Sandrina nekad tidur dengan pria yang dijodohkan dengan kakaknya, Bastian Helford. Lantaran kakaknya telah tidur dengan tunangannya.
Semua miliknya direnggut, dan Sandrina berjuang untuk mendapatkan kembali yang menjadi miliknya
"Dia satu-satunya milikku yang kurebut kembali"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanitaku
Tommy Blanker, itulah nama yang Bastian ketahui sebagai nama pria yang menjadi tunangan Sandrina. Serta sebuah foto yang ditampilkan dari pria yang menurut Bastian tidak lebih baik darinya. Dan sekarang setelah bertemu langsung, Bastian pun harus mengakui kalau pria itu bukanlah apa-apa baginya.
"Lututmu itu sangatlah murahan, bung! Sandrina adalah wanitaku, jadi buat apa kau berlutut pada wanitaku?" ujar Bastian dengan kilat bangga di matanya
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Tommy. Jadi, jangan datang seperti ini lagi karena ini sangat menjengkelkan," ucap Sandrina dengan tegas setelah dirinya seakan mendapatkan kekuatan dari Bastian
Tommy yang melihat pasangan itu menjadi semakin kacau. Dengan segera pria itu bangkit dari posisinya yang berlutut menuju kearah Sandrina
"Sandrin! Ugh!" baru Saja Tommy ingin menyentuh Sandrina, namun tangan Bastian dengan cepat bergerak menghentikan gerakan Tommy dan mendorongnya keras hingga pria itu terdorong dan terjatuh ke belakang.
"Apa kau tidak dengar? Sandrina menyuruhmu pergi!" ucap Bastian dengan tatapan nyalang pada Tommy yang meringis saat dia jatuh tersungkur.
"Kau ini siapa?" tanya Tommy dengan berteriak, menatap kesal kearah Bastian yang mendorongnya
"Kau ini tuli ya? Jika tuli setidaknya peka lah sedikit," komentar Bastian yang merasa ini buang- buang waktu. Bukankah tadi dia sudah memberitahu kalau Sandrina adalah wanitanya, tapi pria bodoh didepannya ini masih bertanya dia siapa. Walaupun mungkin Tommy tidak mendengar, bukankah mata pria itu baik- baik saja untuk melihat bagaimana dia merengkuh dan memeluk Sandrina, dari situ saja sudah dapat disimpulkan siapa Bastian bagi Sandrina. Sungguh sial bagi Sandrina kenal dengan pria bodoh tukang selingkuh seperti Tommy, pikir Bastian.
"Apa? Jangan-jangan kau calon suami dari Sandrin?" tanya Tommy yang menatap pada Bastian yang berdiri menjulang dengan gagahnya. Dari wajah saja Tommy sudah merasa kalah jika harus dibandingkan dengan Bastian. Karena Tommy pun mengakui, kalau pria di depannya ini sangat tampan dengan fisik badan yang cukup memukau.
Sandrina terdiam saat mendengar kalimat Tommy yang mengatakan, Bastian calon suaminya. Kenapa rasanya kalimat itu sangat menggembirakan dan rasanya memang kalimat itulah yang cocok dan pantas untuk didengarnya. Bastian- lah calon suaminya yang sebenarnya, bukan Tommy.
"Baguslah jika kau sudah tahu, jadi bisakah kau minggir dan jangan mengganggu kami!" kata Bastian yang menggandeng tangan Sandrina untuk mengikuti langkahnya. Pria itu bahkan menggeser kasar tubuh Tommy yang baru saja berdiri
"A-aku hanya akan pergi hari ini. Sandrin, sampai jumpa lagi. Aku akan menghubungimu" dengan wajah tebalnya Tommy berucap demikian walau dia harus mengakui kalau aura Bastian berhasil memukul telak dirinya
"Apa kamu tidak dengar? Aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi!" teriak Sandrina yang juga kesal dengan sifat tidak tahu malu Tommy. Sedang Bastian terus berjalan hingga memasuki perkarangan rumah mewah itu, meninggalkan Tommy sendirian diluar pagar.
