NovelToon NovelToon
Rempah Sang Waktu

Rempah Sang Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author:

Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.

Season 3 Warisan Darah Majapahit : 03. Penawar dari Masa Lalu

Pukul 08.00 WIB. Ruang Tamu Rumah Arya.

Dimas datang tergesa-gesa dengan kemeja kusut dan mata kurang tidur. Ia membawa tas ransel besar berisi buku-buku tebal berbau apek—koleksi naskah kuno perpustakaan pribadinya.

Di meja ruang tamu, Arya sudah menunggunya. Di hadapan Arya, tergeletak Keris Kyai Sengkelat yang sudah dibersihkan, namun aura suram masih menyelimutinya.

“Darahnya sudah aku bersihkan. Tapi baunya…” Arya menunjuk keris itu. “Masih bau anyir.”

Dimas mendekatkan hidungnya ke bilah keris, lalu mengernyit. Ia mengeluarkan kaca pembesar, meneliti motif lipatan besi itu keris itu.

“Energinya terkuras, Kakang,” gumam Dimas serius. “Keris ini semalam ‘bertarung’ jarak jauh. Ada pusaka lain yang mencoba menembus pagar gaib rumah ini. Kyai Sengkelat menahannya sampai ‘muntah darah’.”

“Apa hubungannya sama Bumi?” Tanya Arya tidak sabar.

Dimas membuka sebuah buku primbon tua bersampul kulit kerbau. Ia menunjuk sebuah ilustrasi kuno: gambar seorang anak kecil yang dikelilingi api.

“Dalam istilah Kejawen Kuno, ini disebut ‘Wadah Longgar’,” jelas Dimas.

“Wadah?”

“Anak kalian, Bumi. Dia lahir dari dua jiwa reinkarnasi yang sangat kuat. Kamu Panglima, Kirana Pelayan yang menguasai racun dan herbal. Penyatuan dua DNA spiritual ini membuat Bumi lahir dengan ‘pintu’ yang terbuka lebar.”

Dimas menatap Arya tajam.

“Tubuh Bumi itu ibarat rumah mewah yang pintunya nggak dikunci, Ar. Makhluk halus, arwah leluhur, bahkan entitas jahat… mereka semua rebutan ingin masuk dan menempati tubuhnya.”

Arya mengepalkan tangan. “Gimana cara kuncinya?”

“Harus diruwat. Tapi ruwatannya nggak sembarangan. Kita harus cari tahu dulu, siapa yang sedang mengincar dia. Karena serangan semalam itu terarah. Bukan acak.”

Pukul 12.30 WIB. Restoran “Dapur Sang Waktu”.

Suasana makan siang sangat ramai. Antrean ojek online menguar diluar. Kirana sibuk di meja kasir, melayani pembayaran sambil sesekali memantau Bumi yang sedang makan es krim di meja khusus dekat kasir.

Arya ada di dapur, memimpin tim koki. Dimas duduk di pojok meja, masih berkutat dengan laptopnya, mencoba melacak pola kejadian mistis di daerah Jakarta Selatan akhir-akhir ini.

Tring…

Lonceng pintu berbunyi masuk.

Suara keramaian restoran seolah meredup sejenak. Udara AC yang sejuk mendadak terasa lembap dan berat.

Seorang pria tua melangkah masuk.

Penampilannya sangat kontras dengan pengunjung lain yang rata-rata pekerja kantoran atau turis. Pria itu mengenakan kemeja batik tulis sutra dengan motif Parang Rusak (motif yang dulu hanya boleh dipakai Raja), celana bahan hitam licin, dan sepatu kulit mengkilap.

Rambutnya putih kelabu disisir rapi ke belakang. Di tangannya, ia memegang tongkat jalan dari kayu hitam dengan hulu berbentuk kepala ular kobra dari emas.

Ia tidak ikut antre. Ia berjalan tenang membelah kerumunan, langsung menuju meja kasir.

Para pelanggan lain secara tidak sadar menyingkir memberinya jalan, seolah terintimidasi oleh aura wibawanya.

Kirana yang sedang menunduk menghitung uang kembalian, merasakan kehadiran orang itu. Ia mendongak.

“Selamat siang, Bapak. Untuk berapa orang?” Sapa Kirana ramah, meski instingnya berteriak waspada.

Pria tua itu tersenyum. Senyum yang santun, tapi tidak mencapai matanya yang hitam pekat.

“Saya tidak lapar, Nak Kirana,” suaranya berat dan berwibawa.

Kirana tertegun. Ia tidak memakai nametag. “Bapak tahu nama saya?”

Pria tua itu tertawa kecil. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kasir, mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Siapa yang tidak kenal pemilik cincin legendaris itu?”

Mata pria itu tertuju lurus pada jari telunjuk Kirana. Pada Cincin Merah Delima.

Seketika, cincin itu bereaksi. Ziingg! Rasa panas menyengat jari Kirana. Lebih panas dari semalam. Kirana refleks menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja.

“Siapa Anda?” Tanya Kirana, suaranya mulai terdengar defensif.

“Nama saya Ki Seto,” pria itu memperkenalkan diri. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tinta emas, meletakkannya di meja.

“Saya kolektor barang antik. Saya sudah lama mencari cincin itu. Konon, itu pasangan dari keris yang dipegang suami kamu.”

Ki Seto menatap mata Kirana dalam-dalam. Tatapannya menghipnotis.

“Cincin itu terlalu berat energinya untuk wanita muda seperti kamu. Energinya… bisa melukai orang-orang tersayang. Anakmu, misalnya?”

