Mungkin bagi sebagian orang hal ini aneh, namun bagiku ini memang nyata. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Entah itu keberuntungan atau kesialan. Sejak dari kecil mama selalu melarang dan menyuruh aku ini itu. Ketika aku memprotes perintah mama, ia selalu bilang "Lakukan saja perintah mama kalau kamu tidak mau terkena musibah,".
Awalnya aku tak percaya dengan kata mama, namun semakin aku beranjak dewasa aku mulai paham dengan kata-kata mama. Aku menyesal, kenapa aku baru sadar akan kata-kata mama disaat musibah itu datang. Ya aku tidak melakukan perintah mama ketika aku telah menyelesaikan studi ku. Seharusnya aku ikut mama dan papa pulang, namun aku membantah perintah itu.
Hingga suatu hari, keputusan ku itu menyebabkan mama jatuh sakit. Sebelum mama pergi untuk selama-lamanya, ia berwasiat kepada ku untuk menikahi perempuan pilihannya sesegera mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defani Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C-30
Gilang
Entah mengapa aku merasa senang jika bersama Nabila. Dan aku merasa muak ketika melihat Nabila akrab sekali dengan sahabat nya. Apakah aku cemburu. Secepat itu kah aku mencintai nya. Jika memang aku mencintainya, apa dia juga akan mencintai ku.
Jujur saja aku merasa bersalah padanya, karena telah memaksanya menikah dengan ku. Tapi aku juga tak punya pilihan lagi. Karena perjanjian yang ku buat dengan mama. Dan ternyata perjanjian itu adalah permintaan mama yang terakhir padaku.
Ya... Nabila adalah wasiat dari mama. Dimana mama sebelum ke pergiannya dia telah banyak berpesan pada ku. Dan semua pesannya berkaitan dengan Nabila, tanpa terkecuali.
Mungkin untuk saat ini, aku akan menjaga nya karena mama yang meminta. Karena aku tak pernah berniat memiliki hubungan khusus dengan wanita untuk waktu dekat ini. Tapi aku yakin, jika suatu saat nanti. Aku memiliki perasaan khusus untuk nya. Dan semoga dia juga memiliki perasaan yang sama pada ku nanti nya.
Sesuai permintaan Nabila, dia cuma menginap satu hari dirumah orang tuanya. Dan sore nanti aku akan mengantarkan nya. Sekalian sowan kepada Abah, yang telah membantu ku.
Sejak pagi Nabila sudah berkemas, dan menyiapkan semua kebutuhannya. Aku berniat untuk membantu nya, namun dia menolak. Dan menyuruh ku untuk istirahat saja. Mungkin saran dia benar juga, karena aku masih terpikir dengan mama dan wasitnya itu. Akhirnya ku putuskan untuk istirahat.
Pukul 13.00 wib
"Mas.... Mas.... bangun dong, udah siang nih. Solat duhur dulu." ucap Nabila sambil mengguncang badan Gilang
"Jam berapa sih" jawab Gilang dengan suara khas orang bangun tidur
"Jam 1 siang"
"Kamu udah solat belum"
"Belum lah, "
"Ayo wudhu dulu"
Akupun bangun dan segera mengambil air wudhu. Nabila juga mengikuti ku. Lalu kita melakukan solat berjamaah.
Setelah selesai solat
"Nanti mau berangkat jam berapa. " tanya Gilang
"Jam 3 aja, oh iya mas tadi Budi kesini. Terus dia bilang mau nganterin aku. "
Terus kamu iyain"
"Iya, soalnya gak enak juga kalau mau nolak. Karena jika orang rumah sibuk, dia yang selalu antar jemput aku dan dia juga yang sering jenguk aku di pondok."
"Terserah kamu aja deh. Ya udah siap-siap sana."
"Iya"
Lihat Nabila akrab dengan Budi membuat ku muak dan sebel. Kenapa apa-apa harus sama Budi. Mentang-mentang Budi sahabat mu, terus gue di abaikan begitu.
