Cerita Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Makan Malam
Taman belakang kediaman Aryanaka telah di atur sedemikian rupa untuk acara makan malam hari ini. Para pembantu tampak hilir mudik menyiapkan segala keperluan—termasuk kudapan - kudapan spesial untuk keluarga Diharja.
Istri tuan besar Diharja, yakni Nyonya Hapsari Diharja, terkenal sangat rempong dengan segala sesuatunya. Termasuk dengan agenda makan malam yang diadakan oleh sang calon menantu.
Tidak heran, Bagas sampai menyiapkan ide makan malam di taman belakang agar terkesan istimewa dan menyegarkan mata—berharap dapat menyenangkan hati Nyonya Diharja.
"Bik Umi, semua sudah siap?" tanya Bagas kepada si pembantu senior—bertepatan dengan dirinya turun dari lantai atas dengan tubuh yang telah terbalut apik oleh outfit casual berwarna putih gading.
Bik Umi mengangguk, "Semua sudah siap Tuan. Mulai dari makanan yang kami sesuaikan dengan selera keluarga Diharja, juga ornamen - ornamen dan tata letak barang yang telah Tuan arahkan kepada kami sebelumnya."
Bagas merespon puas. Berarti tinggal menunggu beberapa menit saja untuk menyambut kehadiran orang tua Farah.
Sembari mengecek jam dengan merk Rolex yang berada di tangannya, Bagas kembali memberikan perintah terakhir sebelum makan malam dilangsungkan.
"Oh iya Bik, untuk pelayan yang mendampingi kami nanti. Pilih yang muda-muda saja ya."
Bik Umi seketika merasa terheran. Jarang sekali Bagas perduli tentang penempatan pelayan pada acara-acara tertentu. Namun kali ini untuk pertama kalinya, sang Tuan dengan lugas meminta barisan pelayan muda saja yang melayani makan malam mereka.
Ya, mungkin agar lebih cepat saja? Dan yang tua bisa beristirahat.
Bik Umi mencoba berpikir secara sederhana. Lagi pula ia menyadari betapa ribetnya menghadapi Nyonya Hapsari. Selain pemilihan menu makanan dan konsep dinner—sepertinya Tuan Bagas juga telah memikirkan bagian-bagian pendukung yang lain. Termasuk di dalamnya adalah tentang penempatan pelayan.
Langsung saja Bik Umi mematuhi titah sang Tuan. "Baik Tuan akan saya atur. Tapi, maaf Tuan, untuk Thalia, sepertinya dia tidak bisa bekerja malam ini, karena tadi sudah izin kepada saya katanya sedang sakit," terang Bik Umi kemudian.
Kabar si pembantu baru yang katanya sedang sakit, sontak membuat Bagas mengalihkan atensi.
"Sakit? Sakit apa memang?" tanya Bagas datar namun disertai pandangan mata ingin tahu—seakan mencoba bersikap biasa dan tidak perduli. Padahal di dalam hati, ingin sekali ia segera menggerakkan kaki untuk melihat kondisi mainan barunya itu.
"Oh itu, katanya sih badanya sakit Tuan, karena tadi jatuh di kamar mandi. Kasihan Tuan, tapi sudah saya suruh untuk pake balsem yang saya kasih."
Mendengar alasan yang Thalia katakan pada Bik Umi, sungguh menggelitik perut Bagas.
Jatuh di kamar mandi hingga tidak bisa berjalan? Dasar pembohong kecil.
Tentu saja wanita itu tidak bisa berjalan, karena sebelumnya Bagas-lah yang telah menggempurnya habis-habisan.
"Ya sudah biarkan dia istirahat saja. Saya mau ke depan dulu. Sepertinya sebentar lagi mereka datang."
"Baik Tuan."
Biarkan saja urusan Thalia ia sisihkan terlebih dahulu. Saat ini Bagas akan terfokus pada masalah Diharja Group.
...****************...
Meja makan panjang yang berada tepat di tengah taman belakang telah tertata anggun dengan taplak berwarna krem lembut, dihiasi lilin-lilin aromaterapi dan rangkaian bunga segar yang menambah kesan hangat sekaligus elegan. Lampu taman yang temaram turut memantulkan cahaya lembut di antara dedaunan, menciptakan suasana makan malam yang intim namun tetap berkelas
Kini Bagas telah duduk berhadapan dengan Hendra Cakra Diharja beserta istri pria tersebut.
Untuk beberapa saat, mereka hanya fokus menyantap hidangan yang tersaji. Denting pisau dan garpu menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tengah semilir angin malam.
