NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Mengubah Takdir
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: MagerNulisCerita

Dua keluarga yang terlibat permusuhan karena kesalahpahaman mengungkap misteri dan rahasia besar didalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagerNulisCerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trending Topik

Hari itu media sosial seperti diguncang gelombang besar. Sejak pagi, linimasa dipenuhi potongan berita, tangkapan layar portal daring, dan opini yang saling bertubrukan. beberapa hashtag beberapa kali muncul di beranda banyak orang: Aldi Hutomo resmi bebas setelah laporan dicabut. Begitulah salah satu hashtag yang paling sering muncul.

Sehingga kabar itu menyebar dengan sangat cepat, nyaris tanpa jeda. Yang membuat banyak orang terkejut bukan hanya soal kebebasan Aldi, melainkan fakta bahwa orang tua Nina—yang sebelumnya begitu ngotot menyeret Aldi hingga ke balik jeruji—tiba-tiba mencabut laporan mereka tanpa penjelasan apa pun. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada klarifikasi. Semua terjadi begitu saja, seolah keputusan itu sudah lama dipersiapkan, hanya menunggu waktu untuk diumumkan.

Di kampus hijau, tempat berbagai latar belakang mahasiswa berkumpul, kabar itu menjadi bahan perbincangan hangat. Di sudut-sudut taman, lorong fakultas, hingga kantin, topik yang sama berulang-ulang dibicarakan.

Sekelompok mahasiswa terlihat berkumpul di dekat parkiran, sebagian masih memegang ponsel, sebagian lain menyalakan rokok sambil menyimak.

“Woy, lihat ini,” ucap seorang mahasiswa dengan nada kesal sambil menyodorkan layar ponselnya. Ekspresinya jelas menunjukkan ketidakpercayaan. “Si bajingan itu kok bisa bebas, sih?”

Mahasiswa lain menanggapi sambil terkekeh sinis, nada bicaranya santai tapi penuh makna. “Alah, kayak nggak tahu aja. Aldi itu keluarga Hutomo. Udah pasti keluarganya ikut main.”

Seorang mahasiswa ketiga yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. Ia menyandarkan punggungnya ke motor, suaranya lebih pelan, seolah sedang menyampaikan peringatan. “Iya, susah, bro. Lawan konglomerat itu bukan perkara gampang. Salah langkah dikit, nyawa bisa jadi taruhannya.”

Percakapan itu berlanjut dengan nada yang semakin sinis. Tidak ada yang benar-benar terkejut, tapi tetap saja rasa kecewa terasa jelas di udara.

Tanpa disadari, Naura melangkah melewati kerumunan-kerumunan kecil itu. Ia baru saja keluar dari gedung fakultas dengan pikiran yang masih dipenuhi urusan tugas. Langkahnya terhenti sesaat ketika telinganya menangkap potongan-potongan kalimat yang terdengar familiar.

Nama Aldi.

Ia melambat, bukan karena ingin menguping, melainkan karena tubuhnya seolah bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Beberapa kata yang didengarnya cukup membuat dadanya terasa sedikit sesak. Namun Naura tetap berjalan, mencoba bersikap biasa saja meski pikirannya mulai kacau.

Di dekat taman kecil kampus, ia berdiri sendiri. Tatapannya kosong, jemarinya menggenggam tali tas dengan kuat. Dalam benaknya, muncul banyak pertanyaan yang belum sempat ia cerna.

Tiba-tiba, sebuah suara menyapanya dari samping.

“Na?” Suara itu terdengar ragu tapi ramah.

Naura menoleh. Tiara berdiri di depannya, wajahnya menunjukkan campuran antara heran dan khawatir. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru saja terburu-buru.

“Kamu kenapa? Dari tadi kelihatan bengong,” lanjut Tiara sambil mendekat. “Kamu sudah tahu, kan, berita yang lagi viral itu? Tentang sepupu kamu… Aldi… bebas.”

Naura terdiam sejenak. Ia menarik napas pendek, lalu menggeleng pelan. Suaranya keluar lebih lirih dari biasanya.

