Ariel tak menyangka pernikahannya dengan Luna, wanita yang sangat dicintainya, hanya seumur jagung.
Segalanya berubah kala Luna mengetahui bahwa adiknya dipersunting oleh pria kaya raya. Sejak saat itu ia menjelma menjadi sosok yang penuh tuntutan, abai pada kemampuan Ariel.
Rasa iri dengki dan tak mau tersaingi seolah membutakan hati Luna. Ariel lelah, cinta terkikis oleh materialisme. Rumah tangga yang diimpikan retak, tergerus ambisi Luna.
Mampukah Ariel bertahan ataukah perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;👇
"Setelah Kita Berpisah" karya Moms TZ bukan yang lain.
WARNING!!!
cerita ini buat yang mau-mau aja ya, gaes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31#. Tindakan jahat Luna
Lain Ariel lain pula dengan Luna. Di kamarnya wanita itu duduk di depan laptopnya, wajahnya tampak serius. Ia menonton video-video Ariel dan Dian, baik yang ada di media sosial maupun aplikasi jualan online. Ia sudah seperti seperti yang diam-diam terus mengamati perkembangan mantan suaminya.
Dua bulan setelah berpisah Luna merasa Ariel tampak berbeda, lebih segar dan... tampan. Apalagi ketika melihatnya tampil live di aplikasi jualan online, wajah Ariel tampak bersinar, senyumnya lepas seolah tanpa beban dan bisa bercanda bebas dengan lawan jenisnya membuat hatinya seakan tercubit.
"Si*lan! Kenapa dia makin tampan sekarang?" gumamnya dengan kesal.
Apalagi ia juga melihat Ariel dan Dian semakin kompak saja. "Dasar janda gatal, nggak bisa lihat duda dikit langsung tebar pesona. Cih...!"
Rasa iri makin menguasai hatinya. "Ariel tidak boleh lebih bahagia daripada aku!"
Ia mengetuk-ngetuk dagunya seolah berpikir. "Sepertinya aku harus melakukan sesuatu supaya dia juga merasakan apa yang aku rasakan!"
Luna lantas membuka grup chat dengan Wina dan Runi. Cahaya dari layar ponselnya menerangi wajahnya yang dipenuhi amarah.
"Guys," kata Luna, mengetik pesan dengan cepat. "Bagaimana dengan rencana kita. Aku melihat mereka makin tak tahu malu menunjukkan kemesraannya di depan publik. Aku merasa dia itu sebenarnya licik tapi pura-pura polos, supaya Ariel bersimpatik padanya."
"Wah, kurang ajar banget tuh, cewek!" balas Wina, langsung terpancing ucapan Luna. "Emang apalagi yang dilakukannya?"
"Iya, Lun," timpal Runi, penasaran. "Kita sih, siap kapan aja kamu mau."
Luna menceritakan pengamatannya selama dua bulan ini pada Ariel dengan melebih-lebihkan beberapa bagian agar Wina dan Runi semakin marah. Ia menggambarkan Dian sebagai sosok wanita penggoda yang genit.
"Menurut kalian aku harus gimana?" mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya penuh harap.
"Menurutku sih, kamu harus beri dia pelajaran. Dan kamu tenang aja, kita pasti akan bantu, kok," kata Wina, mencoba menenangkan. "Terus kamu punya rencana apa, emangnya?"
"Bukankah, kita sudah sepakat mau bikin Ariel sama Dian hancur?" sahut Runi, bersemangat. "Ya sudah, tinggal eksekusi aja."
Luna tersenyum licik. Ia sudah memikirkan beberapa rencana untuk menghancurkan Ariel dan Dian, dan kini ia siap membagikannya kepada teman-temannya.
"Oke, jadi gini," ujar Luna, memulai penjelasannya. "Pertama, kita harus cari tau lebih banyak tentang bisnis clothing line mereka. Kita cari celah kelemahannya, biar bisa kita serang."
"Siap!" jawab Wina, penuh semangat. "Aku punya temen yang kerja di perusahaan yang sama dengan Ariel. Nanti aku coba korek informasi dari dia."
"Aku juga punya kenalan wartawan online," timpal Runi, dengan nada misterius. "Nanti coba coba minta dia buat nulis artikel negatif tentang clothing line mereka."
Luna mengangguk puas. Ia senang karena teman-temannya sangat antusias membantunya dan memiliki koneksi yang berguna.
"Bagus!" puji Luna, tersenyum senang. "Selain itu, kita juga harus serang mereka secara personal. Kita bikin hidup mereka nggak tenang."
"Maksudnya?" tanya Wina, bingung.
