Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
Hari Senin pagi tiba dengan atmosfer yang jauh berbeda di kantor pusat Narendra Group. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, sebuah rapat umum pemegang saham luar biasa digelar dengan agenda tunggal. Pengenalan pemilik saham mayoritas yang baru sekaligus restrukturisasi jajaran petinggi perusahaan.
Di dalam ruang rapat utama yang megah, Arka Narendra duduk di kursi CEO miliknya dengan wajah yang tegang. Di samping kiri dan kanannya, Siska dan Maya ikut duduk dengan dalih sebagai perwakilan pemegang saham minoritas keluarga. Wajah kedua wanita itu tampak dipenuhi keangkuhan yang dipaksakan, mencoba menutupi rasa cemas yang merayap sejak skandal malam itu viral di media.
"Arka, ingat pesan Ibu," bisik Siska dengan nada mendesak tepat di telinga putranya. "Begitu Davira masuk, jangan tunjukkan kalau kita takut. Biar bagaimanapun, dia itu mantan menantu di rumah ini. Dia harus tahu posisinya."
Sebelum Arka sempat merespons, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar.
Vira Mahendra melangkah masuk dengan aura intimidasi yang begitu pekat. Pagi ini dia memilih setelan kerja formal berupa blazer hitam pekat dengan aksen garis emas di bagian kerah, dipadukan dengan celana kulot senada. Langkah kakinya yang tegas berbunyi konstan di atas lantai marmer, diikuti oleh Reno dan tiga orang pengacara korporat kelas atas di belakangnya.
Tanpa menyapa atau melirik ke arah keluarga Narendra, Vira langsung berjalan menuju ujung meja elips, kursi tertinggi yang biasanya ditempati oleh mendiang ayah Arka sebagai Komisaris Utama.
"Selamat pagi, para pemegang saham dan dewan direksi," ucap Vira, suaranya terdengar merdu namun memiliki ketegasan yang mutlak. Dia meletakkan tas dokumennya, lalu duduk dengan keanggunan yang tak terbantahkan. "Mulai hari ini, berdasarkan kepemilikan 55% saham mutlak oleh V-Tech Investment, saya resmi menjabat sebagai Komisaris Utama Narendra Group."
Siska yang tidak tahan melihat mantan menantunya duduk di kursi mendiang suaminya langsung menggebrak meja kecil di depannya. "Davira! Jaga sopan santunmu! Kamu boleh saja punya saham di sini, tapi perusahaan ini dibangun oleh keluarga Narendra! Jangan bersikap seolah-olah kamu bisa menguasai kami!"
Vira perlahan mengalihkan pandangan matanya yang sedingin es ke arah Siska. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya ada pandangan meremehkan yang teramat halus.
"Nyonya Siska," ucap Vira lirih namun menusuk. "Tolong panggil saya Ibu Vira di dalam lingkungan profesional ini. Dan kedua... jika bukan karena uang 500 miliar rupiah milik perusahaan saya yang masuk hari Jumat lalu, gedung tempat Anda berteriak saat ini sudah disegel oleh bank. Jadi, secara harfiah, saya memang menguasai Anda."
"Kamu...!" Siska hendak membalas, namun Arka buru-buru memegang lengan ibunya, menggelengkan kepala dengan wajah panik.
Vira tidak memedulikan drama keluarga tersebut. Dia membuka dokumen pertama di hadapannya dan menatap jajaran manajer keuangan.
"Mari kita mulai dengan agenda pembersihan pertama," ujar Vira datar. "Saya sudah memeriksa laporan pengeluaran operasional perusahaan selama tiga tahun terakhir. Dan saya menemukan banyak sekali kebocoran dana yang tidak masuk akal atas nama 'fasilitas keluarga'."
Vira melemparkan selembar kertas manifes ke tengah meja, tepat di hadapan Maya.
"Empat buah kartu kredit korporat yang dipegang oleh Nyonya Siska dan Saudari Maya Narendra, biaya perawatan tiga mobil mewah pribadi, serta anggaran arisan sosialita yang dibebankan pada kas perusahaan. Mulai detik ini, seluruh fasilitas tersebut resmi dicabut."
"Apa?!" Maya langsung menjerit histeris, berdiri dari kursinya dengan mata membelalak. "Kamu tidak bisa melakukan itu! Itu hak kami sebagai keluarga pemilik!"
"Anda bukan pemilik lagi, Saudari Maya. Anda hanya pemegang saham minoritas sebesar 5% yang tidak memiliki pengaruh apa pun dalam pengambilan keputusan," potong Reno yang berdiri di samping Vira dengan senyum sinisnya. "Mulai siang ini, pihak keamanan kantor akan menarik semua mobil korporat yang kalian pakai, dan semua kartu kredit tersebut sudah kami blokir secara permanen."
"Arka! Tolong bicara sesuatu! Kenapa kamu diam saja melihat Ibu dan adikmu dihina oleh wanita ini?!" tangis Siska, mengguncang-guncang bahu putranya dengan frustrasi.
Arka mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Dia menatap Vira dengan tatapan memelas sekaligus penuh amarah. "Vira... tolong jangan keterlaluan. Mereka adalah ibuku dan adikku. Apakah kamu harus membawa dendam pribadi kita ke dalam urusan pekerjaan?"
Vira menghentikan kegiatannya membaca dokumen. Dia menegakkan punggungnya, menatap Arka lurus-lurus dengan sepasang manik mata yang sedalam samudra, tanpa ada satu pun sisa kehangatan masa lalu.
"Ini bukan dendam pribadi, Tuan CEO. Ini adalah efisiensi bisnis. Perusahaan Anda hampir mati karena diisi oleh parasit yang tidak tahu cara menghasilkan uang," ucap Vira dengan penekanan yang teramat dingin. "Dan jika Anda tidak menyukai keputusan saya... pintu keluar selalu terbuka. Silakan letakkan jabatan Anda sebagai CEO, dan saya akan dengan senang hati menunjuk orang baru yang jauh lebih kompeten dari Anda sebelum jam makan siang berakhir."
Ancaman itu bagai hantaman gada raksasa yang meruntuhkan sisa-sisa harga diri Arka Narendra. Dia terdiam lemas di kursinya, menyadari bahwa di bawah kendali Vira, dia dan keluarganya kini tidak lebih dari sekadar tawanan di dalam istana mereka sendiri.