Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Bertemu Keluarga Besar
Tak peduli dengan ocehan sang ibu mertuanya, Arimbi merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Pinggangnya terasa sangat pegal dan tenaganya hampir habis, dua jam berkutat membersihkan rumah tetapi tak kunjung beres. Yola terus saja memprovokasi tanpa henti saat Arimbi tidak membersihkan dengan benar.
Bahkan selama itu, masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Piring dan gelas kotor masih menumpuk di wastafel. Pakaian kotor belum dicuci masih berada di dalam keranjang dan pakaian bersih belum selesai di setrika. Membayangkan begitu banyak pekerjaan rumah yang belum selesai membuat Yola semakin pusing kepalanya.
“Jangan jadikan kehamilanmu itu sebagai alasan Imbi. Dulu ibu bahkan berjualan ke pasar untuk membantu perekonomian keluarga, tapi tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri,” ucap Yola.
Arimbi hanya memutar bola matanya dengan malas, perkataan ibu mertuanya yang tiada henti membuatnya semakin pusing.
“Kamu ini dikasih tahu orang tua yang bener supaya punya suami betah di rumah. Nanti David cari istri lagi yang lebih bisa merawatnya dengan baik baru tahu rasa kamu!!” sambungnya.
Telinga Arimbi semakin panas mendengar ucapan Yola, merasa keberadaannya tidak dihargai sama sekali. Bahkan Arimbi lebih merasa sebagai pembantu dibandingkan seorang istri dan menantu.
Jika bukan karena omongan tetangga dan teman-teman arisannya, sebenarnya Yola sangat malas datang ke rumah ini. David yang sering tidak pulang ke rumah dan terlihat sering keluar masuk hotel menjadi gosip di grup chat. Belum lagi tetangga kompleks yang menanyakan istri baru David yang tidak bersosialisasi dengan warga sekitar.
Apalagi kondisi rumah yang selalu membuatnya sakit mata, tak khayal Yola merindukan masa-masa diratukan oleh menantu. Kehadiran calon cucu nyatanya tak membuat Yola sepenuhnya bahagia. Belum lagi kehidupannya yang seperti seorang buronan, hutang menumpuk dimana-mana setelah pernikahan David yang kedua. Padahal dulu Yola bisa membeli apa saja yang dia mau sebab David dan Yuri sering memberinya uang tambahan. Sedangkan saat ini jangankan untuk berbelanja di minimarket, kebutuhan beras di rumahnya dibelinya perkilo di warung tetangga.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu rumah yang cukup keras membuat Yola terkejut, padahal baru saja memejamkan mata di sofa usai membersihkan area dapur di rumah anaknya. Ketukan di pintu itu justru semakin keras dan mulai mengganggu.
“Bu Yola, kami tahu anda berada di dalam. Jangan bersembunyi Bu Yola. Segera tunaikan kewajiban anda sekarang juga!!” sahut seseorang di luar sana.
Jantung Yola berdetak kencang, rasa kepanikan mulai menyerang. Ternyata niat hati untuk menenangkan diri, nyatanya justru membuat dirinya seperti dikejar oleh malaikat pencabut nyawa. Mengetahui siapa yang berada di luar sana, Yola pun tak mampu membukakan pintu.
“Jika tidak keluar sekarang juga, kami akan berteriak agar semua orang di komplek ini tahu jika anda tidak mau membayar hutang!!” ucapnya tak pantang menyerah.
Keringat dingin mulai bermunculan di sekitar dahi Yola. Dua hari lalu saat jatuh tempo pembayaran cicilan pinjaman Yola susah menghubungi David dan meminta tambahan uang, namun sayangnya David hanya memberinya uang dua juta. Tentu masih kurang delapan juta sesuai angka pembayaran cicilan hutang.
Mendengar suara ribut-ribut di luar membuat Arimbi merasa terganggu. Dengan mata yang masing mengantuk Arimbi keluar dari kamarnya.
“ Imbi…. Imbi bagaimana ini tolong ibu," rengek Yola tiba-tiba menghampiri.
Dengan kondisi yang masih mencerna keadaan, Arimbi dipaksa berpikir keras.
