Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Perlindungan
Tiga hari kemudian, Helena Hartono membuat seluruh compound mendengar suaranya.
"Pasti ada yang meracuniku!"
Teriakan itu datang dari ruang medis compound, cukup keras sampai dua pelayan yang sedang membawa handuk di koridor saling menatap ketakutan.
Keira mendengar kabar itu dari Ningsih.
Saat itu ia sedang duduk di ruang kecil Sayap Giok, memutar cincin rubi di jarinya. Gerakannya berhenti begitu Ningsih masuk dengan wajah pucat.
"Mbak, Helena dibawa ke ruang medis."
Keira mengangkat mata. "Kenapa?"
"Katanya mual terus. Badannya lemas. Siklus bulanannya juga kacau." Ningsih menelan ludah. "Dia bilang ada yang meracuni."
Udara di ruangan itu berubah berat.
Ningsih menatap lantai.
Keira menatap cincin di jarinya.
Batu rubi itu tetap merah, indah, tidak peduli apa pun yang sedang terjadi pada tubuh orang lain.
"Siapa saja di sana?"
"Dokter Xiao. Pak Ji. Beberapa staf. Rio juga datang sebentar."
Rio.
Keira merasakan jantungnya mengetuk lebih keras.
Ia tahu compound punya mata.
Ia hanya tidak tahu seberapa banyak yang sudah melihat.
Di ruang medis, Helena duduk di ranjang pemeriksaan dengan wajah pucat dan marah. Rambutnya masih tersisir rapi, tetapi bibirnya kehilangan warna. Dokter Xiao berdiri di samping meja kecil, membaca hasil pemeriksaan awal dengan wajah profesional.
"Saya menemukan beberapa indikator tubuh Anda tidak stabil," katanya hati-hati. "Ada kemungkinan gangguan hormonal sementara. Kita perlu observasi lanjutan."
"Gangguan hormonal?" Helena tertawa tajam. "Saya sehat sebelum datang ke compound ini. Setelah minum dan makan di sini, tubuh saya rusak. Ini bukan kebetulan."
Pak Ji berdiri di sisi ruangan, wajahnya tidak berubah.
"Nona Helena, mohon tenang."
"Saya tidak akan tenang!" Helena menatap semua orang. "Saya tahu ada yang tidak suka saya dekat dengan Koh Darren. Tapi sampai meracuni? Rendah sekali."
Nama Darren membuat ruangan semakin sunyi.
Dokter Xiao menutup berkas. "Tuduhan seperti itu perlu bukti."
"Cari buktinya!"
Bukti itu, dalam bentuk yang lebih dingin, sudah berada di tangan Rio Kurniawan sore harinya.
Di Ruang Kerja, Darren duduk di balik meja. Tangan kanannya sudah dibalut bersih. Wajahnya tenang, tetapi ketenangan itu membuat siapa pun yang masuk otomatis menurunkan suara.
Rio berdiri di depan meja dengan tablet.
"Pak, saya sudah cek kamera area pantry dan jalur taman."
Darren tidak mengangkat kepala dari dokumen.
"Lanjut."
"Ningsih terlihat masuk ke area pantry sebelum teh Helena diantar."
Pena Darren berhenti.
Rio menatap layar, lalu Darren. "Ningsih orang Nona Keira. Kalau investigasi dilanjutkan secara resmi..."
"Aku sudah tahu."
Rio terdiam.
Pak Ji yang berdiri di samping juga menunduk lebih dalam.
Darren akhirnya mengangkat mata. "Siapa lagi yang melihat rekaman itu?"
"Hanya saya dan dua staf keamanan senior. Saya sudah tahan aksesnya."
"Bagus."
"Pak, Helena menuntut laporan tertulis."
"Berikan."
Rio menunggu.
Darren berkata, "Bukan laporan itu."
Pak Ji memahami lebih dulu. "Saya akan panggil Dokter Xiao."
Dokter Xiao datang dua puluh menit kemudian.
Ia sudah cukup lama bekerja untuk keluarga Hendrawan untuk tahu bahwa tidak semua laporan medis ditulis hanya untuk menjelaskan penyakit. Sebagian laporan ditulis untuk menutup mulut orang yang lebih berbahaya daripada penyakit.
Darren memberi instruksi singkat.
"Tulis bahwa gejala Helena disebabkan tekanan fisik dan psikis, pola makan tidak teratur, dan kemungkinan reaksi terhadap tanaman di area taman compound."
Dokter Xiao menatapnya selama satu detik.
Lalu mengangguk. "Saya akan gunakan bahasa medis yang tepat."
"Cukup tepat untuk dipercaya."
"Baik, Pak."
Tidak ada yang menyebut nama Keira.
Justru karena tidak disebut, nama itu terasa memenuhi seluruh ruangan.
Sore menjelang, laporan itu sampai ke tangan Helena.
Ia membacanya dengan wajah berubah warna.
"Alergi tanaman?" suaranya hampir pecah. "Stres? Mereka pikir saya bodoh?"
Pelayan yang membawakan laporan hanya menunduk.
Di Sayap Anggrek, seorang pelayan lain menyampaikan kabar yang sama pada Vivienne.
Vivienne mendengarkan sambil duduk di dekat jendela. Luka di jarinya dari cangkir pecah sudah dibalut rapi.
"Helena marah?"
"Sangat, Ci."
"Bagus."
Pelayan itu ragu. "Ci Vivienne ingin menyampaikan sesuatu padanya?"
