Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Malam Pertama yang Kacau
"Aku..."
Satu kata itu keluar dari mulutku seperti tersangkut di duri.
Semua orang menahan napas.
Pendeta menatapku lembut. Reynard Wijaya berdiri di sampingku tanpa bergerak. Monica masih tersenyum tipis dari bangku depan, senyum yang jelas-jelas berarti, kalau kau merusak acara ini, kau mati.
Aku memejamkan mata sebentar.
Baiklah, Naomi. Prioritas pertama: jangan lenyap di altar.
"Aku bersedia," ucapku.
Gereja langsung dipenuhi tepuk tangan.
Organ mulai berbunyi. Pendeta tersenyum lega. Herman Liem mengembuskan napas seperti baru lolos dari pemeriksaan pajak. Monica menunduk, merapikan sarung tangannya, wajahnya kembali menjadi topeng sosialita yang sempurna.
Dan Reynard?
Pria itu hanya menoleh sedikit.
Tidak ada senyum. Tidak ada rasa terharu. Tidak ada tatapan pengantin pria yang baru saja mendapatkan istri.
Yang ada hanya mata gelap di balik Topeng Perak, tenang dan terlalu sulit dibaca.
[Status: pernikahan tercatat.]
[Misi utama berjalan.]
[Target cinta: Reynard Wijaya.]
[Tingkat kedekatan awal: 0/100.]
Nol.
Bagus sekali. Bahkan aplikasi ojek online masih memberi bintang satu kalau pengemudinya sopan.
Setelah itu semuanya bergerak terlalu cepat.
Cincin. Berkat. Foto keluarga. Tamu-tamu yang wajahnya tidak kukenal mengucapkan selamat sambil menatapku dari kepala sampai kaki. Ada yang memuji gaunku, ada yang berbisik tentang riasanku, ada yang menyebut nama Wijaya dengan nada seperti sedang menyebut kerajaan.
Aku tersenyum sampai pipiku kebas.
Reynard berada di sisiku sepanjang waktu, tapi jarak kami tetap terasa seperti dua pulau. Tangannya hanya menyentuh punggung tanganku ketika fotografer meminta kami berpose. Sentuhan itu dingin, singkat, dan sopan.
Sangat sopan.
Terlalu sopan untuk sepasang pengantin baru.
Malamnya, kami dibawa ke sebuah hotel bintang lima di kawasan Bundaran HI. Suite presidensialnya luas, harum, dan sunyi. Di atas meja sudah ada sampanye, kue kecil, dan rangkaian bunga yang sepertinya bisa membayar uang kuliah satu semester.
Begitu pintu tertutup, aku langsung berdiri kaku di dekat sofa.
Reynard melepas jasnya. Gerakannya pelan, rapi, tidak terburu-buru. Di bawah jas, kemeja putihnya menempel pada dada bidang. Mansetnya dibuka satu per satu. Jam tangannya diletakkan di meja.
Aku memalingkan wajah.
Jangan lihat.
Jangan lihat.
Tentu saja aku melihat dari pantulan kaca.
[Host.]
Aku tersentak.
[Misi sampingan aktif: konfirmasi kondisi fisik target.]
Apa?
[Data awal menunjukkan anomali pada suhu tubuh, denyut nadi, dan komposisi darah target. Pemeriksaan jarak dekat dibutuhkan.]
Aku menatap panel biru itu dengan mata melebar.
Pemeriksaan jarak dekat? Dalam kamar hotel? Pada malam pertama?
Si Kepo, kau mau aku mati karena malu atau dibunuh suami sendiri?
[Hadiah misi: data kesehatan target + peningkatan peluang bertahan hidup.]
Reynard berhenti di dekat jendela. "Kau bisa tidur di kamar utama. Aku akan memakai ruang kerja."
Suaranya rendah. Datar. Sama sekali tidak terdengar seperti pria yang berniat melakukan apa pun pada istrinya.
Aku seharusnya lega.
Anehnya, dada tubuh ini justru terasa perih. Mungkin sisa perasaan Keira asli. Ditolak bahkan sebelum dikenal.
