Di usianya yang masih dua puluh lima tahun, Alice telah menjadi janda. Suaminya meninggal di sebuah kecelakaan dengan wanita lain dan mewariskan banyak hutang gelap yang baru ia ketahui keberadaanya setelah kematian suaminya.
Usahanya terancam bangkrut dan seluruh propertinya terancam hilang sebagai jaminan hutang. Dia tak memiliki apa pun lagi dalam hidupnya.
Dengan penuh tekad, dia memutuskan untuk bertindak gila. Dia akan menawarkan diri menjadi wanita simpanan. Tidak masalah siapa pun yang akan menjadi lelakinya, asalkan ia kaya dan mampu membayarnya dengan mahal.
Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan apa yang masih Tuhan sisakan untuknya, ia tak akan mundur meski moralnya terancam akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zulfya Fauziyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA SATU
Seorang wanita terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Dia baru saja melakukan pembedahan dua jam lalu, sebagai salah satu cara mengembalikan fungsi tubuhnya.
Beberapa dokter dan perawat bergantian mengontrol kondisinya, saling berbisik kasihan. Wanita dengan kecantikan seperti itu harus terbaring tak berdaya karena sebuah kecelakaan. Dia terjebak dalam ketidak sadaran selama enam hari enam malam dengan luka yang cukup serius.
Sebuah alat medis terhubung dengan tubuhnya, menunjukkan aktifitas detak jantung sang pasien. Selang infus menancap kuat disebelah lenganya, mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh lemahnya.
Lengan kirinya terluka, meskipun tak terlalu parah. Kepalanya tampak terbalut kain putih. Sementara kedua kakinya mengalami banyak goresan karena bergesekan dengan logam.
Jam berdetak di sudut kamar, menunjukkan bahwa kehidupan berlalu dengan enggan. Disini, seorang lelaki berdiri setia disisi ranjangnya, menunggu dalam keterdiaman. Waktu berlalu nyaris dua jam, matahari telah lama tenggelam di ufuk barat. Namun sosok lelaki itu tetap tegak berdiri, tak bergerak sedikit pun. Seolah-olah sendi kakinya terbuat dari tembaga, tak mengenal kata lelah.
Hari ini masih sama. Hanya suara electrocardiography yang bersuara nyaring. Masih tak ada kemajuan. Tak ada perubahan. Mungkin besok.
Lelaki itu keluar, menutup pintu kamar yang ia tinggalkan. Langkahnya pasti dan terkontrol. Dibangku panjang di ruang tunggu rumah sakit, dia disapa oleh seorang lelaki lain.
"Tuan ... ," katanya menunduk.
"Ada masalah?"
"Kedua temanya masih tetap mencari keberadaanya."
"Apakah mereka memiliki petunjuk untuk mencarinya di tempat ini?"
"Tidak. Mereka tak akan bisa menjangkau rumah sakit ini."
"Baguslah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Baik, Tuan."
"Apakah kau sudah mengirim orang untuk menghapus jejak kejadian enam hari yang lalu?"
"Semuanya sudah saya bersihkan. Polisi tak akan bisa menghubungkan kejadian itu dengan anda."
"Kerja yang brilian."
"Terimakasih, Tuan."
"Jaga dia. Jika dia sadar, hubungi aku."
"Tentu."
Lelaki itu berjalan kembali dengan anggun. Sorot matanya datar, tak ada emosi apapun yang terbaca.
...
Alice merasa terjebak dalam lorong gelap yang menyesakkanya. Beberapa kali dia melihat ada sebuah cahaya di penghujung lorong, namun selalu menjauh setiap kali ia mendekat. Kegelapan kembali merenggutnya, membawanya semakin dalam.
Kali ini, cahaya itu tampak jelas tak seperti biasanya. Lama-lama, semakin membesar seolah memanggilnya untuk mendekat. Alice berusaha meraih sang cahaya. Setiap kali ia mendekat, tubuhnya seolah diserang rasa sakit yang luar biasa.
