Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.
Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.
Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.
Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.
Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.
Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.
memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.
Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan Lupa follow penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Reany
Reani berdiri di depan jendela besar lantai dua. Segelas air di tangannya tak berkurang setetes pun. Jemarinya melingkar di bibir gelas, dingin kaca merambat ke kulit, tapi ia tidak peduli.
Sudah dua hari ia kembali ke sini, mansion pribadi yang ia beli setelah mengetahui Juna mengkhianatinya.
Dan dua hari itu berjalan begitu lancar dan tenang.
Ponsel di meja bergetar.
Nama Gerald menyala di layar.
Reani menoleh sebentar, lalu meraih ponsel itu. Gerakannya tenang, tanpa ragu, seolah ia sudah tahu isi panggilan ini sejak awal.
“Ada apa?” tanyanya begitu sambungan terhubung.
Suara Gerald terdengar dari seberang—rendah, terkendali. “Aku sudah coba semua jalur, sangat sulit mencari siapa dalang di belakang Renata… tak satupun petunjuk.”
Reani mengalihkan pandangan ke pantulan dirinya di kaca jendela. Wajah itu datar menatap balik bayangan dirinya di kaca itu.
“Hm,” gumamnya singkat.
Di seberang, Gerald melanjutkan, “Kalau begitu, apa langkah selanjutnya? Apa yang harus kulakukan pada Renata?”
Hening....
Reani tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas air ke ambang jendela dengan gerakan pelan. Bunyi kaca menyentuh marmer terdengar jelas di ruangan yang terlalu sepi.
“Biarkan dia,” ucap Reani akhirnya.
Nada suaranya datar, tapi tegas. Tidak terdengar seperti keputusan mendadak—lebih seperti sesuatu yang sudah lama ia simpan.
Gerald tidak menyela.
“Aku akan mengurusnya nanti,” lanjut Reani. “Aku sudah punya rencana.”
Di ujung sana, Gerald menarik napas pelan. Bukan ragu, melainkan membaca ulang situasi. “Kamu yakin?”
Reani menegakkan bahu. Tatapannya masih terkunci pada bayangan dirinya sendiri—sosok yang berdiri sendirian, tapi tidak goyah.
“Tentu,” jawabnya singkat.
Hening menyelimuti sambungan beberapa detik sebelum Gerald berkata, “Baik. Aku ikuti keputusanmu.”
Panggilan berakhir.
Reani mengakhiri panggilan itu terlebih dahulu lalu... menggulir daftar kontaknya perlahan.
Berhenti di satu nama
Zen
Kepercayaan keluarga Wijaya.
Direkomendasikan langsung, tapi bekerja untuk Reani—bukan atas nama keluarga mana pun.
Ia menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar sekali, dua kali, lalu terangkat.
“Reani,” suara Zen terdengar tenang, profesional. “Aku sudah menduga kamu akan menelepon.”
Reani bersandar di kursi teras. Kakinya menyilang, pandangannya lurus ke taman. “Bagaimana Tekno Air?”
“Stabil,” jawab Zen singkat. “Transisi berjalan mulus.”
Reani tidak langsung menanggapi. Ia mengamati dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin.
“Juna,” katanya akhirnya. “Dia masih betah di sana?”
Zen terdiam sepersekian detik. Cukup singkat untuk dianggap profesional, cukup lama untuk berarti.
“Dia bekerja keras,” ujar Zen. “Terlalu keras, malah. Seperti orang yang takut kehilangan sesuatu.”
Sudut bibir Reani bergerak tipis. “Posisinya?”
“Masih manajer,” jawab Zen. “Tapi dia mulai gelisah. Popularitasnya turun. Beberapa klien mempertanyakan kredibilitasnya setelah kasus itu.”
Reani mengangguk pelan, meski Zen tak bisa melihatnya. “Bagus.”
Zen menangkap nada itu. “Kamu mau aku menekan?”
“Belum,” jawab Reani. “Biarkan dia merasa semuanya mulai berjalan stabil lalu.... Kita jatuhkan dia tanpa mampu bangkit kembali.”
