El Gracia Jovanka memang terkenal gila. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah melanglang buana di dunia malam. Banyak kelab telah dia datangi, untuk sekadar unjuk gigi—meliukkan badan di dance floor demi mendapat applause dari para pengunjung lain.
Moto hidupnya adalah 'I want it, I get it' yang mana hal tersebut membuatnya kerap kali nekat melakukan banyak hal demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sejauh ini, dia belum pernah gagal.
Lalu, apa jadinya jika dia tiba-tiba menginginkan Azerya Karelino Gautama, yang hatinya masih tertinggal di masa lalu untuk menjadi pacarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Night Together
Makan malam yang dipesan dari layanan room service berujung teronggok di meja, hampir tak tersentuh. Lapar merongrong perut, tapi mulut tak dapat mengunyah. Hanya sesendok yang berhasil Jovanka kunyah, sisanya menolak dicerna, malah hampir membuatnya muntah. Jadi dia menyerah. Banyak-banyak saja menenggak air putih, berharap bisa mengganjal perut meski harus lebih sering ke kamar mandi. Makanan Karel lebih banyak berkurang, tapi tetap saja masih setengah penuh. Selera makannya juga hilang. Bukan hanya karena simpati melihat wajah layu Jovanka, tapi juga nyeri di punggungnya yang kian menjadi-jadi.
"Harusnya jangan cosplay jadi superhero." Jovanka mengomel pelan. Ice pack yang dimintanya berbarengan dengan room service, digulirkannya perlahan di punggung Karel. Lelaki itu rebahan tengkurap di atas kasur, bertelanjang dada demi mendapatkan perawatan pertama.
"Terus biarin kepala lo bocor kena tumblr segede gentong?" Dia menoleh, meski yang bisa dilihatnya hanyalah punggung Jovanka. Gadis itu duduk di sebelah bahunya, menghadap ke arah kakinya.
"Ya nggak apa-apa, itu kan emang seharusnya kena gue."
Merasa tidak terima, Karel membalikkan badannya cepat. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Jovanka tersentak, ice pack hampir terbang ke udara, beruntung masih bisa terpegang walau harus menahan dingin yang tidak kira-kira.
"Seberengsek apa sih emangnya gue ini, sampai bisa biarin perempuan kena hantam?" tanyanya, lebih dipenuhi sarkasme yang menusuk.
Jovanka memainkan ice pack di tangan, menghindari kontak mata.
"Kalau orang lagi ngomong dilihat, El Gracia Jovanka."
"Nggak tahulah," sentaknya. Gedebukan ia turun dari kasur, meninggalkan ice pack di atas tumpukan selimut tebal.
"Mau ke mana?" tanya Karel, menurunkan kedua kakinya dari kasur. "Lo tidur di sini, gue yang di sana."
"Nggak." Jovanka tidak peduli. Dia tetap merebahkan tubuhnya di sofa, menyilangkan kedua tangan, memejamkan mata.
Karel mendengus kesal. Diketuknya ponsel miliknya yang ada di atas nakas, hampir pukul 9. "Jov," panggilnya penuh penekanan. Yang punya nama tidak menyahut, pura-pura tidur. Jelas Karel tidak percaya. Disambanginya gadis itu, diperhatikan dahinya yang berkerut-kerut dan kelopak mata bergerak-gerak tak tenang. "Tidur di kasur," ulangnya.
Lawan bicaranya masih bungkam juga. Karel menggaruk lehernya, otak sibuk menimang. "Jovanka." Sekali lagi. Lebih tegas dan tak terbantahkan. Tapi tetap saja, tidak ada jawaban. Jovanka malah semakin mendalami perannya, saking totalitasnya sampai pura-pura mendengkus segala.
Pada dasarnya Karel bukan orang yang sabar. Sekali bicara tidak didengar, dia coba dua kali. Dua kali masih tidak didengar, dia coba lagi tiga kali. Sampai tiga kali pun tidak digubris, mulutnya akan berhenti, tubuhnya yang beraksi. Berhubung sudah tiga kali dia coba dan Jovanka tetap pura-pura tuli, maka Karel membiarkan otot-otot kekar di lengannya bekerja. Jovanka disentak, tubuhnya digotong tanpa kesulitan yang berarti, dibawa pindah ke kasur.
Gadis itu tentu tidak menyerah. Berontak tetap dilakukan walaupun tahu ujungnya akan kalah juga. Tapi kali ini upaya berontaknya didukung kondisi badan Karel yang tidak terlalu fit. Lantaran terhantam tumblr sampai memar, lelaki itu kehilangan lebih banyak tenaga. Sehingga saat Jovanka terus berontak, bahkan sampai ketika tubuhnya sudah hampir mendarat di kasur, Karel ikutan tumbang. Bobot tubuhnya hampir jatuh menimpa Jovanka, mengubahnya menjadi manusia penyet, jika saja kedua lengannya tidak sigap menopang di kedua sisi kepala sang gadis.
Sayangnya, ada satu kabar buruk. Telapak tangan Jovanka, dua-duanya, yang terasa dingin habis memainkan ice pack sampai beberapa saat lalu, mendarat di dadanya yang telanjang. Sensasi dingin bercampur geli membuat Karel bergidik. Jakunnya naik-turun, membawa saliva yang terasa mengeras, lolos melewati tenggorokan dengan susah payah.
"Tidur." Dia berkata dengan wajah berpaling. Berbeda dengan dadanya yang terasa dingin, wajah dan area dekat telinga rasanya panas.
"O-oke." Jovanka menjauhkan kedua tangannya dari dada Karel, membuat lelaki itu akhirnya bisa bernapas lega. Masih dengan wajah berpaling, Karel menggulingkan tubuhnya ke samping, alih-alih langsung turun dari kasur.
