Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Ujian Kekuatan dan Kejatuhan
Matahari perlahan bergeser, sinarnya mulai condong ke barat, namun ketegangan di aula utama kediaman Adipati Rengas Sembilan justru semakin memanas.
Meskipun Arya Wiguna memilih untuk tidak tersinggung oleh ucapan Pendekar Jenggot Perak, Anggun Sari tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Gadis itu, yang biasanya riang dan cerewet, kini menjadi lebih diam, raut wajahnya menampilkan kekeruhan yang jelas.
Genggaman tangan Anggun Sari pada tangan Arya, yang semula erat karena cinta, kini juga bercampur dengan gemetar tipis karena amarah yang tertahan.
Diskusi mengenai strategi menghadapi Bagasandra memang terus berlanjut, tetapi bisik-bisik dan tatapan meremehkan dari beberapa pendekar, terutama yang terpengaruh oleh Pendekar Jenggot Perak, masih terasa mengganggu.
Anggun Sari berusaha untuk fokus, namun telinganya terlalu peka. Ia menangkap percakapan yang tak pantas dari arah Pendekar Jenggot Perak.
Pendekar Jenggot Perak, dengan seringai angkuh di bibirnya, terlihat berbicara dengan seorang anggota dari Perguruan Silat Bangau Putih.
Suara mereka memang pelan, namun cukup untuk mencapai telinga Anggun Sari yang tajam.
"Hmm.., pendekar muda itu," desis Pendekar Jenggot Perak, melirik sinis ke arah Arya.
"Sepertinya hanya bersembunyi di balik nama besar Panglima Hijau dan Guru Nyi Delima. Entah ilmu apa yang sebenarnya dia kuasai. Mungkin hanya keberuntungan saja yang membuatnya bisa melumpuhkan si Barata itu."
Anggota Perguruan Silat Bangau Putih itu mengangguk setuju, bibirnya tertarik membentuk senyum meremehkan.
"Benar, Guru Jenggot Perak. Mungkin dia hanya bocah cilik yang pura-pura sakti. Nona Anggun Sari saja yang terlalu mudah percaya."
Mendengar itu, darah Anggun Sari mendidih. Wajahnya seketika memerah padam, lebih dari sekadar rona malu.
Perkataan itu bukan lagi soal dirinya, tapi harga diri Arya, dan juga nama baik perguruannya serta Panglima Hijau. Bagaimana bisa orang-orang angkuh ini meremehkan Arya yang sudah begitu banyak berkorban?
Tanpa pikir panjang, Anggun Sari bangkit dari duduknya dengan gebrakan kecil, menarik perhatian semua orang di aula. Matanya menatap tajam ke arah Pendekar Jenggot Perak dan rekannya.
"Cukup!" seru Anggun Sari, suaranya lantang, memecah kesunyian diskusi. Para pendekar lain terkejut melihat letupan emosi dari pendekar perempuan yang biasanya anggun itu.
"Apa maksud ucapan kalian, Pendekar Jenggot Perak?! Berani-beraninya kalian merendahkan Tuan Arya Wiguna! Dia sudah menyelamatkan banyak nyawa, termasuk desa kami, dan mengobati guru saya! Kalian hanya bisa bicara besar tanpa tahu apa-apa!" ujar Anggun Sari gusar.
Pendekar Jenggot Perak menoleh, terkejut melihat kemarahan Anggun Sari yang meledak-ledak. Seringainya menghilang, digantikan ekspresi masam.
"Nini Anggun Sari! Jaga ucapanmu! Kau tidak punya hak bicara seperti itu kepada kami yang lebih tua dan lebih berpengalaman!" balas Pendekar Jenggot Perak.
"Pengalaman apa?!" bentak Anggun Sari, tak gentar.
"Pengalaman meremehkan pendekar lain? Pengalaman bersembunyi di balik nama besar? Kalian tidak tahu apa-apa tentang Arya! Dia adalah pendekar sejati, yang berjuang demi keadilan, bukan mencari pengakuan kosong seperti kalian!"
"Nini Anggun Sari! Cukup!" teriak anggota Perguruan Silat Bangau Putih, mencoba menengahi, namun dengan nada tak suka.
Keributan pun terjadi. Beberapa pendekar lain mulai berdiri, ada yang mencoba menenangkan, ada pula yang hanya menyaksikan dengan tatapan tertarik.
Aura-aura tenaga dalam mulai bergejolak tipis di dalam aula, menandakan kemungkinan adanya bentrokan.
Adipati Rengas Sembilan, yang sedari tadi mengamati dengan cermat, bangkit dari singgasananya. Raut wajahnya serius, tatapannya tajam.
"Cukup! Hentikan ini semua!" suaranya menggelegar, penuh wibawa. "Kita di sini untuk membahas cara menghadapi Bagasandra, bukan untuk saling beradu mulut dan memamerkan amarah!"
Suara Adipati berhasil meredakan ketegangan sesaat. Namun suasana masih belum sepenuhnya tenang. Pendekar Jenggot Perak masih menatap Anggun Sari dan Arya dengan tatapan menantang.