"Baik, Pak Reynard," jawabku cepat.
Ia menoleh.
Satu alisnya naik sedikit. "Pak Reynard?"
Aku membeku.
Salah panggil? Terlalu formal? Terlalu jauh? Ya Tuhan, buku manual menjadi istri konglomerat ini bisa diunduh di mana?
"Maksud saya..." Aku menggenggam ujung gaun. "Reynard."
Ia menatapku beberapa detik, lalu berbalik ke meja kecil. "Istirahatlah."
[Peringatan: target akan keluar dari jangkauan pemeriksaan.]
Aku mengutuk dalam hati.
Kalau dia pergi, aku kehilangan data. Kalau aku menahannya, aku terlihat seperti pengantin yang tidak sabar malam pertama. Kalau aku diam, mungkin besok aku lenyap karena sistem kesal.
Hidup kedua ini baru beberapa jam dan sudah terasa seperti ujian nasional tanpa kisi-kisi.
"Tunggu."
Kata itu keluar lebih keras dari niatku.
Reynard berhenti.
Aku melangkah mendekat. Sepatu hak tinggiku tersangkut ujung gaun, membuat tubuhku oleng. Refleks, Reynard menangkap lenganku.
Telapak tangannya dingin.
Bukan dingin karena AC.
Dingin seperti seseorang yang baru keluar dari ruang operasi.
Panel Si Kepo langsung berkedip.
[Suhu permukaan abnormal.]
[Denyut nadi tidak stabil.]
[Racun Dingin: indikasi awal terdeteksi.]
Racun apa?
Aku mengangkat kepala. "Kau sakit?"
Untuk pertama kalinya, wajah Reynard berubah. Sedikit saja, tapi cukup. Jari-jarinya mengendur di lenganku.
"Bukan urusanmu."
Kalimat itu seharusnya membuatku mundur.
Tapi panel sistem sudah menampilkan garis merah, dan tubuhnya benar-benar dingin di bawah telapak tanganku.
Aku panik.
"Maaf," kataku, lalu melakukan hal paling bodoh yang mungkin pernah dilakukan seorang pengantin wanita di malam pertama.
Aku menarik ujung kemejanya.
Kancing pertama lepas dari lubangnya. Lalu kedua. Lalu kain putih itu terbuka cukup lebar untuk memperlihatkan dada dan perutnya.
Reynard membeku.
Aku juga membeku.
Waktu berhenti.
Di depanku ada kulit pucat, garis otot yang jelas, dan perut yang bahkan dalam situasi segenting ini tetap membuat otakku tersandung.
Ya Tuhan.
Itu bukan perut manusia. Itu papan cokelat impor.
Tunggu. Naomi, fokus. Ini pemeriksaan medis. Medis. Sangat medis. Jangan jadi perempuan mesum di tubuh orang lain.
Tangan Reynard mencengkeram pergelangan tanganku. "Apa yang kau lakukan?"
Aku mengangkat wajah dengan senyum paling sopan yang bisa kupasang.
"Memastikan Anda tidak mati di malam pertama kita."
Sunyi.
Sangat sunyi.
Lalu sesuatu yang aneh terjadi.
Mata Reynard, yang sejak tadi dingin dan datar, tiba-tiba berkedip.
Ia menatapku seolah baru mendengar sesuatu yang mustahil.
Padahal aku tidak mengatakan apa pun lagi.
Di kepalaku, aku masih ribut sendiri.
Gila, tubuhnya bagus banget. Tapi dingin. Ini manusia atau kulkas dua pintu? Jangan-jangan keluarga Wijaya memang punya tradisi menikahkan perempuan dengan freezer tampan.
Jari Reynard di pergelangan tanganku menegang.
Ia mendengarnya.
Tidak. Mustahil.
Ia tidak mungkin mendengar isi kepalaku.
[Pemindaian selesai 43%.]
[Catatan: target mengalami gangguan darah kronis. Pemicu: emosi ekstrem, kelelahan, suhu rendah.]
Aku menelan ludah. "Kau benar-benar sakit."
Reynard masih menatapku.
