Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pengumuman gila di koridor lobi utama Fakultas Hukum menyebar secepat api yang membakar jerami kering. Dalam waktu kurang dari dua jam, status baru Aura sebagai "pacar Devanandra Bratadikara" menjadi topik nomor satu di seluruh forum gosip kampus.
Aura mencoba mengabaikan tatapan-tatapan aneh yang terus mengikutinya sepanjang sisa jam kuliah. Di satu sisi, ia merasa lega karena tidak ada lagi mahasiswa yang berani mengasingkannya atau berbisik sinis secara terang-terangan. Namun di sisi lain, atmosfer rasa takut dan segan yang kini mengelilinginya membuat Aura merasa semakin terisolasi dari kehidupan kampus yang normal.
Begitu kelas hukum pidana selesai pada pukul empat sore, Aura segera mengemasi buku-bukunya. Ia ingin cepat pulang ke rumah kos, memeriksa keadaan ibunya, dan menenangkan kepalanya yang berdenyut-denyut.
Namun, saat ia melangkah keluar dari pintu ruang kelas, sosok Devan sudah berdiri bersandar di dinding koridor. Cowok itu kembali mengenakan jaket kulit hitamnya yang legendaris, memberikan kesan berbahaya yang kontras dengan kemeja rapinya tadi pagi. Beberapa mahasiswa yang keluar setelah Aura langsung menundukkan kepala dan mempercepat langkah mereka begitu melihat Devan.
"Ayo pulang," kata Devan pendek begitu Aura berdiri di depannya.
Aura mengernyitkan dahi. "Aku bisa pulang naik angkutan umum seperti biasa, Devan. Sandiwara kita di kampus untuk hari ini sudah selesai, kan?"
"Gavin Mahendra sudah mulai menggerakkan orang-orangnya di sekitar area luar kampus," potong Devan, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang hanya bisa didengar oleh Aura. Matanya yang tajam menyapu ujung koridor sebelum kembali menatap gadis itu. "Kenzo mendeteksi dua mobil mencurigakan yang terparkir di dekat halte depan sejak siang tadi. Kalau lo pulang naik angkutan umum sendirian, lo sama saja menyerahkan diri ke tangan mereka."
Aura menelan ludah. Rasa aman yang sempat ia rasakan di dalam kelas seketika menguap, digantikan oleh kesadaran pahit bahwa ia masih berada di tengah pusaran perang klan mafia.
"Ikut gue," ucap Devan lagi, kali ini ia tidak menggenggam tangan Aura, melainkan berjalan selangkah di depan gadis itu, memosisikan tubuh tegapnya sebagai pembuka jalan sekaligus pelindung.
Aura terpaksa mengikuti langkah kaki Devan menuju area parkir belakang. Alih-alih menuju motor besarnya, Devan membawa Aura mendekati sebuah mobil jip hitam besar dengan kaca yang sangat gelap—mobil taktis yang biasa digunakan klan Bratadikara jika situasi di luar sedang tidak aman. Bram sudah duduk di kursi kemudi, sementara Kenzo berada di kursi penumpang depan dengan laptop yang menyala di pangkuannya.
"Masuk, Ra," panggil Bram dengan nada ramah yang sedikit tegang.
Aura masuk ke kursi belakang, disusul oleh Devan yang langsung menutup pintu dengan rapat. Begitu mobil jip itu melaju membelah jalanan kampus, Devan langsung menoleh ke arah Kenzo.
"Gimana pergerakan orang-orang Gavin, Ken?" tanya Devan serius.
Kenzo mengetik sesuatu di papan ketiknya sebelum memutar layar laptopnya ke arah belakang, memperlihatkan peta digital kota dengan beberapa titik merah yang berkedip di sekitar jalur menuju rumah kos Aura.
"Mereka bener-bener mengira Aura adalah kelemahan baru lo, Dev," jelas Kenzo datar. "Gavin menempatkan tiga tim pemantau di sepanjang jalur utama Distrik Tengah. Mereka sengaja gak menyerang di area kampus karena tahu itu wilayah terbuka yang dijaga ketat oleh orang-orang kita. Tapi begitu mobil ini keluar dari gerbang belakang, mereka pasti akan mencoba membuntuti."
Aura meremas tali tas ranselnya erat-erat. "Lalu bagaimana dengan ibuku? Kalian bilang rumahku aman!"
"Rumah lo aman, Aura," sela Devan cepat, memegang pundak Aura perlahan untuk meredam kepanikan gadis itu. Sentuhan tangannya yang kokoh entah bagaimana berhasil menyalurkan sedikit rasa tenang ke dada Aura yang bergemuruh. "Gue udah menempatkan tim inti klan Bratadikara di dalam rumah lo sejak siang tadi, menyamar sebagai petugas medis dan tetangga baru. Orang-orang Gavin gak akan bisa menyentuh ibu lo tanpa melewati pasukan gue terlebih dahulu."
"Tapi kita gak bisa bawa Aura langsung pulang ke rumah kosnya malam ini, Dev," tambah Bram sambil melirik kaca spion tengah. "Satu jip hitam dari klan Mahendra sudah mulai membuntuti kita sejak dua blok lalu. Kalau kita langsung menuju rumah Aura, kita sama saja membongkar lokasi area netral yang sudah kita sepakati."
Rahang Devan mengeras. Ia melihat ke belakang melalui kaca yang gelap, memastikan keberadaan mobil musuh. "Bram, putar arah menuju apartemen privat gue di Distrik Barat. Kita isolasi Aura di sana malam ini sampai Kenzo selesai membersihkan seluruh draf digital dan mengalihkan perhatian tim pemantau Gavin."