“ Ibu Yola keluar kamu !!!" teriak pria di luar rumahnya
"Ibu belum membayar cicilan hutang?” tanya Arimbi sambil melotot, kedua bola matanya keluar. Yola hanya menganggukkan kepalanya kemudian tertunduk.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Yola hanya bisa mengepalkan tangannya dan menghembuskan napasnya perlahan.
Nyatanya setelah menikah tak pernah ada ketenangan atau kebahagiaan yang Arimbi rasakan. Pandangan mesra kala David dan Yuri yang tampilkan tak pernah sedikitpun Arimbi dapatkan. Justru Arimbi diberikan berbagai masalah terutama utang piutang Ibu David yang tak pernah selesai. Memang kutang tersebut dikarenakan pesta resepsi mewah saat Arimbi menikah namun bukan Arimbi yang meminta untuk diadakan pesta seperti itu. Itu semua inisiatif dari ibu David sendiri.
“Kenapa belum membayarnya, Bu? Tidak bisakah Ibu membiarkan aku istirahat sebentar!!” keluh Arimbi sambil memijat keningnya.
“Uangnya kurang Imbi. Kemarin terpakai untuk bayar arisan,” ungkap Yola jujur. Arimbi hanya diam.
“Tolong Ibu sekali lagi ya, Ibu sudah tidak punya uang simpanan lagi,” lanjut coba dengan sorot mata memelas.
“Ya tapi ini juga tidak punya uang sebanyak itu, Bu. Ada juga hanya 4 juta itu pun uang untuk satu bulan ke depan,” jawab Imbi terpaksa.
“Terus bagaimana ini, Ibu juga hanya punya 4 juta.” Yola mengeluarkan uang yang ada di dalam tasnya.
Di luar sana kondisi semakin runyam saat para penagih hutang itu mengancam akan berteriak dan membuat kekacauan. Arimbi yang tidak ingin para tetangganya tahu dan membuatnya semakin malu terpaksa membukakan pintu dan membiarkan orang-orang itu masuk ke dalam rumah. Arini tentu saja merasa takut dan khawatir akan keselamatannya karena para penagih hutang itu memiliki tubuh yang besar kekar dan wajah yang sangar.
“Kemana wanita tua itu!!!” Suaranya yang menggelegar membuat Arimbi terkejut seketika.
“A-ada di dalam, silahkan masuk. Tidak enak jika di dengar oleh tetangga ada keributan disini,” ucap Arimbi terbata -bata.
“Ciihhhh masih punya malu juga, tapi menunggak hutang justru tidak tahu malu.” Mereka melenggang masuk ke dalam menuju ruang tengah di mana Yola berada.
Tanpa berbasa-basi penagih hutang tersebut segera meminta pembayarannya cicilan hutang Yola kepada boss mereka. Dengan tangan bergetar, Yola menyerah uang miliknya yang berjumlah 4 juta dengan uang Yuri 3 juta.
“Ini masih kurang tiga juta ya, kekurangannya wajib anda bayar bulan depan beserta dendanya. Ingat jangan membuat kami kesulitan lagi!! Jika anda masih mengelak dan kabur saat pembayaran hutang, kami tidak segan-segan langsung menyita rumah ini sesuai perjanjian!!!”
Setelah mengucapkan itu, orang-orang tersebut langsung pergi meninggalkan rumah David. Arimbi pun terjuntai ke lantai karena tubuhnya yang tiba -tiba lemas. Apalagi dengan sisa uang di tangannya hanya satu juta bagaimana dia bisa memenuhinya kebutuhan rumah tangganya untuk satu bulan ke depan. Yola yang masih syok atas peristiwa barusan hanya terdiam duduk di sofa dengan pandangan yang kosong.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Sinar yang masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup membuat tidur Yuri yang nyenyak terganggu. Tangannya meraba ranjang di sebelahnya yang terasa dingin, pasti Gio sudah bangun sejak lama. Seluruh tubuh Yuri rasanya remuk redam seperti terjatuh dari lantai 10, seluruh tulang-tulang dan persendiannya serasa terlepas. Nyatanya Gio benar-benar menghabisi Yuri semalaman karena telah bersikap nakal saat di kantor. Untuk duduk saja Yuri kesulitan, pinggangnya tak tahu apa rasanya. Namun saat kembali terbayang kejadian semalam bersama Gio, wajahnya pun mulai memanas. Membayangkan saat Gio menyentuh lembut setiap jengkal tubuhnya, memberikan rasa yang tak pernah terlukiskan.
