengar lagi suara Dicky yang amat ia rindukan. Tasya mendekat. Ia bisa melihat wajah pucat Dicky dan betapa tirusnya ia sekarang. Selang yang terhubung pada tubuhnya sudah tidak sebanyak sebelumnya, begitupun dengan alat bantu pernafasan yang sudah dicopot, pertanda ada peningkatan.

Tasya menggenggam tangan Dicky dan menciuminya beberapa kali. "Mama di sini, Sayang. Maaf Mama telat. Mama kangeeeeen sekali dengan Dicky." Air mata Tasya membasahi tangan mungil Dicky yang balas menggenggam tangannya. "Terima kasih kamu sudah bangun, Sayang. Terima kasih kamu masih menemani Mama di dunia ini, entah bagaimana hidup Mama tanpa kamu...."

Dicky nampak bingung dengan ucapan Tasya. Dengan suara lemah, ia mengatakan keinginannya. "Ma... aku mau pulang, pulang, Ma," rengek Dicky.

Tasya tersenyum menenangkan Dicky. "Mama juga mau Dicky pulang tapi sabar ya, Sayang. Dicky harus diperiksa Dokter. Kalau Dicky sudah sembuh, Dicky bisa pulang sama Mama. Hari ini, kita pindah ke kamar yang lebih bagus ya, Sayang."

Wajah Dicky nampak sedih tak bisa langsung pulang. "Dicky mau pulang. Mau main sama Mama... Papa."

Deg

Tasya menahan nafas saat Dicky menyebut Papa.

"Papa mana, Ma?" tanya Dicky seolah baru menyadari kalau Tasya hanya datang seorang diri.

Tasya memutar otaknya. Ia harus memberikan jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahu Dicky namun tak harus berbohong. "Papa... Papa sedang sakit. Sama seperti Dicky. Papa tak bisa datang hari ini. Dicky ditemani Mama dulu ya!"

Tak lama petugas rumah sakit datang membawa brankar, hendak memindahkan Dicky ke kamar rawat. "Ma... Mama... mau sama Mama," Dicky merengek. Ia takut dipisahkan dari Tasya.

"Tidak apa-apa, Sayang. Dicky hanya mau dipindahkan ke kamar rawat saja. Kamar yang lebih bagus dari kamar ini. Dicky mau bukan?" bujuk Tasya.

"Dicky mau sama Mama," rengek Dicky lagi.

"Iya, Sayang. Mama akan temani Dicky." Tasya tersenyum hangat seraya menggenggam tangan Dicky. Ia menemani Dicky sampai mereka tiba di kamar rawat.

Sebuah kamar rawat VIP sudah disiapkan untuk Dicky. Tasya heran, ia tak memesan kamar rawat yang harganya mahal tersebut. Ia pamit sebentar ke ruang administrasi dan menanyakan perihal kamar rawat Dicky. "Kami sudah menghubungi Bapak Radit dan memberitahukan perihal kondisi terbaru Dicky. Bapak Radit yang meminta kamar VIP untuk Dicky," kata petugas administrasi menjelaskan.

Tasya sudah menduga kalau Radit yang melakukan semua ini. Ia berjanji akan segera berterima kasih pada Radit. Kalau bukan karena bantuannya, entah bagaimana nasib Dicky kini.

"Mama," panggil Dicky.

"Iya, Sayang." Tasya berjalan mendekat dan berdiri di samping tempat tidur Dicky.

"Mama jangan pergi. Jangan tinggalin Dicky sendirian," rengek Dicky.

"Tentu tidak dong, Sayang. Malam ini, Mama akan menginap bersama Dicky di kamar ini." Tasya menarik kursi lalu duduk seraya menatap Dicky dengan senyum penuh syukur. Bisa melihat Dicky terbangun setelah koma cukup lama adalah sebuah mukjizat baginya. Rasanya ia tak akan bosan menatap malaikat kecilnya terus.

Tasya mengajak Dicky mengobrol. Ia menceritakan banyak dongeng sampai Dicky lelah dan terlelap. Tasya terus menatap Dicky dengan lekat. Ia mengecup kening anak lucu tersebut lalu merapikan selimutnya.

Hari sudah malam ketika Tasya ingat kalau ia harus mengucapkan terima kasih pada Radit. Ia mengeluarkan ponsel miliknya lalu mengetik pesan pada lelaki baik yang selama ini jadi selingkuhannya tersebut.

