"𝘏𝘢𝘭𝘰, 𝘪𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮, 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘱𝘢𝘮 𝘤𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.
𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵,
𝘑𝘢𝘷𝘢𝘴—𝘬𝘶𝘳𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢!"
Bagi Javas, seorang kurir dengan sejuta cara untuk mencuri perhatian, mengantarkan paket hanyalah alasan untuk bertemu dengannya: seorang janda anak satu yang menjadi langganan tetapnya. Dengan senyum menawan dan tekad sekuat baja, Javas bertekad untuk memenangkan hatinya. Tapi, masa lalu yang kelam dan tembok pertahanan yang tinggi membuat misinya terasa mustahil. Mampukah Javas menaklukkan hati sang janda, ataukah ia hanya akan menjadi kurir pengantar paket biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti_sR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Semua salah kamu!
"Leonel… jadi kamu yang menabrak kakak saya?" suara Vallerie bergetar. Marah, sedih, dan tidak percaya bercampur jadi satu. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa orang yang membuat kakaknya terbaring di rumah sakit adalah temannya sendiri.
Ya, Vallerie mengenal cowok yang kini bersimpuh di kaki Mommy Kanaya itu.
Leonel Archio. Teman sekelasnya dulu, dan sekarang mereka bahkan satu kampus sebagai mahasiswa baru.
Leonel mendongak. Tatapannya sendu, penuh rasa bersalah dan ketakutan. "Maaf… maaf, Rie. Aku benar-benar tidak sengaja." Suaranya berat untuk keluar.
Vallerie membuang muka. Bukan karena benci, tetapi karena hatinya terlalu kacau untuk memilih antara marah atau memaklumi.
"Kamu…" Mommy Kanaya akhirnya bersuara. Tatapannya tajam menatap Leonel.
"Bukan sepenuhnya salah dia, Bu." Ayah Leonel maju mendekat dengan suara tenang. "Anak saya tidak sengaja. Putra Ibu tadi menerobos lampu merah. Tapi anak saya tetap akan bertanggung jawab. Kami akan menanggung semua biaya rumah sakit." lanjutnya sembari menarik lengan putranya untuk segera berdiri.
Mommy Kanaya diam. Tatapannya kosong namun dingin. Pikirannya kacau oleh rasa cemas dan marah. Yang paling ia inginkan saat ini hanyalah kehadiran suaminya. Ia butuh seseorang untuk menjadi sandaran, atau mungkin tempat melampiaskan kemarahannya.
...****************...
Di dalam mobil mewah, tangan Haidar berulang kali berusaha melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. Wajah pria itu pucat, campuran rasa cemas dan takut terlihat jelas. Suara istrinya tadi di telepon masih terngiang kuat di kepala, suara penuh amarah yang membuat dadanya semakin sesak. Rumah sakit. Untuk apa mereka sampai harus berada di sana? Pikiran Haidar kacau.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Haidar benar-benar tidak ingin terlambat satu detik pun dari waktu yang diminta istrinya. Kurang dari lima menit, ia harus sudah sampai. Untungnya jarak kantor ke rumah sakit tidak sejauh dari rumah.
Mobil itu berhenti tepat di halaman rumah sakit. Pria dengan penampilan yang kini sudah berantakan, jas yang tidak lagi rapi dan dasi yang setengah terlepas, segera berlari masuk ke lorong rumah sakit. Di belakangnya, sang asisten ikut berjalan cepat, hampir setengah berlari mengejar.
Hingga ketika mereka hampir sampai di depan ruang UGD, dari jarak yang cukup dekat Haidar melihat pemandangan yang langsung membuat langkahnya melambat. Istrinya dan putrinya berdiri di depan kaca ruangan, menangis pilu. Bahu mereka bergetar, wajah mereka penuh ketakutan. Hati Haidar mencelos. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mommy…" panggilnya pelan, suaranya tertahan. Mommy Kanaya mendongak seketika. Tatapannya tajam, penuh luka, penuh amarah.
Wanita itu melangkah mendekat, dan tanpa pikir panjang ia langsung menangis sambil memukul dada Haidar berkali-kali, keras, tanpa berhenti.
"Semua gara-gara kamu… semua karena kamu, Haidar! Anak kita kecelakaan itu gara-gara kamu! Aku benci sama kamu, Haidar Oliver!" jerit Mommy Kanaya, melimpahkan seluruh rasa takut, marah, dan hancurnya pada suaminya.
Haidar membeku. Otaknya bekerja lambat, mencoba mencerna kata-kata panjang istrinya. Baru setelah sepersekian detik, ia benar-benar paham.
"Javas… anak kita kenapa, Mommy?" tanyanya dengan suara gemetar. Pertanyaannya hanya dibalas pukulan yang lebih keras di dadanya.
"Bukan anak kamu! Anak aku! Senang kan kamu sekarang? Anak aku sampai kritis di dalam sana karena kamu! Semua karena kamu membiarkannya hidup di luar! Semua karena kamu!"
Haidar tidak membalas. Ia hanya diam, membiarkan wanita itu memukulinya sampai tenaga Mommy Kanaya melemah sendiri. Pukulan yang tadi keras perlahan melambat, berubah hanya menjadi sentuhan penuh putus asa di dada suaminya.