Alice tak ingin berhenti mencoba. Rasa sakit yang sebesar apapun lebih bisa ia terima daripada harus tenggelam kembali dalam kegelapan yang tanpa ujung. Dia gapai cahaya tersebut, bergantung pada sinarnya dan berjuang sekuat tenaga untuk merengkuhnya.
Rasa sakitnya semakin menjadi, dadanya terasa sesak, nafasnya seolah memberikan rasa panas yang menyiksa. Alice tak lagi peduli. Dia harus berhasil meraih tujuanya.
Akhirnya, cahaya tersebut mampu ia raih. Cahaya yang membawanya pada kesadaran dirinya. Alice mengerjap perlahan, membuka matanya dengan perasaan campur aduk.
Alice merasa tubuhnya seperti porak poranda tercerai berai. Semua sendinya terasa sakit untuk ia gerakkan. Terutama lengan dan bagian kepalanya. Bagaikan berdentum-dentum meneriakkan kekalahan.
Alice mengamati ruang sekitarnya. Suasana serba putih dengan aroma obat yang menyengat. Rumah sakit.
Alice mengerutkan kepalanya, mengingat kejadian terakhir yang terekam memorinya. Bayangan silih berganti memberi informasi pada otaknya. Perkelahian. Darah. Kematian. Alice menjerit histeris. Ketakutan melandanya.
"Mrs. White ... anda sudah sadar?"
William. Bagaimana mungkin dia ada disisinya? Apalagi yang telah dilakukan Anson?
"Tuan telah berhasil membawa anda ke rumah sakit ini. Anda memiliki luka yang cukup serius atas kecelakaan yang anda alami. Tunggulah sebentar, ijinkan saya memanggilkan dokter." Lelaki itu berlalu, meninggalkan banyak tanya dibenak Alice.
Seorang dokter dan perawat memasuki ruangan Alice. Mereka melakukan pengecekan dasar pada fungsi tubuhnya. Tekanan darah, respon pupil mata, dan beberapa hal standar. Alice mencoba duduk untuk lebih nyaman. Namun semua bagian tubuhnya berteriak marah. Sakit menyerang setiap bagian tubuh yang ia gerakkan. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Oh tidak ... ujung kakinya bahkan tidak merasakan apapun.
Alice mengerut bingung. Semua tubuhnya terasa tak nyaman dan tersiksa. Kecuali bagian tungkai hingga ke ujung kaki. Tak ada apapun yang ia rasakan dengan bagian tersebut. Hanya rasa kebas yang sulit dijelaskan.
"Dok ... tungkaiku kebas. Apakah dibius?" tanya Alice merasa tak nyaman.
Dr. Roy, menoleh ke perawatnya penuh makna, dan menyuruhnya pergi tanpa kata. Dia harus menyampaikan sesuatu. Karena tidak tahu respon apa yang akan diberikan pasien, lebih baik pembicaraan ini dilakukan secara pribadi. Empat mata.
"Kecelakaan yang kau alami cukup parah," katanya mengawali. Dia tersenyum, memberikan rasa hangat kebapakan.
"Tulang belakangmu cedera karena benturan yang hebat. Aku sudah berusaha melakukan operasi untuk meregenerasi bagian yang rusak. Keadaanmu membaik dengan cepat." Dr. Roy berbicara tak terlalu kaku, berusaha membuat ikatan yang baik antara dokter dan pasien.
"Hanya saja ..., "
Alice menguatkan mental. Hanya saja itulah yang seharusnya menjadi berita buruk dari awal.
"Kau mengalami paraplegia. Kelumpuhan disebagian tubuhmu. Dalam kasusmu adalah kedua tungkaimu kebawah. Tetapi tak terlalu parah. Hanya tungkaimu yang terganggu motoriknya. Fungsi kandung kemih dan tulang panggulmu tak memiliki gangguan. Organ seksualitasmu masih normal."
