NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Hijjatul Helna

Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?

Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?


Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam Masa Lalu

31 Maaf, Aku Menyerah!

Soraya tampak tidur dengan lelap. Terlihat kelelahan di wajahnya. Wajar saja, semalam si kecil Hana agak rewel. Tubuhnya demam karena itu dia menangis sepanjang malam.

Ardan sudah meminta Soraya agar bergantian dengannya. Tapi Soraya melarang dengan alasan, besok Ardan akan menghadiri rapat penting. Lagipula si kecil lebih anteng di tangannya daripada bersama Ardan.

Alhasil, si Hana memang membuat Soraya harus bergadang. Si kecil mungkin baru bisa tidur pukul 03.00 pagi.

Ardan tak tega membangunkan istrinya. Pagi ini dia harus segera ke kantor karena ada rapat penting dengan pemegang saham.

Setelah selesai memasang dasi yang biasanya dipasangkan oleh Soraya, Ardan mendekati tempat tidur. Menatap Soraya yang masih terlelap. Matanya terpejam dengan damai. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai indah di atas bantal.

Sudah tak terhitung berapa banyak rasa syukur di hati Ardan karena Tuhan begitu pemurah kepadanya. Memberikan seorang bidadari ke dalam hidupnya yang kacau.

Kemudian melengkapi kehidupan mereka dengan putri yang sangat cantik dan menggemaskan. Meskipun seringkali membuat Soraya kewalahan, namun istrinya itu tetap menolak setiap kali dia mengusulkan untuk menyewa babysitter.

"Aku ingin merawatnya sendiri. Aku ingin mengikuti semua tumbuh kembangnya. Masa- masa pertumbuhannya yang tak akan terulang. Aku tak mau kehilangan momen berharga itu." kata Soraya ketika menolak usulannya tentang babysitter.

"Lagipula aku tak yakin menyerahkan putri kesayangan kita pada orang lain. Aku takut mereka memperlakukannya dengan buruk. Bagaimana jika dia mencontohkan hal yang tidak baik? Atau mengajarkan sesuatu yang buruk? Oh, tidak! Lebih baik putri kita bersamaku saja." lanjut Soraya lagi.

"Ya ... Kalau kau sudah memutuskan seperti itu, aku bisa apa? Selama kau merasa mampu melakukannya, silakan saja! Tapi ingat, jika kau merasa kelelahan menjaganya, kau harus bilang padaku. Jadi, kita bisa mencari babysitter untuk membantumu." kata Ardan sambil meremas lembut jemari Soraya.

"Tentu sayang! Dia putri kita. Aku tak akan tenang menyerahkannya pada orang lain."

"Maksud aku babysitter itu hanya membantumu. Kau bisa selalu di samping putri kita."

"Mungkin nanti. Sekarang aku merasa masih belum membutuhkan bantuan babysitter." itu kalimat terakhir Soraya karena Ardan tak lagi mencoba membujuknya.

"Lihatlah sayang! Bagaimana sekarang kau tidur begitu lelap setelah semalaman putri kita menyita perhatianmu." gumam Ardan sambil mencium kening Soraya.

Kemudian dia berpindah ke box bayi di samping tempat tidurnya. Box itu memang sengaja mereka tempatkan di kamar mereka karena Soraya memintanya. Padahal kamar bayi tepat berada di sebelah kamar mereka, namun Soraya merasa tak sanggup jauh dari sang putri.

Ardan mengabulkan kehendak Soraya. Toh, Hana putri kandungnya. Dia malah sangat bersyukur karena Soraya begitu menyayangi putri mereka.

"Tidur yang nyenyak ya, sayang! Itu Momy juga lagi tidur. Kasihan Momy, tadi malam menemani Hana bergadang."

Ardan mengelus lembut pipi tembem putrinya dengan jari telunjuknya. Si kecil Hana tampak tidur pulas, tidak merasa terganggu dengan elusan Ardan di pipinya.

***

Sebuah ruang kerja yang cukup besar, dengan dinding kaca yang mengarah ke taman bunga, menampilkan pemandangan indah dari luar ruangan.

Seorang pria setengah baya sedang duduk di belakang meja kerja. Dia nampak memperhatikan layar iPad yang menampilkan laporan secara rinci suatu objek yang selama ini diintainya.

Di depannya, seorang pria muda menunggu dengan sabar, tak berani mengganggu perhatian pria itu dari layar.

"Bagus! Aku senang dengan hasil yang sudah kamu capai. Terus pantau perkembangannya, dan laporkan padaku. Kau sudah tahu kan jalur pribadi yang langsung kepadaku?"

"Apakah kita hanya akan memantau saja?" tanya pria muda itu.

"Tidak! Kita akan mencari waktu yang tepat untuk bertindak. Selain itu, wanita itu juga tidak sekuat dan memiliki pengaruh seperti neneknya. Kita bisa dengan mudah menggulingkannya."

Pria muda itu mengangguk.

"Tapi Tuan, kita masih belum tahu siapa yang berada di belakang wanita itu."

Pria di depannya mengerutkan dahinya.

"Kau benar! Kita juga harus menyelidiki hal itu. Aku tak mau kecolongan. Kita tidak tahu apa motif orang itu menolong setiap pergerakan Soraya. Jika aku perhatikan lagi. Soraya mengalami banyak kemajuan. Itu pasti karena banyak campur tangan orang itu. Selain itu, Soraya juga tidak bertindak seperti seorang boneka. Semua sepak terjangnya alami, tidak terkesan kalau sedang dalam kendali seseorang."

