NovelToon NovelToon
Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:199.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mega.ra

Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.

~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya

~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian

Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga diri

.

Abian berada dalam kamarnya, berbaring dengan memandang langit-langit kamar. Makan malam yang ia lewati bersama bu Fatma dan Aaliya telah selesai beberapa saat yang lalu.

Dia menghela nafas, mencoba meresapi nasehat dari bu Fatma. Ia memang bisa memasak, namun untuk membuka sebuah usaha makanan ia belum memiliki keberanian.

Beberapa saat yang lalu

"Kau sangat berbakat, Abian. Bagaimana jika kau membuka sebuah kedai makanan saja," ucap bu Fatma.

Aaliya membuka matanya lebar, ia nampak suka dengan ide yang diberikan bu Fatma.

"Ide yang sangat bagus, bu. Aku setuju dengan itu," ucapnya.

Sedangkan Abian masih berpikir, "Apakah kau yakin aku bisa melakukannya?" Tanyanya pada bu Fatma.

"Aku sangat yakin," jawab bu Fatma.

"Aku rasa kau akan berhasil melakukannya, kau tahu kenapa? Karena belum ada kedai dengan menu makanan Indonesia di sekitar sini," Aaliya memberikan pendapatnya, "Hanya ada makanan melayu, India dan chinese di sini, Abian."

"Ya, Aaliya benar. Cita rasa makanan Indonesia sangat lezat, aku yakin lidah mereka akan dengan mudah menyukainya," tambah bu Fatma.

Aaliya dan bu Fatma nampak antusias dalam menyampaikan pendapat mereka, namun tidak halnya dengan Abian. Dia nampak bimbang.

"Apa yang kau pikirkan, Abian?" Tanya bu Fatma.

Sekilas Abian melirik bu Fatma, dia melihat ketulusan dalam raut wajahnya.

"Aku tidak tahu harus memulainya darimana," ucapnya ragu.

"Hey, kenapa kau mesti bingung," bu Fatma menenangkan, "Di sekitar sini ada banyak sekali pekerja dan karyawan, kau bisa mulai mengenalkan masakanmu dengan berjualan di depan rumahku."

"Dan aku akan sedikit membantu nanti," timpal Aaliya.

Bu Fatma melirik tajam pada ucapan Aaliya, "Aku menyarankan kau tidak perlu repot-repot membantu, Aaliya."

Aaliya mengerucutkan bibirnya kesal, namun semua akhirnya tertawa bersama.

"Baiklah, aku pulang dulu. Terima kasih makan malamnya," ucap bu Fatma masih menyisakan tawa di wajahnya.

Beliau beranjak dari duduknya, "Aku berharap kau mempertimbangkannya, Abian."

"Sama-sama, akan ku pertimbangkan idemu, ibu," ucap Abian diikuti anggukan oleh bu Fatma.

"Aku akan mengantarmu," Aaliya juga ikut beranjak dari duduknya.

***

Abian masih memikirkan percakapan yang sudah berlalu itu, sejatinya dia sangat bahagia memiliki orang-orang seperti bu Fatma dan Aaliya. Mereka sangat tulus dan memberikan perhatian yang cukup besar pada dirinya.

Sesaat Abian merasa terharu, pertemuannya dengan gadis itu membawa ia pada orang-orang yang baik. Ia yang sudah dibuang, tak dianggap keberadaannya, kini merasakan kehangatan lagi. 

Kehidupannya selama setahun terakhir di Malaysia pun tak ubahnya seperti robot bernyawa. Dia hidup tapi perasaan dan hatinya kosong.

Abian menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan, sebenarnya ide bu Fatma bukanlah hal yang sulit ia lakukan. Namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya, tapi untuk mengatakannya pada mereka Abian merasa enggan.

.

.

.

Mentari dengan indahnya menyinari bumi dengan sinarnya, hari ini adalah hari minggu, hari yang menyenangkan bagi semua orang. Tak terkecuali Aaliya, ia bangun dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.

Ia segera keluar dari kamarnya setelah mencium aroma yang begitu menusuk hidungnya, menggelitik indra perasanya.

