Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trik Licik Seorang CEO
Rowan kembali masuk ke ruangan CEO saat teringat sesuatu, hingga Ethan yang sudah mulai sibuk dengan setumpuk berkas di meja kerjanya menegakkan tubuh menatap asistennya itu.
"Ada apa?" tanya Ethan sambil membetulkan kacamatanya.
Rowan terlihat ragu-ragu. “Ehm… ngomong-ngomong, Pak. Saya jadi ingat laporan data pribadi Bu Keira yang Bapak suruh saya kumpulin tempo hari.”
Ethan menatapnya dengan alis terangkat. “Lalu?”
Rowan menggaruk tengkuknya, agak kikuk tapi tetap nekat bicara. “Di situ tertulis kalau Bu Keira tinggal di rumah sederhana di kawasan Bukit Indah, bareng… seorang pria muda. Umurnya baru tujuh belas tahun.”
Sekilas otot rahang Ethan menegang. “Pria muda?” tanyanya dingin.
Rowan mengangguk. “Iya. Kalau dilihat dari data, itu sih bukan adiknya. Soalnya Bu Keira sebatang kara, Pak. Tidak punya saudara. Umur pria itu jauh banget, kan. Jadi ya… saya kira…”
Rowan sengaja berhenti separuh kalimat sambil menyeringai kecil. “Jangan-jangan… itu berondong-nya Bu Keira yang kita lihat tadi malam, Pak.” lanjutnya menggoda.
Tatapan Ethan langsung menusuk tajam, cukup untuk membuat Rowan menelan ludah keras-keras. Tapi alih-alih diam, lidahnya malah semakin gatal. “Gila juga sih, Pak. Bapak udah komplit—ganteng, kaya, karismatik—tapi kalah start sama bocah SMA. Mungkin Bu Keira doyan yang muda-muda.” tambahnya semakin iseng.
“Rowan.” geram Ethan dengan tatapan membunuh.
Satu kata itu cukup bikin Rowan langsung kaku.
Tapi Ethan belum berhenti. Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela, matanya tampak gelap. “Cari tahu siapa anak itu.”
Rowan langsung was-was. “Ba—baik, Pak. Tapi ini cuma buat konfirmasi data, kan? Bukan buat… penculikan kecil-kecilan?”
Ethan menatapnya datar. “Pergi sebelum aku ubah statusmu jadi pengangguran.”
Rowan cepat-cepat mengangguk. “Siap, Pak! Saya langsung investigasi, detail sampai tanggal lahir bocah itu kalau perlu!”
Rowan buru-buru kabur keluar ruangan sambil bergumam pelan. “Ya ampun… bos kalo udah cemburu, auranya kayak mau neror satu kota. Kasian juga bocah itu kalo ternyata bener jadi saingan bos…”
Sementara itu, Ethan kini berdiri di depan jendela, menatap langit biru yang diselimuti awan-awan tipis. Tangannya mengepal pelan di saku celana, rahangnya mengeras. “Tujuh belas tahun… bocah macam apa yang berani dekat denganmu, Keira…” gumamnya nyaris tak terdengar.
...----------------...
Suasana di lantai divisi desain sedang sibuk-sibuknya. Suara keyboard beradu dengan deru printer dan bisikan para karyawan yang tengah berdiskusi.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu yang tegas terdengar memasuki ruangan. Semua kepala spontan menoleh — Rowan berdiri di pintu dengan setelan rapi dan wajah serius.
“Permisi, Bu Clara. Saya diperintahkan langsung oleh Pak Ethan untuk memanggil Bu Keira. Beliau ingin bertemu sekarang.” ucap Rowan sopan.
Bu Clara, sang kepala divisi yang terkenal disiplin, segera menegakkan posturnya. “Oh, baik, Pak Rowan. Sebentar ya.”
Ia berbalik, menatap ke arah meja Keira. “Keira, ayo ikut Pak Rowan. Pak Ethan ingin bertemu denganmu di ruang CEO.”
Keira yang sedang fokus di depan layar komputernya langsung menatap Bu Clara dengan ekspresi bingung. “Saya, Bu? Ada urusan apa ya?”
“Entahlah. Tapi jangan buat beliau menunggu.” jawab Bu Clara singkat.
Keira menelan ludah, berdiri cepat sambil merapikan baju kerjanya. Dalam hati, ia bergumam cemas. “Duh… jangan-jangan gara-gara gue telat ngumpulin laporan kemarin? Mati gue…”
Begitu Keira melangkah keluar ruangan bersama Rowan, suasana divisi desain langsung ramai seperti pasar gosip.
Livia berbisik ke Nolan. “Eh, eh, kamu liat nggak? Keira dipanggil Pak Ethan! Waduh, jangan-jangan dipecat kali, ya?”
Nolan dengan gaya banci lebay. “Hush! Jangan ngomong gitu dong, sayang! Tapi sumpah ya, kalo aku yang dipanggil CEO seganteng itu, aku langsung pasang bulu mata palsu dulu biar cakep maksimal.”
Livia mendelik. “Kamu mah dasar ya, Nol. Otak kamu tuh beauty blender, bukan otak gosip.”