Hapsari menjadi orang pertama yang membuka percakapan. "Masakannya enak ya Gas," ucapnya sembari meletakkan sendoknya dengan anggun. "Bumbunya pas. Cocok sekali dengan lidah Tante."
Bagas tersenyum tipis. "Saya senang kalau Tante menyukainya. Saya memang minta koki kami menyesuaikan menu dengan preferensi Tante."
"Wah, pengertian sekali calon menantu Mama ini," seru Hapsari sambil melirik suaminya dengan bangga. "Jarang loh ada laki-laki yang sedetail ini, effort banget. Gak salah, Farah pilih kamu Gas."
Hapsari masih terus memuji calon menantu-nya, sedangkan disana Hendra hanya mengangguk singkat, memilih sibuk memotong wagyu steak di piringnya.
Hapsari kembali melanjutkan, "Oh iya, ngomong-ngomong soal calon menantu… Bagaimana kelanjutan rencana pernikahan kalian? Tante sebenarnya ingin semuanya segera dipastikan. Biar gak kelamaan."
Bagas mengusap bibirnya dengan serbet sebelum menjawab, "Dari pihak saya, semua persiapan bisa berjalan kapan saja. Tinggal menyesuaikan jadwal Farah saja, Tante."
Mendengar nama putrinya disebut, Hapsari langsung menghela napas panjang.
"Itulah masalahnya," keluhnya. "Farah itu malah sok-sokan sibuk jadi relawan medis di Labuan Bajo. Mama gak melarang dia membantu orang lain, tapi masa iya sampai menunda urusan pribadi seperti ini? Dia itu sudah bertunangan, loh."
Bagas hanya menanggapi dengan senyum diplomatis. Ia sudah terbiasa mendengar keluhan serupa.
Suasana kembali hening beberapa detik, sebelum Hendra akhirnya meletakkan alat makannya dengan perlahan. Tatapannya beralih lurus kepada Bagas—tatapan yang terasa jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
"Bagas," panggilnya datar. "Om ingin bicara soal PT Diharja Mineral Group."
Bagas sudah menduga arah pembicaraan ini. Ia ikut menegakkan posisi duduknya.
"Om dengar kasus penyelidikan masih terus berjalan. Om ingin kamu mempertimbangkan untuk menahan proses hukum itu. Setidaknya sementara."
Bagas menautkan jari-jarinya di atas meja. "Maksud Om, ditahan bagaimana?"
"Kita selesaikan secara internal saja," jawab Hendra tanpa ragu. "Kerugian perusahaan akan kami tebus. Semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa perlu masuk ke pengadilan."
Bagas terdiam sesaat, mencoba menakar kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
"Maaf Om, tapi kasus ini sudah masuk ranah hukum. Saya tidak punya wewenang untuk menghentikan penyelidikan hanya karena ada kesepakatan internal."
Ekspresi wajah Hendra langsung mengeras.
"Kamu tidak lupa posisi kamu sebagai calon menantu keluarga Diharga bukan?"
"Saya tetap harus profesional, Om," balas Bagas tetap terkendali.
"Awalnya saya mengira makan malam ini hanyalah cara Om untuk mendesak saya mundur dari kasus ini. Tapi ternyata lebih parah dari itu, justru saya diminta memanipulasi prosesnya?" ujar Bagas kemudian, dengan nada kecewa.
Hapsari yang sejak tadi hanya mendengarkan, mulai terlihat gelisah. Ia menatap suaminya, lalu Bagas secara bergantian.
"Bagas, Nak," ia mencoba melunakkan suasana, "ini bukan soal manipulasi. Ini hanya soal menjaga nama baik keluarga saja kok."
"Justru karena itu, Tante, saya harus menjalankan prosesnya sesuai aturan," sahut Bagas tegas.
Kalimat yang terlontar itu sepertinya langsung menyulut bara yang sejak tadi ditahan Hendra. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Bagas dengan sorot mata tajam.
"Kamu mencintai Farah, bukan?" tanya pria paruh baya itu tiba-tiba.
Bagas mengernyit tipis, namun tetap menjawab, "Tentu, Om."
"Kalau begitu," lanjut Hendra dengan suara yang menurun namun terasa jauh lebih menekan, "kalau kamu ingin pernikahan kalian tetap direstui, kamu harus membantu menghentikan kasus itu."
Angin malam seakan berhenti berhembus. Suasana taman yang sebelumnya hangat kini terasa menyesakkan.
Bagas menatap Hendra tanpa berkedip.
"Dan kalau saya tetap tidak melakukannya?" tanyanya pelan.
Hendra menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sikap angkuh. "Kalau begitu, tidak ada pernikahan. Saya tidak sudi memiliki menantu yang menjadi musuh saya sendiri."