“Serius? Aku baru tahu sekarang, Ti. Bahkan mungkin keluargaku juga belum tahu… setidaknya belum semuanya.”

Tiara mengernyit, mencoba membaca raut wajah Naura. “Kamu nggak apa-apa?”

Naura memaksakan senyum tipis. “Aku cuma… butuh waktu buat cerna semuanya.”

Di Kantor Keluarga Hutomo

Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran megah milik keluarga Hutomo, suasana di lantai atas tampak tenang, hampir terlalu tenang. Dinding kaca memantulkan cahaya sore, dan aroma kopi hitam masih tersisa di udara.

Marvino melangkah cepat menuju ruang kerja ayahnya. Ketika pintu terbuka, ekspresinya menunjukkan keterkejutan bercampur urgensi.

“Yah… Yah,” ucap Marvino sedikit terengah, suaranya terdengar tergesa.

Angga Hutomo, yang tengah duduk di balik meja kerja besar, mendongak perlahan. Tatapannya tenang, nyaris datar.

“Ayah sudah dengar.” Ia menutup map di depannya. “Tadi Naufal yang kasih kabar. Aldi sudah bebas.”

Marvino melangkah lebih dekat, alisnya berkerut. “Ayah nggak curiga? Orang tua Nina itu dulu mati-matian mau Aldi masuk penjara. Tapi sekarang tiba-tiba mencabut tuntutan. Rasanya janggal.”

Angga menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas pelan. “Ayah juga sempat mikir begitu. Tapi pada akhirnya, itu hak mereka. Mau lanjut atau mencabut laporan, itu keputusan mereka.”

Marvino terdiam. Ia mengangguk kecil, meski jelas masih menyimpan banyak kegelisahan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Akhirnya, ia kembali bersuara, kali ini dengan nada lebih serius.

“Yah, Vino mau bicara… serius.”

Angga kembali membuka berkas di tangannya, tapi matanya tetap memperhatikan Marvino. “Tentang apa?”

“Ini soal kecelakaan Kak Arnold.”

Kalimat itu membuat Angga menghentikan semua aktivitasnya. Ia meletakkan berkas, lalu menatap Marvino dengan sorot mata berbeda.

“Lanjutkan.”

Marvino menarik napas dalam. “Beberapa bulan ini, Vino minta orang buat nyelidikin lagi kecelakaan itu. Memang… mereka nggak nemuin dalang utamanya. Apalagi Om Hendra sudah meninggal lebih dulu. Tapi… ada temuan lain. Walaupun Vino belum bisa jamin seratus persen kebenarannya.”

“Apa temuannya?” tanya Angga singkat.

“Detektif kami dapat informasi tentang kejadian tujuh belas tahun lalu. Di sebuah desa di Bogor, warga menemukan anak laki-laki sekitar sembilan atau sepuluh tahun mengapung di sungai.”

Angga menyipitkan mata. “Maksud kamu Vin…?”

“Ada dugaan kuat itu Kak Arnold, Yah. Sungai itu satu aliran dengan lokasi kecelakaan Kak Arnold dan nenek. Tapi pasangan yang menemukan anak itu sudah pindah dari desa, tanpa jejak.”

Angga terdiam lama. Suasana ruang kerja mendadak terasa berat.

“Kalau itu benar Arnold… lalu siapa yang kita makamkan selama ini, Vin?”

Marvino menunduk sebentar. “Itu sebabnya Vino mau minta izin. Vino ingin lakukan tes DNA terhadap jasad Kak Arnold. Waktu itu, kondisi jasad sulit dikenali. Kita cuma yakin dari jam tangan pemberian bunda.”

Angga menutup mata sesaat, lalu mengangguk pelan. “Lakukan. Kalau ini benar, ini bisa jadi titik terang buat keluarga kita.”

“Tapi Yah,” Marvino menambahkan dengan nada hati-hati, “Vino mohon rencana ini dirahasiakan. Termasuk dari kakek. Detektif kami bilang ada pihak misterius yang bermain dua kaki dalam peristiwa ini.”

Angga mengangguk. “Kapan dilakukan?”

“Besok. Hasilnya kemungkinan keluar lusa.”

