NovelToon NovelToon
Cinta Selamanya

Cinta Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Romantis / Fantasi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: eloranaya

Raisa tidak menyangka bahwa hidup akan membawanya ke keadaan bagaimana seorang perempuan yang menjalin pernikahan bukan atas dasar cinta. Dia tidak mengharapkan bahwa malam ulang tahun yang seharusnya dia habiskan dengan orang rumah itu menyeretnya ke masa depan jauh dari bayangannya. Belum selesai dengan hidup miliknya yang dia rasa seperti tidak mendapat bahagia, malah kini jiwa Raisa menempati tubuh perempuan yang ternyata menikah tanpa mendapatkan cinta dari sang suami. Jiwanya menempati raga Alya, seorang perempuan modis yang menikah dengan Ardan yang dikenal berparas tampan. Ternyata cantiknya itu tidak mampu membuat Ardan mencintainya.

Mendapati kenyataan itu Raisa berpikir untuk membantu tubuh dari orang yang dia tempati agar mendapatkan cinta dari suaminya. Setidaknya nanti hal itu akan menjadi bentuk terima kasih kepada Alya. Berharap itu tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Melalui tubuh itu Raisa menjadi tahu bahwa ada rahasia lain yang dimiliki oleh Ardan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eloranaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Sengaja?

Raisa tidak menyesal karena telah memaksa Devan untuk menerabas hujan dan mengantarnya pulang. Pasalnya, hanya melaju tiga kilometer dari ruko yang mereka pakai untuk berteduh tadi ternyata kondisi jalanan kering tak tersentuh air hujan sekalipun. Jadi lelaki itu bisa menormalkan kembali laju motornya sebab tidak perlu menghindari hujan.

Dengan bantuan arahan Raisa akhirnya selang setengah jam kendaraan tersebut mencapai rumah Ardan. Raisa yang sejak tadi harus membagi pikirannya untuk memikirkan mengenai kejadian hampir tertabrak oleh mobil yang di kursi kemudi ada Ardan, juga harus mengarahkan Devan ke rute rumah saat sampai dia segera melompat turun dari motor.

"Are you ok?" Devan bertanya dengan nada khawatir. Dia ikut turun dan berdiri di depan Raisa. Menatap perempuan yang tampak setengah linglung itu.

Raisa cepat merespons, "Aku baik-baik aja kok. Makasih ya." Jika dilihat dari ekspresi yang ditunjukan raut wajahnya, tentu saja jawaban Raisa itu merupakan kebohongan. Tetapi Devan yang mengetahui itu tidak ingin bertanya lebih.

"Okey, buruan masuk gih. Bersih-bersih ganti baju."

Tentu saja tanpa disuruh pun Raisa akan melakukan hal itu. Dia buru-buru masuk setelah menyerahkan helm yang dia kenakan dan memastikan kalimat terakhirnya tersampaikan. "Jaketnya gue balikin abis gue cuci ya."

...****************...

"Aduhhh! Kok basah semua begini?!"

"Tadi yang di depan siapa? Kenapa nggak naik mobil bareng temen-temen kamu yang tadi?"

Baru saja kakinya melangkah masuk, Raisa sudah diberondong pertanyaan dari Santi. Raisa langsung memasang wajah cengengesan palsu. Dia menenangkan santi dengan berkata, "Temen kerjaku, Bu. Ini tadi kehujanan sedikit doang kok."

Mertua Alya itu dengan gesit mencari handuk dan menggosokkan ke rambut Raisa yang basah. Mengeringkannya. Tanpa sadar gadis itu terlena dengan kemanjaan yang ditawarkan oleh Santi. Sungguh ya, Raisa pikir memiliki mertua seperti Santi yang perhatian pada menantunya seperti itu merupakan berkah tersendiri.

Ah, iya. Raisa hampir lupa kenapa dia ingin cepat-cepat kembali ke rumah hari ini. Dia bertanya, "Ardan nggak di rumah ya, Bu?"