Setelah berada tepat dihalaman rumah, Bastian berhenti tanpa melihat kebelakang dimana Sandrina menyadari aura menyeramkan tampak menguar dari tubuh Bastian. Pria itu terlihat sedang kesal
"Segera bereskan masalahmu dengannya. Kalau tidak, Bajingan itu tidak akan bertahan hidup." ucap Bastian dengan nada menyeramkan.
Sandrina terdiam sembari menyentuh dadanya dimana jantungnya berdetak dengan menggila. Dia sadar Bastian sengaja mengatakan hal-hal indah itu didepan Tommy hanya agar mereka terlihat sebagai pasangan yang harmonis, dan benar kalau dia adalah wanita Bastian sekarang.
Walaupun Sandrina sadar kalau itu hanyalah keinginan posesif yang sederhana, tapi kenapa hatinya berdebar seperti orang bodoh. Dia senang hanya dengan kalimat sederhana yang Bastian ucapkan tadi.
"Kenapa kau tidak menjawabku? Apa kau masih punya perasaan pada pria bajingan itu?" tanya Bastian saat Sandrina hanya diam tanpa menyahutinya. Kerutan kekesalan terlihat di wajah Bastian. Pria itu kesal hanya karena bayangan semunya yang mengira Sandrina masih mempunyai perasaan pada Tommy. Dua tahun bukan waktu yang sebentar bagi Sandrina untuk mengikat hatinya, bukan? Dan bukan tidak mungkin gadis itu masih menyimpan perasaannya pada Tommy kendati pria itu telah ketahuan selingkuh.
"Di depan Bastian, aku sudah menolaknya dengan jelas, apa itu tidak cukup?" jawab Sandrina dengan tatapan penuh keyakinan. Memang nyatanya Sandrina tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Tommy. Semua rasa sakit yang disebabkan oleh pria itu telah sembuh dengan hadirnya Bastian.
"Aku hanya memperingatkanmu"
"Baiklah, tidak perlu khawatir. Dan tolong ubah ekspresimu, kita akan masuk sekarang," sahut Sandrina yang sekalian mengingatkan ekspresi yang ditampilkan oleh Bastian. Mereka kini berada tepat didepan pintu utama rumah Sandrina, sedang tampilan wajah Bastian masih saja terlihat kesal. Tidak biasanya pria itu tidak bisa mengendalikan ekspresinya. Biasanya Bastian sangat baik dalam berakting, bahkan aktingnya setara dengan aktor profesional. Namun entah kenapa saat ini rasanya hatinya masih dihinggapi kekesalan hingga cukup sulit baginya sampai membentuk ekspresinya yang lebih riang.
Bel rumah ditekan sebagai pertanda ada tamu yang datang. Bastian menggenggam erat tangan Sandrina saat dilihatnya gadis itu menunduk dengan ekspresi gugup.
Setelah beberapa saat, pintu itu terbuka yang dibukakan oleh Meisha. Wanita paruh baya itu langsung memamerkan senyum ramahnya begitu melihat Bastian
"Astaga, ya ampun! Nak Bastian, selamat datang!" seru Meisha yang terkejut dengan kehadiran Bastian. Wanita itu langsung menyambutnya ramah
"Maaf, saya jadi bertamu tiba-tiba begini," sahut Bastian yang kini sudah bisa menyesuaikan ekspresinya dengan senyum ramah.
"Ah, tak perlu minta maaf begitu. Kami sangat senang nak Bastian berkunjung kemari. Ayo cepat masuk! Aku akan membuatkan teh," kata Meisha dengan begitu ramahnya. Karena ada Bastian makanya Meisha berpura- pura menyambut kehadiran Sandrina dengan ramah, mungkin jika gadis itu pulang sendiri, Meisha akan langsung menjambak rambut Sandrina begitu pintu rumah terbuka
"Bastian, lepaskan tanganku sebentar, aku akan menyiapkan minuman untukmu," kata Sandrina saat tangannya semakin erat digenggam oleh Bastian. Gadis itu merasa tidak enak karena biasanya Meisha tidak pernah membuat minuman untuk tamu. Semua kegiatan itu terus saja disuruh pada Sandrina. Hingga Sandrina merasa telah terdoktrin untuk melakukan itu terus menerus
"Tidak perlu. Biar ibu angkatmu saja yang melakukannya," sahut Bastian yang membawa Sandrina masuk. Saat itu Bastian memegang tangan Sandrina seolah-olah berkata pada gadis itu, jangan melihat sekelilingmu dan ketahui persis dimana tempatmu. Iya, Sandrina adalah wanita dari Bastian, pria yang tidak akan menunduk pada siapapun dan pria yang tidak akan menuruti perintah siapapun jika itu untuk merendahkannya. Dengan tegapnya pria itu menggandeng Sandrina masuk kedalam ruang tamu dimana disana telah duduk seorang pria paruh baya yang beberapa hari lalu diancam oleh Bastian.
