NovelToon NovelToon
KUTUKAN MAUT PADMINI

KUTUKAN MAUT PADMINI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Tumbal / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:314.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.

Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 : Dikejar-kejar Tuyul

“Namun ingat satu hal! Sebelum menyusul … ajak main dulu wanita itu, paham?” Padmini memperingati, Tuyul-tuyul ini harus menaati setiap peraturan yang berlaku.

Kepala Tuyul mengangguk-angguk antusias sembari tersenyum buas. Kala diperbolehkan pergi, mereka bergegas berlari diatas permukaan air sungai. Menembus hutan belantara ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan dihuni berbagai makhluk tak kasat mata serta binatang buas.

Jika di lembah pembuangan Jin – para makhluk halus maupun binatangnya menjalani kehidupan layaknya manusia. Bisa berjalan menyatu dengan permukaan tanah, memegang dedaunan serta lainnya.

Wilayah angker itupun dibuat seperti pemukiman penduduk, ada gubuk-gubuk tersembunyi dari mata manusia. Pasar jual beli menu konsumsi yang jelas berbeda dari umumnya.

Padmini sudah seperti menyatu dengan tempat tinggal barunya. Sesekali dia kembali ke gubuk bu Halimah, meracik tumbuhan liar yang bisa dijadikan racun.

Rumah sederhana itu berada dalam perlindungan Rukmi yang terlihat begitu memanjakan Padmini selagi tepat waktu mempersembahkan tumbal.

Namun kala di alam manusia – sebagian makhluk gaib penghuni lembah pembuangan Jin, hanya mampu menampakkan wujud, terbang melayang, berdiri tanpa menjejak tanah.

.

.

Pagi pun menyapa, dan wilayah lembah pembuangan Jin terlihat berkabut tanpa adanya sinar matahari, tapi terlihat terang, lembab.

Mirna yang semalam tidur diatas batang kayu seperti meja yang dia kira batu, menggeliat saat merasakan sesuatu menetes di pipi dekat sudut bibir.

“Apa ini? Baunya amis, masam dan busuk?” gumamnya lirih masih dengan mata terpejam, jarinya mengusap sesuatu berlendir.

Matanya sangat susah dibuka seperti di lem. Butuh tenaga ekstra barulah dapat melihat kabut tebal seperti asap bergerak.

Netra Mirna menyipit mencoba fokus pada kabut menghalangi jarak pandangnya. Kepalanya terasa pusing, hidung tersumbat dan suhu badan terasa panas. Dia demam, dikarenakan semalaman mengenakan pakaian basah dan sekarang sudah kering. Terlebih mentalnya tak baik-baik saja, sangat tertekan.

Susah payah Mirna berusaha duduk, pandangannya mengabur melihat sesuatu lebih dari dua bayangan sampai kepalanya dipukul tangan. “Ku berharap semua ini hanya mimpi?”

Setetes air mata terjatuh, dia ketakutan. Tidak tahu sedang berada dimana, hanya bisa meratapi – duduk memeluk lutut. Belum berani mengedarkan pandangan ke segala arah. Tempat ini terasa asing, menyeramkan, sangat sunyi.

Beberapa saat kemudian kala kepalanya tidak terlalu sakit rasa berdenyut-denyut sedikit reda, barulah Mirna memberanikan diri mengangkat wajah mencoba memindai sekitarnya.

Baru saja kepalanya mendongak – segumpal Cacing tanah bergerak-gerak tersuguh di depan mata sebagai pemandangan pertama kala ingin menjelajahi hutan.

Akhh!

Mirna menutup mata, berteriak lantang. Ini sungguh mimpi buruk baginya, seumur hidup tak pernah ada dalam bayangannya.

"Ibu ayo makan sarapan paginya!” Tuyul agresif begitu perhatian ingin memberikan nutrisi berupa Cacing tanah yang dia cari di dekat tepi sungai.

Mirna bertambah takut ketika mendengar suara aneh, mirip anak-anak tapi nadanya terkesan dewasa. Pelukan pada lutut dieratkan sampai menekan dada.

“Ayo ibu makan! Kalau tak mau, ku lempar kau dari sini biar dimakan Buaya di bawah sana!” kesabarannya mulai terkikis. Cacing dalam genggaman dilempar ke kepala yang wajahnya senantiasa menunduk.

Mirna takut akan ancaman berintonasi rendah penuh intimidasi itu. Apalagi sesuatu seperti bergerak-gerak di kepalanya. Pelan-pelan dia membuka mata dan melihat wujud yang baru pertama kali ditemuinya.

"Selamat pagi Ibu.” Mulutnya terbuka lebar, bola mata membesar sampai nyaris keluar dari dalam rongga.

Tubuh Mirna menggigil, bibirnya bergetar dan pupil mata membesar. Cacing mulai berjatuhan ke bahu dan bajunya.

“Ibu sudah siap untuk menyusui kami ‘kan? Kami haus Bu, mau nen.”

Ketiga Tuyul lainnya menampakkan wujud mereka.

Akhh!

Mirna merangkak turun dari permukaan kayu, terjatuh kala kakinya tidak langsung menginjak tanah. Terguling-guling dikarenakan tempatnya tidur semalaman berada diatas ketinggian tidak terlalu curam.

“Tolong! Kang Sarman!”

Pekikannya terputus-putus, napas berkejar-kejaran dengan ritme jantung berpacu. Saat terdampar di dasar menimpa akar berlumut – Mirna bergegas berdiri. Rasa sakit teramat perih merambat ke sekujur tubuh.

