Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
POV OUTHOR
Setelah dirasa semua selesai, Nisya memilih untuk lekas pergi dari rumahnya. Ketika membuka pintu, ia mendapati mertuanya sudah bangun dan tengah menatapnya dengan tajam.
"Baru keluar kamar kamu? Nggak tau suami udah bangun malah istrinya baru keluar kamar bukannya nyiapin sarapan!" katanya.
Tanpa memperdulikan perkataan mertuanya, Nisya mengeluarkan koper kecil miliknya dan juga kedua anaknya dari dalam kamar. Hal itu membuat Ibu mertuanya menyeritkan kening dan menatapnya penuh tanya.
"Udah siap kamu? Mau aku anterin atau gimana?" tanya Gani.
"Nggak usah, aku udah pesen taksi online!" kata Nisya tanpa menghentikan pekerjaanya, bahkan Gani tidak ada niat untuk membantunya sedikitpun.
"Memang dia mau kemana Gan? Ada mertua dan keponakannya kok dia malah mau pergi, nggak tau diri banget!" kata mertua Nisya dengan sinis.
"Nisya mau kerumah Mama, Bu. Ada acara disana!" kata Gani mencoba membela Nisya.
"Halaahh pasti alasan doang itu, bilang aja males dan merasa direpotkan dengan adanya kita dirumah ini. Emang kurang ajar istri kamu itu Gan!" kata Ibu Mertua membuat Nisya kesal.
"Syukurlah kalau Ibu sadar. Aku memang malas dan capek jadi budak kalian dirumah sendiri, mendingan aku liburan di rumah Mama seperti yang udah aku rencanakan dari pada terjebak jadi pembantu dirumahku sendiri" kata Nisya membuat Ibu Mertuanya membelalakan mata kara Nisya membalas ucapanya. Nisya yang selama ini dia kenal selalu diam setiap dia mengelurkan perkataan pedas, kali ini justru menjawab dengan pedas juga.
"Kamu... Sudah berani melawan kamu ya! Lihat Gani istri kamu itu, sudah berani kurang ajar dengan Ibu!" kata Ibu Mertua Nisya pada putranya.
"Nisya sudahlah jangan menjawab perkataan Ibu, nggak enak kalau didengar tetangga!" kata Gani seolah menjadi penengah.
"Kamu denger kan tadi siapa yang lebih dulu mulai, udah deh Mas ngga perlu banyak drama. Kalau kamu ngga bisa bela aku didepan mereka, biarkan aku membela diriku sendiri dengan cara aku!" kata Nisya.
"Bukan begitu Nis...."
"Benar-benar kurang ajar! Bahkan pada suami sendiri pun kamu berani berkata seperti itu, istri macam apa kamu! Benar-benar tidak pantas disebut istri!" kata Ibu Mertua Nisya membuat perempuan itu tersenyum kecut.
"Denger kan Mas, betapa menyakitkannya perkataan ibumu itu untukku. Kamu masih meminta aku diam setelah dia merendahkan aku? Asal kamu tau Mas, aku bukan lagi Nisya yang dulu yang akan diam aja ketika direndahkan oleh ibumu. Aku nggak akan lagi mengalah dengan setiap perkataannya, mungkin kamu baru mendengar kali ini tapi aku? Sudah sering aku dengar dari mulut ibumu itu yang terus merendahkan kan aku!" kata Nisya menatap Gani dengan tajam.
"Alah lebay, Ibu juga nggak akan seperti ini kalau kamu nggak kurang ajar dan nggak membantah perkataan ibu. Sekarang mana? bukannya kemarin Ibu bilang sama kamu Gan kalau hari ini kami ingin makan rendang, apa kamu ngga sampaikan sama istri kamu itu. Oiya di kulkas juga cemilan sudah habis, isi kulkas sudah kosong. Apa kamu sudah isi lagi?" tanya ibu mertua membuat Nisya dan Gani saling pandang, kemudian Nisya tersenyum kecut.
"Silahkan Ibu minta saja pada Mas Gani, hari ini aku sudah ada janji akan pergi. Mas, aku jalan dulu karna taksi online pesanan aku sudah sampai!" kata Nisya dengan sopan.
"Heh... Heh.. Mau kemana kamu? Cepat balik, siapa yang akan masak untuk kami kalau kamu pergi. Nisyaaa... Hey,,,, kembalii" teriak Ibu Gani yang tidak di hiraukan oleh Nisya.
Nisya masuk ke dalan taksi online setelah kopernya masuk kedalam bagasi, begitu juga dengan Adila yang duduk di sebelahnya.
"Oma kenapa marah-marah begitu Bun? Kita kan cuma mau kerumah Uti, emangnya kenapa?" tanya Adila dengan polos.
"Nggak apa-apa sayang, kamu jangan pikirkan ya. Yang penting kita hari ini kerumah Uti sampai kamu masuk sekolah nanti" kata Nisya yang mendapat anggukkan kepala dari Adila.
****
Sementara itu dirumah, Gani masih mendapatkan kemarahan dari Ibunya. Ibu Gani tidak terima jika Gani mengizinkan Nisya pergi kerumah Mama nya disaat ia ada dirumah itu.
