NovelToon NovelToon
Cinta Sendirian

Cinta Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Romansa Fantasi / Kehidupan alternatif / Romansa
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Aira Nayara seorang putri tunggal dharma Aryasatya iya ditugaskan oleh ayahnya kembali ke tahun 2011 untuk mencari Siluman Bayangan—tanpa pernah tahu bahwa ibunya mati karena siluman yang sama. OPSIL, organisasi rahasia yang dipimpin ayahnya, punya satu aturan mutlak:

Manusia tidak boleh jatuh cinta pada siluman.

Aira berpikir itu mudah…
sampai ia bertemu Aksa Dirgantara, pria pendiam yang misterius, selalu muncul tepat ketika ia butuh pertolongan.

Aksa baik, tapi dingin.
Dekat, tapi selalu menjaga jarak, hanya hal hal tertentu yang membuat mereka dekat.


Aira jatuh cinta pelan-pelan.
Dan Aksa… merasakan hal yang sama, tapi memilih diam.
Karena ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya.

Siluman tidak boleh mencintai manusia.
Dan manusia tidak seharusnya mencintai siluman.

Namun hati tidak pernah tunduk pada aturan.

Ini kisah seseorang yang mencintai… sendirian,
dan seseorang yang mencintai… dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Sadar

Di tempat lain, pada tahun yang berbeda—2025—seorang ayah bernama Dharma Aryasatya berdiri dengan dada terasa sesak. Pikirannya tertuju pada putrinya, Aira Nayara, yang tengah ia tugaskan menjalankan misi ke masa lalu, tepatnya ke tahun 2011.

Misi itu memang bukan misi berbahaya. Aira hanya diminta menyusup dan mengamati—mencari keberadaan siluman bayangan yang bersembunyi di antara kehidupan manusia. Namun sebagai seorang ayah, kekhawatiran tetap menggerogoti hati Dharma.

Ia memegangi dadanya, merasa firasatnya tak begitu baik.

Seolah ada sesuatu yang tidak beres dengan Aira.

Saat itulah Zeno datang menghampiri.

“Pak, Bapak tidak apa-apa?” tanya Zeno pelan.

Zeno adalah anggota Opsil sekaligus sahabat dekat Aira.

“Saya tidak tenang, Zen,” ujar Dharma jujur. “Walaupun misinya hanya penyelidikan, perasaan saya mengatakan Aira sedang tidak baik-baik saja.”

Zeno mengangguk memahami.

“Kalau begitu, izinkan saya menyusul Aira ke masa lalu, Pak. Saya akan memastikan kondisinya.”

Dharma menatap Zeno sejenak, lalu mengangguk mantap.

“Baik. Saya izinkan kamu masuk ke tahun 2011.”

“Siap, Pak. Saya akan segera melapor. Jika Aira baik-baik saja, saya akan menemaninya sampai misi selesai dan siluman itu ditemukan,” jawab Zeno.

“Terima kasih, Zen.”

Kelegaan perlahan menyusup ke hati Dharma. Meski Aira berada jauh di masa lalu, setidaknya kini ada seseorang yang bisa ia percaya untuk menjaga putrinya—sampai misi itu benar-benar berakhir.

Zeno berdiri di hadapan hologram waktu yang berpendar kebiruan. Lapisan cahaya itu berputar perlahan, membentuk lorong transparan menuju tahun 2011. Tanpa ragu, Zeno melangkah masuk. Tubuhnya diselimuti cahaya, lalu semuanya gelap sejenak.

Saat matanya kembali terbuka, dunia telah berubah.

Tahun 2011.

Zeno menarik napas dalam. Suasana terasa lebih sederhana—tanpa teknologi canggih, tanpa layar hologram. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar foto Aira.

Wajah yang sangat ia kenal.

Zeno mulai menyusuri jalan, bertanya dari satu orang ke orang lain. Namun tak satu pun penduduk yang mengenal gadis dalam foto itu. Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di sebuah pasar yang ramai.

Di sanalah ia melihat seorang bocah laki-laki berseragam SMP.

Zeno menghampirinya.

“Maaf, kamu pernah melihat perempuan ini?” tanya Zeno sambil menunjukkan foto Aira.

Bocah itu menatap foto tersebut, matanya membesar.

“Ini kan Kak Aira. Kok Abang kenal?” ujarnya terkejut.

Zeno menghela napas lega.

“Aira sahabat saya. Sekarang, di mana Aira?” tanya Zeno cepat.