“Apa masih kurang service semalam, Sweety?” bisik Gio tiba-tiba di telinga Yuri.
Kedua mata Yuri mendelik, saat mendengar ucapan Gio.
“Suara desahanmu membuatku semakin bersemangat sayang. Ingin rasanya tiap malam mendengarkan suara manja—Aaaakkkhhhh.” Gio terpekik kesakitan saat jemari Yuri mendarat di pinggang Gio dengan lincah. Cubitan manja itu diiringi dengan seringai senyuman yang penuh arti.
Hampir saja segelas susu yang Gio bawa tumpah andai tangan kekarnya tidak menjaga agar nampan yang dia bawa tetap stabil. Sengaja Gio bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan spesial untuk sang istri. Tetapi bukannya mendapat kecupan mesra, justru hadiah cubitan manja di pinggangnya.
“Bisa-bisanya Abang terus menggodaku, uuugghhhh. Apa Abang tak tahu jika tubuhku rasanya remuk dan sakit?” rengek Yuri sambil mencebikan bibirnya lima senti.
Gio menyimpan nampan itu di nakas, kemudian memberikan sebuah kecupan manis di kening Yuri.
“Maafkan Abang sayang, semalam Abang terlalu bersemangat.”
Namun hal itu tak berhasil membujuk Yuri, sekarang Yuri justru melipat kedua tangannya dan enggan menatap Gio. Tapi bukan Gio namanya jika hanya diam saat istrinya sedang kesal. Tanpa aba-aba Gio langsung mencium lembut bibir Yuri yang menggoda. Pada akhirnya, Yuri pun terbuai dengan sikap Gio yang semakin manis.
“Abanggggg!!!” rengek Yuri manja, wajahnya membuat Gio semakin tidak tahan untuk menggodanya.
“Sekarang sarapan dulu ya, setelah ini Abang janji akan datangkan ahli terapi supaya pegel-pegelnya hilang.”
Gio mengambil sepiring nasi goreng yang dia masak sendiri, dua porsi sepiring dengan satu buah sendok. Semua sikap dan perlakuan Gio membuat Yuri serasa menjadi wanita paling bahagia, dia tak menyangka akan mendapatkan cinta sebesar ini setelah pernikahan pertamanya kandas begitu saja.
Tak terasa, hanya bersisa piring kosong dan sendoknya saja bahkan sebagian besar dihabiskan oleh Yuri. Setelah kondisi Yuri kembali normal, ini saatnya Gio memberitahu hal penting. Meskipun Yuri tak akan keberatan, Gio masih khawatir jika Yuri nanti akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Namun Gio pun harus membuktikan jika apa yang sudah menjadi pilihannya tidak pernah salah.
“Sweety, nanti siang persiapkan dirimu dengan baik. Kita akan berkunjung ke rumah utama bertemu dengan keluarga besar Ghandika,” ucap Gio sambil membelai pipi Yuri.
Meskipun terkejut, Yuri berusaha memberikan ekspresi yang biasa saja. Yuri sebenarnya masih menyimpan ketakutan jika dia akan mendapatkan kembali perlakuan yang kurang baik dari keluarga Gio terutama ibu tirinya. Trauma akan sikap mantan ibu mertuanya masih tertinggal dalam hatinya. Namun kali ini, Yuri akan menunjukkan diri jika dia memang pantas menjadi istri Gio dan tidak akan mudah ditindas seperti dahulu. Apalagi cinta Gio yang sangat besar kepadanya menjadi kekuatan tersendiri.
“Aaahhh tenang saja Abang sayang, Yuri akan dandan secantik mungkin,” jawab Yuri disertai kedipan sebelah matanya.