Kisah ini menceritakan seorang anak kecil yang harus menjadi korban ke egois san orang tua... dia bernama Vera Arsiana... bayi berumur 8 bulan, dia terpaksa harus di bawa oleh sang kakek untuk menjauhi Keluarga baru dari Mamah dan papahnya
Ada yang penasaran ngga dengan cerita ini yuk kita mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intanpsarmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Dokter pun keluar Vera dan Mang Tubi pun mendekati sang dokter untuk mengetahui keadaan Kakek Uci
"Dok bagaimana keadaan juragan saya?" tanya mang Tubi. dokter pun menatap Vera dan Mang Tubi, dia melihat raut sedih di wajah gadis cantik yang menatap dia
"Mohon maaf tuan Sanusi tidak bisa kami selamatkan, dua benturan di kepala dan ulu hati menyebabkan beliau meninggal di tempat" ucap Dokter
DEG
Jantung Vera terasa berhenti. pandangan nya terhadap dokter pun mulai buram dan Vera pun langsung tak sadarkan diri, untung mang Tubi cepat memegang tubuh Vera, Bi Tini pun merasa sedih juragan suaminya itu begitu baik. tapi takdir tak selalu berpihak kepada orang baik
Mang Tubi merasakan Sedih. dia kenal juragannya itu saat Mang Tubi dan mang Hasan di pukuli oleh beberapa preman
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.... ya Allah juragan" gumam mang Tubi. dia melihat tubuh cucu kesayangan dari juragan nya itu dengan sedih. Vera menatap kedepan, air mata mengalir di sudut matanya
Kenangan terindah bersama sang kakek pun terus berputar-putar di dalam pikirannya, Vera pun langsung mengalihkan tatapannya ke ruang UGD tempat sang kakek
"Bapak tinggalin Vera? hiks... hiks.... bukan kah ini tidak adil? kenapa harus aku yang menerima kenyataan ini, Mang apa Vera nakal? apa Vera melakukan sesuatu yang melanggar aturan Allah Mang" Ucap Vera dengan nada lirih. Mang Tubi merasakan sakit saat mendengar ucapan gadis muda itu
Istri Mang Hasan pun langsung memeluk Vera, dia pun ikut menangis saat mendengar kata-kata menyakitkan itu
"BI boleh Vera ikut bapak Bi? Vera tidak ingin hidup lagi Bi, Vera ingin ikut bapak Bi" Isak Vera. kenyataan ini membuat Vera tak menerima
"Istighfar neng istighfar, kuatkan hati neng Vera" jawab istri mang Hasan. sedangkan mang Tubi dia mengepalkan tangannya dia merasa sakit saat mendengar ucapan cucu dari majikan nya itu
"Ya Allah... juragan kenapa juragan meninggalkan cucu yang juragan urus dari bayi" gumam hati Mang Tubi. dia pun melihat kakak ipar nya yang memeluk gadis muda itu
"Kasih tau akan mu Tub, biar dia mengurus pemakaman juragan" ucap lirih Bi Yuni istri dari mang Hasan. mang Tubi pun mengangguk mengiyakan ucapan sang kakak ipar
Kepergian juragan Sanuci pun membuat beberapa anak buahnya menangis. kebaikan di masa hidup nya membantu kehidupan di kampung sekitar terbantu, beliau juga membangun beberapa sekolah untuk anak yang kurang mampu, dia juga yang memiliki kebun karet dan sawit terluas, tapi mereka di beritahu agar menutup mulut untuk memberitahu orang luar bila dia juragan terkaya, semua di urus oleh Mang Hasan dan mang Tubi
Rumah mewah itu penuh dengan para pelayat yang akan mengikuti acara tahlil di kediaman itu. Vera hanya diam tanpa berbicara sedikit pun Vera juga tak sedikit pun beranjak dari sisi jenazah sang kakek
Tatapan matanya kosong. air mata yang mengalir sekarang di gantikan dengan mata sembab nya, semua para anak buah juragan Sanuci pun menatap iba, mereka berjanji kalau mereka akan menjaga cucu juragan mereka, sesuai keinginan dari majikan mereka
Acara pemakaman kakek Vera di penuhi para pelayat. dari sini kita bisa melihat semasa hidup almarhum kakek Vera berbudi luhur dan mulia kepada setiap manusia yang tidak memiliki kehidupan baik, dan dengan tulus dan ikhlas beliau membantu dan menyadarkan untuk kita memperbaiki kehidupan kita
Vera terus di papah oleh BI Yuni, dia hanya diam tapi saat melihat kakeknya akan di masukkan ke liang lahat, dia histeris dia menangis berontak ingin memeluk sang kakek
"Tidak... Jangan masukan bapak kesana, tidak bapak jangan tinggalkan Vera pak, Vera sama siapa pak? Vera ikut pak Vera ikut" Teriak Vera. Bi Yuni pun memeluk erat-erat, dia cukup kesulitan dan akhirnya mang Hasan mendekati Vera memegang tubuh Vera agar tak berontak lagi
"Ikhlasin neng ikhlasin... kasihan Almarhum kakek neng, nanti beliau tidak tenang, berat neng" ucap Mang Hasan
Deg
Kalimat itu membuat Vera menatap diam. tanpa tanggapan atau suara dia hanya tersenyum kecil
"Iya Vera ikhlas, Vera harus ikhlas" gumam nya, hati mang Hasan dan beberapa anak buah kakek Vera pun menatap tak tega
.
