NovelToon NovelToon
Izin Menikah Mengubah Takdir

Izin Menikah Mengubah Takdir

Status: tamat
Genre:Tamat / Poligami
Popularitas:112.5k
Nilai: 4.7
Nama Author: Minami Itsuki

Jika ada yang bertanya apa yang membuatku menyesal dalam menjalankan rumah tangga? maka akan aku jawab, yaitu melakukan poligami atas dasar kemauan dari orang tua yang menginginkan cucu laki-laki. Hingga membuat istri dan anakku perlahan pergi dari kehidupanku. Andai saja aku tidak melakukan poligami, mungkin anak dan istriku masih bersamaku hingga maut memisahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minami Itsuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 MENERIMA KENYATAAN

Ibu terdiam sejenak, matanya yang biasanya penuh keceriaan kini tampak kosong, seperti memproses informasi yang baru saja aku berikan. Ayah juga tidak langsung menjawab, hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca.

Akhirnya, ibu membuka mulutnya, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Reza..." Dia memanggil namaku pelan, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. "Apa maksudmu, sindrom 1000 wajah?"

Aku menahan napas, mencoba menata kata-kata yang tepat. "Dokter bilang... ini adalah kondisi langka. Wajahnya mungkin terlihat berbeda, dan ada beberapa masalah dengan perkembangan tubuhnya. Tapi, ibu, ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya keadaan yang harus kita terima."

Ibu menghela napas panjang, tubuhnya tampak sedikit terbungkuk. "Ibu... ibu hanya ingin cucuku tumbuh sehat, Reza. Ibu tak pernah membayangkan harus mendengar hal seperti ini. Tapi..."

Ibu terdiam, matanya menatap kosong ke arah lantai. Sepertinya kata-kataku belum bisa menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Lalu, perlahan ia berbicara lagi, suaranya nyaris berbisik, “Ibu selalu membayangkan cucuku akan tumbuh sehat, bisa bermain dan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Tapi, sekarang... apa yang harus ibu lakukan dengan keadaan ini?”

Aku merasa sesak di dada mendengar itu. Ibu benar, ini adalah kenyataan pahit yang tak mudah diterima. “Ibu... kita tidak bisa memilih apa yang terjadi. Tapi satu hal yang pasti, kita akan tetap mencintainya, merawatnya, sama seperti cucu lainnya.”

Ibu memejamkan matanya, dan aku bisa melihat air mata menggenang di matanya. “Ibu tahu, Reza... ibu tahu. Tapi ini bukan seperti yang ibu bayangkan. Ibu ingin cucuku tumbuh sempurna, sehat, bisa berlari, bermain, seperti anak-anak lain. Kenapa harus begini?”

Hatiku terasa hancur melihat ibu seperti ini. Aku mengerti kekecewaannya, meskipun aku tak bisa sepenuhnya merasakannya. “Ibu, aku... aku juga tidak menginginkan ini. Tapi kita harus menerima kenyataan dan memberikan yang terbaik untuknya. Anakku ini layak mendapatkan kasih sayang kita, tidak peduli seperti apa kondisinya.”

Setelah aku berbicara dengan ibu, aku merasakan beban yang lebih ringan, meskipun hati ini masih terasa berat. Aku tahu, setelah ini, aku harus berbicara dengan Laras. Dia harus tahu tentang kondisi anaknya, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahunya tanpa membuatnya terlalu terbebani.

Aku melangkah ke ruang rawat inap di rumah sakit, tempat Laras masih terbaring dengan tubuhnya yang lemas, pemulihan pasca-operasi masih terlihat jelas. Wajahnya sedikit pucat, namun matanya berbinar saat melihatku masuk. Dia tersenyum lemah, namun aku bisa merasakan kecemasan yang sama-sama kami rasakan.

“Bagaimana... anak kita?” tanya Laras, suara lembutnya penuh harap.

Aku mendekat dan duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya erat. "Laras, aku ingin kamu mendengarkan dengan tenang, ya. Dokter sudah memberi tahu kita tentang kondisi anak kita. Anak kita lahir dengan sindrom yang disebut sindrom seribu wajah."

Laras mengerutkan keningnya, bingung dan mungkin merasa sedikit terkejut. "Sindrom seribu wajah? Apa itu? Bagaimana bisa..." Suaranya bergetar sedikit, menunjukkan ketegangan yang mulai muncul.

Aku menelan ludah, berusaha menenangkan diriku dan menjelaskan dengan hati-hati. "Sindrom ini adalah kelainan langka, di mana wajah bayi bisa tampak berbeda dari bayi lain. Ada beberapa perubahan pada bentuk wajah dan fitur lainnya, tapi kondisi ini bukan berarti dia tidak bisa berkembang dengan baik, Laras. Kita masih bisa memberikan cinta dan perhatian penuh untuknya. Dia tetap anak kita, dia tetap cucu kita."

Laras terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Aku bisa melihat raut wajahnya yang penuh kebingungan dan kesedihan. Perlahan, dia memejamkan mata, mungkin berusaha menahan air mata. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa, Reza. Aku hanya ingin anak kita sehat, normal... aku ingin dia tumbuh dengan baik."

...****************...

Setelah beberapa hari di rumah sakit, kondisi Laras mulai membaik. Meski masih terlihat lemas, semangatnya untuk melihat anaknya kembali tumbuh lebih besar. Akhirnya, dokter mengizinkan Laras untuk pergi ke ruang NICU untuk melihat anak kami yang terbaring di sana. Aku bisa melihat betapa Laras sangat merindukan anak kami, dan perasaan cemasnya tak bisa dipungkiri.

Ketika aku memegang tangannya dan kami berjalan bersama ke ruang NICU, Laras tampak sedikit ragu, seperti tidak tahu apa yang harus ia rasakan saat melihat anak kami untuk pertama kalinya. Aku bisa merasakan kecemasannya semakin meningkat.

