"Aku tidak mau menikah!" Teriak seorang petani miskin tidak dapat menerima segalanya.
Dalam hatinya masih yakin, jika ini hanya perangkap.
Namun...
"Sayang, aku hamil anakmu..." Kalimat sang gadis desa membuat dirinya terpojokkan. Gadis yang melekat bagaikan lem, tidak ingin menerima pernikahan dengan juragan Burhan. Hingga membuat perangkap untuk tetangga barunya.
Namun sang tetangga baru yang terkenal sebagai petani miskin, berusaha tersenyum."Kalian sudah gila! Saat pulang nanti desa kotor ini akan ku ratakan dengan tanah!"
Teriakan dari Jefri (Joseph Northan Fredrik), CEO anti bakteri. Yang terjebak di desa akibat melanggar aturan taruhan dengan saudaranya.
Menikah dengan gadis paling jorok di desa ini? Tentu saja dirinya tidak akan pernah sudi. Walaupun ada kalanya, ketika batu kali diamplas maka berlian akan muncul.
🍀🍀🍀🍀
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mumpung Masih Hangat
...🌾🌾🌾 CEO Masuk Desa 🌾🌾🌾...
Hanya tawa itulah yang terdengar dari suaminya."Dasar!"
"Namanya juga usaha." Lagi-lagi jawaban yang benar-benar lucu. Merajuk seperti anak bebek. Dulu dirinya memang sempat tidak dapat menerima kenyataan ini. Membenci Dewi yang membuat perangkap untuknya.
Tapi janji terlanjur diucapkan, memang lebih baik ikhlas ketika menjalaninya. Tidak terlalu buruk memiliki teman hidup yang begitu lucu dan manis. Bukan hal yang dibuat-buat, lima bulan ini hidup bersama Dewi.
Bahkan Jefri tidak menyadari, menempel bagaikan lintah, memeluk bagaikan anak koala. Itulah yang dilakukan Dewi, namun penderita mysophobia itu tidak menepisnya sama sekali.
"Yang...aku cinta kamu..." Dewi masih memeluk pinggang suaminya menyandar di bagian punggung.
"Kenapa?" Tanya Jefri iseng.
"Karena tidak ada alasan untuk tidak mencintaimu." Sebuah jawaban tenang dari Dewi, membuat Jefri bungkam.
Perlahan senyuman menyungging di bibirnya. Beberapa bulan ini mimpi buruk itu tidak muncul lagi. Hatinya bagaikan merasa ketenangan, kala bayangan langit sore bagaikan emas, saat sinarnya memantul di atas aliran sungai.
Sepeda yang melintasi jembatan, bagaikan berjalan lambat. Tidak ada jawaban, hanya perasaan nyaman...
Dewi tersenyum, mengapa dirinya mencintai Jefri. Bukan cinta yang tumbuh spontan, tapi perlahan dirinya mulai menyimpan perasaan yang mengakar.
"Yang..."
"Em?"
"Bukan apa-apa, hanya saja jangan ceraikan aku ya? Walaupun kamu tidak cinta aku." Kalimat memelas yang benar-benar manis.
Tidak ada jawaban, hanya saja Jefri kembali tertawa. Tentu dirinya tidak akan pernah menceraikan Dewi.
*
Matahari sudah mulai terbenam. Setelah membersihkan tubuhnya di penginapan, dirinya melangkah keluar kala orang yang dinantikannya telah tiba.
Seorang pria paruh baya yang menatap ke arahnya."Maaf aku memang belum meminta ijin pada kepala desa. Tapi hanya ijin, apa masalahnya? Lagipula tanah ini milikku."
"Perijinan sangat penting. Jika pabrik ditutup, maka akan banyak kerugian nantinya." Troy meraih dua minuman kaleng dalam ice box, kemudian memberikan salah satunya pada juragan Burhan.
"Begitu? Baik! Tinggal menemui kepala desa saja. Biar pak kades yang mengurus, lagipula aku calon menantunya nanti." Juragan Burhan menghela napas, membuka minuman dingin. Apa ini cara hidup orang kota, bahkan tidak memandang hormat pada yang lebih tua.
