sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Aku tidak runtuh di medan perang.
Aku runtuh di ruang rapat.
Sebagai Tauke Besar keluarga Tong, aku duduk di kursi tertinggi dengan punggung tegak, wajah tenang, dan suara yang terdengar pasti. Tapi setiap kali para tetua berbicara tentang ekspansi, tentang aliansi baru, tentang “pengorbanan yang perlu,” aku merasa ada sesuatu di dadaku yang menolak untuk ikut setuju.
Bukan karena aku lemah.
Tapi karena aku terlalu banyak mengingat.
Usiaku dua puluh delapan tahun, dan mereka memanggilku pemimpin besar. Namun di kepalaku, aku masih Kenzy yang melihat desanya terbakar. Masih Kenzy yang membunuh Hanzo. Masih Kenzy yang membaca catatan seorang pengkhianat dan menemukan dirinya sendiri di antara baris-barisnya.
Aku mulai ragu pada keputusanku sendiri.
Dulu, aku bergerak dengan insting dan kemarahan. Itu membuatku menang. Tapi kini, setiap keputusan terasa berat. Setiap perintah seolah membawa bayangan wajah-wajah yang tak pernah diberi pemakaman layak.
Para tetua mulai menyadarinya.
Mereka tidak menentangku terang-terangan. Mereka hanya mulai “membantu.” Memberi saran yang terdengar masuk akal. Mengingatkanku bahwa keluarga Tong tidak bisa dipimpin dengan perasaan.
Salah satu dari mereka adalah Basyir.
Ia selalu duduk dua kursi dari kananku. Suaranya lembut, matanya tenang, dan kata-katanya selalu terdengar rasional. Ia memuji kebijaksanaanku di depan umum, tapi dalam rapat tertutup, ia sering mempertanyakan keputusanku untuk menahan serangan, menolak balas dendam, atau membatalkan operasi diam-diam.
“Tauke terlalu memikirkan masa lalu,” katanya suatu malam.
“Kita hidup dari ketegasan.”
Aku hanya mengangguk.
Yang tidak mereka tahu adalah: setiap kali aku memerintahkan pembunuhan, aku melihat Hanzo. Setiap kali aku diminta menghabisi pengkhianat, aku membaca ulang kalimat terakhir di catatannya.
Aku mulai tidur lebih sedikit. Makan lebih jarang. Para penjaga bilang aku sering berdiri di balkon aula utama terlalu lama, menatap kota seolah mencari sesuatu yang hilang.
Mereka benar.
Aku kehilangan kepercayaan—bukan pada orang lain, tapi pada diriku sendiri.
Aku bertanya-tanya:
Apakah aku benar-benar memimpin keluarga Tong menuju masa depan?
Atau hanya memperpanjang siklus yang menghancurkan kami?
Keretakan itu semakin terasa ketika kelompok kecil di dalam keluarga mulai bergerak tanpa perintah langsung. Operasi yang tidak kuizinkan tetap terjadi. Informasi bocor. Beberapa orang yang kupercaya menghilang tanpa penjelasan.
Dan di balik semua itu, nama Basyir sering disebut—bukan sebagai dalang, tapi sebagai “penyeimbang.”
Ironis.
Aku pernah berpikir pengkhianatan selalu datang dengan pisau di punggung. Ternyata, kadang ia datang dengan senyum dan kesabaran.
Malam itu, aku membuka kembali catatan Hanzo.
Aku membaca ulang bagian yang dulu kulewati terlalu cepat.
“Pemimpin yang terlalu lama hidup dalam perang akan lupa seperti apa hidup tanpa perang.”
Tulisan itu menghantamku lebih keras daripada pedang mana pun.
Aku menyadari sesuatu yang menakutkan:
aku mulai menyerupai para pemimpin Scarlet yang dulu kubenci.
Bukan karena kejam, tapi karena mulai menganggap nyawa sebagai angka. Karena mulai berpikir stabilitas lebih penting daripada kebenaran. Karena mulai membiarkan orang lain mengambil keputusan kotor agar tanganku tetap “bersih.”