Sandrina hanya menunduk tanpa berucap apapun, dia hanya mengikuti langkah Bastian. Mulai sekarang Sandrina akan mempercayai semuanya pada Bastian, karena hanya pria itulah satu-satunya orang yang Sandrina kenali peduli padanya.
.
.
.
Welcome baby Damian 🙏
Buat Author, maaf kalau saya bacanya banyak di Skip, soalnya nunggu Sandrina balas dendam tapi kok cuman wacana doang, ga ada tindakan tegas yg sat set ala-ala wanita tegas, mandiri dan ga plin plan.. 😃🙏
Lagi pula orang kaya, CEO cerdas, pengusaha terkenal pula tapi kalau ga bisa cari hal kecil seperti ini mah.. Kelewatan 😃😃🤣🤣🤣
Kalau cuman segitu doang, harusnya dari dulu Bastian juga bisa, dan harusnya dari dulu Sandrina juga bisa melakukan kan sudah nikah dengan Bastian 🙄😤
Kan pengusaha terkenal 🤔🙄 minimal ada basic bela diri untuk melindungi diri sendiri 🙄 atau punya insting kuat jika ada bahaya.. Apa Bastian juga ga punya Bodyguard yang kuat untuk melindungi Boss nya?? Kan datang ke wilayah musuh harus nya ada persiapan matang 🙄😤 apalagi katanya bapaknya Sandrina seorang Senator / pejabat.. Harusnya tahu dong musuh yg dihadapi seperti apa 😤😤
Sandrina bisa nya nangis doang 😤
Ternyata dari kecil sudah banyak disiksa + disakiti mental nya 🙄 matanya dia ga punya keinginan untuk berontak / melawan, krn pasti disiksa tubuh + mental nya
Lo udah tahu Bastian ga cinta, cuman anggap diri Lo pemuas nafsu yg berlabel istri sah 😃 tapi masih juga diam ga ada perlawanan. Di perlakuan seperti pelacur, bukannya bangkit dan buat Bastian lihat dirimu lebih berharga dari pelacur.. Ehhhh malah pasrah dan diam saja 😤
Kalau begini terus, ya sudah.. Terima nasib saja jadi perempuan bodoh yg tidak bisa berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. 😤
Masalah warisan ibu mu + balas dendam tentang kematian nya belum selesai tapi dirimu masih saja fokus + pasrah jadi pemuas nafsunya Bastian 🤣🤣🤣
Jujur.. Sedih + prihatin lihat Sandrina.. Semoga otaknya terbuka dan bisa digunakan agar tidak terus dimanfaatkan orang lain.. Minimal.. Sandrina bisa menghargai dirinya sendiri dan sadar kalau dia berhak untuk bahagia dan mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai nya dengan tulus 🙏🙏
Ga bisa apa berbuat sesuatu agar potensial diri bertambah, harga diri tetap utuh dan membuat Bastian terbuka otak nya untuk menghargai kamu sebagai istri nya??
Sudah bab berapa ini tapi kok ga ada perubahan nya, masih saja lemah, masih saja mau ditindas, masih saja mau di manfaatkan 😤 trus balas dendam nya kapan??? 🙄🤔
Jujur, benci banget lihat perempuan lemah yg tidak bisa tegas buat diri sendiri agar bisa dihargai orang lain dan suami, bukan cuman dimanfaatkan doang tanpa ada tindakan tegas 😤
Bastian bilang ga suka di sentuh wanita sembarangan, di pegang tangannya nya saja sudah marah, padahal dia pakai kemeja + jas kantor. Tapi kenapa jari nya bisa nyentuh bibir nya Odette 🙄🤔 kok ga jijik??? 🙄🤔