NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Tanggal dua belas Juli jatuh pada hari Minggu, tetapi Kiana tetap bangun dengan alarm kantor.

Ia baru tidur lewat pukul dua karena membaca draft RUPS dari Fang, lalu sempat bermimpi tentang tiga nama yang ia tulis semalam. Hansen Lim, Firman Hoo, Hans Kei. Tiga pria dari tiga pintu berbeda, semuanya membawa rahasia yang tidak bisa ia dorong dengan paksa.

Saat keluar dari kamar, ia berhenti di ambang pintu.

Ruang tamunya sudah rapi.

Bukan rapi seperti dibersihkan ART. Ini rapi dengan ketelitian yang membuat orang normal merasa sedang dinilai.

Selimut tipis yang semalam ia pakai di sofa terlipat menjadi balok persegi sempurna di sandaran kursi. Bantal sofa disusun tegak dengan jarak sama. Mug kosong sudah dicuci dan ditaruh terbalik di rak. Di meja kecil, dokumen RUPS yang ia tinggalkan berantakan kini tersusun menurut warna sticky note.

Di kamar mandi tamu, handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan tangan terlipat tiga bagian persis. Sikat gigi baru yang ia simpan untuk cadangan berdiri sejajar dengan pasta gigi, seperti dua prajurit kecil menunggu inspeksi.

Kiana menatap semua itu cukup lama.

Lalu pintu dapur terbuka.

Hans keluar membawa piring berisi roti telur dan irisan alpukat. "Kamu bangun."

"Kamu masuk kapan?"

"Tadi pagi. Kamu buka pintu, lalu langsung balik tidur."

Kiana mengerutkan dahi. Ingatan samar tentang bel, wajah Hans, dan suara "tidur lagi" muncul seperti cuplikan video rusak.

"Aku buka pintu?"

"Kamu bilang, 'Kalau bukan kebakaran, jangan ganggu.'"

Kiana menutup wajah dengan satu tangan.

Hans meletakkan piring di meja, wajahnya tetap datar, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Jangan ketawa."

"Belum."

"Kamu sudah hampir."

"Makan dulu."

Kiana duduk, tetapi matanya kembali pada selimut yang terlipat seperti benda pameran.

Ia mengeluarkan ponsel diam-diam, memotret selimut itu dari samping, lalu mengirim ke Vani.

Kiana: Vani, lo pernah lihat selimut dilipat pemadam kebakaran kayak gini?

Balasan Vani datang bahkan sebelum Kiana sempat menggigit roti.

Vani: Itu bukan pemadam, Kia. Itu tentara.

Kiana tersedak kecil.

Hans langsung menggeser gelas air ke depannya. "Pelan."

Kiana minum, lalu meletakkan ponselnya telungkup. "Vani bilang lipatanmu menakutkan."

"Dia selalu berlebihan."

"Dia bilang itu tentara."

Gerakan Hans mengoleskan sambal di rotinya berhenti sesaat.

Hanya sesaat.

"Di pos juga harus rapi."

"Handuk harus tiga lipatan?"

"Kalau dua, tebal sebelah."

"Sikat gigi juga harus sejajar?"

"Supaya gampang diambil."

Kiana menatapnya tanpa berkedip. "Kamu punya jawaban untuk semua hal."

"Tidak semua."

"Contohnya?"

Hans menatap piringnya, lalu berkata, "Kenapa kamu suka kerja sampai lupa tidur."

Kiana terdiam.

Pertanyaan itu bukan jawaban, tetapi anehnya membuat dadanya hangat.

Siang itu, Hans mengajaknya ke supermarket di lantai dasar kompleks apartemen. Alasannya sederhana: kulkas Kiana hanya berisi telur, dua botol air mineral, sisa jeruk, dan satu kotak cokelat yang sudah lewat tanggal seminggu.

"Itu masih aman," bantah Kiana saat Hans membuang cokelatnya.

"Tanggalnya sudah lewat."

"Seminggu saja."

"Bakteri tidak ikut kalender kamu."

"Kamu cerewet."

"Kamu ceroboh."

Mereka turun dengan daftar belanja pendek yang akhirnya menjadi panjang begitu melewati rak sayur.

Di rak buah, Hans memilih jeruk satu per satu, menimbangnya di telapak tangan sebelum memasukkan ke plastik. Kiana baru sadar ia mengambil jenis yang sama dengan jeruk yang pernah ia habiskan saat sarapan.

"Kamu ingat aku suka yang ini?"

"Kamu makan paling cepat."

"Itu observasi atau laporan intelijen?"

"Fakta lapangan."

Kiana menatapnya beberapa detik, lalu mengambil satu apel hijau dan memasukkannya ke troli. "Kalau begitu catat juga, aku suka apel yang asam."

Hans mengambil dua lagi tanpa bertanya.

Ia mendorong troli di sisi luar, selalu menempatkan tubuhnya di antara Kiana dan jalur orang lewat. Saat seorang bapak membawa galon hampir menabrak bahu Kiana, tangan Hans sudah lebih dulu menarik troli mundur dan tubuhnya maju setengah langkah.

Kiana menoleh.

"Apa?"

"Kamu selalu berdiri di sisi luar."

"Troli lebih mudah dikontrol."

"Di rak bumbu juga?"

Hans mengambil kecap asin dan kecap manis dari rak. "Kamu mau yang mana?"

"Jangan ganti topik."