"Karena itu ayo kita pergi." Troy tersenyum meraih jaketnya.
"Tapi ini sudah malam." Baru saja minum, sang juragan kembali meletakkan kaleng ke atas meja.
"Tidak apa-apa, omong-ngomong kepala desa punya berapa orang anak?" Tanyanya memimpin jalan keluar dari penginapan.
"Tiga." Jawab Burhan.
"Kalau begitu hubungi kepala desa. Katakan orang penting dari kota akan datang. Suruh juga anak-anaknya berkumpul di rumah." Perintah Troy penuh senyuman.
Pabrik tekstil, dirinya akan menjadi kepala pabrik nantinya. Tinggal jauh dari istri dan anaknya yang memilih untuk tetap tinggal di kota. Senyuman menyungging di wajahnya, akan lebih baik mengenal gadis-gadis cantik di tempat ini. Hanya sekedar kenal, tidak apa-apa bukan?
*
Sekitar 30 menit perjalanan, mengingat jalanan di desa ini yang rusak. Matanya sedikit melirik ke arah sekitar, hanya ada hamparan sawah. Perlahan bangunan besar terlihat di area pinggir sungai. Green house yang berdiri di lahan seluas 2 hektar.
Apa itu uang dimaksud oleh pemuda yang memakai masker?
"Itu milik siapa?" tanyanya.
"Perusahaan White Rose, tapi pengelolanya menantu kepala desa. Namanya Jefri, aku dengar-dengar dia digaji 3 juta perbulan. Sulit dikatakan, tapi Jefri yang merebut calon istri ke-tiga ku. Karena itu harus menunggunya melahirkan baru bisa menikahinya." Juragan Burhan menghela napas berkali-kali.
Namun, pemuda itu hanya bungkam sesaat."White Rose?" Gumamnya mengingat brand perusahaan yang cukup besar. Dapat dikatakan bisa menghancurkan perusahaan tempatnya bekerja sekali injak.
Karena jarang tampil di media, licik, juga berhati dingin, CEO sekaligus komisaris perusahaannya mendapatkan julukan rubah es. Pimpinan perusahaan yang bahkan sering menggunakan strategi tidak masuk akal, untuk menjatuhkan perusahaan orang lain. CEO sekaligus komisaris perusahaan tersebut, bernama Joseph Northan Fredrik.
"Tenang... hanya green house tidak berarti. Hancur pun, White Rose tidak akan peduli. Joseph sudah pasti hanya akan lebih sibuk menangani usaha besar. Daripada green house kecil dengan omset yang tidak seberapa." Gumamnya meyakinkan diri, pemuda yang tidak mengetahui wajah pimpinan perusahaan tersebut. Hanya mengetahui tentang rumornya saja.
Mungkin hanya pernah melihat sekilas dari jauh, itupun kala Joseph mengenakan masker. Cukup mirip, tapi tetap saja tidak mungkin seorang mysophobia tinggal di desa.
Tapi memang benar bukan? Jika White Rose serius dengan usaha ini. Sudah pasti tidak mungkin hanya orang desa bodoh (Jefri) yang dipekerjakan sebagai pengelola.
Hingga kala mobil terhenti di depan rumah sang kepala desa, mata Troy malah tertuju pada rumah di sebelahnya. Rumah kecil dengan green house yang tidak terlalu besar terdapat di depannya.
Menghela napas kasar hendak memasuki rumah sang kades merapikan penampilannya. Kepala desa yang memiliki tiga orang putri, salah satu putrinya (Dewi) begitu cantik. Dua putri lain juga sudah pasti tidak kalah cantik bukan?
Memasuki area depan rumah, sang kepala desa menyambutnya.
"Malam, perkenalkan nama saya Troy dari perusahaan D Fire." Ucap Troy sopan, perilaku yang berbeda kala bertemu dengan juragan Burhan.