Berita yang cukup mengguncang kewarasanya. Lumpuh? Apakah semua ini lelucon?
"Lumpuh?" Kedua netra cokelat itu menampakkan reaksi ketidak percayaan.
Dr. Roy menyingkap sebagian selimut Alice, mencoba menyentuh perlahan disalah satu tungkainya dan mengecek respon Alice.
"Apakah kau merasakan sesuatu?"
Alice menggeleng lemah. Tidak. Dia tak merasakan apapun saat tungkainya disentuh.
"Kali ini?" tanya Dr. Roy menepuk-nepuk tugkai Alice sedikit keras.
Alice masih tetap menggeleng.
"Apakah masih tak mersakan apapun?" Dr. Roy mencubitnya cukup keras.
Alice mendesah merasakan beban berat menghantam dirinya.
"Aku tidak merasakan apapun, Dok. Apakah aku akan lumpuh selamanya?" Alice tampak khawatir.
Kaki adalah bagian paling penting dalam tubuh manusia. Dia memiliki fungsi utama untuk berjalan dan bergerak. Jika fungsi itu diambil darinya, entah akan seperti apa sisa hidupnya. Apakah ia akan bergantung selamanya dengn alat bantu? sanggupkah ia?
"Aku tidak bisa menjanjikan kesembuhan, Alice. Semuanya tergantung padamu. Tetapi kau memiliki kemungkinan untuk sembuh selama kau rutin melakukan fisioterapi setelah ini," jawab Dr. Roy ambigu.
Tidak bisa menjanjikan? Apakah itu artinya kesempatanya kecil untuk disembuhkan? Dokter memang punya bahasa sendiri yang diperhalus saat menyampaikan pada pasienya. Kita harus pintar menerjemahkanya sendiri.
"Berapa presentase kemungkinan bagiku untuk sembuh, Dok?" tanya Alice hampa.
"Lima puluh persen."
Itu artinya, kemungkinanya sembuh sebesar kemungkinanya untuk lumpuh. Harapan yang cukup menjatuhkan mentalnya.
"Kau harus bersyukur, wanita muda. Tuhan masih berbaik hati menjaga nyawamu. Banyak diluar sana yang harus mati karena kecelakaan." Dr. Roy menepuk pundaknya, sebagai rasa simpati. Dia menyuntikkan suatu cairan di selang infus Alice dan memberikan beberapa obat.
Alice menerawang. Apalagi yang tersisa dari hidupnya? Kenapa Tuhan tak membuatnya meninggal dalam kecelakaan ini. Jika saja ia mati, mungkin Alice tak lagi harus menanggung banyak beban lagi.
"Hidup itu berharga. Patut diperjuangkan. Jangan pernah menyerah," katanya sebelum pergi meninggalkan Alice dan menyarankan untuk beristirahat kembali.
Alice sudah berjuang sebelum ini. Dia mengabdikan setiap tarikan nafasnya untuk mengambil kembali sesuatu yang dia inginkan. Namun justru karena perjuanganyalah dia terjebak dalam situasi yang menyulitkan. Memaksanya kehilangan banyak hal.
Apakah ini cara Tuhan menghentikan perjuanganya? Alice hanya orang biasa. Dia tak terlalu tahu bahasa Tuhan. Mungkin ini salah satu jalan dari-Nya untuk menyadarkan kekeras kepalaan yang ia miliki. Dia harus berhenti di titik ini, berbalik arah dan kembali pulang. Tetapi kemana ia harus pulang? S1udah lama dia tak memiliki tempat untuk pulang. Satu-satunya tempat yang kini dianggap sebagai rumahnya ikut hilang. Kendrick.
Darah Kendrick seolah masih terbayang dikedua tanganya. Bau anyirnya masih saja tak hilang. Ekspresi kosongnya. Sorot matanya yang tak lagi hidup. Seperti bayangan yang akan selamanya menghantui hidup Alice.