“Baik. Ayah setuju. Kita lihat ke mana arah kebenaran ini.”

Di Balik Jeruji yang Sama

Di tempat lain, jauh dari gedung megah dan ruang ber-AC, suasana berbeda terasa di sebuah sel tahanan. Hendro, Wawan, dan Adam baru saja menerima kabar yang menghantam mereka tanpa ampun.

Masa tahanan yang mereka kira akan segera berakhir, tiba-tiba diperpanjang. Pasal baru dimasukkan. Sepuluh tahun tambahan.

“Pak, nggak bisa gini dong!” Hendro bersuara keras, wajahnya memerah. “Hakim waktu itu udah ketuk palu. Kok sekarang bisa berubah?”

Wawan ikut menyahut, nada suaranya tinggi karena panik. “Iya, Pak! Ini nggak adil!”

Adam berdiri paling belakang, suaranya gemetar. “Bang… gimana ini? Aku takut…”

Petugas menatap mereka tanpa ekspresi. “Ini keputusan kepolisian, jaksa, dan hakim hari ini. Terima saja.”

Tak lama kemudian, mereka kembali digiring ke dalam sel.

Begitu pintu besi tertutup, Hendro menghantam tembok dengan lengannya. “Ini pasti ulah suruhan orang-orangnya Aldi. Anak sialan itu.”

Wawan terduduk lemas. “Kalau tahu bakal begini, gue nggak bakal ikut dari awal.”

Adam menangis, suaranya pecah. “Aku nggak mau di sini, Bang. Aku mau bebas.”

Hendro menghela napas kasar. “Udah, diem. Kalau tahu bakal begini, gue juga mikir ulang. Tapi sekarang kita harus cari cara… cara apa pun.”

Hingga terbesit dibenak Hendro untuk menghubungi orang yang telah menyuruh mereka melakukan perbuatan tersebut.

Malam turun perlahan, menutup lembaran hari ini dengan penih kejutan. Di satu sisi, seorang pemuda menghirup udara bebas. Di sisi lain, sebuah keluarga mulai menggali masa lalu yang selama ini terkubur rapi.

Dan entah di mana, seseorang memperhatikan semuanya dari kejauhan tanpa nama, tanpa wajah menunggu saat yang tepat untuk kembali bergerak.

Karena dalam permainan ini, kebenaran mungkin belum sepenuhnya ingin ditemukan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bersambung

1
Duri Mawar
Ayo update dobg thor! nungguin skli 💪
Duri Mawar
mawar biar author semangat update💪/Grin/
Duri Mawar
Penasaran sama orang ini...apa motifnya sebenernya kok bisa segitunya ma aldi
bebekkecap
Sesayang itu ratri ma aldi😭
Duri Mawar
Aku kasih mawar. Semangat buat update thor/Proud/
AuthorMager: wah, makasih kak. ditunggu next chapternya ya...
total 1 replies
bebekkecap
Fiks badai nih bentar lagi😭
bebekkecap
kasian juga sebenernya sama aldi😭
Duri Mawar
Iklan buatmu min,biar semangat update💪
AuthorMager: terima kasih kak supportnya🙏💪
total 1 replies
Duri Mawar
Alfian memang patutnya di jejelin cabe 1 karung 😒
bebekkecap
😍
bebekkecap
next kak, gasabar pas semuanya kebongkar🤣
AuthorMager: Sabar kak, masih lama...hhehhe
total 1 replies
AuthorMager
Bismillah, semoga banyak pembaca yang berminat. Aamiin
AuthorMager
Selamat menikmati alur cerita yang penuh plotwist
bebekkecap
seru banget kak, lanjut kak
AuthorMager: siap kak, bantu like and share ya kak🤭
total 1 replies
bebekkecap
makin seru aja ini kak ceritanya, sayang kok bisa cerita sebagus ini penikmatnya kurang👍💪
AuthorMager: Aduh makasih kak, bantu share ya kak🙏
total 1 replies
bebekkecap
Bahasa rapi dan terstruktur secara jelas
AuthorMager: duh, jadi terharu. makasih kak
total 1 replies
bebekkecap
Bahasa rapi dan terstruktur secara jelas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!