"Aku tanya kecap."

"Yang manis. Tapi jangan ganti topik."

Ia memasukkan kecap manis ke troli. "Topik selesai."

Kiana ingin memukul lengannya, tetapi melihat luka bakar yang masih tertutup perban tipis, tangannya berhenti di udara. Hans menangkap gerakan itu. Matanya turun ke perban, lalu kembali ke wajah Kiana.

"Sudah hampir sembuh."

"Hampir bukan berarti boleh dipukul."

"Kamu memang mau pukul?"

"Tadi iya."

"Nanti kalau sembuh."

Kiana tidak tahan lagi dan tertawa.

Tawa itu ringan, kecil, tetapi cukup membuat beberapa orang di lorong menoleh. Kiana segera menunduk, pura-pura membaca label saus tiram, sementara Hans meletakkan satu botol ke troli seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dekat kasir, Kiana melihat Hans mengambil sebungkus permen mint tanpa gula.

"Kamu suka itu?"

"Lumayan."

"Kamu tidak pernah beli cokelat atau kue."

"Tidak terbiasa."

"Tidak suka manis?"

Hans membayar dengan uang tunai, menerima kembalian, lalu baru menjawab, "Waktu latihan dulu tidak boleh makan gula sembarangan. Lama-lama malas."

Kiana memegang kantong belanja.

Latihan.

Kata itu keluar terlalu natural, terlalu cepat. Hans sendiri tampaknya menyadari. Ia mengambil dua kantong terberat dari troli, wajahnya tetap tenang tetapi rahangnya mengeras sedikit.

"Latihan apa?" tanya Kiana.

"Latihan fisik di pos."

"Pemadam tidak boleh makan gula?"

"Kalau dekat jadwal tes kebugaran."

"Setiap hari?"

Hans menatap pintu keluar supermarket. Di luar, motor kurir berjejer, anak kecil menangis minta es krim, seorang ibu menawar harga buah potong. Semua begitu biasa, sampai kebohongan kecil itu terdengar lebih jelas.

"Kia," katanya rendah, "tidak semua kebiasaan punya cerita yang enak."

Kiana menutup mulutnya.

Ia bisa memaksa. Ia bisa memakai semua pertanyaan yang sejak semalam tersusun di kepala. Firman Hoo. Paket custom. Spion tiga kali. Parkir menghadap keluar. Permen mint. Latihan.

Tapi wajah Hans saat mengucapkan kalimat itu bukan wajah orang yang sedang meremehkannya.

Itu wajah orang yang menyimpan pintu terkunci karena di baliknya ada sesuatu yang belum sanggup disentuh.

"Oke," kata Kiana akhirnya. "Aku tidak tanya sekarang."

Hans menatapnya.

"Tapi bukan berarti aku berhenti memperhatikan."

"Aku tahu."

"Bagus."

Malamnya, setelah belanjaan masuk kulkas dan Hans memasak sup jagung sederhana, mereka duduk di balkon apartemen Kiana. Jakarta di bawah mereka tampak seperti lautan lampu yang tidak pernah benar-benar tidur.

Angin malam membawa bau hujan jauh. Kiana memeluk lutut di kursi, sementara Hans duduk di lantai balkon, bersandar pada dinding. Jarak mereka tidak jauh. Kalau Kiana menurunkan tangan, ujung jarinya bisa menyentuh bahu Hans.

"Kamu selalu begini?" tanya Kiana.

"Begini apa?"

"Rapi. Waspada. Tidak makan manis. Berdiri di sisi luar. Parkir menghadap pintu keluar."

Hans diam cukup lama sampai Kiana mengira ia tidak akan menjawab.

"Dulu," katanya akhirnya, "orang rumah tidak terlalu suka jalan yang kupilih."

Kiana menoleh pelan.

Hans menatap lampu kota, bukan dirinya.

"Mereka pikir aku membuang sesuatu yang seharusnya kupakai. Nama, kesempatan, hidup yang lebih mudah." Suaranya datar, tetapi di ujung kalimat ada sesuatu yang aus. "Mungkin mereka benar. Mungkin aku memang membuangnya."

"Kamu menyesal?"

Ia menggeleng. "Tidak."

"Kalau tidak menyesal, kenapa terdengar seperti luka?"

Hans menunduk sebentar. "Karena tidak semua pilihan yang benar terasa ringan."

Kalimat itu membuat Kiana tidak bisa berkata apa-apa.

Ia memikirkan Mama yang memilih menanggung rasa bersalah sendirian. Memikirkan dirinya sendiri yang memilih menikah demi warisan, lalu pelan-pelan menemukan rasa hangat yang tidak masuk rencana. Memikirkan Hans, pria yang duduk di lantai balkon seolah dunia luar bukan masalah, padahal tubuhnya penuh kebiasaan orang yang pernah hidup dalam bahaya.

Kiana tidak bertanya lagi.

Ia hanya menggeser kursinya sedikit lebih dekat.

Bayangan mereka di kaca balkon bergerak pelan, lalu berhenti dalam jarak yang hampir bersentuhan.

Hans menoleh sekilas, tetapi tidak menjauh.

Untuk malam itu, pertanyaan tentang siapa dia tetap ada.

Namun Kiana mulai merasa, mungkin suatu hari ia tidak hanya ingin mengetahui rahasianya.

Ia ingin tahu luka macam apa yang membuat pria itu memilih diam.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!