Apakah lelaki itu telah bahagia sekarang? Bersua kembali dengan istri dan putranya di tempat lain yang lebih indah? Lantas bagaimana dengan dirinya? Masih saja terjebak dalam hidup yang rumit.
Jika ada seseorang yang meninggal, yang menderita adalah yang ditinggalkan. Dia yang pergi hanya akan menemui ketenangan dan meninggalkan kefanaan. Tak lagi terjebak dengan banyak polemik kehidupan yang ruwet. Namun yang ditinggalkan akan merasa terjerembab. Menanggung kepedihan ganda tanpa ujung.
Jika saja kematian boleh ia pilih, mungkin Alice tergoda untuk menawarkan diri. Dia merasa lelah. Mempertahankan sesuatu yang seolah sia-sia.
Alice memejamkan mata. Apakah ada yang mengurus pemakaman suaminya? Apakah ada yang merawat jasadnya untuk terakhir kalinya? Apakah ada yang cukup bersimpati atas kepergianya? Puluhan pertanyaan tumpang tindih diotaknya, membuat dirinya stress.
suara klek pintu terdengar, terbuka perlahan menampilkan seorang lelaki yang tak ingin dilihat oleh Alice. Dia, telah menjadi simbol tragedi bagi kehidupanya. Keberadaanya bagaikan malaikat maut yang membawa banyak teror.
"Kau sudah sadar?" Sebuah pertanyaan yang tak perlu jawaban.
"Apakah kau yang membawaku ke rumah sakit ini?" Alice mencoba mengontrol suaranya. Dia tak ingin kehilangan kendali saat berhadapan dengan orang ini.
"Ya. Ingin berterimakasih?" balas Anson terkekeh.
"Dalam mimpimu. Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa tak kau biarkan aku mati saja? Apakah kau menyelamatkanku hanya untuk kembali kau bunuh dengan tanganmu sendiri?" Alice bertanya kembali. Kebencian sangat kentara dikedua manik cokelatnya.
"Aku tak tertarik membunuh orang yang tak berdaya," jawab Anson datar.
"Kau pasti memblokir semua informasi ini dari teman-temanku, bukan? Kau sengaja menyembunyikanku di rumah sakit ini." Alice melemparkan tebakan yang mendekati kebenaran. Dia tak melihat keberadaan Rachel dari tadi. Itu artinya, pasti keberadaan Alice disembunyikan dengan baik oleh Anson.
"Pulangkan aku. Aku tak berminat berada dalam perlindunganm," kata Alice penuh amarah.
"Sayangnya kau akan terpaksa berada dalam perlindunganku, Alice. Aku tak berniat melepaskanmu secepat ini." Anson masih saja bersikap normal, seolah-olah mereka teman baik yang tak bertemu lama.
"Kenapa? Kau takut aku akan menyerangmu dan membocorkan identitasmu sebenarnya didepan hukum? Kau takut aku bersaksi melawanmu atas pembunuhan yang telah kau lakukan?" Alice meradang.
"Sebelumnya kupikir kau hanya cukup agresif dalam romansa, Alice. Tetapi kau ternyata juga agresif untuk menyerangku secara langsung dari segala sisi. Benar-benar menarik." Anson tertawa hambar.
"Kau takut, Anson?"
"Tidak. Kau tak akan bisa semudah itu menyerangku secara hukum. Pertama, aku sudah membersihkan semua bukti pembunuhan itu. Percuma kau bersaksi tanpa ada bukti. Aku mampu menggunakan banyak alibi untuk menutupi jejakku. Kedua, kau sudah tak lagi memiliki pelindung yang kuat. Suamimu sudah bersatu kembali dengan tanah, Alice."
Anson mengangsurkan sebuah koran edisi delapan hari yang lalu. Disana tercetak sebuah kabar duka dengan tulisan yang cukup besar tentang meninggalnya pengusaha besar bernama Kendrick Jafferson. Di bawahnya terdapat gambar peti mati dan sebuah foto tentang dirinya. Beberapa foto suasana pemakaman juga berhasil dijepret dengan sudut yang cukup apik.