"Lo nggak mau gue tidur di sofa, kan?" tanyanya. Tangannya merambat turun, menyingkirkan ice pack yang tertindih pantatnya.
Jovanka berdeham canggung. "Ya," cicitnya. "Sofanya kecil, lo nggak akan nyaman."
"Kalau gitu, gue tidur di sini." Karel memiringkan tubuhnya, membelakangi Jovanka, dan menyusupkan kakinya masuk ke dalam selimut. "Lo tidur di situ. Jangan pindah ke sofa," katanya. "Kalau kita nggak banyak gerak, kasurnya muat-muat aja."
"Iya," cicit Jovanka. Dia tidak ikut memiringkan tubuhnya ke arah sebaliknya, namun menarik selimut ke atas sampai hampir menenggelamkan seluruh wajahnya. "Good night," bisiknya sambil memejamkan mata erat. Enggan mendengar balasan dari samping. Bertekad untuk langsung tidur dalam hitungan detik.
*************
Dering ponsel menginterupsi. Karel mengerutkan dahi, kelopak maranya bergerak-gerak sebelum mulai terbuka perlahan. Hendak menggeliat, sesuatu yang berat menahannya. Begitu mata akhirnya terbuka penuh, dia hanya bisa menghela napas rendah. Dada telanjangnya telah berubah menjadi bantal empuk untuk Jovanka. Gadis itu juga memeluknya posesif, mengubahnya menjadi guling hidup.
"Awas," desaknya. Bukan apa, tapi dia tahu Jovanka sebenarnya sudah bangun. Alur napasnya tidak terlihat stabil, tubuhnya juga beberapa kali bergerak aneh, mendukung asumsi Karel bahwa gadis itu tidak lagi terlelap.
Namun, sebagaimana Jovanka biasa bersikap, tubuhnya tidak menyingkir barang sejengkal. Ia kembali menggeliat, mengusakkan kepala di dada Karel, membairkan helaian rambutnya menggesek-gesek kulit Karel dan menciptakan sensasi aneh seperti tersengat listrik.
"Pilih minggir sendiri apa gue tendang?" ulang Karel, nada suaranya makin penuh penekanan. Memang tidak akan betulan dia tendang, tapi bukan perkara sulit untuk menyingkirkan tubuh ramping Jovanka secara paksa, jika gadis itu tidak kunjung mendengarkan perintahnya.
"Satu." Karel mulai menghitung. Kesadarannya penuh dalam sekejap, tidak butuh waktu untuk melamun lebih dulu seperti normalnya orang baru bangun tidur.
"Dua." Semakin detik berlalu, suaranya makin mantap dan tegas, kontras dengan reaksi Jovanka yang seakan malah meledek. Gadis itu makin rekat merapatkan tubuh. Kepalanya makin sibuk bergerak-gerak. Jemarinya pun tidak mau diam, ikutan bergerilya di pinggang Karel.
"Tiga." Karel menekan suaranya lebih dalam. Dengusan kasar keluar sedetik setelah bibir terkatup, begitu Jovanka masih keras kepala tidak mau mendengarkan ucapannya. Sementara ponsel yang sedari tadi meraung-raung, seketika senyap.
"Empat." Dan itu adalah hitungan terakhir. Karel tidak lagi memberikan toleransi. Dia menyentak cepat, membalikkan tubuh Jovanka hingga jatuh mendarat kembali di kasur. Tidak seperti semalam saat ia terjebak di atas gadis itu dan menciptakan suasana canggung, Karel langsung bergerak cepat turun dari kasur. Meninggalkan Jovanka dengan wajah merengut.
"I told you," kesalnya.
Jovanka, dengan rambut berantakan dan muka yang ditekuk, duduk bersila, menatapnya sengit. "Dikit doang," kilahnya.
"Dikit kek, banyak kek, lo nggak boleh asal nempel-nempel begitu ke orang lain tanoa consent. It's rude," omelnya, tangan di pinggang. Masalahnya sudah dua kali Jovanka begini. Gadis itu seakan punya nyawa seribu, tidak takut kalau tiba-tiba Karel berubah jadi beruang kelaparan dan melahapnya habis tanpa sisa.
"Iya, iya, sorry. Lain kali gue bilang dulu sebelum peluk."
"Nggak git--ah, udahlah." Karel urung memperpanjang. Fokusnya kembali berpindah pada dering ponselnya yang berhenti setelah sekian lama tak dijawab. Jadi dia mendekat ke nakas, meraih ponsel dan mengetuk layarnya dua kali.
Pukul 9 lewat 6, baterai ponselnya sisa 11 persen, dan berbagai macam notifikasi berjubel memenuhi layar. Yang terbaru adalah panggilan tak terjawab dari nomor Kalea. Sebab perempuan itu tidak akan meneleponnya untuk urusan lain, sudah pasti telepon tadi datang atas permintaan Eliana.
Kalea is calling...
Muncul lagi panggilan di layar, dan kali ini Karel langsung menekan log hijau pada detik pertama.
"Ha--"
"Ayah! Nyalain kamera!"
Dahi Karel berkerut, matanya memicing sebagai respons atas serbuan suara cempreng Eliana.
"Ad-"
"Cepat, Ayah! Nyalain kamera!"
Karel mendesah keras, lalu menjauhkan ponselnya dari telinga. Panggilan diubah ke mode video. Layar sempat lag sejenak sebelum akhirnya wajah mungil Eliana muncul memenuhi pandangan.
"Ada apa?"
Namun, alih-alih mengutarakan maksudnya, Eliana malah membelalak, lalu berseru heboh. "Ayah! Kenapa Ayah enggak pakai baju?!"
Bersambung....