"Maaf, Adipati," kata Pendekar Jenggot Perak, suaranya kembali tenang namun penuh nada tantangan.
"Tapi saya rasa keraguan ini perlu diselesaikan. Jika memang Tuan Arya Wiguna memiliki kekuatan sehebat yang Guru Nyi Delima dan Nini Anggun Sari katakan, dan dia adalah murid Panglima Hijau yang legendaris, maka seharusnya dia tidak gentar membuktikannya. Ini akan menghilangkan keraguan dan memperkuat kepercayaan kita semua pada rencana yang akan kita susun."
Anggun Sari membalas tatapan Pendekar Jenggot Perak dengan tajam, ia merasakan dadanya bergemuruh. Anggun Sari tahu Pendekar Jenggot Perak sengaja memprovokasi Arya. Arya di sampingnya hanya diam, mendengarkan.
Beberapa tokoh silat kawakan lainnya, seperti Guru Naga Langit dan Biksu Botak, saling bertukar pandang. Mereka tahu bahwa jika keraguan ini tidak diselesaikan, kerjasama antar perguruan akan sulit terwujud.
Setelah berunding singkat, Adipati Rengas Sembilan menghela napas. "Baiklah," katanya, suaranya memutuskan.
"Demi menjaga kehormatan dan semangat persatuan, serta untuk menghilangkan segala keraguan, kami, para tokoh silat kawakan yang hadir di sini, dengan persetujuan saya sebagai Adipati, memutuskan: akan ada adu ketangkasan antara Pendekar Jenggot Perak dan Tuan Arya Wiguna."
Seketika, aula menjadi riuh rendah. Ada yang kaget, ada yang senang, ada pula yang berbisik-bisik penuh harap. Ini adalah kesempatan langka untuk melihat perbandingan kekuatan antara pendekar senior berpengalaman dan pendekar muda yang misterius.
Pendekar Jenggot Perak menyeringai lebar, merasa di atas angin, ia membusungkan dada dengan angkuh.
"Bagus! Aku tidak sabar melihat sejauh mana kekuatan yang katanya murid Panglima Hijau ini. Semoga saja kau tidak mengecewakanku, bocah!" Pendekar Jenggot Perak meludah di sampingnya, sebuah gestur meremehkan.
"Aku tidak akan segan-segan mengajarimu bagaimana pendekar sejati bertarung!"
Anggun Sari menatap Pendekar Jenggot Perak dengan tatapan jijik. Ia kemudian menoleh ke arah Arya, wajahnya khawatir.
"Arya... kau tidak apa-apa?"
Arya tersenyum tipis, menenangkan Anggun Sari. Ia melepaskan genggaman tangan Anggun, lalu melangkah maju ke tengah aula yang kini sudah lapang.
"Tidak apa-apa, Anggun. Aku akan baik-baik saja. Biarkan saja mereka melihat." jawab Arya ,matanya memancarkan ketenangan, namun ada kilat keyakinan yang kuat.
"Peraturannya sederhana, ini bukan pertarungan hidup mati. Cukup adu ketangkasan dan kemampuan. Siapa yang berhasil membuat lawannya menyerah atau tak berdaya, dialah pemenangnya. Tidak ada penggunaan senjata tajam yang mematikan. Hanya tangan kosong atau tenaga dalam yang terkontrol," kata Adipati Rengas Sembilan.
Arya mengangguk. Pendekar Jenggot Perak sudah mengambil posisi kuda-kuda, otot-ototnya menegang, memancarkan aura tenaga dalam yang kuat dan bergelora.
Pendekar Jenggot Perak memang pendekar yang sangat tangguh, jauh di atas rata-rata pendekar biasa. Ia melancarkan pukulan pertama, jurus "Badai Perak Menghantam Bumi", sebuah pukulan tangan kosong yang mematikan, diisi dengan tenaga dalam bergejolak.
WHUSSS! DUARR!
Pukulan itu melesat cepat, mengarah ke dada Arya. Anggun Sari menahan napas, menatap cemas. Namun Arya tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, dengan gerakan kecil yang nyaris tak terlihat, ia menangkis pukulan Pendekar Jenggot Perak dengan telapak tangannya.
BUG!
Suara benturan keras terdengar, disusul dengan gelombang kejut tenaga dalam yang menyebar ke seluruh aula, membuat beberapa kursi bergeser.
Pendekar Jenggot Perak terhuyung mundur dua langkah, wajahnya terkejut. Pukulan andalannya, yang biasanya mampu memecahkan batu, seperti tidak berarti apa-apa di hadapan Arya.
"Apa?!" gumam Pendekar Jenggot Perak, tidak percaya. Tangannya terasa kebas.
Arya tidak menyerang balik. Ia hanya berdiri tenang, kedua tangannya di depan dada, seolah tidak melakukan apa-apa.
"Apakah itu saja kemampuan Guru Jenggot Perak?" tanya Arya, suaranya tenang namun memancing.