Dibawah artikel itu, selain berita meninggal yang disebutkan karena pembunuhan bermotif perampokan, juga menyebutkan tentang ketidak hadiran istrinya. Dikatakan bahwa Alice White, istri dari pengusaha terkenal sedang menjalani program kemanusiaan di negara konflik, sehingga sulit untuk keluar dan mengantar kepergian terakhir suaminya.
Program kemanusiaan di negara konflik? Alasan yang cukup bisa diterima. Disebuah begara yang rentan peperangan, memang tidak bisa sembarangan keluar masuk begitu saja. Memerlukan izin yang cukup lama untuk bisa keluar dari wilayah yang sensitif. Beberpa orang bahkan tejebak disana dan tidak diijinkan untuk kembali ke negara asal. Seandainya Anson berniat untuk menahan Alice selamanya, orang-orang tak akan merasa curiga. Mereka pasti berpikir Alice terjebak di negara antah berantah demi kemanusiaan.
Pemerintah akan melakukan prosedural pencarian dasar sebagai tahap awal dalam beberapa waktu. Jika tak berhasil menemukan dirinya, pihak pemerintah pasti tak akan terlalu membongkar kasusnya. Karena mereka beranggapan mencampuri negara luar bisa dianggap sebagai bentuk infasi jika dilakukan tanpa bukti-bukti yang cukup.
Rencana yang sangat brilian. Alice mau tak mau harus mengagumi jalan pikiran Anson. Lelaki itu terbiasa berpikir kritis, rapi, dan terstruktur. Pantas saja selama ini kejahatanya tak pernah berhasil dibongkar. Karena dia selangkah lebih maju dari siapapun.
Hanya Rachellah harapan Alice. Temanya itu pasti tahu dirinya tidak melarikan diri untuk alasan kemanusiaan. Alice terakhir bertemu dengan Rachel saat Kendrick menelpon tentang kepulangan putranya. Rachel pasti menyadari ada yang salah dengan dirinya. Alice menebak Rachel pasti sudah menghubungi Daniel dan bertindak sesuatu.
Hanya saja, Rachel maupun Daniel bukanlah lawan yang seimbang bagi Anson. Kendrick saja bisa ia singkirkan dengan sangat rapi, apalagi mereka? melawan secara terang-terangan hanya akan memancing musibah baru. Alice justru mulai mengkhawatirkan keadaan mereka.
"Sampai kapan kau akan menahanku, Anson?" Alice bertanya hampa. Hidupnya sudah sepenuhnya berada dalam kendali iblis.
"Sampai masalah ini tenang. Meskipun kau tak cukup kuat untuk melawanku langsung, namun kau bisa menciptakan keributan yang tak perlu jika kulepaskan sekarang. Aku sedang tak berselera untuk terus meladeni permainanmu." Anson nenatap kedua mata Alice penuh perhitungan. Dia tak menyangka wanita ini akan memiliki sifat keras kepala.
"Kau terlalu tinggi menilai diriku. Dengan kedua kakiku yang lumpuh, aku tak akan bisa membuat keributan apapun. Aku bukan lagi ancaman untukmu," sahut Alice skeptis.
Anson menatap kedua kaki Alice cukup lama. Dia berbalik dan berjalan keluar kearah pintu.
"Gunakan waktu yang kaumiliki untuk menyembuhkan kakimu," katanya tak peduli.
Anson berbalik kembali, menambahkan dengan sebuah kalimat baru.
"Aku, mulai menyukai kecacatanmu," katanya dengan senyum menakutkan.
Alice membeku. Jari-jemarinya mencengkeram selimut putih yang menutupi kakinya.
Lelaki itu psikopat.
...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Kok ga pernah up cerita lagi di NT??