Dia tertatih, terseok-seok, tergelincir akar licin, tanah lembab. Keseimbangannya berkali-kali oleng berakhir menghantam tanah, menimpa rerumputan.

“Ibu! Jangan lari Bu! Kami hanya mau minum asi mu! Tak lebih, sungguh!”

Suara bernada itu seperti nyanyian kematian. Mirna semakin ketakutan, dia layaknya hewan buruan. Dikejar-kejar tanpa memiliki kesempatan menarik napas.

"Per_gi! Menjauh dariku!” Kalimatnya terdengar tidak jelas, kakinya terasa seperti terlepas. Rasa berdenyut menyerang setiap persendian.

Mirna menangis putus asa, tidak berani melihat kebelakang. Dia seperti berlari di situ-situ saja, cuma berkeliling dan kembali ke tempat dimana dirinya mendarat dari terguling-guling tadi.

“Ibu! Ibu!”

Keempat Tuyul berlari layaknya balita manusia, menyibak tumbuhan rumput liar yang lebih tinggi dari mereka. Saat sudah berdiri berjarak dua meter dari sosok menyedihkan, seringai mereka seperti seseorang menemukan mangsa – bengis, keji, tak berhati nurani.

Gadis yang baru semenit berhenti dikarenakan kelelahan dan juga haus, terpaksa lari lagi dan dia menceburkan diri ke sungai tempat dimana terdapat batu pipih layaknya meja makan.

Langkahnya memberat berjalan di dalam air, dia sudah mandi keringat. Pakaiannya kembali basah, dan bau badan berkali-kali lipat masam nya.

Mirna menyelam sebentar, minum air sungai membasahi kerongkongannya yang kering dan terasa gatal.

Berkali-kali mencoba melompat agar tangannya dapat mencapai permukaan batu, tinggi badannya tak seberapa sehingga kesulitan naik.

Pada akhirnya dia berhasil setelah melalui perjuangan keras. Mirna merebahkan tubuhnya sejenak diatas batu – bau segar bunga, wangi kemenyan tercium olehnya.

Dia memiringkan badan, betapa terkejutnya melihat tungku dari tanah liat mengepulkan asap, ada juga nampan rotan dipenuhi kembang beberapa warna.

“Tempat apa ini?!”

Sekelebat ingatan menerobos masuk ke dalam otak – napasnya langsung pendek dan lehernya terasa tercekik.

“Wak Kirman mati disini?” ia seperti orang sekarat, kembali berusaha bangkit dan berniat melarikan diri.

Bayangan pembantaian seseorang yang diduga mati dimakan Buaya, ternyata di habisi dengan cara keji, dan ternyata pelakunya ….

“Selamat datang di hunian yang kalian ciptakan untukku, Mirna ….”

.

.

Bersambung.

1
mudahlia
terserah kau lah padmi sukahati kau
*^Ciput Cantik^*
Sicalon dokter terbaik padmini ,digergaji trs dijahit lagi terlalu cepat menjahit ditmbh lg potonganya,habis jari nanti lidahny yg dipotong trs dijahit lagi begitu trs ,padmini memang luar biasa calon dokter yg handal
nara
uh sadis pembalasannya padmini,,satu persatu warga kampung hulu bakal mati semua
Shee
nah abis deh tuh jari, besok apa nya ya??? ko q seneng saat Bambang di siksa, maaf ya kang🤣🤣🤣
Eli Rahma
sadis bgt pembalasan padmini..
Eva Wahyuni
kayak nonton film Suzanna Thor 😱😱😱..
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
lyani
kali ini pak mantri jadi bahan koas
🍒⃞⃟🦅☠Calon mertua🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓ
kang Adi apakabar nya yaa
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
Y.S Meliana
ga kebayang kan kang bambang klo pembalasan padmini se kejam itu 😳😏
🍒⃞⃟🦅☠Calon mertua🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓ
Jarii nya 5
angkat 1 1
blm cukup sampai di situ bambangg
itu baru pembalasan Padmini
yg buat kang Adi mana padmi
ayok rapel sekalian hutang nya Bambang sdh banyak itu
imau
hadeh sikopet 😬
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
wkwk jadi kaya anak metal dong jarinya 3🤭🤣
Fri5
hayoo loh Bang .... horor2 sedap nih 🤭
Dew666
☀️☀️☀️☀️
Mawar Hitam
Padmini jadi .psikoopat. gegara orang iri hati
ilham gaming
bayanginya ngeri
ora
Padmi kata-kata tanpa dosa mu itu beneran bikin merinding😭🤭🤭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pembalasan yg sangat mengerikan makanya kl pas ada up cerita Padmini saya bacanya gak berani sambil makan Thor karna suka kebayang dan nantinya gak nafsu makan berujung muntah" deh 😅😂
🍒⃞⃟🦅Amara☆⃝𝗧ꋬꋊ
Rasain tuh jemarimu ilang satu ,satu ,satu jadi 3 donk kang bambang🤭.
bentar kita jait pakai benang knor yaa tapi jadi beda letak, ...
sabar bentar lagi kau jadi makhluk paling unik dan tiada dua nya....
pulang dari "KLINIK PADMINI" kau masih punya nafas hanya saja semua akan aneh dan raib keangkuhanmu ...
rasa percaya diri lenyap ...dan rupamu layaknya gelandangan compang camping ,dengan tangan kerinting gagal bonding
ora
Ngeri😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!