Aira memergoki suaminya selingkuh dengan alasan yang membuat Aira sesak.
Irwan, suaminya selingkuh hanya karena bosan dan tidak mau mempunyai istri gendut sepertinya.
akankah Aira bertahan bersama Irwan atau bangkit dan membalas semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazilla Shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Bulan di Kandang Macan
"Hah? Kamu serius mau masuk ke kandang macan? Jangan gila Aira. Kalau sampai kamu kenapa-napa, nanti keluargamu yang akan menyalahkan saya. Dion bukan orang yang sabar," ucap Damian.
"Bukannya disini juga kandang buaya? Buktinya saya bisa kan Pak menjinakkan buayanya? Jadi menurut saya, bukan masalah besar kan? Saya akan mencobanya dulu. Niat saya baik ingin keluarga Pak Damian kembali bersama. Saya akan ikut bahagia jika misi ini berhasil. Jadi tolong usahakan ya, Pak?" pinta Aira.
Damian menghela napas. Cukup beresiko bermusuhan dengan Dion, apalagi Aira ingin membahas masalah Papanya yang sangat sensitif di hati Dion.
"Nanti saya kabarin dulu, takutnya kak Dion nolak," jawab Damian.
"Baiklah, Pak. Saya hanya punya waktu satu bulan setengah saja. Setelah itu, saya tidak bisa membantu Pak Damian lagi," ucap Aira agar Damian mempertimbangkannya.
"Baiklah, saya akan usahakan secepatnya Aira. Sekali lagi terimakasih," jawab Damian.
"Sama-sama, Pak."
Panggilan pun berakhir. Aira kembali fokus pada pekerjaannya.
*****
Pagi ini, Irwan terlambat bangun. Ia lupa tidak menyalakan alarm semalam saat mau tidur dan luka juga jika tidak ada orang yang akan membangunkannya.
"Hah, punya dua istri nggak ada yang guna," gerutu Irwan sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Irwan telah selesai membersihkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Setelah siap dengan pakaian kerjanya ia turun ke bawah sambil menenteng tas kerjanya.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapannya sudah siap," ucap Bi Rumi.
Irwan berjalan ke ruang makan, ia duduk di kursi dan mengambil nasi serta lauknya. Ia teringat saat Aira masih melayaninya mengambilkan nasi dan beberapa lauk.
Irwan segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin tertipu oleh angannya. Irwan tidak ingin menyesal, apalagi tubuh Aira yang gendut memang sangat menjijikan di matanya.
"Lisa juga kemana lagi? Apa dia pulang ke apartemennya ya?" batin Irwan.
Irwan segera menyelesaikan sarapannya dan meneguk minuman setelah selesai sarapan. Ia pun berdiri dari duduknya dan segera pergi keluar.
Irwan masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya. Jalanan pagi ini cukup padat, hingga Irwan tiba di kantor jam setengah sepuluh.
Irwan segera masuk ke dalam kantor. Tidak ada sapaan hangat satupun dari karyawannya, hingga Irwan masuk ke dalam lift dan memencet angka 15 untuk sampai di ruangannya.
"Kurang dari tiga hari lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk bisa menemukan Aira. Dia benar-benar bagaikan di telan bumi bersama dengan Syifa. Kenapa aku tidak bisa menemukan dimama mereka berada. Apa sebaiknya aku sewa hacker untuk melacak nomor hp Aira ya? Dia sudah memblokirku. Pasti hacker bisa menemukan dimana Aira berada," pikir Irwan.
Pintu lift terbuka, Irwan melanjutkan langkahnya hingga ia tiba di depan meja Lisa yang sudah berkutat dengan pekerjaan.
"Kemana kamu semalam?" tanya Irwan pada Lisa dengan tegas.
"Pulang ke apartemen. Aku butuh istirahat," jawab Lisa dengan acuh tanpa melihat Irwan.
Mendengar ucapan Lisa membuat Irwan tidak lagi bertanya, ia memilih masuk ke dalam ruangannya. Pasti pekerjaannya sudah menumpuk.
"Cuma gitu doang perhatiannya? Nyesel banget gue jadi istrinya si Irwan. Dulu aja saat masih jadi simpanannya, dia bakalan care banget kalau tau gue ngambek," ucap Lisa dengan kesal.
Lisa rela pagi-pagi nahan lapar karena berpikir jika Irwan tiba di kantor lebih cepat dan menawarkan makanan yang diinginkannya. Namun semua itu hanya khayalan saja.
"Apa sebaiknya nanti aku nggak pulang lagi ya? Tapi kalau aku pulang ke apartemen dan harus order makanan terus, pasti uangku juga bakalan abis. Hah, harusnya aku minta uang jatah bulanan yang banyak sama si Irwan agar kalau ingin pergi begini nggak perlu pusing," ucap Lisa. Ia jadi tidak fokus bekerja dan hanya menggerutu saja.