Mendengar itu, Pendekar Jenggot Perak murka. Rasa malunya memuncak.
Pendekar Jenggot Perak tahu ia diremehkan.
"Jangan sombong, bocah! Ini baru permulaan!"
Pendekar Jenggot Perak mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya, otot-ototnya membesar, wajahnya memerah.
Pendekar Jenggot Perak melancarkan jurus pamungkasnya, "Gelombang Perak Pembelah Gunung", sebuah serangan beruntun dengan kecepatan tinggi yang mampu membelah batu besar.
DUAGH! DUAGH! DUAGH!
Pukulan-pukulan itu menghujani Arya dari segala arah. Namun Arya seolah bergerak di antara hujan pukulan itu.
Gerakan Pendekar Harimau Putih itu begitu halus, ringan, namun setiap pukulan Pendekar Jenggot Perak berhasil dielakkan atau ditangkis dengan gerakan minimal.
Anggun Sari menyaksikan dengan takjub. Arya sama sekali tidak menyerang, hanya bertahan. Tapi pertahanannya begitu sempurna, seolah ia bisa membaca setiap gerakan lawan sebelum gerakan itu terjadi.
Pendekar Jenggot Perak mulai kehabisan napas, keringat membanjiri tubuhnya.
Pendekar Jenggot Perak telah mengeluarkan seluruh tenaganya, namun Arya bahkan tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya.
Wajah Pendekar Jenggot Perak pucat pasi, rasa takut mulai merayapi dirinya. Ia menyadari perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Arya tidak hanya sekadar kuat, ia berada di tingkat yang berbeda.
"Cukup!" teriak Pendekar Jenggot Perak, suaranya bergetar, napasnya tersengal-sengal. Ia sudah tak berdaya, tubuhnya gemetar, tenaga dalamnya terkuras habis. Ia tidak bisa melanjutkan lagi.
"Aku... aku menyerah!"
Keheningan melingkupi aula. Semua orang terbelalak, mata mereka membulat sempurna. Pendekar Jenggot Perak, salah satu pendekar terkuat dan disegani di dunia persilatan, dikalahkan oleh seorang pemuda tanpa Arya perlu mengeluarkan satu pun pukulan serangan. Arya hanya bertahan dan membuat lawannya tak berdaya.
Adipati Rengas Sembilan, yang sedari tadi menyaksikan dengan saksama, bangkit dari singgasananya. Tatapannya pada Arya kini penuh hormat dan kekaguman yang mendalam. Arya adalah pendekar sejati, jauh di atas dugaannya.
Arya Wiguna melangkah mendekati Pendekar Jenggot Perak yang terhuyung-huyung. Ia mengulurkan tangan. "Guru Jenggot Perak, kau baik-baik saja?"
Pendekar Jenggot Perak menatap Arya, wajahnya memerah karena malu, ia menerima uluran tangan Arya, meskipun dengan berat hati.
"Aku... aku baik-baik saja, Tuan Arya." jawab Pendekar Jenggot Perak, iya menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya.
"Aku... aku minta maaf, Tuan Arya. Aku telah meremehkanmu. Aku telah meragukan namamu dan nama gurumu. Maafkan keangkuhanku."
Pendekar Jenggot Perak kemudian menoleh ke arah Anggun Sari yang masih menatapnya dengan tajam.
"Nini Anggun Sari, aku juga minta maaf atas ucapanku tadi," ucap Pendekar Jenggot Perak.
Anggun Sari sedikit melunak, ia melihat ketulusan dalam permintaan maaf Pendekar Jenggot Perak, meskipun ia tahu rasa malu yang besar menyelimuti pendekar tua itu.
"Sudah, Guru Jenggot Perak. Semoga ini menjadi pelajaran bagimu," jawab Anggun Sari datar.
"Semoga kita bisa bekerja sama untuk kebaikan," kata Arya tersenyum tipis.
Semua orang di aula terpana. Kesaktian Arya Wiguna tak terbantahkan. Kekuatan yang ia tampilkan benar-benar melampaui imajinasi mereka.
Adipati Rengas Sembilan, dengan senyum puas, mengangguk.
"Baiklah, para pendekar. Keraguan telah terjawab. Kini kita bisa pusatkan pada misi kita. Tuan Arya Wiguna, saya yakin dengan Anda di garis depan, kita pasti bisa mengalahkan Bagasandra!"
Anggun Sari melangkah mendekati Arya, menggenggam erat tangannya. Mata mereka bertemu. Ada senyuman bangga dan cinta yang mendalam di mata Anggun Sari.
Anggun Sari tahu ia telah memilih pendekar yang tepat. Arya adalah miliknya, dan tidak ada yang bisa meragukannya lagi.
Perjalanan ini akan penuh tantangan, tapi bersama Arya, Anggun Sari merasa siap menghadapi apa pun.
Bersambung...
Jika suka, komentar dan like ya... Biar cepat di up lagi...
makin seru kisahnya