.
.
Pemakaman pun berlangsung dengan baik, tapi hanya Vera yang diam tanpa suara, seolah jiwanya di tarik paksa untuk tetap diam
Acara tahill pun penuh dengan para warga. mereka ikut membantu dan membuat makanan untuk para pengaji, tradisi di kampung itu akan ada yang ngaji dari selesai tahill sampai ke subuh. itu akan berlangsung sampai tujuh harinya
Vera diam di kamar milik sang kakek, dia melihat kesetiap juru kamar itu banyak barang antik yang di miliki sang kakek. ada beberapa barang yang Vera tau
Vera ingat dengan ucapan sang kakek "Neng kalau bapak ngga ada, tolong bilang pada Hasan atau Tubi, sembunyi kan barang-barang ini... dan bapak minta kalau rumah ini di jual, tolong beli lagi ya, bapak takut umi dan paman neng kesini untuk mengambil rumah ini" ucap Almarhum kakek Vera
Umi itu adalah Nenek Vera yang sudah berpisah dengan sang kakek, dan ada beberapa anak lelaki kakek yang tinggal di kota lain dengan mereka
Vera pun segera memanggil Mang Tubi dan mang Hasan. mereka berdua yang di panggil pun langsung saling tatap
"Mang tolong pindahkan barang-barang ini keluar dari rumah ini, dan kalau rumah ini di jual sama nenek Vera tolong beli kembali ya. Vera tidak punya siapa-siapa, hanya tinggal kalian saja" ucap lirih Vera dia merasa dia akan pergi jauh dari sini
"Emang Neng nya mau kemana?" tanya mang Hasan
"Mungkin Vera akan menyusul bapak mang" gumam lirih Vera
"Astaghfirullah" ucap Mang Tubi dan mang Hasan
"Istighfar neng... muji jangan takabur kaya gitu" jawab mang Hasan
"Umur tidak ada yang tahu mang" jawab Vera dengan nada lembut
.
.
.
Tiga hari kakek Vera sudah meninggalkan mereka semua, dan mereka di kejutkan dengan tiga orang yang baru tiba di kediaman milik sang juragan. Vera melihat nenek dan para anak sang kakek benar datang ke kota tempat Vera besar
"Hmmm.... ternyata kau sudah besar juga ya, apa tidak malu tinggal di rumah kakek tirimu? harusnya kau malu, ibu dan papa mu saja mencampakkan mu" ucap pedas dari putra pertama sang kakek. memang benar kakek yang membesarkan Vera dengan penuh kasih sayang itu hanya kakek Tiri, Almarhum kakek Sanuci membawa Vera dari orang-orang yang tidak menyukai kehadiran Vera
Vera menatap Letih kepada sang paman. dia tidak melawan atau pun menjawab, hidupnya sudah tak ada artinya lagi, Vera mendekati sang nenek dan mengambil tangan sang nenek dan mencium lembut tangan keriput itu. tapi dengan tega tangan itu menepis dengan kencang
PLAK
"Jangan sekali-kali kau memegang tangan ku... kau hanya anak yang tidak tahu diri, apa kau tahu gara-gara kau si Sanuci menceraikan aku. dan memilih anak tak berguna seperti mu" ucap nya dengan nada mengejek Vera
Mang Hasan pun mendekati Vera membantu bangun karena terdorong oleh tepisan sang nenek, apa lagi selama tiga hari Vera tidak makan dengan benar
"Anda sangat keterlaluan, Neng Vera itu cucu kandung anda" ucap mang Hasan. yang memang sudah tahu bila wanita tua itu mantan istri dari majikan nya, majikan nya memilih menceraikan istri dan pergi jauh dari kehidupan anak-anak nya, karena mereka tidak menerima Vera kecil
"Haaa... Cucu? ya bener dia Cucu yang tidak pernah aku ingin kan" jawabnya
Deg
Hati Vera sakit dan airmata yang sudah tidak keluar pun sekarang keluar kembali saat mendengar ucapan sang nenek nya
"Sehina itu kah aku? sekotor itukah aku? aku tidak ingin di lahirkan bila hanya akan di Campakkan seperti ini" jawab lirih Vera
"Sudahlah.. Tidak terlalu basa-basi lagi sekarang kalian pergi dari rumah ini karena rumah ini akan kami jual, kamu tidak berhak atas rumah ini karena rumah ini adalah milik ayahku" ucap putra kedua kakek Vera. Vera menatap tak percaya, jadi bener rumah ini akan dijual oleh paman nya
"Tidak... Vera mohon, jangan jual rumah ini, ini rumah satu-satunya peninggalan Bapak" ucap Vera yang mendekati sang paman. tapi dengan tega dan kesal paman Vera mendorong Vera dengan sangat kencang
DUG
"NENG VERA.......
TBC
Ayo Bantu dukung ya... Agar cerita ini tetap lanjut dan author semangat menulis nya, like komen share dan Masukkan ke Favorit mu
ohya thor si vera gk ada asistennya sendri gtu selain mang hasan ma mang tubi
lanjut thor