“Beb, otak aku multitasking. Bisa gosip sambil mikir gaya pose kalo tiba-tiba jatuh cinta.” sahut Nolan santai.
Keduanya cekikikan, sementara teman-teman lain mulai menebak-nebak.
“Mungkin Keira mau dipromosiin?”
“Atau jangan-jangan… ada hubungan spesial?”
Sementara itu, di lantai atas, Ethan duduk di kursi kebesarannya dengan wajah dingin tapi penuh perhitungan.
Ia melirik jam tangan mahal di pergelangan tangannya, lalu memejamkan mata sebentar, menahan senyum kecil di sudut bibirnya. “Akhirnya. Sekarang aku punya alasan untuk bicara empat mata denganmu, Keira.”
Ia sengaja membuat skenario ini — memerintahkan Rowan memanggil Keira dengan dalih urusan pekerjaan.
Padahal, yang sebenarnya ia siapkan bukan dokumen kerja… melainkan sebuah “rencana licik” untuk bisa lebih dekat dengan wanita yang sejak awal tak pernah keluar dari pikirannya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya diketuk pelan.
“Pak Ethan, Bu Keira sudah datang.” seru Rowan dari luar ruangan.
“Masuk.” sahut Ethan.
Rowan membuka pintu dan mempersilakan Keira masuk.
Keira melangkah pelan, gugup setengah mati. Suasana ruang CEO yang elegan dan tenang itu membuatnya makin salah tingkah.
“Duduklah, Keira.” ucap Ethan tanpa menatapnya.
“B-baik, Pak.” sahut Keira gugup.
Begitu Keira duduk, Ethan akhirnya menatap langsung ke arahnya. Tatapannya tajam tapi lembut, dan itu cukup membuat jantung Keira berdebar tak karuan.
Ethan sebenarnya sudah tahu pasti apa yang ingin ia katakan — dan alasannya jauh dari sekadar pekerjaan. “Aku memanggilmu bukan untuk membahas proyek desain.”
Keira terkejut. “Oh… kalau begitu, apa saya ada kesalahan, Pak?”
“Tidak. Justru sebaliknya.” jawab Ethan.
Ethan menautkan jari-jarinya di atas meja. Tatapannya dalam, membuat Keira tanpa sadar menegakkan duduknya. “Aku sudah memperhatikan kinerjamu. Cukup menonjol dibandingkan karyawan lain. Karena itu, aku ingin menawarkan posisi baru untukmu.”
Keira merasa heran. “Posisi… baru?”
“Ya. Aku ingin menjadikanmu sekretaris pribadiku.” jawab Ethan.
Keira langsung membelalak. “S-sekretaris pribadi?! Pak, saya—saya rasa saya tidak pantas menduduki posisi sebesar itu! Saya bahkan belum genap setahun di perusahaan ini!”
Ethan menyandarkan punggung ke kursinya, suaranya datar namun mantap. “Aku tidak salah pilih orang. Dan aku tidak butuh yang sempurna — aku butuh yang bisa dipercaya.”
“Tapi… tetap saja, Pak, saya—”
Ethan menyela lembut. “Gajinya tentu akan disesuaikan. Tiga kali lipat dari posisimu sekarang.”
Keira mendadak membeku. Telinganya seperti menangkap kata paling indah di dunia: “Tiga kali lipat.”
Matanya otomatis melebar, lalu cepat-cepat ia pura-pura tenang. Tapi dalam hatinya—
“Tiga kali lipat?! Ya Tuhan, lumayan banget buat ke salon, beli skincare, sama bantu Aiden beli peralatan bengkel!”
Keira menarik napas panjang, berusaha tampak profesional padahal jantungnya udah salto. “Kalau… kalau begitu, saya pertimbangkan, Pak.” ucapnya pelan tapi pasti.
Ethan menatapnya lama, seolah membaca pikirannya. “Pertimbangkan cepat. Aku butuh jawabannya hari ini.”
Keira menggigit bibir, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, Pak Ethan. Kalau memang Bapak percaya pada saya… saya terima.”
Senyum kecil muncul di wajah Ethan — bukan senyum kebahagiaan, melainkan kemenangan. “Bagus. Sekarang, kau akan selalu berada di bawah pengawasanku, Keira.”
Ethan terlihat tetap tenang. “Baik. Mulai besok, kau pindah ke ruang sekretaris di depan ruanganku. Rowan akan mengurus administrasinya.”
Keira bangkit, sedikit canggung tapi wajahnya berseri-seri. “Terima kasih, Pak Ethan. Saya akan bekerja sebaik mungkin.”
Ethan mengangguk tipis. “Saya tidak ragu soal itu.”
Keira pun melangkah keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup, Ethan menatap ke arah kursi yang tadi diduduki Keira, lalu tersenyum miring. “Permainan baru saja dimulai.”
Sementara di lift, Keira sudah memeluk tasnya sambil menahan tawa kecil. “Sekretaris pribadi CEO… gila. Lumayan, duitnya bisa buat modal Aiden! Dan bonusnya, bisa cuci mata tiap hari lihat bos ganteng.”
...----------------...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