Bocah itu—Mosan—menggeleng lemah.

“Entahlah, Bang. Kak Aira nggak pulang semalaman ke kontrakan. Aku juga lagi nyariin Kak Aira.”

“Kenapa kamu bisa kenal Aira?” tanya Zeno lagi.

Belum sempat Mosan menjawab, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia melirik layar.

Azura.

Mosan segera mengangkat telepon.

“Halo, Zura. Kenapa?”

Suara di seberang terdengar panik.

“Mosan, aku minta maaf… aku lupa kabarin kamu.”

“Kabarin apa?” tanya Mosan bingung.

“Abang aku kecelakaan… dan Kak Aira drop.”

Wajah Mosan langsung pucat.

“Zura, kamu serius? Sekarang di mana? Rumah sakit mana?”

“RS Permata.”

“Aku ke sana sekarang.”

Panggilan terputus.

Mosan menoleh cepat ke arah Zeno.

“Abang mau ketemu Kak Aira, kan?” ucapnya tegas. “Kita ke Rumah Sakit Permata sekarang.”

Tanpa banyak pertanyaan, Zeno mengangguk.

Ia mengikuti Mosan—seorang bocah SMP—menuju Rumah Sakit Permata, dengan firasat yang semakin berat di dadanya.

Di Rumah Sakit Permata, suasana dipenuhi kecemasan. Semua orang menunggu dengan perasaan tak menentu, memikirkan keselamatan Aksa, ketua geng Aksa, yang kini terbaring tak sadarkan diri. Kecemasan itu terasa semakin berat bagi Elara, ibu Aksa, dan Azura, adiknya. Mereka bukan hanya mengkhawatirkan Aksa, tetapi juga Aira, yang kondisinya belum jelas.

Elara duduk lemas di bangku ruang tunggu, matanya sembab. Azura mondar-mandir gelisah, sesekali menatap pintu IGD yang masih tertutup.

Tak lama kemudian, Galih menghampiri Elara.

“Bu, saya izin kembali ke kampus. Ada urusan yang harus saya selesaikan,” ujar Galih pelan.

Elara hanya mengangguk lemah, tak sanggup berkata apa-apa.

Galih pun melangkah pergi menyusuri koridor rumah sakit.

“Walaupun Aksa belum tahu kapan sadarnya,” gumamnya lirih, “gue bakal daftarin nama lo, Aks, buat ikut camping beberapa hari lagi. Biar lo pelan-pelan bisa lupain Aira.”

Langkah Galih terhenti sejenak, lalu ia kembali berjalan menuju pintu keluar.

Di saat yang hampir bersamaan, Zeno dan Mosan memasuki rumah sakit dari arah berlawanan. Mereka berpapasan dengan Galih, namun tak saling mengenal. Tanpa menoleh, masing-masing melanjutkan langkahnya.

Mosan segera menghampiri seorang perawat.

“Suster, ruang IGD sebelah mana?” tanyanya cepat.

“Lurus, lalu belok kiri,” jawab perawat itu singkat.

Tanpa menunda waktu, Zeno dan Mosan langsung bergegas menuju ruang IGD—tempat di mana Aira berada, dan jawaban dari semua kecemasan itu menunggu.

Sesampainya di ruang IGD, Zeno dan Mosan melihat banyak anggota geng Aksa berdiri menunggu. Mereka mengenakan jaket seragam, wajah-wajahnya tegang, dipenuhi kecemasan. Aksa masih dalam penanganan dokter.

Tanpa menunda, Mosan langsung menghampiri Azura.

“Zura, gimana kabar Kak Aira?” tanya Mosan khawatir. “Apa dia baik-baik saja?”

Azura menggeleng pelan.

“Aku juga belum tahu, San. Kita doakan saja semoga Kak Aira baik-baik saja,” jawabnya lirih.

Zeno berdiri agak menjauh, kebingungan harus menghampiri siapa. Tak satu pun wajah terasa familiar baginya. Akhirnya, ia mendekat ke arah Mosan dan Azura.

“Mosan, Aira di mana?” tanya Zeno. “Kenapa Aira bisa drop?”

Mosan menunduk.

“Bang, Mosan juga nggak tahu. Tiba-tiba Kak Aira drop,” jawabnya jujur.

Azura menatap Zeno dengan raut bingung. Ia belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

“San, itu siapa?” bisiknya heran.

Mosan menoleh ke Azura.