Aku bangkit dari kursi Tauke Besar malam itu dan berjalan sendirian ke halaman belakang aula. Angin dingin menerpa wajahku. Untuk pertama kalinya sejak aku memimpin, aku mengakui satu hal pada diriku sendiri:
Aku goyah.
Bukan karena aku tidak mampu.
Tapi karena aku masih manusia.
Dan mungkin… itu justru masalahnya.
Esok harinya, aku memanggil rapat besar. Bukan untuk memberi perintah, tapi untuk bertanya. Untuk pertama kalinya, aku menantang para tetua—termasuk Basyir—dengan satu pertanyaan sederhana:
“Apakah kita ingin bertahan sebagai keluarga Tong, atau hanya hidup lebih lama sebagai bayangan Scarlet?”
Ruangan itu sunyi.
Aku tahu setelah hari itu, posisiku tidak lagi aman. Pemimpin yang ragu adalah ancaman bagi mereka yang haus kepastian. Tapi aku juga tahu satu hal:
Jika aku terus memimpin dengan cara lama, pengkhianatan berikutnya tidak akan datang dari luar.
Ia akan lahir dari dalam—dari kebisuan, dari kepatuhan buta, dari rasa takut kehilangan kekuasaan.
Dan jika hari itu tiba…
Aku harus memilih.
Menjadi Tauke Besar yang disukai sejarah,
atau Kenzy yang bisa hidup dengan dirinya sendiri.
...****************...
Aku tidak turun dari kekuasaan karena kalah.
Aku turun karena aku tidak lagi ingin menang dengan cara yang sama.
Hari itu tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, tidak ada tanda-tanda besar dari langit. Aula keluarga Tong berdiri seperti biasa—megah, dingin, penuh simbol kejayaan masa lalu. Para tetua duduk di kursi mereka, termasuk Basyir, dengan wajah yang tenang dan mata yang terlalu berhitung.
Aku berdiri di tengah ruangan, mengenakan jubah Tauke Besar untuk terakhir kalinya.
“Mulai hari ini,” kataku pelan, “aku tidak lagi memimpin keluarga Tong.”
Tidak ada teriakan. Tidak ada penolakan langsung. Yang ada hanya keheningan—jenis keheningan yang muncul ketika orang-orang belum yakin apakah mereka harus kaget atau justru lega.
Aku melanjutkan sebelum siapa pun bicara.
“Aku tidak mati. Aku tidak kalah. Aku memilih pergi.”
Beberapa tetua saling pandang. Ada yang menunduk, ada yang tersenyum tipis, dan ada pula yang—seperti Basyir—tidak menunjukkan apa pun. Ia hanya mengangguk pelan, seolah keputusan ini sudah ia prediksi sejak lama.
Aku tidak menyalahkannya.
Selama tiga tahun memimpin, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan dalam pelatihan ninja atau strategi perang: kekuasaan tidak selalu mengubah siapa kita, tapi ia selalu memperjelasnya. Dan semakin lama aku duduk di kursi itu, semakin jelas bahwa diriku bukan diciptakan untuk bertahan di sana.
Aku pernah berpikir menjadi pemimpin berarti memikul beban orang lain. Ternyata tidak. Menjadi pemimpin berarti memutuskan siapa yang layak memikul beban, dan siapa yang boleh mati lebih dulu.
Dan aku lelah menjadi orang itu.
Aku mengingat malam-malam panjang di balkon aula, menatap kota yang kubangun ulang dari abu, sambil bertanya pada diriku sendiri: apakah ini benar-benar masa depan yang kuinginkan? Atau hanya masa lalu yang diulang dengan wajah berbeda?
Wajah Hanzo sering muncul dalam pikiranku. Bukan sebagai musuh, bukan sebagai pengkhianat, tapi sebagai peringatan. Ia bertahan terlalu lama di tempat yang mengikis jiwanya, sampai akhirnya satu-satunya jalan keluar adalah kematian.
