Jodoh, rezeki dan kematian adalah hal yang memang penuh dengan misteri. Sebabnya kita memang tidak tahu siapa yang akan jadi jodoh kita kelak.
Rili Askana menjadi galau tingkat dewa, diumur yang hampir genap 30 tahun. Dia tidak kunjung menikah'. Angin segarpun datang, disaat teman kerjanya menawarkan diri untuk menikahi nya. Tapi, disaat cinta-cintanya kekasihnya itu hilang tanpa bekas.
Kesedihannya bertambah parah, disaat Dia masih galau dipaksa nikah oleh orang tuanya dengan pria yang tidak dikenalnya.
Bagaimana kisah Rili? akankah Dia bahagia dengan pernikahannya.
Temukan jawaban misterinya di Novel ini.
Ini bukan cerita horor. Ini cerita yang bisa menguras emosi dan gelak tawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku sangat ilfeel
"Ka...muuu!" ucap Rili dengan terbata-bata dan meringis karena menahan sakit di kaki dan sekujur tubuhnya. Rili mengucek-ucek kembali matanya untuk memperjelas penglihatannya. Dia tidak menyangka mobil yang ditabraknya dari belakang adalah mobil yang dikendarai oleh Rival. Pria yang akan dijodohkan Tante Mirna dan Mamanya juga setuju dengan ide perjodohan itu. Padahal mamanya tidak mengenal Rival dan keluarganya.
Rival berjalan lebih dekat ke ranjang tempat Rili berbaring.
"Kaa...mu...!" ucap Rival dengan lebih terkejut lagi. Kemudian pria itu memposisikan dirinya berdiri di sisi ranjang dekat kaki Rili yang terluka karena gesekan aspal.
Para perawat dan pak haji yang berada di ruangan tersebut, saling lirik.
"Nak Rili rupanya? tadi bapak tidak kenal karena wajah nak Rili tertutup helm semua." Ucap pak haji dengan tersenyum kepada Rili.
"Iya pak Somad. Terima kasih udah mau membawa Rili ke sini." Ucap Rili sambil menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Bapak dan abang ini yang membawa nona ke klinik ini dan ternyata kalian saling kenal." Ucap perawat wanita tersebut.
Rili sangat kesal karena dari tadi Rival terus saja melihatnya. Rili sangat Risih ditatap Rival seperti itu.
Rili membuang mukanya, dia tidak mau bersitatap dengan Rival.
"Benarkah kamu ini bernama Rili Askana?" ucap Rival dengan masih menatap ke arah Rili. Rival hanya ingin memastikan saja, karena selama ini Rival hanya melihat wajah Rili hanya di foto profil sosmednya Rili.
Rival sangat terpesona melihat kecantikan Rili secara langsung, sangat jauh berbeda dengan foto profil sosmmednya. Menurut Rival aslinya 100% lebih cantik dan bening. Sungguh matanya tidak bisa berpaling, Dia hanya akan menatap wajah Rili saja.
Belum bertemu saja dia sudah ada getaran apabila menyebut nama Rili. Sekarang wanita itu ada didepan matanya. Jantungnya rasanya mau copot saja.
Rili tidak menjawab pertanyaan Rival. Rasa tidak sukanya terhadap Rival makin menjadi saja, karena Rival, Rili jadi terluka. Sebenarnya dari hati kecil Rili mengatakan kecelakaan ini bukan 100% kesalahan Rival. Seandainya Rili tidak melamun saat mengendarai motornya, kemungkinan besar Rili tidak akan menabrak mobil yang dikendarai Rival yang berhenti secara tiba-tiba.
"Sus, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Rili.
"Sebenarnya adek sudah boleh pulang, tapi kalau mau istirahat lagi sekitar satu jam akan lebih bagus." Jawab suster.
"Aku mau istirahat di rumah saja sus." Ucap Rili dan hendak duduk. Saat wanita itu hendak merubah posisinya untuk duduk, rasa sakit di sekujur tubuhnya pun membuat dia meringis. Melihat ekspresi Rili seperti itu, Rival ingin membantu Rili duduk, tapi niatnya tidak jadi dilakukannya, karena dia tau batasan.