Setelah kami selesai bersiap-siap, kami berpamitan dengan ibu.
"Assalamualaikum...." ucap Budi
"Wangalaikumsalam...." jawab kami
"Berangkat sekarang bil." tanya budi
"Iya"
"Ya udah Bu, kami berangkat dulu. Assalamualaikum..." ucap Gilang lalu menyalimi tangan mertua nya dan di ikuti oleh Nabila juga Budi
"Wangalaikumsalam...., hati-hati di jalan ya. Dan untuk Nabila, belajar ya rajin. Gunakan waktu mu di pondok dengan baik." jawab ibu
"Iya Bu"
Lalu kami berangkat. Karena aku memang tidak pakai supir jadi aku sendiri yang mengemudikan mobil. Selama di perjalanan aku seakan jadi obat nyamuk. Karena Nabila lebih banyak bercerita dengan Budi. Entah mengapa aku merasa jika sikap Nabila bersama Budi tidak sama dengan sikap dia keaku.
Sesampainya kami di pondok. Nabila pamit ke kamar terlebih dahulu. Sedangkan aku dan Budi nunggu dia di mobil.
Karena hari ini adalah hari libur. Jadi banyak mobil dan motor di lapangan. Dan banyak juga santri yang duduk-duduk bersama keluarga nya. Setelah beberapa saat kemudian, Nabila balik. Dia tidak sendirian, ada 3 orang bersamanya.
"Kalian gak turun" ucap Nabila kepada Gilang dan budi
"Nih juga mau turun" jawab Budi
"Kita ke dalem dulu. Ke buru sore nanti. " ajak Gilang setelah turun dari mobil
"Oh iya, gue tinggal dulu ya. Tar gue kesini lagi, gue titip sahabat gue juga." ucap Nabila
Setelah berpamitan dengan sahabat Nabila, kami pergi ke dalem. Saat tiba di sana, Rosyid langsung peluk Nabila. Dia seperti sangat merindukan Nabila. Kemudian dia mengajak kami untuk masuk.
Kami bertemu dengan Abah. Abah menyarankan agar Nabila sekolahnya dari rumah. Karena sekarang dia sudah menikah. Tapi Nabila masih ingin bersama sahabat nya dan juga Rosyid. Karena aku tak mau melihat nya sedih. Dan aku juga sudah janji bahwa dia akan menyelesaikan sekolahnya. Jadi aku membela Nabila, supaya Abah tetap menginginkan Nabila di pondok. Dan Alhamdulillah nya Abah menerima keputusan ku dan Nabila.
Setelah itu kami kembali, tapi sebelum sampai di tempat sahabat nya. Nabila mengajakku untuk berbicara berdua di mobil.
"Kamu mau ngomong apa" tanyaku
"Ehmmmmm.... gini mas, akukan masih di pondok dan aku juga belum selesai di sini. Jadi lebih baik cincin ini kamu simpan dulu. Nanti kalau aku sudah tidak di sini lagi. Aku akan memakainya." ucap Nabila dan memberikan cincin pernikahan kami kepada ku
"Emang gak boleh pakai cincin ya" tanyaku
"Boleh sih, tapi gak enak juga sama temen. Aku udah pulang lama, eh balik-balik di antarkan sama cowok. Dan aku juga pakai cincin. Untuk saat ini, aku mohon sama kamu untuk tidak memberitahu ke sahabat-sahabatku kalau kita sudah menikah. " jawab nabila
"Ok, tapi kamu harus ingat. Setelah kamu boyong nanti, kita akan segera melakukan resepsi pernikahan kita. Karena aku mau kita tinggal serumah, di rumah kita. Dan kalau kita gak langsungin resepsi pernikahan kita. Pasti masyarakat akan berpikir negatif pada kita."
"Iya deh. Kalau gitu kita samperin mereka yuk"
Setelah selesai kami turun dari mobil. Dan mencari keberadaan sahabat Nabila.
RAEL BELLA
Termiakasih🙏
RAEL BELLA
Termiakasih🙏
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