"Lalu bagaimana menurut Tuan?"

"Kita akan pantau lebih lanjut. Jangan bertindak gegabah yang dapat menimbulkan kecurigaan. Aku tak mau kedokmu terbongkar. Sulit menyusupkan seseorang ke dalam lingkup mereka tanpa dicurigai dan sekarang kau sudah mendapatkan kepercayaan itu. Dan kita tidak bisa mempertaruhkan kepercayaan itu untuk hal yang setengah-setengah. Untuk sementara tetap lakukan pemantauan. Jangan lakukan apapun! Tetap seperti biasa. Aku akan menghubungi jika aku memerlukanmu."

"Baiklah, Tuan! Apakah saya masih diperlukan di sini?"

"Tidak! Lebih baik kau kembali. Ingat! Jangan keluar lewat pintu utama. Itu bisa menimbulkan perhatian dan kecurigaan. Keluarlah dari pintu pelayan seperti biasa."

"Baik, saya permisi!"

Pria itu menundukkan kepalanya sebagai tanda permisi.

Setelah pria muda itu keluar dan menutup pintu rapat, pria itu berdiri dan mengambil sebotol wine dan menuangkan ke dalam gelas di atas meja.

Tangannya meraih gelas dan menggoyangkan sedikit, mendekatkan gelas ke bibirnya dan menyesap minumannya.

Melangkah ke depan dinding kaca sambil memandang taman bunga yang sedang menampilkan bunga-bunga yang bermekaran.

Ingatannya melayang ke masa lalu. Masa yang indah saat wanita yang dia cintai masih hidup. Wanita itu sangat menyukai bunga. Dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menanam dan merawat bunga di taman bunga kesayangannya.

Setiap kali dia menemui wanita itu, pasti wanita itu sedang merawat bunga-bunganya. Rambutnya yang agak berantakan dan butiran peluh di dahinya tak mengurangi kadar kecantikannya. Malah saat dia tersenyum di sana seperti seorang bidadari yang sedang berada di tengah hamparan bunga.

Pria itu memejamkan matanya saat bayangan wanita itu seolah nyata berada di taman bunga yang ada di depannya. Sedang menatap ke arahnya, tersenyum manis seperti biasanya dan melambaikan tangan menyuruhnya untuk mendekat.

Hemm ... Kerinduannya menyebabkan halusinasi seakan nyata.

Dia menyesap lagi minumannya. Menikmati rasa kecut dan panas dari minuman yang mengalir di tenggorokannya.

Sebutir airmata lolos di sudut matanya.

"Mengapa? Mengapa harus berakhir seperti ini? Mengapa bukan aku saja yang mati?"

Pria itu meremat kuat gelas di tangannya, saking kuatnya membuat gelas itu pecah dan melukai tangannya, mengalirkan cairan merah pekat.

"Inikah hukuman untukku? Tapi aku rela seandainya masih bisa melihat kau hidup dan menemani diriku. Kejamnya dirimu, meninggalkan diriku sendiri! Alana!" gumam pria itu sedih, tak menghiraukan asistennya yang melangkah masuk dan segera berteriak memanggil pelayan begitu melihat tangannya yang terluka.

Bersambung...

**Jangan lupa like ya!

Buat yang mau difollow, tinggal az pesan di kolom komentar. Pasti di folback!

Terima kasih buat yg sudah mampir di sini!

Jangan bosan ya! Maaf, update nya ga bisa tiap hari karena aku harus bagi waktu dengan pekerjaan, urusan rumah tangga dan anak-anak**.

1
Ghiffari Zaka
iZhin mampir Thor🙏🙏🙏
Nelly oktavia
siapa yng bersma soraya
Nelly oktavia
banyak cerita yang belom terungkap
Nelly oktavia
ada pa ini semua rencana Soraya
Nelly oktavia
perpisahan itu membuat kamu bahgi lakukan
Siti Masitah
terlalu mudah luluh
Siti Masitah
trauma sih trauma tapi doyan ngelonte...
Siti Masitah
gitu aja....
Siti Masitah
q rasa soraya wanita yg sangaaat botol
Rehan Rehan
👍👍
Yenisia Afila
Datang2 ngaku nenek mau ambil hal selama ini gk ada konstribusi dlm hidupnya, dasar wanita edan
Wasdiah Mahfud
Kecewa
Raden Roro Natasya
aku punya temen persis dlm cerita ini, tp terbalik, papi nya asli brazil, maminya Tionghoa kelahiran Indonesia... wajah nya lbh ke Amerika latin dr pd ke Tionghoa... cakep kok dia muslim sekeluarga...
Rini Haryati
ceritanya keren
sukses
semangat
mksh
Dewi Kesumawati
tapi kamu tetap masih terlalu baik. karena siksaan itu tidak lama dirasakan marsha. hehe, sayang sekali
NAZERA ZIAN
aku mampir ya Thor. mampir juga di karya ku. "GADIS MASA LALU" Siapa tahu suka.. 😊😊🙏🙏
cocoms
bagus alur ceritanya
Fe☕
Done 💃
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor lnjjt
Sri Wahyuni
yg slah anak y yg d hancurkn perusahaan ortu y ga etis lah sm az jhat y mlah soraya kya iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!