“Oh iya, Zura. Kenalin, ini Abang Zeno,” ucap Mosan. “Katanya dia sahabat dekat Kak Aira. Dia lagi nyari Kak Aira.”

Azura terdiam, menatap Zeno sejenak.

Sementara itu, dada Zeno terasa semakin berat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aira bisa sampai masuk IGD?

Pantas saja Pak Dharma gelisah sampai dadanya sesak.

Ternyata firasat itu benar… ada sesuatu yang tidak beres. Aira sedang tidak baik-baik saja.

Zeno mengepalkan tangannya, matanya tertuju pada pintu IGD yang masih tertutup rapat.

Di kampus, Galih datang untuk mendaftarkan nama Aksa agar bisa mengikuti kegiatan camping beberapa hari ke depan. Saat melangkah melewati lorong fakultas, ia tak sengaja bertemu dengan Rosa.

“Hai,” sapa Galih pelan.

Rosa tidak menjawab. Wajahnya dingin—amarah dan kecewa masih tersisa akibat kejadian sebelumnya, saat ia merasa hanya dimanfaatkan oleh Galih.

Galih memberanikan diri menarik tangan Rosa. Rosa terkejut. Mata mereka saling bertemu.

“Maafin gue,” ucap Galih lirih. “Gue sadar gue salah. Maafin gue.”

Rosa menarik tangannya pelan.

“Gue udah maafin lo,” katanya akhirnya. “Tapi buat dekat sama lo lagi… gue butuh waktu. Nggak segampang itu, Galih. Lo udah mainin perasaan gue.”

Galih menghela napas, lalu menatap Rosa dengan serius.

“Ros, gue nyaman sama lo. Percaya deh. Kemarin gue jahat, gue egois. Tapi satu hal yang harus lo tahu—gue nggak bisa bohong sama perasaan gue. Gue beneran nyaman di dekat lo,” ujarnya tulus.

Rosa menunduk. Ia ragu, tak tahu harus percaya atau tidak. Namun saat kembali menatap mata Galih, ia melihat ketulusan di sana. Dan ia pun tak bisa membohongi hatinya sendiri—ia juga merasa nyaman bersama Galih.

“Gue juga nyaman sama lo,” jawab Rosa pelan. “Gue kasih lo kesempatan. Tapi plis, jangan kecewain gue lagi.”

Senyum lega terukir di wajah Galih. Ia langsung memeluk Rosa.

“Makasih banyak, Ros. Gue janji nggak bakal ngecewain lo lagi. Gue bakal selalu ada buat lo.”

Rosa tersenyum kecil.

“Lo ada kelas?” tanyanya.

“Gue mau daftarin Aksa buat ikut camping,” jawab Galih.

“Lo nggak ikut?” tanya Rosa.

Galih tersenyum.

“Kalo kamu ikut, gue ikut.”

Rosa tersenyum lebar lalu mengangguk.

“Aku mau ikut.”

Keduanya pun berjalan berdampingan, tangan mereka saling menggenggam, menuju panitia untuk mendaftarkan diri dalam kegiatan camping itu—dengan perasaan yang perlahan kembali menemukan harapan.

Dan saat Galih merasa semuanya sudah terkendali, takdir diam-diam menyiapkan pertemuan yang tak terhindarkan.

Galih menyetorkan nama Aksa saat pendaftaran, tanpa sadar bahwa di sana telah tercatat nama sosok yang justru ingin ia jauhkan.

1
Tara Yulina
Karya ini menurutku sangat menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Alurnya mengalir, konflik dan emosi tokohnya terasa nyata, membuat aku mudah ikut merasakan apa yang dialami Aira. Karakter-karakternya kuat dan relatable, masing-masing punya keunikan dan perkembangan yang jelas. Cerita ini juga berhasil membuat pembaca penasaran ingin tahu kelanjutan tiap bab.
Aku merekomendasikan karya ini bagi siapa saja yang suka cerita percintaan yang emosional, penuh konflik hati, dan karakter yang realistis. Bagi aku, Cinta Sendirian adalah karya yang layak dibaca dan bisa mendapatkan bintang 5.
Kama
Penuh emosi deh!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berikan pendapat mu, jangan lupa untuk lanjut baca mungkin kamu akan menemukan ketenangan 💪
total 1 replies
Elyn Bvz
Bener-bener bikin ketagihan.
Tara Yulina: terimakasih jangan lupa lanjut ya 🫶🏻
total 1 replies
Phone Oppo
Mantap!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berpendapat, jangan berhenti disini masih panjang kisah antara Aira dan aksa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!