Panggilan itu berakhir tanpa basa-basi.
Ia berdiri, melangkah masuk ke dalam mansion, mengganti pakaian dengan setelan sederhana—kemeja tipis berwarna gading, celana hitam lurus. Tidak berlebihan dan tidak mencolok. Cukup nyaman untuk berjalan tanpa tujuan.
Beberapa menit kemudian, mobilnya meluncur keluar dari gerbang besi.
Reani menyetir sendiri, jendela sedikit terbuka, membiarkan suara kota menyusup masuk.
Mall malam hari selalu memiliki ritme yang berbeda. Lampu-lampu etalase menyala terang, orang-orang berjalan tanpa saling mengenal, membawa hidup mereka masing-masing. Reani melangkah masuk dengan tenang, menyusuri lorong panjang tanpa benar-benar berniat berbelanja.
Ia berhenti di depan sebuah toko buk, tangannya sempat menyentuh punggung buku di etalase, tapi pikirannya melayang ke tempat lain.
“Reani?”
Suara itu membuatnya menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak tegang, seolah sedang menimbang sesuatu sebelum berani mendekat.
“Anita,” ucap Reani, nada suaranya netral.
Sepupu Renata itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali Reani mengingatnya. Bahunya kaku, tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya.
“Aku—aku nggak nyangka ketemu kamu di sini,” kata Anita cepat, lalu terdiam. Ia menarik napas, seolah mempersiapkan diri. “Boleh kita bicara sebentar?”
Reani menatapnya beberapa detik. Tidak ada senyum, tidak ada penolakan. Ia hanya mengangguk kecil.
Mereka bergeser ke sisi lorong yang lebih sepi. Suara langkah orang-orang menjadi latar samar.
Anita menunduk. Pandangannya jatuh ke lantai marmer yang mengilap. “Aku mau minta maaf.”
Reani tidak menyela.
“Aku tahu hubungan Juna dan Renata… jauh sebelum semuanya terbuka,” lanjut Anita. Suaranya sedikit bergetar. “Aku tahu sebelum kamu tahu.”
Kata-kata itu jatuh di antara mereka, tanpa drama. Tanpa ledakan.
Reani menghela napas pelan. Bukan karena terkejut—melainkan karena kepastian kecil yang akhirnya mendapat bentuk.
“Untuk apa minta maaf,” Jawab Reani.
Anita mengangguk cepat. “Aku salah, aku tau itu.... Renata—dia bukan orang yang mudah dihadapi. Aku pikir… itu bukan urusanku.”
Reani menatap wajah Anita. Ia melihat penyesalan di sana, juga ketakutan yang terlambat. Tapi tidak ada simpati yang muncul di dadanya.
“Kamu benar,” ujar Reani pelan. “Itu memang bukan urusanmu, jadi tak perlu minta maaf.”
Anita mendongak, sedikit tersentak.
“Kenyataan nya kamu tetap memilih untuk diam dan berfikir itu bukan urusan mu.” lanjut Reani. “Jadi tak perlu minta maaf.”
Ungkapan Reani membuat Anita menggigit bibirnya.
“Aku minta maaf, Reani,” ulang Anita, kali ini lebih lirih. “Kalau aku bisa memutar waktu—”
“Sayangnya kamu tidak bisa dan aku juga tidak bisa,” potong Reani halus.
Ia melangkah setengah langkah ke belakang, memberi jarak yang jelas.
“Terima kasih sudah jujur sekarang,” katanya. “Tapi aku sudah melewati fase berharap orang lain melindungiku.”
Anita menelan ludah. “Kamu… baik-baik saja sekarang?”
Reani menatap lurus ke depan, ke keramaian mall yang terus bergerak. “Aku baik,” jawabnya singkat. “Lebih dari yang kamu kira.”
Ia memberi anggukan kecil, lalu berbalik pergi.
Langkahnya tenang, tidak tergesa. Suara tumit sepatunya berpadu dengan hiruk-pikuk malam.
Di belakangnya, Anita tetap berdiri, menatap punggung Reani yang menjauh.
"Maaf." Lirih Anita.
bersambung.....