NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05 #Takdir bercanda

​Langkah kaki Anya yang ditopang heels sembilan sentimeter terdengar berketuk ritmis di atas lantai marmer lobi hotel bintang lima yang berkilau. Dia berjalan dengan punggung tegak, dagu terangkat, dan keanggunan yang alami di samping papanya, Tito Sanjaya. Gaun merah menyala yang membungkus lekuk tubuh indahnya bergoyang sensual setiap kali dia melangkah, menarik perhatian beberapa pasang mata yang berpapasan dengannya.

​"Ingat pesan Papa, Anya. Jaga sikapmu," bisik Tito sekali lagi sebelum pelayan hotel membukakan pintu kayu jati berukir emas menuju ruang makan privat yang super eksklusif.

​"Iya, Pa. Tenang saja," jawab Anya dengan senyum manis yang tersirat rencana terselubung.

​Begitu pintu terbuka, kemewahan ruangan langsung menyambut mereka. Di ujung meja makan panjang yang dipenuhi lilin-lilin aromaterapi dan peralatan makan perak, berdiri tiga orang utama yang langsung menghentikan obrolan mereka untuk menyambut kedatangan keluarga Sanjaya.

​"Ah, Pak Tito! Akhirnya datang juga," seru Tomi Fernandez dengan suara baritonnya yang tegas namun ramah.

​Anya melangkah maju, memamerkan senyum paling menawan yang dia miliki. Matanya dengan cepat memindai ketiga orang tersebut. Tomi Fernandez tampak berwibawa, sementara di sebelahnya berdiri Isyana Fernandez yang anggun. Namun, Anya bisa menangkap kilat syok yang melintas di mata kedua orang tua itu saat pandangan mereka jatuh pada potongan deep V-neck gaun merahnya yang mengekspos garis dadanya dengan sangat berani.

​Strategi pertama berhasil. Mereka terkejut dengan penampilan nakal miliknya.

​Di samping Isyana, berdiri seorang pria muda berusia dengan setelan jas hitam yang sangat rapi dipastikan itu adalah Calvin Fernandez. Pria itu menatap Anya, lalu mengulas sebuah senyuman yang terlihat sangat kaku, seolah dia terpaksa melakukannya.

​"Malam, Om Tomi, Tante Isyana," sapa Anya dengan suara lembut yang dibuat-buat. Dia membungkuk sedikit, sengaja membuat potongan gaunnya semakin terlihat, sebelum menyalami tangan kedua orang tua tersebut.

​"Malam, Anya. Wah, kamu... sangat berani dan cantik malam ini," puji Isyana, meskipun nada suaranya terdengar agak canggung menahan penilaian negatifnya.

​Anya kemudian beralih ke hadapan Calvin, mengulurkan tangannya. "Hai, aku Zevanya. Panggil saja Anya."

​Calvin menyambut uluran tangan Anya, menggenggamnya sekilas dengan formal. "Calvin."

​Saat kulit mereka bersentuhan, Anya menatap lurus ke dalam mata Calvin. Kesan pertama yang ditangkap Anya adalah pria ini memang sangat tampan, berkulit bersih, dan memiliki tatapan yang... pasrah. Tidak ada binar gairah atau ketertarikan seorang pria saat melihat wanita berpakaian seksi di depannya. Calvin justru terlihat seperti robot yang sedang menjalankan perintah.

​'Pria ini sepertinya tipe penurut yang tidak mau repot. Baguslah, dia kelihatan bisa diajak kompromi untuk batalkan perjodohan ini secara damai,' batin Anya bersorak lega. Paling tidak, Calvin tidak terlihat seperti pria arogan yang akan menyulitkan hidupnya.

​"Silakan duduk, Pak Tito, Anya. Kita santai saja malam ini," Tomi mempersilakan sembari memberi isyarat kepada pelayan untuk mulai menyajikan hidangan pembuka.

​Mereka berlima akhirnya duduk mengitari meja. Anya mengambil posisi di sebelah papanya, berhadapan langsung dengan Calvin. Atmosfer ruangan terasa formal dan sedikit canggung ketika Tomi dan Tito mulai membuka obrolan ringan seputar bisnis mereka.

​"Jadi, Anya, Papa kamu bilang kamu kuliah Manajemen Bisnis ya? Sudah sampai mana skripsinya?" tanya Isyana membuka percakapan dengan calon menantunya.

​"Baru mau masuk bab empat, Tante. Agak keruwetan sedikit karena banyak analisis data yang..."

