Kanaya hidup dalam gelembung kaca keindahan yang dilindungi, merayakan tahun-tahun terakhir masa remajanya. Namun, di malam ulang tahunnya yang ke-18, gelembung itu pecah, dihancurkan oleh HUTANG GELAP AYAHNYA. Sebagai jaminan, Kanaya diserahkan. Dijual kepada iblis.Seorang Pangeran Mafia yang telah naik takhta. Dingin, cerdik, dan haus kekuasaan. Artama tidak mengenal cinta, hanya kepemilikan.Ia mengambil Kanaya,gadis yang sepuluh tahun lebih muda,bukan sebagai manusia, melainkan sebagai properti mewah untuk melunasi hutang ayahnya. Sebuah simbol, sebuah boneka, yang keberadaannya sepenuhnya dikendalikan.
Kanaya diculik dan dipaksa tinggal di sangkar emas milik Artama. Di sana, ia dipaksa menelan kenyataan bahwa pemaksaan adalah bahasa sehari-hari. Artama mengikatnya, menguji batas ketahanannya, dan perlahan-lahan mematahkan semangatnya demi mendapatkan ketaatan absolut.
Bagaimana kelanjutannya??
Gas!!Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dua Dunia
Kepergian Artama meninggalkan kesunyian yang mewah di dalam penthouse. Kanaya menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa ketegangan dari percakapan panas antara Artama dan ayahnya tadi. Sesuai instruksi Artama, Sofia—asisten pribadi yang efisien namun irit bicara—datang membawakan nampan sarapan berisi pancake blueberry dan jus jeruk segar.
"Terima kasih, Sofia," ucap Kanaya lembut.
Setelah menghabiskan sarapannya, Kanaya memutuskan untuk memanjakan diri. Ia menyalakan televisi layar lebar di ruang tengah, menyiapkan setumpuk camilan, dan satu pint es krim cokelat. Ia baru saja akan menekan tombol play pada film klasik yang ingin ditontonnya, ketika pintu penthouse terbuka dengan suara dentingan sensor yang elegan.
Seorang wanita paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan setelan tweed Chanel berwarna krem, mutiara melingkar di lehernya, dan tatapannya setajam belati es. Nyonya Eleonor Volkswagen.
Sofia langsung membungkuk hormat, wajahnya memucat. "Nyonya Besar, Anda datang tanpa pemberitahuan."
Nyonya Besar??Calon mertua??Eh..apaan sih!!
Batin Kanaya saat mendengar penggilan itu.
Eleonor pun tidak menjawab. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada sosok Kanaya yang duduk di sofa dengan sendok es krim di tangan. Kanaya segera berdiri, meletakkan es krimnya, dan membungkuk sopan.
"Jadi... ini alasan putraku membuang warisan ribuan triliun?" suara Eleonor terdengar dingin dan meremehkan.
Di dalam hatinya, Eleonor meracau, 'Wajahnya polos sekali,tapi cantik sih. Seperti anak kucing yang tersesat. Apa yang dilihat Artama pada gadis ini? Aku sudah menyodorkan putri Duke, model kelas dunia, hingga pewaris minyak, tapi dia selalu membeku. Kenapa sekarang dia mencair untuk gadis tamatan SMA ini?'
Eleonor duduk di sofa tunggal, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Duduklah, Kanaya. Aku ingin melihat seberapa pantas kau berada di samping singa seperti Artama."
Anj!r!!Astaga!!Ini lebih dari sekedar ujian lisan!!!.Gerutu Kanaya lagi.
Eleonor memulai serangannya. "Artama bilang kau adalah 'istri masa depan'. Tapi dalam dunia kami, cinta adalah variabel yang tidak relevan. Bagaimana kau akan menyeimbangkan neraca perdagangan Artama Corporation yang anjlok 15% pagi ini karena namamu?"
Kanaya sedikit terkejut.Ternyata ujian pertama nyonya Eleonor adalah ujian kecerdasan.
Kanaya pun terdiam sejenak. Ia tidak terlihat takut. Sebaliknya, ia menatap balik mata Eleonor dengan ketenangan yang mengejutkan.
"Kerugian 15% itu bersifat emosional, Nyonya, bukan fundamental," jawab Kanaya tenang. "Pasar hanya bereaksi terhadap ketidakpastian. Begitu Artama menunjukkan stabilitas melalui kepemimpinan baru yang tidak terikat pada skandal keluarga Valencia, saham itu akan kembali menguat. Hubungan dengan Valencia adalah liabilitas, bukan aset. Memotong kerugian di awal jauh lebih baik daripada membiarkan kanker itu menggerogoti perusahaan dalam jangka panjang."
Sofia terperangah. Ia segera merogoh ponselnya, diam-diam menghubungi Artama.Aku benar-benar tidak percaya nona Kanaya bisa menjawab nya dengan efisien!!
Eleonor menyipitkan mata. "Dia mengerti terminologi bisnis?" pikirnya heran. Namun, ia kembali memasang wajah kejam.
"Bicara memang mudah. Tapi kau hanyalah gadis tanpa koneksi. Apa yang kau berikan pada Artama selain beban?"