"Kita sebarin fitnah tentang mereka di media sosial," jelas Luna. "Kita bikin akun palsu, terus kita posting komentar-komentar negatif tentang Ariel dan Dian. Kita bikin mereka jadi bulan-bulanan netizen."
"Aku setuju!" seru Runi, menyetujui ide Luna. "Kita bikin mereka malu dan kehilangan reputasi."
Luna tersenyum semakin lebar. Rencananya berjalan dengan lancar, dan ia merasa semakin bersemangat untuk membalas dendam.
"Oke. Jadi mulai besok kita mulai jalanin rencana ini," perintah Luna, dengan nada tegas.
"Tapi aku minta sama kamu, untuk mengorek keterangan dari temanmu yang kerja satu perusahaan dengan Ariel ya, Win. Supaya aku bisa siapkan rencana apa yang harus aku lakukan," sambungnya.
"Kita harus kerja sama dan saling support."
"Siap, Lun!" jawab Wina, dengan semangat membara. "Aku akan lakukan sekarang."
"Tetap semangat ya, Lun!" seru Runi, memberikan dukungan. "Kamu pasti bisa!"
Luna menutup laptopnya dan bersandar di kursi. Ia merasa puas dan bersemangat. Ia yakin, dengan bantuan teman-temannya, akan berhasil membalas dendam pada Ariel dan Dian.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dari luar kamar. "Luna, sudah malam. Jangan tidur terlalu larut, Nak," kata Bu Yeni, dengan nada lembut.
"Iya, Bu," jawab Luna, sedikit kesal karena diganggu. "Aku mau tidur sekarang."
Luna mematikan lampu kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Namun, pikirannya masih dipenuhi dengan rencana balas dendamnya. Ia tidak bisa tidur nyenyak sebelum melihat Ariel dan Dian menderita.
Tak lama kemudian ponsel Luna berdering tanda pesan masuk. "Gotcha...!" Ia menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya sambil tersenyum lebar.
"Sepertinya semesta mendukungku," gumam Luna setelah selesai membaca pesan dari Wina.
Malam itu juga, mereka mulai menjalankan rencana jahat mereka. Ketiga wanita beda status itu, bekerja sama untuk mencari informasi tentang bisnis clothing line Ariel dan Dian, menyebarkan fitnah di media sosial, serta menghubungi wartawan untuk membuat artikel negatif. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka akan membawa dampak yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.
*
Keesokan harinya, berita tentang Ariel dan Dian kembali berseliweran di media sosial. Dan kali ini, lebih dahsyat dari sebelumnya. Akun-akun anonim bertebaran, menyebarkan komentar-komentar pedas, tuduhan-tuduhan tidak berdasar, bahkan hinaan yang menyakitkan. Foto-foto Ariel dan Dian diedit sedemikian rupa hingga terlihat buruk dan memalukan.
Luna, dengan senyum sinis, memantau perkembangan situasi dari layar ponselnya. Ia puas melihat Ariel dan Dian menjadi bulan-bulanan netizen.
Tak hanya itu, Luna juga mengirimkan pesan provokatif kepada Pak Raymond, atasan Ariel. Ia menjelek-jelekkan kinerja Ariel, menuduhnya tidak profesional karena lebih fokus pada bisnis sampingannya, dan mendesak Pak Raymond untuk memecat Ariel dari perusahaan.
"Selamat pagi, Pak Raymond. Saya harap Bapak dalam keadaan sehat. Saya ingin menyampaikan sedikit informasi mengenai kinerja salah satu karyawan Bapak, yaitu Ariel. Saya perhatikan, akhir-akhir ini kinerjanya semakin menurun karena terlalu fokus pada bisnis clothing line-nya. Saya khawatir hal ini akan berdampak buruk bagi perusahaan. Apalagi, saya dengar dia sering menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan bisnis pribadinya. Apalagi berita di luaran sana yang menyebutkan bahwa dia juga pria dengan minim moral. Saya rasa, sudah seharusnya Bapak mengambil tindakan tegas terhadap karyawan seperti ini. Terima kasih atas perhatian Bapak."
Luna tersenyum puas. Ia yakin, pesan ini akan membuat Pak Raymond semakin meragukan kemampuan Ariel.
Namun, di tengah euforia kemenangannya, Luna tidak menyadari bahwa roda karma sedang berputar. Tindakan jahatnya akan membawa konsekuensi yang tak terduga, dan ia akan segera merasakan betapa pahitnya buah dari kebencian.
Nde.. dikasih tambahan hurup O di depanya, bisa di makan nih..🤭