"Hari ini dia pergi kayak kamu. Kamu pergi dia ikut keluar. Terus baru aja tadi dia pulang, tapi belum lama sebelum kamu dateng dia balik pergi lagi." Santi masih berusaha mengeringkan rambut menantunya. Sementara Raisa menahan diri untuk ingin segera bertemu Ardan dan meminta penjelasan perihal kejadian yang masih segar terjadi padanya, dan melibatkan Ardan juga.

"Udah, nih. Sana mandi, ganti baju terus istirahat ya."

...****************...

Tengah malam suara derit pintu berhasil membangunkan Raisa dan akhirnya orang yang ingin sekali dia temui muncul. Seluruh tubuhnya terasa nyeri saat dia berusaha untuk segera duduk. Berdasar naluri dia menggerakkan punggung tangan ke dahi dan terkejut mendapati suhu badan sendiri yang tinggi. Dia tanpa sadar mengerang sakit, samar. Akan tetapi Raisa pilih mengesampingkan hal itu. Dia rasa mungkin itu efek sekejap dari kehujanan.

Ardan yang baru masuk menatapnya tanpa terinterupsi lekas menuju tempat yang paling sering dia gunakan untuk menghabiskan waktu di kamar. Di mana lagi kalau bukan sofa. Saat masuk tadi kedua tangan lelaki itu membawa kulkas portabel hitam yang kemudian diletakkan di pojok ruangan.

"Ardan aku boleh nanya?" Suara serak Raisa terdengar. Gadis itu berusaha membenarkan duduknya.

Menunggu sebentar lalu melanjutkan, "Kamu tadi lihat aku neduh di halte sama temenku?"

Tidak dijawab.

"Tadi kamu yah yang bawa mobil ugal-ugalan?" Raisa tetap berbicara, persetan seperti ngoceh sendiri tak diperhatikan. Lelaki itu tidak berbicara apapun selain mulai merebahkan diri.

Sampai-sampai Raisa hendak mendekati Ardan agar dia dijawab, memaksa lelaki itu agar menjawab. Tetapi seketika urung saat baru berdiri kepalanya merasa kepusingan. Dia kembali duduk.

"Yang hampir nabrak aku tadi kamu, ya?" cetusnya begitu saja.

Masih tidak digubris. "Kamu sengaja ngelakuinnya?" Entah kenapa kalimat itu dia keluarkan begitu saja tanpa berpikir terlebih dahulu. Setelah mengucapkannya dia menggigiti bibir dalam-dalam sampai terasa sakit baru dilepaskan. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dan tanpa harap ternyata pertanyaan yang berhasil dia lontarkan itu adalah pertanyaan yang mampu membuat Ardan membuka mulut.

"Ya."

"Kenapa?" Dalam nada bicara Raisa tak terdengar sedikitpun keterkejutan, justru memang lebih pada ingin tahu atas jawaban singkat padat jelas dari Ardan yang antara sungguhan atau tidak itu.

"Biar gue berhasil dan lo mati," jawab Ardan cepat. Raisa tak mampu mengartikan maksud lelaki itu. Jadi dia lanjut bertanya lagi untuk meminta penjelasan, "Maksudnya?"

"Bisa diem nggak? Gue capek dengerin lo ngomong terus."

"Yaudah nanti diem, tapi jawab dulu dan jelasin maksud kamu. Aku nggak paham, Dan. "

"Males jelasin. Emang kalau gue jelasin lo mau kalau gue suruh mati sekarang?," balas Ardan enteng.

"Ardan jawab serius."

"Gue udah serius."

Dan sisa hari diisi Raisa bertanya lebih jauh, tetapi Ardan telah benar-benar berkeinginan tidak mengeluarkan suara lagi. Membiarkan Raisa bicara sendiri sampai lelah dan berhenti bersuara.

...****************...

1
fianci🍎
Pusing kepala baca cerita ini, tapi tetap seru. Teruslah menulis, author!
Perla_Rose384
Gak sabar nunggu kelanjutannya thor, semoga cepat update ya 😊
Eirlys
Bikin saya penasaran terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!