"Apartemen privatmu?" Aura terbelalak, menatap Devan dengan rasa tidak percaya. "Aku tidak bisa menginap di tempatmu, Devan! Ibuku membutuhkan aku di rumah!"
"Ibu lo sudah dijaga oleh perawat profesional dari klan gue, Ra," Devan menatap tepat ke manik mata cokelat Aura dengan intensitas yang dalam, tanpa ada maksud tersembunyi selain memastikan keselamatan gadis itu. "Ini masalah hidup dan mati. Kalau lo nekat pulang malam ini, lo bukan cuma membahayakan diri lo sendiri, tapi lo juga bakal membawa perang klan Mahendra langsung ke depan pintu kamar ibu lo yang sedang sakit. Apa itu yang lo mau?"
Pertanyaan Devan menghantam pertahanan Aura dengan telak. Ia terdiam, menyadari bahwa ia tidak memiliki argumen logis untuk membantah. Keamanan ibunya adalah prioritas utamanya, dan jika tetap tinggal di dekat Devan adalah satu-satunya cara untuk menjauhkan bahaya dari rumah kosnya, maka ia harus menerimanya.
Aura menghela napas panjang, bersandar pada kursi mobil dengan perasaan pasrah yang teramat dalam. "Baik. Tapi setelah situasi aman, kamu harus mengantarku pulang."
"Gue janji," jawab Devan lembut.
Mobil jip hitam itu bermanuver lincah membelah rintik hujan malam, melakukan beberapa kali putaran taktis di distrik komersial untuk mengecoh mobil pembuntun sebelum akhirnya masuk ke dalam area parkir bawah tanah sebuah gedung apartemen mewah yang sangat eksklusif di Distrik Barat. Tempat itu memiliki sistem keamanan tingkat tinggi dengan pemindai sidik jari dan retina di setiap akses masuknya.
Devan menuntun Aura naik menggunakan lift pribadi langsung menuju lantai teratas—penthouse miliknya. Ketika pintu lift terbuka, Aura disuguhi pemandangan sebuah ruang hunian yang sangat luas, modern, didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca-kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu kota di bawah guyuran hujan. Tempat itu tampak sangat sepi, rapi, namun terasa dingin—cerminan nyata dari sosok pemiliknya.
"Kenzo dan Bram akan berjaga di ruang kendali lantai bawah," kata Devan sambil melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos oblong hitamnya yang pas di tubuh. Ia berjalan menuju dapur bersih, mengambil dua botol air mineral dan menyerahkan salah satunya kepada Aura. "Lo bisa pakai kamar utama di sebelah kanan. Ada beberapa pakaian kasual baru yang bersih di dalam lemari yang bisa lo pakai."
Aura menerima botol air itu, berjalan perlahan menuju sofa besar di tengah ruangan dan duduk di sana. Jaket denim milik Devan yang ia pakai sejak semalam masih terasa hangat di bahunya.
"Terima kasih," ucap Aura lirih, menatap pantulan dirinya di kaca besar yang gelap.
Devan tidak langsung pergi ke kamarnya sendiri. Ia duduk di ujung sofa yang lain, menjaga jarak yang sopan dari Aura. Keheningan malam melanda ruangan luas itu, hanya menyisakan suara ketukan rintik hujan pada kaca jendela.
"Gue minta maaf, Ra," kata Devan tiba-tiba. Suaranya yang berat terdengar sangat tulus, tanpa ada nada keangkuhan atau kesombongan yang biasa ia perlihatkan di kampus.
Aura menoleh, menatap wajah tampan Devan dari samping. "Minta maaf untuk apa?"
"Gara-gara insiden kopi tumpah dan ego gila gue di perpustakaan hari itu, lo jadi terseret ke dalam dunia gue yang berdarah ini," Devan menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri yang bertato sulur hitam. "Lo harusnya cuma fokus belajar, lulus kuliah, dan hidup tenang sama ibu lo. Tapi sekarang... lo bahkan gak bisa pulang ke rumah lo sendiri karena status pacar pura-pura yang gue buat."
Aura tertegun mendengar pengakuan Devan. Di balik topeng monster mafia yang kejam dan arogan, pria di depannya ini ternyata memiliki sisi empati yang sangat dalam. Debaran halus yang sempat muncul di dada Aura di gazebo siang tadi kini kembali hadir, jauh lebih kuat dan menghentak.
"Ini bukan sepenuhnya salahmu, Devan," balas Aura lembut, sebuah senyuman tipis yang tulus akhirnya muncul di wajah manisnya. "Aku yang terlalu cerdas sampai bisa membaca celah hukum di laporan magangmu. Kalau aku tidak mengeditnya, mungkin kamu yang sekarang berada di dalam masalah."
Devan menoleh, menatap senyuman Aura yang tampak begitu indah di bawah temaram lampu apartemen. Untuk pertama kalinya, Devan merasakan sebuah kedamaian yang murni menyelimuti hatinya yang selama ini penuh dengan kegelapan dan dendam klan.
"Gue bakal mastiin badai ini cepat selesai, Ra," bisik Devan, matanya mengunci pandangan Aura dengan intensitas yang membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa hangat. "Dan selama badai itu berlangsung... gue gak akan membiarkan satu peluru pun menyentuh lo."
Di tengah gemuruh badai malam Distrik Barat, di dalam apartemen yang sunyi itu, sandiwara pacaran yang mereka mulai di kampus perlahan-lahan mulai mengaburkan batas antara kebohongan taktis dan sebuah perasaan baru yang murni—sebuah romansa berbahaya yang tumbuh subur di antara sang bad boy mafia dan si good girl akademis.