What?!!Dia ngatain gue beban?!Yang beban tuh anak lo!!Dia udah nyl_llik gue,nyakitin gue!!...Oke!!Kita harus jawab dengan anggun guys!!.
"Saya memberikan apa yang tidak bisa dibeli oleh Volkswagen dengan uang,Loyalitas tanpa agenda." Kanaya menjawab dengan tajam namun tetap sopan.
"Artama dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkan potongan kuenya. Saya adalah satu-satunya orang yang menginginkan pria di balik kursi direksi itu tetap bernapas dengan tenang. Keamanan mental seorang pemimpin adalah fondasi dari setiap keputusan bisnis yang hebat."
Di lantai teratas gedung pusat Artama Corporation, sang pemilik nama duduk mematung. Dokumen-dokumen bernilai jutaan dolar yang biasanya menjadi prioritas utamanya kini terabaikan di atas meja mahoni. Mata tajam Artama tidak lepas dari layar monitor privat yang menampilkan siaran langsung dari penthouse-nya saat setelah Sofia mengirimkan pesan darurat tentang ibunya.
Artama menyandarkan punggung, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tidak beraturan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
"Kanaya..." bisiknya pelan, menyebut nama itu seolah itu adalah sebuah teka-teki yang baru saja berubah bentuk.
Selama ini, Artama melihat Kanaya sebagai sosok yang rapuh. Gadis yang ia temukan dalam kondisi tertekan, yang ia kurung dalam sangkar emasnya untuk dilindungi dari kekejaman dunia dan sebagai jaminan ayahnya.
Ia mengira Kanaya hanyalah seorang gadis lulusan SMA dari latar belakang sederhana yang hobi membaca buku untuk melarikan diri dari kenyataan,keras kepala dan suka memberontak. Namun, cara Kanaya menghadapi Eleonor Volkswagen,wanita yang bahkan membuat para menteri gemetar saat berbicara adalah sesuatu yang bersifat anomali.
Artama pun menyeringai. Gadisnya bukan sekadar permata yang indah, tapi juga senjata yang tajam. Menarik!!
Kembali ke sisi belahan dunia sebelumnya...
Eleonor terus menghujani Kanaya dengan pertanyaan tentang politik dunia, sejarah keluarga Volkswagen, hingga etika perjamuan kelas atas. Kanaya menjawab semuanya dengan efisiensi yang mengerikan,cepat, tepat, dan tanpa cela.
Lo kira gue bocah ingusan yang gak bisa apa-apa yah??Keliatan banget kalo dia cuman sok!.
Tiba-tiba, Kanaya tersenyum kecil. Senyum yang membuat Eleonor menghentikan ocehannya.
"Kenapa kau tersenyum? Aku sedang menghinamu," gertak Eleonor.
"Maafkan saya, Nyonya," Kanaya mendekat sedikit, suaranya merendah seolah mengajak berahasia.
"Tapi Anda sangat mirip dengan Artama. Anda berpura-pura menjadi badai salju di luar, padahal sebenarnya Anda hanya ingin memastikan bahwa orang yang bersama putra Anda tidak akan menghancurkannya."
Kanaya pun kini mengambil cangkir teh yang baru saja disiapkan Sofia dan menyajikannya pada Eleonor. "Dan saya rasa, setelah ini, Anda sebenarnya sangat asyik diajak berdiskusi... atau mungkin sedikit bergosip tentang betapa kaku dan keras kepalanya putra Anda itu."
Eleonor tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Gadis ini... dia bisa membaca orang sepertiku?"
Di layar CCTV, Artama melihat ibunya perlahan meraih cangkir teh tersebut. Sebuah tanda menyerah yang jarang terjadi.
"Tunggu aku, Kanaya," gumam Artama di ruang kantornya dengan nada bangga yang tak terbendung. "Kau benar-benar penuh kejutan."
----------
Di layar, Artama melihat ibunya, Eleonor, mencoba memojokkan Kanaya dengan pertanyaan menjebak mengenai sejarah makroekonomi Eropa yang menjadi basis kekayaan keluarga Volkswagen.
"Jika aku menarik seluruh investasi yayasan sosial kami dari sektor publik, menurutmu apa yang akan terjadi pada citra Artama?" tanya Eleonor dengan nada menghina.
Kanaya tidak berkedip. Ia meletakkan toples es krimnya dengan tenang, lalu menjawab, "Secara jangka pendek, itu akan menciptakan sentimen negatif. Namun, jika Anda melihat laporan audit tahun lalu, yayasan tersebut memiliki tumpang tindih aset dengan perusahaan Valencia. Menarik diri sekarang justru akan menyelamatkan Anda dari investigasi pajak yang kemungkinan besar akan menimpa keluarga Valencia bulan depan. Jadi, Nyonya, Anda tidak sedang mengancam Artama. Anda sedang mencari alasan untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum kapal Valencia karam, bukan?"
Eleonor pun terdiam. Sofia, yang berdiri di sudut ruangan, hampir menjatuhkan ponselnya.Nona Kanaya memang out of the box!!!.
Di kantornya, Artama memejamkan mata sejenak, sebuah senyum miring muncul di wajahnya. "S!al," batinnya.
"Dia bukan hanya membaca buku sastra. Dia membaca laporan tahunanku yang tergeletak di meja kerja."