"Malam, Dit. Hari ini, akhirnya Dicky sadar. Aku sangat bahagia mendengarnya, karena itu aku langsung pergi ke rumah sakit setelah jam kerja berakhir. Mungkin kamu masih marah padaku namun dari lubuk hatiku yang terdalam, aku mengucapkan terima kasih atas semua kebaikanmu pada kami. Terima kasih banyak, Dit. Entah sebanyak apa hutang budiku padamu."

.

.

.

Radit sedang duduk di taman belakang, menatap kolam renang berair jernih sambil menikmati susu cokelat hangat dan roti bakar buatan sang Mami. Pikirannya terus terpusat pada ucapan Dina, tentang dirinya yang harus menjauh dari Tasya sampai hubungannya dengan sang suami sudah jelas berpisah.

Suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya, berhasil menarik perhatian. Ia membuka pesan masuk tersebut dan hatinya langsung berbunga saat melihat siapa pengirim pesan tersebut. Ucapan terima kasih Tasya untuk Radit membuat seulas senyum terukir di wajahnya.

Radit menaruh kembali ponsel di atas meja lalu menghela nafas dalam. Ia ingin pergi ke rumah sakit. Ingin melihat keadaan Dicky dan tentunya melihat senyum bahagia yang terukir di wajah Tasya karena keponakannya sudah sadar. Sayangnya, Radit harus menahan diri. Memberi jarak bagi mereka demi melangkah lebih jauh ke depannya.

"Melamun saja kamu, Nak? Ada masalah?" Adel datang menghampiri. Sejak tadi ia terus memperhatikan putra sulungnya yang melamun sendirian. Ia duduk di samping Radit seraya memperhatikan mimik wajah anaknya yang tampan tersebut.

Radit tersenyum tipis. Ia tak mau membuat sang Mami khawatir dengan keadaannya. "Tidak ada apa-apa, Mi."

"Bohong. Memang Mami tidak tahu kalau kamu sedang masalah? Wajahmu sampai kusut seperti ini loh." Adel terus memperhatikan wajah Radit. "Kalau sudah besar, tidak mau cerita lagi ya sama Mami? Atau karena sudah punya tambatan hati jadi Mami tak penting lagi?"

"Mi, tidak seperti itu. Mami tetap yang paling penting untukku hanya saja... aku tak bisa cerita sekarang." Radit balas menatap Adel. Ucapan Dina kembali terngiang di telinganya, tak lama lagi kedua orang tuanya akan tahu apa yang ia sembunyikan. "Maaf, Mi."

"Maaf? Maaf untuk apa?"

****

1
BirVie💖🇵🇸
keren Sya...akal2an.setyo aja itu
dicky itu keponakan yg sudah d anggap seperti anak sendiri
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
duuuaaarrrrr
BirVie💖🇵🇸
ehhhh
BirVie💖🇵🇸
bagusss 🤭
BirVie💖🇵🇸
yakin Sya...akan bisa melakukan perjanjian dg papi hhmmm sangat berat lah
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
waaahhhhhh
BirVie💖🇵🇸
wkwkwk papi ihhhh
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
nah loh,serang balik sya bila perlu beberkan video perselingkuhan Setyo biar dia malu begitu pun si ibu welas itu
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
nonsk2711
keluar bukti rekaman itu Sya,klo km ga mo kalah,licik lawan cerdik dong jgn mewek SJ kerjanya 🤭
nonsk2711
berpisah tuk kembali Sya 🤭
υɐnɾɐnɥ🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
semoga segera ketuk palu🥳🥳🥳
υɐnɾɐnɥ🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
pilihan yang sulit untuk Tasya.. tapi hanya ini jalan terbaik untuk keduanya...
kamu yang ikhlas ya Tasya, melepaskan raditt dari sisimu
υɐnɾɐnɥ🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
pasti Tasya lagi panas dingin nih.. berasa di sidang oleh pak Richard
υɐnɾɐnɥ🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
cintamu hadir di saat yang tidak tepat ya dit 😶
vivinika ivanayanti
Heemmmm....setyoooo... keluarkan saja kartu as mu sya ....🤭🤭🤭
𝐙⃝🦜Md. Wulan ᵇᵃˢᵉ༄⃞⃟⚡
udh sya kasih aja video mereka
𝐙⃝🦜Md. Wulan ᵇᵃˢᵉ༄⃞⃟⚡
oh rupanya itu trik Setyo
𝐙⃝🦜Md. Wulan ᵇᵃˢᵉ༄⃞⃟⚡
waduh ada udang dibalik bakwan nih setyo
𝐙⃝🦜Md. Wulan ᵇᵃˢᵉ༄⃞⃟⚡
wah kisanak.inj nyebelin bgt ya,/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!