Vivienne menatap halaman compound yang rapi.
"Katakan padanya untuk sabar. Kalau waktunya tiba, keadilan akan datang."
Keadilan.
Kata itu terdengar indah.
Di mulut Vivienne, ia terdengar seperti pisau yang masih disimpan di sarungnya.
Malam itu, Darren datang ke Sayap Giok.
Keira sedang duduk di ruang tamu kecil, tidak membaca buku yang terbuka di pangkuannya. Ningsih sudah mundur setelah menyajikan teh. Ratna berjaga di luar, memberi mereka ruang.
Darren masuk tanpa suara.
Keira berdiri terlalu cepat.
"Pak Darren."
Ia menatap wajah Darren, mencoba mencari kemarahan, kecewa, atau pertanyaan.
Tidak ada.
Itu lebih menakutkan.
Darren duduk di sofa seberangnya. "Duduk."
Keira duduk.
Jarak di antara mereka hanya meja kecil, tetapi bagi Keira terasa seperti ruang sidang.
Darren mengambil cangkir teh, tetapi tidak minum.
"Helena akan berhenti membuat keributan."
Jari Keira mencengkeram ujung buku.
"Oh."
"Laporan Dokter Xiao sudah keluar."
"Apa katanya?"
"Stres. Reaksi tubuh. Kemungkinan alergi tanaman."
Keira menatapnya.
Ia ingin pura-pura lega.
Ingin bertanya dengan wajah polos, "Benarkah?"
Tetapi setelah semua yang mereka lalui, kepolosan itu akan terasa menghina.
"Pak Darren tahu," katanya pelan.
Darren meletakkan cangkir.
"Ya."
Satu kata.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada ceramah.
Justru karena itu, dada Keira terasa sesak.
"Sejak kapan?"
"Sebelum Rio selesai bicara."
Keira tertawa kecil, kosong. "Tentu saja."
Darren menatapnya. "Kamu takut?"
"Seharusnya iya."
"Tapi?"
Keira menunduk pada cincin rubi di jarinya. "Aku tidak tahu takut pada apa. Pada Helena? Pada laporan? Pada Pak Darren?"
"Pada dirimu sendiri."
Keira membeku.
Kalimat itu terlalu tepat.
Darren tidak bergerak, tetapi suaranya sedikit lebih rendah.
"Kamu dan aku, sama saja."
Keira mengangkat mata.
"Tidak."
"Ya."
"Pak Darren tidak akan..."
"Aku akan." Darren memotongnya tanpa menaikkan suara. "Kalau seseorang menyentuh apa yang menjadi milikku, aku akan melakukan lebih buruk."
Keira tidak bisa bernapas.
Darren berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berhenti di depannya.
"Kita berdua bukan orang baik," katanya. "Dan aku tidak butuh orang baik."
Keira menatapnya.
Kalimat itu seharusnya membuatnya takut.
Seharusnya membuatnya sadar bahwa pria di depannya sama berbahayanya dengan semua cerita yang pernah dibisikkan orang tentangnya.
Tetapi yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih buruk.
Lega.
Karena Darren tahu.
Ia tahu tangan Keira tidak bersih.
Ia tahu di balik gaun mahal, bunga daisy, cincin rubi, dan mata yang mudah menangis, ada bagian dari Keira yang bisa menggigit lebih dulu sebelum digigit.
Dan ia tetap berdiri di sana.
Tidak memaafkan dari tempat tinggi.
Tidak menutup mata karena cinta.
Melainkan melihat semuanya, lalu memilih berdiri di sisinya.
"Aku..." Suara Keira pecah. "Aku tidak ingin jadi seperti mereka."
"Kamu bukan mereka."
"Bagaimana Pak Darren tahu?"
Darren mengangkat tangan, menyentuh cincin di jari Keira.
"Karena kamu masih bertanya."
Air mata Keira naik, tetapi tidak jatuh.
Darren menunduk sedikit, suaranya hampir lembut.
"Lain kali, kalau ingin menghancurkan seseorang, beri tahu aku dulu."
Keira menatapnya di antara shock dan ingin tertawa. "Itu nasihat moral yang aneh."
"Itu bukan nasihat moral."
"Lalu apa?"
"Prosedur keselamatan."
Keira akhirnya tertawa.
Tawa pendek, bergetar, setengah menangis.
Untuk sesaat, ruang tamu Sayap Giok terasa lebih mudah bernapas.
Lalu bel pintu berbunyi.
Ningsih masuk beberapa saat kemudian, wajahnya bingung.
"Nona."
Keira mengusap sudut matanya cepat. "Ada apa?"
"Ada tamu. Katanya teman Nona."
"Temanku?"
Keira hampir ingin bertanya teman dari kehidupan yang mana.
Ningsih mengangguk. "Dia bilang namanya Serena Suwandi."
Nama itu jatuh ke ruangan seperti koin ke dasar sumur.
Serena Suwandi.
Keira merasa ada sesuatu bergerak di belakang kepalanya.
Bukan ingatan utuh.
Hanya serpihan.
Senyum manis.
Gelang merah.
Suara perempuan yang berkata, aku melakukan ini demi kamu.
Lalu semuanya hilang.
Darren melihat perubahan wajahnya.
"Kamu kenal?"
Keira menatap pintu Sayap Giok.
"Aku... tidak yakin."
Namun tubuhnya sudah lebih dulu merasa tidak nyaman.