*****
Damian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor Dion. Nama Mahardika Group terpampang dengan sangat jelas di atas gedung yang menjulang tinggi.
"Selamat siang Pak Damian!" Sapa resepsionis yang tahu jika Damian adalah adik dari Dion.
"Selamat siang juga. Apa kak Dion ada?" tanya Damian pada resepsionis.
"Ada Pak Damian. Karena sejak pagi saya belum melihat Pak Dion keluar dari ruangannya," jawab resepsionis.
"Baiklah terimakasih," ucap Damian dengan ramah.
Damian pergi dari meja resepsionis dan melangkahkan kakinya ke arah lift agar bisa membawanya ke ruangan kakaknya yang berada di lantai 18.
"Apa kak Dion sedang ada tamu?" tanya Damian pada sekretaris Dion.
"Tidak ada, Pak," jawab sekretaris.
Damian mengangguk dan segera melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Dion, ia mendorong pintu dengan pelan.
Dion yang mendengar pintu ruangannya terbuka, menghentikan jarinya yang menari di atas laptop dan menoleh.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Dion dengan nada tidak suka melihat adiknya yang datang ke kantornya.
"Emang harus ada alesan kalau aku ingin datang ke kantor kakak sendiri?" tanya Damian sambil duduk di depan Dion.
"Katakan aja apa tujuanmu sebenarnya datang kesini? Aku sedang sibuk kalau hanya untuk berbasa-basi Damian," jawab Dion yang tahu kalau adiknya tidak akan mungkin datang ke kantornya jika tidak ada hal penting.
"Baiklah, aku akan mengatakan secara langsung. Sebenarnya aku ingin menitipkan sekretaris di perusahaan kak Dion," ucap Damian.
"Sekretaris? Emangnya saat kamu kesini nggak liat kalau meja sekretaris udah ada orangnya," jawab Dion.
"Ya liat sih Kak. Tapi kan aku nggak bisa sembarangan memperkerjakan sekretaris. Kalau udah training di perusahaan kak Dion, pasti kan kualitas kerjanya udah bagus. Hanya satu bulan saja kak," ucap Damian.
Alis Dion terangkat sebelah. "Kamu nggak lagi menyusun rencana yang aneh-aneh kan?" tanya Dion dengan tatapan menyelidik.
Dion hanya takut kalau adiknya disuruh oleh Mamanya agar mencarikan calon istri yang menyamar jadi sekretaris.
"Ya enggaklah kak. Jangan selalu berpikiran negatif terus sama orang. Orang yang mau aku titipkan sama kakak itu cewek gendut dan hanya sebulan aja. Setelah itu aku akan langsung menariknya," pinta Damian dengan nada memohon.
"Kamu minta aja dia kesini agar bisa langsung interview. Tanpa perlu memperkerjakan, aku udah bisa menilainya dari interview aja," jawab Dion.
"Kalau cuma itu aku juga bisa kak. Aku hanya ingin cara kerjanya doang, waktu sebulan bukan waktu yang panjang kan? Apalagi kak Dion juga sering banget kan ke luar negeri. Si Reza angkat aja jadi asisten kakak selama sebulan ini," ucap Damian.
"Bawel banget sih kamu. Ini tuh perusahaanku, jadi kamu tidak perlu ikut mengaturnya," jawab Dion kesal.
"Ya bukan gitu kak, aku hanya menyarankan aja. Yang penting sekretaris titipanku itu harus bekerja disini selama satu bulan dulu, jangan sampai kak Dion mengembalikannya sebelum waktunya," kata Damian.
"Enak aja, nggak mau! Titipkan aja di perusahaan Papa," jawab Dion.
"Enggak bisa kak. Masalahnya Papa ingin pensiun, Papa berencana mau liburan sama Mama berdua dan aku juga harus menghandle kantor itu," ucap Damian.
Damian terpaksa harus mengatakan apa yang telah didengarnya tadi pada kakaknya itu agar mau mengizinkan Aira kerja di kantor kakaknya.
"Agak aneh, sejak kapan mata Papa terbuka? Aku nggak percaya kalau dia benar-benar berubah. Pasti ada maksud terselubung yang sedang dia rencanakan, dia pria yang sangat licik Damian. Jangan mudah percaya begitu saja," ucap Dion.
"Aku nggak peduli kak, selama itu membuat Mama senang, aku juga ikut senang. Dan kalau Papa udah melepaskan perusahaan, itu artinya dia sudah tidak memiliki power lagi kan? Apa menurut kakak Papa hanya pura-pura berubahnya? Bukannya selama ini perusahaan yang selalu dia andalkan?" jawab Damian agar pikiran Dion segera terbuka.
mo ngomong apa itu c lisa