Aku tidak ingin bernasib sama.
Di hadapan para tetua, aku menyerahkan segel kepemimpinan—benda kecil yang selama ini dianggap simbol mutlak kekuasaan Tong. Tanganku tidak gemetar saat meletakkannya di meja. Justru untuk pertama kalinya, dadaku terasa ringan.
“Aku tidak lari,” kataku.
“Aku mundur agar keluarga Tong tidak berubah menjadi sesuatu yang dulu kita benci.”
Basyir akhirnya bicara. Suaranya tenang, hampir lembut.
“Kau yakin ini keputusan bijak, Kenzy?”
Aku menatapnya lurus.
“Tidak,” jawabku jujur.
“Tapi ini keputusan yang jujur.”
Aku meninggalkan aula tanpa menoleh ke belakang.
Tidak ada yang mengejarku.
Mungkin karena mereka menghormatiku.
Atau mungkin karena, jauh di dalam hati mereka, kepergianku memudahkan segalanya.
Aku meninggalkan kompleks keluarga Tong sebelum matahari terbenam. Tidak membawa harta, tidak membawa pengawal, hanya pedang lamaku dan satu buku kecil yang selalu kusimpan di dalam pakaian—catatan Hanzo.
Langkah kakiku terasa asing tanpa tujuan besar. Selama ini, hidupku ditentukan oleh musuh, oleh strategi, oleh dendam, oleh tanggung jawab. Kini, untuk pertama kalinya, aku berjalan tanpa peta.
Aku tidak tahu ke mana harus pergi.
Dan itu menakutkan.
Beberapa hari pertama terasa seperti kehilangan identitas. Setiap kali orang memandangku, mereka tidak melihat Tauke Besar, hanya seorang pria dengan bekas luka dan tatapan lelah. Aku tidur di penginapan kecil, makan seadanya, dan untuk pertama kalinya… tidak memberi perintah pada siapa pun.
Kesunyian menjadi teman yang aneh. Ia tidak menghakimi, tapi juga tidak menghibur. Dalam kesunyian itu, aku mulai mendengar pikiranku sendiri tanpa gangguan suara rapat, laporan, atau rencana pembunuhan.
Aku mulai bertanya hal-hal yang selama ini kuhindari.
Siapa aku tanpa keluarga Tong?
Apa nilainya hidup jika tidak diukur dengan kemenangan?
Dan apakah aku masih bisa menebus masa lalu… tanpa kekuasaan?
Suatu malam, aku membuka kembali catatan Hanzo di bawah cahaya lampu minyak. Ada satu kalimat yang dulu terasa menyakitkan, kini terasa jujur.
“Kadang, satu-satunya bentuk perlawanan adalah berhenti bermain.”
Aku tersenyum pahit.
Mungkin Hanzo lebih berani dariku dalam satu hal: ia sadar terlalu lambat. Aku masih diberi kesempatan untuk pergi sebelum kehilangan diriku sepenuhnya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga Tong setelah aku pergi. Mungkin Basyir akan memimpin dengan tangan lebih keras. Mungkin mereka akan lebih stabil. Mungkin juga mereka akan jatuh dengan cara berbeda.
Tapi untuk pertama kalinya, itu bukan lagi tanggung jawabku.
Aku memilih hidup sebagai Kenzy—bukan sebagai simbol, bukan sebagai pemimpin, bukan sebagai legenda. Hanya seseorang yang masih belajar berdamai dengan masa lalu dan menerima bahwa tidak semua luka harus disembuhkan dengan kekuasaan.
Aku berjalan menjauh dari kota saat fajar menyingsing. Langkahku pelan, tapi mantap. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada penyesalan besar. Hanya satu keyakinan sederhana:
Aku mungkin meninggalkan keluarga Tong.
Tapi aku tidak meninggalkan diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak api membakar desaku bertahun-tahun lalu, aku merasa… hidupku benar-benar milikku