​Greeek...

​Ucapan Anya terputus ketika pintu geser ruang privat kembali terbuka. Terdengar suara langkah kaki yang mantap, berat, dan berwibawa mendekat ke arah meja makan.

​"Maaf, saya sedikit terlambat karena jalanan protokoler cukup padat malam ini."

​Suara bariton yang berat, dalam, dan bergetar itu seketika membuat seluruh bulu kuduk Anya berdiri. Anya menoleh ke arah pintu bersamaan dengan papanya.

​Detik itu juga, dunia Anya serasa runtuh. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik, dan dia merasa seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan mewah itu mendadak menguap habis. Wajah cantik Anya yang tadinya merona segar langsung pucat pasi. Dia membelalakkan matanya tidak percaya, memandangi sosok pria tinggi tegap yang baru saja melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh kekarnya.

​Pria itu berwajah sangat tampan, dengan rahang tegas yang bersih tanpa jambang sedikit pun, dan sepasang mata elang yang dingin, menusuk, serta sangat familiar.

​Itu adalah pria yang dia cium secara paksa di ruang VIP klab malam Heaven seminggu yang lalu. Pria yang dia sebut Tuan Arogan dan dia tinggalkan setelah memberinya ciuman gratis.

​Anya merasa ingin pingsan saat itu juga, atau setidaknya berdoa agar bumi terbelah dan menelannya hidup-hidup ke dalam inti bumi terdalam.

​Tidak, tidak, tidak! Ini pasti mimpi buruk kan? Tolong bangunkan aku! teriak Anya histeris di dalam hatinya.

​"Ah, Bara! Akhirnya kamu sampai juga," sambut Tomi Fernandez dengan senyum lebar, bangkit berdiri sebentar untuk menepuk bahu pria tersebut. Semua orang di ruangan itu, kecuali Anya yang sudah membatu menyambut kedatangan pria itu dengan penuh rasa hormat.

​"Tidak apa-apa, Bara, silakan duduk. Kami juga baru saja mau mulai," timpal Tito Sanjaya dengan nada yang sangat ramah dan segan. Tito kemudian menoleh ke arah Anya yang masih terpaku bagai patung lilin. "Anya, perkenalkan, ini Pak Bara Fernandez. Adik kandung om Tomi sekaligus pamannya Calvin. Dia yang memegang kendali penuh atas investasi strategis Fernandez Corp."

​Dalam hati, Anya menjerit sekencang-kencangnya. Paman?! Bagaimana bisa pria menyebalkan yang kucium di bar itu ternyata adalah paman dari calon tunanganku sendiri?! Dia masih belum tua, kenapa sudah jadi paman dari pria berumur dua puluh lima tahun?!

​Bara Fernandez tidak langsung duduk. Dia berdiri sejenak, mengancingkan satu kancing jasnya dengan gerakan yang sangat elegan dan berwibawa, lalu tatapan matanya yang tajam bergerak perlahan ke arah Anya. Mata elangnya menyapu penampilan Anya malam ini, mulai dari rambut cokelat bergelombangnya, riasan bibir merah meronanya, hingga gaun merah berpotongan deep V-neck yang mengekspos dada indahnya.

​Sebuah senyuman tipis yang penuh arti dan sarat akan kilat jenaka sekaligus berbahaya terukir di sudut bibir tampan Bara. Dia tahu persis apa yang sedang dicoba dilakukan oleh gadis kecil ini dengan pakaian seksinya.

​Bara mengambil tempat duduk kosong yang berada tepat di seberang Anya, tepat di sebelah Calvin. Kini, jarak di antara mereka hanya terpisahkan oleh lebar meja makan, membuat Anya tidak bisa menghindar dari radar tatapannya.

​"Selamat malam, Zevanya Anneliza," sapa Bara dengan nada suara yang terdengar sangat formal, dingin, namun penuh penekanan di setiap suku katanya.

​Anya mendadak merasa panas dingin. Keringat tipis mulai membasahi pelipisnya meskipun pendingin ruangan berfungsi dengan sangat baik. Dia meremas tas tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Se-selamat malam, Om Bara..." jawab Anya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan sisa-sisa harga dirinya dan bersikap seolah-olah mereka baru pertama kali bertemu.

​Tito Sanjaya yang menyadari interaksi tersebut mengernyitkan keningnya heran. Dia menatap Bara dan Anya bergantian dengan pandangan menyelidik yang tajam.

​"Lho, kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?"

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!