"Sampai anak aku kenapa-napa di dalam, kita akan berpisah, Haidar…" ucap Mommy Kanaya pelan, hampir seperti bisikan. Lirih, tetapi cukup untuk membuat jantung Haidar seakan disambar sesuatu.
Mata pria itu membesar. Nafasnya tercekat. Kata-kata istrinya terasa menghantam lebih keras dari pukulan apa pun barusan.
"Kamu bicara apa, sayang? Jangan ngelantur… anak kita pasti akan baik-baik saja," katanya dengan suara yang berusaha tegar, meski air matanya hampir jatuh.
Dengan hati-hati, Haidar menuntun tubuh istrinya untuk melangkah lebih dekat ke pintu. Mereka berdiri tepat di depan kaca bening ruang UGD. Dari sana, Haidar dapat melihat jelas tubuh Javas di dalam. Hatinya langsung mencelos.
"Apa yang terjadi sama kamu, Nak…" batinnya bergetar. Ia tidak mampu lagi menahan air mata. Melihat kondisi Javas membuatnya terpukul habis-habisan.
...****************...
Pikiran Selena tidak benar-benar tenang. Entah kenapa, sejak tadi pikirannya terus berputar pada seorang Javas. Sulit baginya untuk fokus pada pekerjaannya.
"Ck, kenapa sih…" gumamnya kesal pada diri sendiri. Tangannya beberapa kali membuka layar ponsel. Jam sudah menunjukkan setengah tujuh malam. Biasanya, Javas pasti sudah mengirim pesan. Namun kali ini tidak ada apa pun. Bahkan satu pun.
Kegelisahan itu rupanya terlihat jelas. Putrinya yang duduk di sampingnya ikut memperhatikan, lalu bertanya pelan.
"Mami kenapa?"
Selena tidak menjawab. Bukan karena tidak mau, tetapi karena pikirannya terlalu larut dalam rasa cemas yang ia sendiri tidak mengerti.
"Mami…"
"Eh, iya sayang?" Selena tersentak sadar. Ia cepat-cepat meletakkan ponselnya di meja, lalu menoleh pada Lala. "Sudah selesai ngerjain PR-nya?"
"Sudah, Mami. Mami lagi sedih ya?" tanya Lala polos. Matanya menatap Selena penuh rasa ingin tahu.
"Lala juga, Mami. Lala kangen Papi Javas."
Ia menggenggam ujung baju Selena, suaranya pelan namun jujur. "Boleh ditelepon nggak, Mi?"
Ternyata, tanpa mereka sadari, perasaan mereka sama. Keduanya sama-sama merindukan sosok yang kini terasa begitu jauh.
"Nona… Nona Selena!" dari arah kamar Lala, Bibi Arumi keluar dengan langkah tergesa, hampir berlari kecil. Wajahnya jelas terlihat panik.
Selena dan Lala sontak menoleh bersamaan.
"Ada apa, Bi?" tanya Selena, keningnya langsung berkerut.
"Em… ini, Non. Den Javas…"
"Javas kenapa, Bi?" suara Selena terdengar lebih cepat dari biasanya. Perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggunya seolah langsung menegang.
"Den Javas… beliau ada di rumah sakit, Non. Tadi siang kecelakaan…"
"APA?" seru Selena kaget hingga spontan berdiri. Wajahnya langsung pucat.
"Bibi, itu tidak benar kan? Dari mana Bibi tahu? Siapa yang bilang?" tanyanya beruntun. Suaranya mulai bergetar, napasnya terasa berat, seolah dadanya tiba-tiba sesak.
"Ada yang memberitahu Bibi, Nona. Katanya tadi siang Den Javas ditabrak mobil karena menerobos lampu merah," jelas Bibi Aumi dengan hati-hati.
Selena terdiam. Kepalanya seperti berhenti bekerja sejenak. Kata-kata itu berputar-putar di pikirannya. Ingatannya langsung kembali pada cerita Meti siang tadi. Meti bilang Javas sempat datang ke toko roti, lalu pergi setelah melihat adiknya.
Apa mungkin karena itu?
Apa mungkin Javas pergi dengan kondisi emosi yang tidak baik sampai akhirnya menerobos lampu merah?
"Bagaimana kondisinya, Bi… parah?" tanya Selena pelan, nyaris hanya seperti gumaman pada dirinya sendiri. Tangannya mulai berkeringat dingin, bahunya bergetar tanpa ia sadari.
"Dia koma, Non."
Deg.
Jantung Selena seolah berhenti sesaat sebelum berdegup jauh lebih cepat dari biasanya. Napasnya tersendat. Pandangannya berbayang. Kepala mendadak terasa berat, dan kedua kakinya mulai goyah seakan tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Getaran itu menjalar ke seluruh tubuhnya, begitu kuat hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.
"Non… Nona Selena…"
Suara Bibi Aumi terdengar jauh, seperti datang dari tempat yang sangat asing. Selena menelan ludah dengan sulit. Telapak tangannya dingin, dadanya sesak, dan sesuatu yang selama ini ia tekan perlahan seperti memaksa keluar.
"Rumah sakit..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...