Sudah tersaji dua piring nasi goreng di atas meja makan, penampakannya begitu menggiurkan. Ada potongan sosis dan telur dadar, ditambah taburan bawang goreng di atasnya.

"Selera makanku semakin meningkat tajam karenamu, Abian," seru Aaliya.

"Selagi aku masih di sini, maka nikmatilah," ucap Abian.

Seketika Aaliya menghentikan gerakannya yang hendak memasukkan sendok ke mulutnya, "Apa maksud ucapanmu?"

"Makanlah dulu, kita bicara nanti."

Aaliya mengangguk, mereka melakukan ritual sarapan pagi itu dengan tenang.

Tak lama setelah itu, mereka kembali berbincang.

"Katakan padaku, apa maksud ucapanmu tadi," Aaliya mengawali pembicaraan.

"Kenapa kau terkejut? Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku akan pergi dari rumah ini jika sudah mendapatkan pekerjaan?"

"Kau benar," Aaliya menjeda kalimatnya, "Tapi tidakkah kamu mempertimbangkan ide bu Fatma?"

"Aku sudah pikirkan hal itu semalaman, tapi pada akhirnya aku tetap akan mencari pekerjaan saja," jelas Abian.

"Boleh aku tahu alasannya?"

"Tidak ada alasan tertentu, Aaliya."

Mereka diam sejenak.

"Aku sangat berterima kasih atas perhatian yang kalian berikan padaku, aku harus segera bekerja agar tak merepotkanmu lagi," tambah Abian.

"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka," Aaliya memasang wajah kesal dan melipat tangannya di depan dada.

Masakan Abian yang sudah menjadi candu baginya, membuat Aaliya khawatir jika Abian pergi.

"Katakan padaku, Abian. Apa yang membuatmu ragu?"

"Tidak ada."

"Baiklah, aku memutuskan pertemanan kita sekarang juga," ancam Aaliya.

"Aaliya," Abian memelas, ia tak bisa menerima jika harus kehilangan teman sebaik dan setulus Aaliya.

"Aku harus bekerja dan mengumpulkan uang terlebih dulu, setelah itu baru aku akan memikirkan tentang ide bu Fatma," ucap Abian.

Abian menghembuskan nafas kasar, sungguh sebenarnya ia sangat enggan mengatakan jika ia tak memiliki cukup uang saat ini.

Harga diri seorang pria adalah dengan bekerja. Ia pernah mengalami pedihnya dicampakkan karena kegagalannya mempertahankan harga diri.

Hal itu menjadi pelajaran yang sangat berharga, dia harus bertekad takkan lagi terulang untuk kedua kalinya.

.

.

.

1
Sunnyta Mukherji
di luar ekspektasi ku..
Sunnyta Mukherji
waw... Abian sudah nikah...😲
Sunnyta Mukherji
ceritanya natural kehidupan sehari-hari 👍
Sunnyta Mukherji
seperti kisah nyata
Sunnyta Mukherji
kayak aku dulu 🤭
Yullie Purwani
Thor kpn up lg?
Eliza Triwahyu
kapan ya di lanjut lagi?bolak balik aku cek kok tetep nggak ada lanjutannya
ajiu jiu
blm up lg 🤔🤔
Yullie Purwani
Kpn upnya thor...????
Yuli Astuti
lanjut t
Yuli Astuti
lanjut thor
Mayang Nitami
sebel ah ko Aalya keras kepala bnget... coba si omah biar ngasih saran yg dpat di fahami dan bisa meruntug kan ego nya si Aalya. biarmereka brsatu kmbali
nata de coco
next kak 😍🤗🤗
mhymhy
aduhh,kok aku jadi takut Abian sukses y,soal nya klu sukses kek nya Abian akan nyakitin aaliya dech...
Mimi Aisyah
lanjut dunk thor ko g up udah lama.semangat thor buat lanjut kan kita banyak yg nunggu lanjutannya
Purwanti
kapan up-nya
Tinawati
lnjuttt up thorrrr
Sulis Setyorini
up lg dong thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
lama bgt thor gak update... othor sehat kan🤔🤔
Hasna Kusuma
lanjut up-nya thoooorrr 💪💪💪💪😍❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!