"Nama saya Supra, kepala desa di sini. Silahkan masuk." Supra memberi jalan agar memasuki rumahnya.
Rumah yang kini lumayan layak huni, setelah uang penjualan tanah pada White Rose digunakan untuk renovasi dan membeli ternak.
Weni menghidangkan teh serta singkong rebus untuk tamu yang baru datang. Perlahan Troy mulai duduk didampingi Burhan.
"Pak..." Putri kedua Tika memasuki rumah menyapa ayahnya, datang bersama suaminya Candra.
Menghela napas kasar Troy menatap jenuh. Berfikir putri sang kades semuanya cantik. Tapi wanita yang baru masuk, memang cantik, sayangnya lebih seperti gadis kota biasa.
"Ada tamu dari kota, siapa?" Tanya Tika dengan mata menelisik. Memakai setelan jas rapi seperti orang kaya di film-film. Andai saja Candra seperti itu.
"Jangan jelalatan!" Candra segera menutup mata istrinya yang terlihat lapar dengan wajah tampan dan dompet tebal. Memaksanya duduk agak jauh.
Selang beberapa menit. Satu orang lagi datang, putri ketiga Supra. Rika memasuki rumah tanpa permisi. Awalnya terlihat merajuk, karena sang ayah menghubunginya menyuruhnya untuk datang tanpa ada alasan yang jelas.
Tapi kala baru melangkah memasuki ruang tamu. Rika tersenyum-senyum, menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Ada pria berjas yang tampan ternyata."Bapak! Rika kan malu belum mandi." Ucap putrinya mengeluarkan bedak dari dalam tas kemudian merapikan penampilannya.
"Jangan dandan!" Jamal merebut peralatan makeup istrinya.
Jujur para menantu merasa terganggu dengan kehadiran orang ini.
Tapi Troy hanya menghela napas lumayan kecewa. Ternyata cuma satu diantara tiga yang kecantikannya di luar nalar. Sisanya, cantik alakadarnya.
"Jadi apa maksud kedatangan nak Burhan dan nak Troy kemari?" Tanya Supra meminum kopi hitam di hadapannya. Cukup tidak nyambung baginya, mengapa harus memanggil ketiga putrinya untuk datang?
"Begini, aku perwakilan dari perusahaan D Fire. Ingin mengurus perijinan terkait pembukaan pabrik tekstil kami di hulu sungai." Jawab Troy mulai serius bekerja."Pabrik ini juga akan mengambil karyawan dari penduduk lokal. Jadi jangan khawatir."
Perlahan Supra membaca dokumen di hadapannya. Sesuatu yang hanya dimengerti sebagian olehnya.
"Yang... kenapa buru-buru, aku kan masih harus pilih baju." Celotehan seseorang terdengar dari luar sana.
"Pilih baju? Kenapa?" Tanya Jefri.
"Iya, agar mudah dilepaskan saat kita pulang dari rumah bapak nanti." Jawaban yang membuat semua orang dalam ruangan ingin tepuk jidat.
Hingga dua orang terakhir masuk. Jefri tidak menggunakan masker kali ini, menatap kehadiran Troy dan juragan Burhan. Dirinya bersanding dengan Dewi yang menempel memeluk lengannya."Yang...aku bilang jangan datang. Mending di rumah, kita ekhem... ekhem..."
Suasana hening sejenak. Troy terdiam menelan ludahnya. Bagaimana bisa suaminya (Jefri) masih terlihat begitu dingin, berhadapan dengan gadis secantik ini?
"Dewi kamu bertambah cantik...tapi tunggu! Kenapa perut kamu masih datar?" Tanya Juragan Burhan.
"Kan aku belum hamil. Ekhem... ekhem saja belum. Yang...tuh aku disindir lagi belum hamil. Pulang yuk mumpung anget." Sebuah jawaban tidak tahu malu. Membuat sang suami tidak ingin meninggalkan makhluk menggemaskan ini.
sukaa pokoknya
semangat terus kak