Akhirnya perawat wanita yang menangani Rili membantunya duduk.
"Tasku di mana ya sus?" tanya Rili dan berusaha merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan membuka ikatannya dari ikat rambut warna hitam tersebut.
Saat Rili ingin merapikan rambutnya, wanita itu kembali meringis kesakitan, karena siku tangannya juga terluka gesekan aspal.
Rival yang melihat pemandangan di matanya jadi serba salah. Dia ingin membantu Rili, tapi itu jelas tidak mungkin. Dia tidak mau disebut lancang. Ditambah lagi sikap Rili terhadapnya sangat jelas nampak kalau Rili kurang menyukai Rival.
"Tas adek ada di dalam mobil. Tasnya aman koq dek." Ucap Rival dengan tersenyum.
"Tolong ambilkan ya, Aku mau menelpon orang tuaku. Aku mau pulang sekarang." Ucap Rili dengan jutek dan tidak mau menatap wajah Rival.
Memang dari awal Rili kurang sreg dengan Rival, sehingga sikap Rili jutek dan cuek bebek. Ya memang begitulah Rili, tidak pandai bersandiwara. Ditambah dia sengaja bersikap seperti itu agar Rival ilfeel padanya sehingga perjodohan ini tidak perlu dilanjutkan. Saat ini dia pingin sendiri, dia belum siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Karena, Dia masih belum bisa melupakan Yasir.
"Tidak usah menelpon Ayah dan ibu dek, nanti mereka akan panik dan khawatir. Gimana kalau Abang antar aja pulang bersama pak haji." Ucap Rival dengan melihat Rili dan pak haji secara bergantian.
"Iya, itu benar nak Rili." ucap Pak Haji Somad.
Rival yang memang tahu batasan itu meminta perawat wanita untuk menuntun Rili masuk ke dalam mobil.
Perawat sudah menuntun Rili masuk ke dalam mobil dan biaya administrasi sudah dibayar Rival.
Kini mobil sudah melaju menuju Rumah Rili. Rival yang tidak tahu alamat Rili, akhirnya membuka suara dengan bertanya kepada Pak Haji Somad.
"Pak, ini arahnya mau belok ke kiri atau ke kanan?" tanya Rival dengan lembut dan sangat sopan terhadap pria disampingnya.
Belok kiri nak, sekitar 50 meter nanti, ada gang. Nama gangnya gang senggol. Nanti Rumah non Rili no 10." ucap pak haji.
Rili yang duduk di kursi belakang, wajahnya selalu cemberut. Gimana tidak cemberut, Dia yang menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, ditambah rival yang selalu meliriknya dari kaca spion.
Kini mobil yang dikendarai Rival berhenti di depan pagar rumah Rili. Pak Haji turun dari mobil dan menyuruh Rival mengklakson, agar orang tua Rili tahu ada tamu.
Karena tanda-tanda pintu akan dibuka tidak ada, walau sudah kedengaran suara klakson mobil, maka pak Haji mengetuk pintu rumah Rili dan mengucap salam. Setalah ketukan ke tiga, mama Rili nampak membuka pintu.
Ceklek. "Ada pak Somad rupanya? masuk pak!" ucap mama Rili.
"Iya Bu. Begini Bu, saya hanya ingin mengantarkan nak Rili. Tadi dia mengalami kecelakaan di depan Rumah." Ucap pak Somad.
"Apa? kecelakaan? Dimana anak saya sekarang pak?" ucap mama Rili dengan panik sambil memanggil suaminya yang berada dipekarangan belakang rumah.
Ayah Rili yang mendengar suara ribut istrinya, kini nampak menghampiri istrinya dan pak Somad.
Sedangkan di dalam mobil kedua insan yang berbeda jenis kelamin itu, diam seribu bahasa. Rival tidak berani lagi bertanya kepada Rili, karena dari raut wajah Rili sangat jelas kalau wanita itu sedang tidak ingin berbicara.
