Menikahi sahabat sendiri seharusnya sederhana. Tetapi, tidak untuk Avellyne.
Pernikahan dengan Ryos hanyalah jalan keluar dari tekanan keadaan, bukan karena pilihan hati.
Dihantui trauma masa lalu, Avellyne membangun dinding setinggi langit, membuat rumah tangga mereka membeku tanpa sentuhan, tanpa kehangatan, tanpa arah. Setiap langkah Ryos mendekat, dia mundur. Setiap tatapannya melembut, Avellyne justru semakin takut.
Ryos mencintainya dalam diam, menanggung luka yang tidak pernah dia tunjukkan. Dia rela menjadi sahabat, suami, atau bahkan bayangan… asal Avellyne tidak pergi. Tetapi, seberapa lama sebuah hati mampu bertahan di tengah dinginnya seseorang yang terus menolak untuk disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B-Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Avellyne akhirnya bisa bernapas lega sebab dia tidak perlu lagi menginjakkan kaki di rumah mewah ini. Memang banyak kenangan manis yang tercipta di rumah ini, namun kenangan buruk lebih dominan.
Belasan kali, bahkan sudah puluhan kali dia meminta kepada sang mama agar pindah dari rumah yang sudah di huninya sejak kecil dan hari itu pun akhirnya tiba juga.
"Mama tidak menyesal merelakan rumah ini, Vel. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan perasaan Mama."
"Avel tidak khawatir. Mama harus tahu satu hal, kalau sebenarnya Avel sudah menyediakan rumah baru untuk Mama dan untuk Avel juga."
"Kamu tidak serumah dengan Mama, Vel." Ucapan Cintya mengundang kebingungan pada diri Avellyne.
Dia adalah anak satu-satunya dan kenapa sang mama tidak ingin tinggal bersama dengannya.
"Sebentar lagi kamu menikah dan kamu bakal tinggal dengan Ryos."
"Mama... Avel pikir Mama enggak mau tinggal bersama dengan Avel."
"Mana mungkin Mama enggak mau tinggal dengan anaknya sendiri." Cintya tersenyum tipis.
Sedari tadi mereka berbincang sambil mengemasi barang-barang yang penting saja untuk dibawa ke tempat tinggal yang baru.
"Ryos sudah kamu kabari?" tanya Cintya.
"Besok aja kalau kita sudah menempati rumah baru. Avel enggak mau ganggu konsentrasi Ryos. Belakangan ini dia lagi sibuk banget."
Cintya mengangguk pelan tanda mengerti. Dia paham dengan keputusan sang putri sebab calon menantunya itu memiliki kesibukan lain yang lebih penting.
"Kamu harus hidup dengan baik bersama Ryos, ya, Sayang! Mama tidak ingin kamu membenci semua pria hanya karena kelakuan papa kamu yang tidak bertanggung jawab."
Avellyne berhenti sejenak membantu mengemasi pakaian mamanya. Dia berjalan mendekat lalu tersenyum tipis sambil menggenggam kedua tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Mama tidak perlu khawatir. Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan Mama sendiri. Sehabis resepsi Avel dan Ryos, Mama juga harus liburan. Avel sudah membeli tiket liburan untuk Mama. Mama tidak pergi sendiri, Avel sudah mempersiapkan teman kencan untuk Mama." Avellyne tersenyum semakin lebar, dia menatap sang mama penuh dengan perasaan kasih sayang dan cinta.
"Kamu mau jodohin Mama? Kamu mau balas dendam ke Mama?" Cintya terlihat protes meski putrinya belum memberikan rincian jelas soal liburan bulan depan.
"Kalau Mama mau dijodohin, Avel bisa cari Om-om ganteng dan mapan. Papa Chalista sudah lama banget menduda, Avel bisa kenalin mama ke Om. Gimana?"
"Mama serius, Avel! Kamu menyiapkan dua tiket tanpa persetujuan Mama. Mana mungkin Mama sembarangan kencan sama laki-laki yang tidak Mama kenal."
"Mama marah dan risih. Itu juga yang Avel rasakan saat Mama memaksa Avel menikah dengan pria yang tidak Avel kenal–"
"Jadi kamu benaran mau balas dendam ke Mama?" Cintya sudah melotot melihat putrinya itu.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, mana mungkin dia menikah untuk ke dua kali.
"Mama ngarep banget mau Avel carikan om-om. Lagian Avel belum selesai bicara. Teman kencan Mama yang Avel maksud itu maminya Ryos. Semenjak Om Gestara meninggal, tante Diajeng tidak mau pergi ke mana-mana."