Kirana melirik cepat ke arah Bumi. Bocah itu berhenti makan es krim. Ia menatap Ki Seto dengan mata melotot, mulutnya terbuka, es krim menetes ke bajunya.

“Berapa harga yang kamu minta?” Tanya Ki Seto, mengeluarkan buku cek dari saku jasnya. “Satu miliar? Lima miliar? Sepuluh miliar? Tulis angkanya. Saya bayar tunai hari ini.”

“Tidak dijual,” jawab Kirana tegas. Jantungnya berdegup kencang.

“Pikirkan baik-baik, Nak. Uang itu bisa menjamin masa depan anakmu. Daripada cincin itu justru mengambil masa depannya.”

Kalimat itu terdengar seperti ancaman halus.

“Keluar.”

Suara bariton yang dingin terdengar dari arah dapur.

Arya Baskara berdiri di sana, masih memakai apron masak, tapi di tangannya ia memegang pisau chef besar yang baru saja ia asah. Tatapannya tajam menusuk, tatapan Sang Panglima yang mengenali musuh.

Arya berjalan mendekat, memosisikan dirinya di antara Ki Seto dan Kirana (serta Bumi).

“Istri saya bilang tidak dijual. Telinga Anda masih berfungsi, Kan?” Ucap Arya datar.

Ki Seto menoleh pada Arya. Bukannya takut melihat pisau, ia justru tersenyum geli.

“Ah… Raden Arya,” sapa Ki Seto santai. “Senang melihat semangat tempurmu masih menyala, meski sekarang cuma pegang pisau dapur, bukan keris.”

Arya membeku. Orang ini tahu identitas masa lalunya.

Dimas yang menyadari situasi tegang, segera bangkit dan berlari mendekat.

“Mohon maaf, Pak,” potong Dimas diplomatis, berdiri di samping Arya. “Ini restoran, bukan tempat transaksi barang antik. Kalau Bapak tidak memesan makanan. Mohon tinggalkan tempat ini. Kami berhak menolak tamu yang menganggu kenyamanan.”

Ki Seto menatap Dimas sekilas, lalu mengangguk-angguk.

“Baiklah. Anak mudah zaman sekarang memang tidak sabaran.”

Ki Seto mengambil tongkatnya. Sebelum berbalik pergi, ia menatap Bumi yang masih mematung. Ki Seto mengedipkan sebelah matanya pada bocah itu.

“Sampai jumpa lagi, Wadah Kecil,” bisik Ki Seto.

Lalu ia berjalan keluar dengan langkah tegap, meninggalkan keheningan yang mencekam di restoran itu.

Saat pintu tertutup, Bumi tiba-tiba menangis kencang. Histeris.

“Panas! Panas, Yah! Dada Bumi panas!” Jerit Bumi sambil mencakar-cakar dadanya sendiri.

“Bumi!” Arya melempar pisaunya dan langsung menggendong anaknya.

Ia membuka kemeja Bumi.

Di dada kiri bocah itu, tepat di atas jantung, muncul sebuah tanda merah yang melepuh.

Tanda itu berbentuk Bunga Teratai Hitam.

“Bajingan,” umpat Arya.

Dimas menyambar kartu nama yang ditinggalkan Ki Seto di meja kasir.

Di kartu itu tertulis:

KI SETO—PADEPOKAN TERATAI HITAM

Konsultan Spiritual & Kolektor Pusaka

Jl. Alas Roban No.13

Di balik kartu itu, ada tulisan tangan dengan tinta merah:

“Waktunya hampir habis. Bawa cincin itu padaku, atau aku yang ambil isinya (anakmu).”

Kirana menutup mulutnya, air mata ketakutan menetes. “Mas… dia nandain anak kita. Dia nandain Bumi kaya hewan ternak.”

Arya menatap tanda di dada anaknya, lalu menatap pintu keluar dengan amarah yang membara.

“Dimas,” panggil Arya dingin.

“Ya, Kakang?”

“Cari tahu alamat bajingan ini. Kita tidak akan menunggu dia datang lagi. Kita yang akan memburunya.”

1
Roro
yeee ketemu lagi arya sama kirana
Roro
keren sumpah
NP
Makasih banyak ya kak 🥰🔥
Roro
wahhh ternyata nanti berjodoh di masa depan 😍😍😍
NP: 🤣🤣 tadinya mau stay di masa lampau kirana nya galau 🤭
total 1 replies
Gedang Raja
tambah semangat lagi ya Thor hehehe semangat semangat semangat
Roro
akan kah kirana tinggal
Roro
ayo thor aky tungu update nya
Roro
gimana yah jadinya, apa kita akan bakal pulang atau bertahan di era masa lalu.
NP: Hayoo tebak, kira kira Kirana pilih tinggal di masa lalu atau masa depan?
total 1 replies
Roro
Arya so sweet
Roro
panglima dingin.. mancair yah
NP
Ditunggu ya kak hehehe.. makasih udah suka cerita nya😍
Roro
aku suka banget ceritanya nya Thor, aku tunggu lanjutan nya
Roro
lanjut thor
Roro
kok aku suka yah sama karakter Kirana ini
Roro
ahhhsetuju Kirana
Roro
bagus ceritanya aku suka
Roro
keren thor
Roro
keren jadi semngat aku bacanya, kayak nya tertular semangat nya Kirana deh
NP: Makasih banyak kak Roro😍🙏
total 1 replies
Roro
fix Kirana berada di abad ke 14
Roro
jangan jangan Kirana sampai ke abad 14
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!