Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Ke Turki
Mobil Arslan akhirnya berhenti tepat di depan lobi sebuah gedung pencakar langit berlantai dua puluh. Seperti biasa, ia tidak pernah datang sendiri ke kantor itu. Sopir pribadinya sudah lebih dulu turun untuk membukakan pintu.
Gedung itu bukan hanya menjadi pusat operasional perusahaan utamanya, tetapi juga mengelola berbagai bisnis lain yang berada di bawah nama besar Arslan.
Beberapa lantai disewakan kepada perusahaan-perusahaan lain yang belum memiliki kantor sendiri, menjadikan gedung tersebut bukan hanya pusat kendali bisnis, tetapi juga salah satu sumber pemasukan yang stabil. Dengan fasilitas premium dan lokasi strategis, harga sewanya tentu tidak bisa dibilang murah. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Selain itu, Arslan juga memiliki portofolio properti yang tersebar di berbagai titik kota—mulai dari apartemen hingga kawasan real estate yang nilainya terus meningkat dari tahun ke tahun.Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kekayaan yang ia kelola sangat besar untuk seseorang seusianya.
Dan di balik semua itu, satu hal yang terus menjadi bahan kekhawatiran keluarganya: ia adalah anak tunggal. Namun Arslan sendiri tidak pernah menjadikan itu sebagai tekanan. Baginya, hidup tidak harus selalu mengikuti ekspektasi orang lain.
Begitu memasuki lobi, seluruh aktivitas seketika seperti berhenti sesaat. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala, memberi salam dengan penuh hormat. Arslan hanya mengangguk singkat sebelum melangkah menuju lift eksekutif bersama beberapa staf yang sudah menunggu untuk mendampingi agenda hari itu.
Di lantai atas, ruang rapat sudah dipenuhi oleh beberapa perwakilan perusahaan asing yang datang untuk membahas kerja sama investasi. Mereka tertarik pada lini produksi pabrik Arslan yang dikenal stabil, efisien, dan memiliki kualitas tinggi.
Bukan kali pertama Arslan bekerja sama dengan investor luar negeri. Justru sebagian besar mitra bisnisnya berasal dari luar Indonesia, yang membuat dirinya cukup sering bepergian ke berbagai negara untuk urusan kerja.
Rapat dimulai tepat waktu. Arslan memimpin jalannya diskusi dengan tenang, terstruktur, dan penuh kontrol. Setiap poin dibahas dengan jelas, tanpa bertele-tele, membuat para rekan bisnisnya merasa yakin bahwa mereka sedang bekerja dengan seseorang yang benar-benar memahami arah perusahaannya.
Satu jam kemudian, rapat pun selesai sesuai jadwal. Tidak lebih, tidak kurang. Efisien seperti biasa. Setelah para tamu berpamitan, Arslan kembali ke ruangannya. Baru saat itu ia menyadari sesuatu. Perutnya terasa kosong. Ia mengembuskan napas pelan, menyadari bahwa sejak pagi ia belum sempat sarapan.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk.
Tok... tok...
Vania masuk sambil membawa sebuah kotak makanan yang rapi di tangannya.
"Maaf, Pak. Ini ada kiriman makanan untuk anda. Tadi Bu Zulfa menyuruh seseorang untuk mengantarkan ini."
Arslan mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Vania meletakkan kotak tersebut di meja sebelum kembali pamit keluar. Arslan tersenyum melihat godie bag itu. Istrinya memang begitu perhatian padanya. Zulfa tau kalau Arslan belum mengisi perutnya tadi pagi, itu sebabnya ketika Zulfa sarapan di restoran hotel, ia juga turut memesan makanan untuk suaminya di kantor. Zulfa yang menyuruh sopirnya untuk mengantar makanan itu.
"Oiya Pak, jangan lupa besok ada jadwal untuk ke Turki. Mr. Osman sudah menunggu anda disana." Arslan menepuk jidatnya saat mendengar perkataan Vania, dia hampir saja lupa.
"Untung kamu ingetin lagi, saya hampir aja lupa." Kata Arslan yang saat ini sudah berpindah tempat duduk hendak menyantap sarapannya.
"Saya juga sudah menyiapkan dua tiket pesawat untuk penerbangan besok pagi dan juga hotel untuk anda menginap," lanjut Vania kemudian. Sekretarisnya itu sudah paham, jika atasannya tersebut akan pergi ke luar kota atau ke luar negri, ia pasti akan membawa istri kesayangannya.
"Terimakasih," Arslan menyahutinya sembari menyantap makanannya.
"Tolong maafkan saya, kalau ada prilaku dan perkataan yang membuat anda kurang berkenan." Vania tertunduk, gesture tubuhnya seperti hendak melakukan pengakuan dosa.
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu? mau resign?" tanya Arslan santai.
"Tidak Pak, saya masih memerlukan pekerjaan ini. Saya hanya takut anda memecat saya." Dalam hatinya ia lebih takut lagi jika Ibunya Arslan yang memecatnya.
"Saya tidak punya alasan buat mecat kamu, karna saya rasa pekerjaan kamu selama ini sudah cukup bagus." Seketika Vania terlihat tenang.
"Tapi saya mau minta maaf karna saya pernah berusaha menggoda anda dan membuat anda tidak nyaman dengan sikap saya." Tidak mungkin Vania berani berkata, kalau ia melakukan itu semua karna perintah Farah, ibunya Arslan.