"Kenapa kamu izinkan si Nisya itu pergi kerumah Mamanya? Kamu kan tau selama liburan ini kami akan tinggal disini, meskipun nggak kemana-mana tapi kamu bisa berleha-leha melepas penat atas pekerjaan dirumah!" kata Ibu Gani pada anak lelakinya.
"Maaf Bu, tapi kepergian Nisya kerumah orangtuanya memang sudah dia rencanakan dari jauh-jauh hari. Kan tadi Gani sudah bilang sama Ibu kalau mereka sedang akan ada acara, jadi Nisya harus berada dirumah orangtuanya" kata Gani memberikan pengertian pada Ibu nya.
"tapi tidak disaat kami lagi ada dirumah ini, seolah-oleh dia mengusir kami secara halus tau nggak!" kata Ibu Gani masih dengan wajah tak terima.
"Mengusir secara harus bagaimana sih bu, kan di sini ada Gani. Hari ini Gani libur loh bu, jadi biarlah gantian Gani yang akan memasak untuk kalian. Tapi... Ya bukan rendang, karna Gani tidak memiliki uang untuk membuat makanan itu" kata Gani membuat Ibu nya berdecak kesal.
"Tadi kenapa kamu nggak minta yang sama istri kamu, keenakan banget dia. Nanti di rumah orangtuanya Nisya pasti menghamburkan uang itu untuk mereka sementara kita di sini diberikan makan seadanya" kata Ibu Gani.
"Mana mungkin bu, Nisya juga kesana bawa uang pas-pasan karna kita tidak punya uang banyak setelah ngambil KPR rumah ini!" kata Gani.
"Itu menurut kamu, kita kan mana tau. Terua gimana? Ibu pengen banget makan redang, Gani!" kata Ibu Gani dengan wajah memelas.
"Yaa mau bagaimana lagi Bu, Gani nggak ada uang buat beli daging dan bumbu lainnya. Setiap bulan Gani hanya pegang untuk bensin dan uang makan siang, sisanya sudah dipegang sama Nisya untuk kebutuhan kami" kata Gani membuat Ibu nya berdecak kesal.
"Yasudahlah, kalau begitu sekarang kamu belikan kami sarapan sana. Sebentar lagi kakak dan keponakan kamu pada bangun, mereka pasti mau langsung sarapan!" kata Ibu Gani membuat lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"kalau sarapan untuk ibu saja Gani bisa belikan bu, tapi kalau untuk semuanya.... Uang Gani tidak cukup. Belum lagi, Gani masih harus menyisihkan uang bensin sampai gajian nanti" kata Gani.
"Astagaaa kamu ini, suami seperti tidak ada harga dirinya sama sekali. Semua keuangan kamu berikan pada istri kamu dan akhirnya kanu ditinggal tanpa uang dan bahan masakan kaya gini, terus kita mau makan apa Gani?" kata Ibu Gani memasang wajah garang.
"Ya kalau kalian masih mau di sini ya harus beli makanan sendiri, Gani nggak bisa ngasih kalian makan. Lagian bahan makanan yang di siapkan Nisya untuk satu minggu itu sudah habis kalian habiskan dalam beberapa hari, jadi Nisya nggak akan mengelurkan untuk isi kulkas itu lagi sampai waktu belanja tiba" kata Gani membuat Ibunya membelalakan mata.
"Astagaaaa perhitungan sekali istri kamu itu Gani, kalau begini caranya terus untuk apa kami masih disini? Memang bener-bener istri kamu itu, dia mau mengusir kita secara halus!" kata Ibu Gani. Perempuan paru baya itu mencoba membangunkan anak perempuannya dengan menepuknya secara perlahan.
"Lika... Lika... Bangun dulu, Lika!" kata Ibu Gani membuat perempuan itu membuka kelopak matanya.
"Ada apa bu?" Tanyanya dengan mata yang masih tertutup.
"Minta uang kamu sini, kamu mau sarapan apa nggak?" tanya Ibu Gani dengan nada ketus.
"Loh, kok pake uang Lika sih bu? Kan kita kesini buat liburan sekaligus menghemat uang belanja, kenapa justru minta uang ke Lika?" kata Lika mengucek kedua matanya. Ibu Gani memelolotkan mata mendengar perkataan anak perempuannya yang tanpa sengaja membuka niatnya liburan dirumah Gani.
"Apa maksudnya Bu?" tanya Gani yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Nggak ada apa-apa. Udah kamu diam Lika, cepat mana uang kamu sini. Hari ini Nisya pergi kerumah Mama nya, jadi selama Nisya pergi kita harus mengeluarkan uang sendiri untuk makan karna adik kamu pun tidak punya uang sementara bahan masakan di kulkas sudah habis!" kata Ibu Gani membuat mata Lika membulat sempurna.
"Ta-tapikan...."
Bersambunggg....
****
Hai guys, selamat pagi menjelang siang yaaa. Ramaikan yaa novel ini, jangan lupa like, komen, vote dan share yaa😇🥰