"Dari mana kau tahu?"
Pertanyaan itu pelan, tapi menekan.
Aku menarik tanganku, pura-pura menata kancing kemejanya kembali. "Tanganmu dingin. Wajahmu pucat. Siapa pun bisa menebak."
Bohong. Siapa pun tidak bisa menebak istilah Racun Dingin dari telapak tangan.
Reynard tidak langsung menjawab.
Ia menunduk, melihat kancing kemejanya yang berantakan, lalu melihat wajahku lagi. Untuk sepersekian detik, sudut bibirnya seperti bergerak.
Hampir tersenyum.
Atau aku halu karena lapar.
[Misi sampingan selesai.]
[Data kesehatan target tersimpan.]
[Saran: jangan membuat target terlalu bersemangat. Kondisi darahnya tidak stabil.]
Aku hampir tersedak.
Jangan membuat terlalu bersemangat?
Si Kepo, demi semua martabak manis di dunia, pilihan katamu bisa lebih normal sedikit?
Reynard tiba-tiba melepaskan tanganku.
"Kita pindah."
"Apa?"
"Ke PIK. Villa lebih aman."
Ia mengambil ponsel. "Anto. Siapkan mobil di lobi belakang."
Kurang dari sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk di kursi belakang mobil hitam dengan gaun pengantin memenuhi setengah kabin. Anto, pria berwajah tegas di balik kemudi, tidak bertanya apa pun. Ia hanya berkata, "Baik, Tuan Muda," lalu membawa kami menembus jalan Jakarta yang basah oleh gerimis.
Reynard duduk di sebelahku, kemejanya sudah rapi kembali. Topeng peraknya memantulkan lampu jalan. Tangannya terlipat di atas lutut, dingin dan tenang.
Aku berusaha tidak menatapnya.
Gagal.
Kenapa orang setampan ini harus sakit, bertopeng, dan menjadi target misi mematikan? Kenapa targetku tidak mas-mas kasir minimarket yang cukup diberi kopi susu dan senyum?
Reynard menoleh.
Aku langsung menatap jendela.
Jantungku memukul rusuk.
Tidak mungkin dia dengar.
Tidak mungkin.
Villa PIK berdiri menghadap laut, gelap, besar, dan terlalu sunyi untuk disebut rumah. Para staf menyambut kami di pintu, tapi Reynard hanya memberi isyarat singkat. Tidak ada upacara. Tidak ada basa-basi. Aku dibawa ke kamar tamu yang ukurannya lebih besar dari apartemen lamaku.
"Tidur," katanya.
Aku memegang gagang pintu. "Kau?"
"Ruang kerja."
Jawaban yang sama.
Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ia sudah berbalik.
Malam itu aku tidak berganti baju dengan benar. Gaun pengantin kulepas dengan bantuan seorang staf perempuan yang tidak banyak bicara, lalu aku memakai piyama sutra yang entah milik siapa. Begitu kepalaku menyentuh bantal, tubuhku runtuh.
Terlalu banyak hal untuk diproses.
Pernikahan.
Sistem.
Racun Dingin.
Perut kotak-kotak.
Dan mata Reynard yang tadi, untuk sesaat, seperti menebak sesuatu yang tidak sempat kuucapkan.
Tidak. Mustahil.
Aku tertidur dengan pikiran itu.
Di luar kamar, langkah Reynard berhenti di depan pintu yang sudah tertutup.
Anto berdiri beberapa meter di belakangnya. "Tuan Muda?"
Reynard mengangkat tangan, menyuruhnya diam.
Dari dalam kamar, napas Keira sudah teratur. Tapi di kepala Reynard, suara perempuan itu masih menggema, kacau, cepat, dan hidup.
Aku dari dunia lain. Aku Naomi. Aku harus membuat pria ini jatuh cinta atau aku lenyap.
Reynard menunduk, menatap telapak tangannya yang tadi digenggam Keira.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sesuatu yang bukan rasa sakit bergerak pelan di dadanya.
Ia berbisik nyaris tanpa suara.
"Dunia lain..."
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
"Menarik."
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih