Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Tapi percuma Anna tetap harus mematuhi semua perintah Liam atas dasar perintah Bi Sarti. Dan kini duduk diam diatas sofa mendengarkan penjelasan tentang kehamilan dari telivisi. Sudah ada lebih setengah jam kelas kehamilan yang dikatakan Liam tidak kunjung selesai, Anna sudah terlalu bosan. Ia menoleh kearah Bi Sarti yang tengah membuatkan sarapan pagi untuknya dan wajahnya terlihat serius kali.
Anna memikirkan cara yang tepat untuk bisa keluar dari Apartemen tanpa melibatkan izin dari Liam. "Tapi, Apa? Aku harus apa, hem.." Anna menyandarkan tubuhnya pada sofa tapi pikirannya tetap mencari ide berlian yang sangat bisa menolong.
"Aha!" Akhirnya Anna menemukan ide berliannya, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Bi Sarti yang sibuk memotong daging.
Karena mendengar suara langkah kaki Anna membuat fokus Bi Sarti teralihkan. Wanita tua itu menatap sepenuhnya pada Anna dengan tangan yang masih sibuk memotong daging sapi.
"Ada apa, Non?" Bi Sarti mengira jika Anna sudah lapar. "Nona sudah lapar? Sebentar ya, Non. Sebentar lagi_"
"Bukan, Bi.. Emm, aku belum lapar.." Anna malah sedikit panik karena ia gugup sekali untuk membohongi wanita yang terlihat baik itu. Hanya saja Anna tidak bisa menahan diri lagi tetap diam didalam sebuah ruangan sementara Liam asik dengan aktivitas seperti biasa. "Aku menginginkan mangga muda, apa kita punya mangga muda, Bi?"
Bi Sarti langsung menuju lemari pendingin untuk mencari sesuatu yang Anna inginkan, tapi lama menggeledah tidak ada juga mangga muda tersebut.
"Nona sangat menginginkan mangga muda itu?"
"Iya, Bi.. aku tidak akan bisa makan apapun kalau belum makan mangga muda, aku sangat menginginkannya." Jelas Anna disertai ekspresi wajah kesedihan penuh kepalsuan.
Bi Sarti yang memang pada dasarnya memiliki sifat sedikit polos pun percaya, wanita itu mencuci bersih tangannya lalu melepas celemeknya.
"Nona tunggu saja disini, seingat saya ada mangga muda di pasar.." Ucap Bi Sarti yang Anna angguki.
"Hati-hati, Bi.."
"Baik, Non.. Tolong jangan pergi kemanapun, tetap disini dan jangan membuat Tuan Muda marah." Bi Sarti memberikan pesan yang sebenarnya itulah ulah yang sangat ingin Anna lakukan.
"Iya, Bi.. Santai.." Anna tertawa kecil mencairkan suasana agar Bi Sarti tidak curiga. Wanita itu mengambil dompet dimeja lalu pergi meninggalkan Anna seorang diri di Apartemen.
Anna tersenyum senang bahkan meloncat bahagia, akhirnya ia bebas lagi. "Liam, aku tidak akan diam kali ini. Kau bisa bebas seperti biasa lalu kenapa aku tidak?" Anna berbicara sendiri sambil sibuk mengambil cardigan dan juga sepasang sendal jepitnya.
Sebelum menutup pintu karna ia akan pergi Anna menyempatkan menatap sebentar seluruh area ruangan Apartemen. "Maafkan aku, Bi.. Bagaimana lagi, aku ingin bebas kali ini. Dan kau..." Tangan Anna menunjuk pada perutnya, ia sebal sebenarnya berada diposisi saat ini. "Jangan rewel dan jangan kejam sama Mama, ingat.. Mamamu ingin bebas kali ini." Anna mengancam anaknya sendiri yang bahkan masih berbentuk janin.
Anna belum menerima kehamilannya dengan baik belum menyanyangi anak didalam perutnya itu. Sepanjang malam Anna terus berharap agar sembilan bulan terus cepat berlalu agar dirinya bisa menjalani hidup seperti biasa. Menjauh dari Liam dan bahkan Anna berencana akan pergi jauh sejauh-jauhnya dari Liam.