"Di hari pernikahan kami nanti, Avel dan Ryos tidak ingin merasakan kebahagiaan sendiri. Kami sebagai anak yang baik ingin melihat orang tuanya ikut merasakan kebahagiaan juga. Avel dan Ryos sudah membicarakan ini. Jadi, Mama bisa bersenang-senang dan barangkali bisa ketemu om tajir di tempat liburan nanti–"
"Avel!" Cintya memukul lengan sang putri agar Avellyne berhenti menggodanya seperti ini.
"Mama lucu banget," ucap Avellyne masih tersenyum lebar.
Melihat sikap mamanya, Avellyne menarik kesimpulan kalau tidak ada penyesalan yang dipendam dan sang mama sudah ikhlas harus meninggalkan rumah ini.
...
Setengah harian Avellyne, Cintya dan dibantu beberapa asisten rumah tangga akhirnya selesai mengemasi barang-barang pribadi mereka. Segala perabotan rumah tangga tentu saja ditinggalkan di rumah besar itu.
Avellyne memang sudah lama menyiapkan rumah baru beserta isinya. Dia berniat ingin menempati rumahnya sendiri, namun karena sebentar lagi akan menikah dengan Ryos, tentu saja dia tidak bisa menempati rumah tersebut. Setelah menjadi seorang istri tentunya harus ikut tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh suaminya.
Di rumah baru itu, Cintya tidak tinggal sendiri. Para pekerja dari rumah lama diboyong oleh Avellyne.
Meski badan merasa lelah, Avellyne menyempatkan diri untuk pergi ke butik. Selain memeriksa penjualan, dia juga ingin memeriksa sudah sejauh mana proses gaun pengantinnya.
"Bu Avel! Ada yang menunggu di ruang kerja Ibu!" Salah satu pegawai menghampiri Avellyne di ruang jahit.
Rupanya wanita itu memantau Siska yang sedang menjahit baju pengantinnya. Tinggal beberapa bagian lagi maka gaun pengantin tersebut akan selesai.
Avellyne pun segera berjalan meninggalkan ruang jahit dan menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua.
Seorang pria yang mendengar suara pintu terbuka segera berbalik badan. Dia mengulas senyum tipis, namun tidak dengan Avellyne.
Wanita itu terlihat terkejut, namun hanya dalam waktu beberapa detik dia berhasil menguasai diri dan memasang raut wajah biasa saja.
"Kak...."
"Mau apa menemui aku di sini? Apa papa yang menyuruh kamu?" Avellyne melewati pria tersebut dan duduk di sofa.
Sementara si tamu tetap berdiri di tempatnya. Dia adalah Arlo– adik lelaki Avellyne.
"Jadi papa benaran mengambil rumah itu?" tanya Arlo.
Perasaannya antara takut dan sungkan. Semenjak perceraian orang tuanya, dia memilih ikut dengan sang papa lalu memutuskan komunikasi dengan Cintya dan Avellyne.
Avellyne berdiri kembali dan belum mau menjawab pertanyaan sang adik.
"Kita bicara di rooftop–"
"Maaf, Kak. Tapi, aku enggak bisa lama-lama di sini," potong Arlo dan seketika Avellyne menghentikan langkah kakinya.
"Kita bicara sekarang atau tidak sama sekali." Avellyne memberikan tatapan datar, raut wajah tanpa ekspresi. Sikapnya benar-benar terlihat dingin.
Pada akhirnya Arlo setuju dan mengikuti langkah pelan sang kakak.
Tidak sampai lima menit, kakak beradik itu sampai di rooftop. Salah satu area yang menjadi tempat favorit Avellyne selain ruang jahit.
"Kak! Ini...." Kedua mata Arlo terbuka dengan sempurna ketika dia melihat seluruh area Rooftop.
Entah kenapa, kedua matanya sudah berlinang. Pria itu menarik napas sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba saja menghampiri dirinya.
"Sekarang jawab pertanyaan Kakak. Mau apa kamu datang menemui Kakak?"
"Maafkan aku, Kak!" Arlo sudah terisak dan langsung memeluk kakaknya itu. Satu-satunya keluarga yang dia punya selain papa mereka.
"Maafkan aku!" ucapnya lagi masih menangis tersedu.
Avellyne berdiri dalam diam. Dia merasakan kesedihan yang begitu dalam. Tidak sedikit pun dia membenci sang adik. Sejak perceraian kedua orang tua mereka hingga detik ini rasa sayang seorang kakak kepada adiknya masih tetap sama.
"Pernikahan papa dan mama hancur karena aku," ucap Arlo di sela suara isak tangisnya.
Avellyne memaksa Arlo untuk melepaskan pelukan yang sedang terjadi dan pria itu pun buru-buru menyeka air matanya lalu mengatur perasaannya sendiri agar berhenti menangis.
"Aku kemari karena papa."
"Apa masih ada yang kalian perlukan selain rumah itu?" tanya Avellyne dan Arlo mengangguk pelan sebagai jawaban.