Begitulah karakter asli Rili, Dia sangat jutek sama pria, apalagi kalau dia sudah tidak ada feel. Makanya pria yang tidak kenal Rili dengan baik, pasti akan mengatakan kalau Rili sangat sombong. Anehnya Rili hanya bersikap seperti itu kepada pria yang akan menggodanya . Pada Orang lain dia sangat ramah, bahkan ramah sekali.
Kini orang tua Rili sudah datang menghampiri Rili yang berada di dalam mobil. Mama dan Ayahnya membantu Rili berjalan masuk ke dalam rumah.
Kini Ayah Rili, Rival dan Pak Haji nampak duduk di ruang tamu, sedangkan Rili diantar mamanya untuk beristirahat ke dalam kamar.
"Apa mama bilang tadi, mama udah melarang kamu untuk tidak keluar. Tapi, kamu tidak mendengarkan mama. Ini ni akibatnya kalau tidak mendengarkan perintah mama." Ucap wanita yang melahirkan Rili tersebut.
"Iya ma. Rili minta maaf! ini semua gara-gara pria gila itu, akhirnya Rili jadi terluka." Ucap Rili dengan kesal. Dia akan membuat suasana menjadi buruk dan akan menyalahkan Rival. Tujuan Rili berkata seperti itu agar orang tua nya ilfeel terhadap Rival, sehingga perjodohan ini tidak berlanjut.
"Apa maksudmu nak? tidak boleh berkata tidak sopan seperti itu," ucap mamanya sambil memeriksa luka putrinya. "Syukurlah tidak terlalu parah hanya lecet dan mama perhatikan hanya terkilir dimatakakimu saja." Ucap mama Rili.
"Ini sakit kali ma, badanku sakit semua. Walau hanya lecet rasanya sangat sakit dan perih." Ucap Rili dengan menangis.
"Sudah jangan menangis. Ceritakan sama mama kenapa kamu bisa mengalami kecelakaan?" tanya mama Rili.
Rili menceritakan semuanya dan menambahi sedikit ceritanya, seolah ini semua salah Rival.
Mama Rili yang mendengar cerita mamanya itu sangat terkejut.
"Apa? jadi yang membawamu kesini tadi nak Rival? Astaga... Nak Rival ganteng banget ya nak." Ucap mama Rili dengan wajah sumringah.
Rili yang mendengar ucapan mamanya, dibuat tak percaya. Rili pikir dengan membuat cerita se ekstrem mungkin, maka mamanya akan ilfeel sama Rival. Tapi, nyatanya malah diluar perkiraan Rili. Mamanya sama sekali tidak benci sama Rival, malah makin kagum sama Rival karena kata mamanya Rival sangat ganteng.
Sementara di ruang tamu, ada pria yang sekarang sangat ketakutan. Dia takut orang tua Rili akan menilai dia buruk, karena telah membuat putrinya terluka.
Di ruang tamu, hanya Pak Somadlah yang banyak bercerita tentang kejadian yang menimpa Rival dan Rili. Sedangkan Rival hanya duduk dengan posisi kebanyakan menunduk. Dia takut menatap mata Ayah Rili.
"Ma...afkan saya pak!" Ucap Rival dengan gugupnya.
"Namamu siapa nak? tanya Ayah Rili.
"Namanya Rival Youman pak." Ucap mama Rili yang datang dari dapur dengan membawa minuman.
Rival yang mendengar suara mama Rili menyebut namanya, membuatnya sangat terkejut. "Aduhhh.... Mampu*s aku kali ini, Kesan pertama yang kuberikan kepada keluarga Rili sangat buruk. Pasti cerita ini akan berakhir hari ini juga." Gumam Rival dalam hati.
"Apa?" Ucap Ayah Rili dengan tidak percaya.
Bersambung.
Mohon beri like, coment dan jadikan novel ini favorit.
Terima kasih
awal ny aq da gk mau melanjut kn bc..krn kesan ny terllu bertele2..lambat ..tp nth kenapa aq penasarn..
tp makin ke sini ..aq mkin mewek...😭😭😭
lanjut min...