"Kapan waktu itu akan terjadi, aku sudah sangat tidak sabar pergi dari Liam dan anak ini yang telah membuat aku menderita." Gumam Anna disaat memasuki pintu lift untuk menuju lantai dasar.
~
"Mama heran, akhir akhir ini kau sering pergi ke Apartemen. Sebenarnya ada apa disana?" Tanya Shopia kepada putranya yang sedang asyik makan. Pagi ini Liam tidak akan pergi ke Kantor karna hari weekend, ingin pergi menemui Anna membicarakan tentang masalah mereka.
"Tidak ada Apa-apa, Ma.. Setiap aku lelah ruangan sepi adalah obat terbaiknya," Jawab Liam asal saja, ia terlalu malas mendetail setiap jawaban.
Shopia memutar bola matanya malas, ia tahu kalau Liam sedang berbohong. Memotong potongan daging itu dengan penuh emosi karena Shopia sudah terlalu muak dengan sikap Liam yang keras kepala tidak ingin menikah lagi.
"Kau kira Mama tidak tahu.. kalau di ruangan sepilah kau bisa mengingat Anna dengan baik disanalah kau bisa membayangkan dia terus!" Celetuk Shopia penuh kekesalan, bahkan kini ia dan Liam sudah saling tatap dengan Liam.
Ekspresi Liam tidak terbaca, hanya diam dengan penuh ketenangan. "Sampai kapan? Sampai kapan kau terus memikirkan wanita tidak berguna itu?!"
Liam menghela napas panjang, sekalipun Liam berusaha menyangkal rasanya percuma. Apa yang dikatakan sang Mama itu benar, bahwa Liam dulunya sering ke Apartemen selain menghindari sang Mama tapi juga ingin mengingat Anna. Setahun tidak bisa membuat Liam lupa pada Anna yang sangat ia cintai tapi terkadang Liam juga merasa benci pada wanita itu.
Kejadian kelam yang mereka alami satu tahun telah menghasilkan benih yang sangat Liam inginkan. Anak dari Anna, ia memaksa Anna untuk melahirkan anaknya murni karna obsesi dengan segala hal pada anak itu. Tapi, terkadang Liam berpikir jika itu hanyalah alasan lain. Hal yang sebenarnya adalah Liam tidak ingin kehilangan Anna lagi.
"Sadarlah, sekarang Emma yang harus kau perhatikan. Nikahi dia, hidup bersama dia dengan sangat baik, Liam. Hanya itu harapan Mama padamu, sederhana seperti itu saja kau tidak bisa?"
Dengan kekuatan penuh Liam membanting sendok hingga membuat Shopia sedikit terkejut. "Bahkan aku tidak bisa makan dengan tenang, Ma? Mengapa Mama terlalu obsesi pada Emma, apakah demi Perusahaan?"
"Ma, tidak perlu nikahi dia. Aku, putramu.. bisa membangkitkan perusahaan kita tanpa dibantu keluarga Emma." Sangat tegas dan penuh keyakinan apa yang Liam katakan pada sang Mama.
Shopia menggelengkan kepala, bukan itu keinginannya ia hanya ingin memastikan jika Liam menikah maka bayangan Anna sudah menjauh sempurna dari putranya.
"Mama tidak meragukan kekuatan ataupun keahlianmu, hanya saja Mama ingin kau melanjutkan hidup dengan baik." Jelas Shopia, ia menatap tajam Liam yang enggan menatapnya lagi.
"Jangan membuat Mama melakukan tindakan yang berlebihan hanya karna ingin membuatmu menikah dengan Emma, Liam.." Ancam Shopia, tidak membuat Liam takut malah bangkit dari duduknya.
"Aku mau pergi, Ma.."
"Kemana? hari ini kau harus pergi temani Emma jalan-jalan, Mama sudah atur waktumu hanya untuk Emma hari ini."
Seketika langkah Liam langsung terhenti, ia berbalik badan separuh. "Mama?!"
"Jika masih ingat jika aku adalah Mamamu, patuhlah hari ini. Hanya sebentar, Liam. Sore kau bisa pulang, Mama mohon.." Shopia sampai mengadah tangan memohon pada Liam hanya demi Emma.
aaiiss..dn sampai d bab 30 ..gini2 aja jln cerita nya...