"Sejauh ini saya merasa tidak pernah tergoda sama kamu. Cuma saya minta, attitude mu harus selalu di jaga selama berada dalam lingkungan kerja." Pinta Arslan. Beberapa hari ini Arslan sudah melihat perubahan pada diri Vania dari segi penampilan maupun gaya bicaranya.
"Baik Pak. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih." Vania pergi dari ruangan Arslan setelah Arslan mengangguk merespon ucapannya. Vania merasa lega karna sudah berani menyampaikan itu, setidaknya jika nanti Ibunya Arslan kembali mengancamnya lagi. Ia sudah tidak punya rasa takut lagi.
***
Perut Arslan sekarang sudah terasa penuh. Dua box makanan yang diberikan Zulfa habis begitu saja. Arslan baru sadar, pertempuran semalam membuat semua lemak-lemaknya terbakar begitu cepat, hingga ia merasakan kelaparan yang begitu hebat. Arslan menarik ponsel dari saku jasnya, ia langsung mengetik pesan kepada istrinya, memberi kabar kalau besok pagi Zulfa harus ikut dengannya ke Turki
Jangan tanya seperti apa reaksi Zulfa saat ini, ketika pesan itu selesai dibaca. Ia sudah paham kalau suaminya hendak mengajaknya bepergian ke luar negri, pasti juga akan mengajaknya melakukan ritual suami istri.
'Badanku masih linu-linu semua tapi besok mau kamu gempur lagi... Lihat nih, Kaki ku aja masih kram banget ...'
Pesan itu terkirim, Arslan yang masih memegang ponselnya tertawa melihat balasan pesan istrinya. Lalu Arslan mengetik lagi.
'makanya nggak usah nantangin, nggak bisa jalan beneran kan kamu.' Arslan membalas pesan itu sambil memasang emoticon menjulurkan lidah, seolah sedang meledek istrinya. Zulfa pun membalas pesan dengan memasang stiker Angry bird, tanda ia sedang marah. Arslan tertawa terbahak, ia membayangkan semenggemaskan apa wajah istrinya saat ini.
***
"Rencana berapa hari di Turki?" Zulfa sudah mulai mengemas barang-barangnya di koper. Pun Arslan ia juga sibuk membantu Zulfa mengemasi barang-barangnya, yang sebenarnya tidak banyak dibawa.
"Dua atau tiga harian aja kayaknya." Jawab Arslan yang baru saja sampai rumah beberapa menit lalu.
"Atau kalau kamu mau lebih lama tinggal di Turki, kita bisa perpanjang lagi menginap di hotelnya." Arslan memberi tawaran.
"Memangnya kamu nggak punya kesibukan di Jakarta sampai ngajak liburan lama-lama." Zulfa merespon ucapan Arslan.
"Ya, kalau nambahnya dua atau tiga harian sih, nggak masalah. Lagian setelah ini, aku udah nggak ada jadwal buat ketemu siapa-siapa, selain rapat harian di kantor." Dua Koper itu sudah selesai mereka packing. Arslan dan Zulfa duduk di tepi ranjang melanjutkan percakapannya dengan lebih santai.
"Sebentar lagi kan, kamu mau transfer embrio. Kamu butuh liburan buat nenangin pikiran kamu. Jadi ada baiknya kalau kita memperpanjang waktu kita di Turki, gimana menurut kamu?"
"Yang penting ngajak liburannya itu beneran ngajak jalan-jalan ke luar, nggak cuma di dalam kamar aja. Mending juga kalau langsung bertelor, ini udah sepuluh tahun nggak bertelor-telor." Seketika ketawa mereka pecah. Seolah kehadiran buah hati yang tak kunjung hadir itu, di buat sebagai candaan.
"Udah bertelur kok, sayang. Kan udah jadi Embrio." Arslan tau, dibalik candaan Zulfa, Zulfa menyimpan kekhawatiran yang besar.
Zulfa meringis seraya memeluk suaminya, "Iya ... ya, semoga kali ini baby embrio-nya mau nempel di rahim aku."
"Kita doa sama-sama aja ya. Sama-sama minta saling di kuatkan, apapun hasilnya nanti." Arslan mengusap lembut rambut legam istrinya. Sebelum akhirnya mereka turun ke lantai satu untuk makan malam.
Banyak hal yang Arslan ceritakan malam ini kepada istrinya, tentang kolega yang ia temui pagi tadi dan tentang Vania yang tiba-tiba meminta maaf karna pernah berusaha menggodanya.
Zulfa hanya tersenyum menanggapi itu. Baginya hal yang wajar, jika ada wanita yang tergoda dengan suaminya yang tampan dan memiliki daya pikat sendiri. Tapi tentu menjadi hal yang tidak wajar, jika sudah tau beristri tetapi tetap digoda.
Namun, di balik semua itu, Zulfa tahu bahwa perempuan-perempuan yang berusaha menggoda suaminya bukanlah bertindak atas keinginan mereka sendiri. Ada seseorang yang sengaja menggerakkan mereka, dengan satu tujuan—menghancurkan rumah tangganya.
Hingga akhirnya percakapan di meja makan itu berakhir, dan mereka memilih untuk tidur lebih awal, sebab besok, di pagi buta mereka harus bergegas menuju bandara untuk menuju Turki.
***