Sesampainya di ruang NICU, kami berhenti di depan kaca kaca besar yang membatasi kami dengan anak kami yang terbaring di atas ranjang bayi, dikelilingi oleh peralatan medis. Bayi kami tampak begitu rapuh, wajahnya masih tampak berbeda, namun aku bisa melihat dia bernapas dengan normal, tubuhnya bergerak-gerak sedikit di bawah selimut.

Laras tertunduk, air matanya mulai mengalir. "Reza, dia begitu kecil... dan wajahnya... tidak seperti yang aku bayangkan," katanya dengan suara bergetar, matanya tidak bisa menahan haru.

Aku menggenggam tangan Laras lebih erat, mencoba memberikan kekuatan. "Laras, lihatlah dia. Dia begitu kuat, meskipun dengan kondisi seperti ini. Dia anak kita, anak kita yang pertama. Wajahnya tidak akan mengurangi betapa berartinya dia bagi kita."

Laras menatap bayinya yang terbaring di sana, ia menangis pelan. "Aku... aku ingin dia tumbuh normal, Reza. Aku ingin dia bisa seperti anak lainnya... bermain, tertawa, dan merasakan kehidupan yang indah."

Aku menepuk punggungnya lembut. "Laras, kita harus belajar menerima kenyataan ini. Meskipun dia tidak seperti yang kita harapkan, dia tetap anak kita. Dan kita akan selalu ada untuknya. Kita akan memberikan yang terbaik untuk dia."

Laras diam, masih terisak. Aku tahu betapa beratnya semua ini untuknya. Ini adalah kenyataan yang tidak mudah diterima, namun kami harus belajar untuk kuat.

Akhirnya, Laras mengangkat wajahnya dan menghapus air mata yang mengalir. "Aku akan selalu mencintainya, Reza. Meskipun dia berbeda, dia tetap anak kita. Aku janji akan berjuang untuknya."

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Kita akan berjuang bersama, Laras. Kita akan memberinya kehidupan yang penuh cinta, apapun kondisinya. Aku janji, dia akan tumbuh bahagia dengan kita."

Kami berdua berdiri di sana, menatap anak kami yang masih terbaring dengan penuh harapan. Tidak peduli seberapa sulit perjalanan ini, aku tahu kami akan melaluinya bersama, dengan cinta dan keberanian yang tak tergoyahkan.

Hari-hari berlalu, dan meskipun kondisi Laras semakin membaik, dia masih harus berada di rumah sakit untuk terus menjalani perawatan bersama bayinya. Kondisi si kecil memang memerlukan perhatian ekstra, dan dokter meminta Laras untuk tetap tinggal agar bisa memantau perkembangan sang bayi lebih lanjut.

Aku menghabiskan banyak waktu di rumah sakit, menemani Laras dan anak kami. Setiap kali aku melihat bayiku, hatiku terasa hancur melihat kondisi wajahnya yang berbeda, tapi aku tahu, ini adalah kenyataan yang harus kami hadapi. Laras selalu berada di sisi anak kami, berusaha memberikan perhatian dan kasih sayang meski perasaan kesedihan selalu menyertai.

Namun, yang paling sulit adalah bagaimana kedua orangtuaku menerima keadaan ini. Ayah dan ibuku masih belum siap melihat cucu mereka. Mereka menghindar, dan bahkan tidak mau datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi anak kami. Aku tahu, mereka kecewa dengan apa yang terjadi. Mereka tidak siap menerima kenyataan bahwa cucu yang mereka harapkan dan nantikan tidak sempurna.

1
Kamiem sag
kemana Aisy
Ambo Nai
silaras pelakor sok bijak.pelakor murahan.
Arin
/Heart/
Arin
Sokor.....
Arin
Sudah nikmati saja pilihanmu sekarang Reza..... Apalagi didukung kedua orang tua mu. Manjakan istri barumu kan dirimu punya duit. Menikah kedua saja orang tuamu sudah membedakan dengan pernikahan pertamamu. Tapi nanti jangan menyesal jika istri keduamu tidak seperti yang kamu inginkan
Arin
Biar-biar dia menyesal Raka. Reza kan cuma nurut sama kedua orang tua nya. Tanpa memikirkan perasaan istrinya....... sakit
Arin
Makanya jangan sekali2 mengusik seorang istri dengan izin untuk poligami. Kalau aku di kayak gituin sih terus terang bilang..... Silahkan jika ingin menikah lagi aku izinkan, tapi syaratnya ceraikan aku.

Dikira gak sakit apa istri pertama harus menerima suami menikahi orang lain???
Sri Rahayu
Luar biasa
martina melati
terima kasih thor atas karyamu ini. tetap semangat berkarya y.

mohon berkenan jika komentar saya terlalu tajam /Pray/
martina melati
menyesal kemudian tiada guna
martina melati
gk usah menghargai orang, sama menantu aplg cucu perempuan aja gk sayang... mauny sm cucu laki2 aja
martina melati
astagaaa... nih yg perlu diobati ibuny reza, terlalu obsesi cucu laki2
martina melati
turut prihatin y...
martina melati
maksudny? syndrom 1000wajah?
martina melati
br komen nih... pdhl drpd nikah cari istri br jaman skrg canggih bisa program bayi dg jenis kelamin.
martina melati
astagaaaaa
martina melati
bgm jika lahiran nti bayi perempuan y
martina melati
kasihan nti jabang bayiny lahiran bisa ngileran krn bumil ngidam gk ksampean
martina melati
jd suami bukanny mengerti malah mengintimidasi
martina melati
bahaya nih... bisa mengganggu perkembangan janin jika bumil stress ato depresi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!